content top



Tampilkan postingan dengan label kebathinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebathinan. Tampilkan semua postingan

SPIRITUALISME AGAMA

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Spiritualisme merupakan Akar dan Substansi Agama.Sebab dalam pandangan beberapa teori sejarah agama-agama, menempatkan spritualisme sebagai akar dari setiap agama.
Teori tersebut melihat agama sebagai wujud dari kesadaran manusia akan adanya spirit dalam kehidupaan manusia, bahkan dalam mekanisme alam raya. 

Pada tahap selanjutnya kesadaran spiritual tersebut menempatkan agama sebagai “upaya” manusia untuk senantiasa berhubungan dengan Realitas Mutlak, sebagai akar atau azas dari seluruh realitas. 
Hubungan ini dimaksudkan untuk mempertahankan eksitensi diri kepada Sang Maha Pencipta .Kecenderungan dari hasrat ini, secara logis (sebagai konsekwensi logis), melahirkan tuntutan epistemologis dan bentuk praktek atau prilaku tertentu, yang dalam agama dikenal dengan ritual. 

Ritual sebagai ekspresi pengalaman keagamaan pada awalnya sangat bersifat individual, tapi ketika kecenderungan untuk menjalin hubungan antara manusia dengan realitas Mutlak sebagai Realitas Eksternal tersebut menjadi ciri dan bagian dari suatu masyarakat, ritual mendapat bentuknya yang baku dan tertentu. Ketika disadari bahwa hubungan eksternal antara Realitas Mutlak atau Tuhan dengan alam semesta dan manusia secara substansial terjadi pada “saat” proses penciptaan, maka prilaku ritual, secara umum diambil dari event penciptaan tersebut, atau event theophani. Yaitu, peristiwa-peristiwa (yang dianggap) suci, tatkala Realitas Mutlak menempatkan “diri” atau hadir di hadapan atau dalam diri manusia-manusia “suci”. 

Ketika itulah perenungan atau pendakian spiritual sebagai persoalan individual menjadi persoalan sosial atau dari dimensi individual menjadi berdimensi sosial. Hal ini pun, terjadi ketika ada kesadaran bahwa internalitas diri hanya bisa dicapai bersamaan dengan eksternalitas yang tergelar dialam semesta dan hal ini akan tercapai  bila keteraturan dan kelestarian alam (cosmos kebalikan dari chaos) dipertahankan. Ketika itulah spiritualitas individual beralih menjadi spiritualitas komunal atau sosial.

Bersaman dengan munculnya kesadaran akan pentingan perwujudan eternalitas alam dan spiritualias komunal atau sosial, muncullah aturan-aturan sosial yang didasarkan pada prinsip-prinsip spiritualisme tersebut. Namun demikian, terjadi reduksi epistemologis, dimana keseragaman formalitas cara pencapaian

Kualitas spiritual menjadi tuntutan yang tidak bisa dihindari, dan  lama-kelamaan otonomi dan kekayaan (variasi) pengamalaman spiritual individu dibatasi. Hal tersebut dikarenakan pengamalan spiritual yang asalnya bersifat pribadi bergeser milik dan menjadi konvensi masyarakat. 

Maka, ekspresi pengalaman spiritual yang berbeda dan keluar dari konvensi sosial dianggap bid’ah atau tidak lajim. Ketika itulah, spiritualisme sebagai akar dari agama, kehilangan dinamikanya, kehilangan otonominya, spiritualisme menjadi institusi (lembaga) sosial yang tidak bisa diganggu gugat dan bersifat establis (tidak menerima perubahan). Dalam kasus yang paling sederhana, sebagai contoh, tasawuf sebagai khazanah spiritualisme Islam, tatkala tasawuf sebagai “lokus” pengembaraan spiritual yang bersifat individual dan otonom serta dinamis, mendapat tuntutan untuk dilembagakan menjadi tarekat. Yaitu, tatkala tasawuf dianggap sebagai jalan keluar dari keadaan manusia yang chaos dan kehilangan jati dirinya (tereliminasi dari diri sendiri). 

Ketika  jalan atau cara (thareqat) yang diajarkan sang mursyid semakin mendapat keabsolutannya ditangan para murid(salik). Ketika itu pulalah, spiritualisme menjadi suatu sistem yang terlembagakan, kaku (establish), ekslusif dan komunal. Fenomena tersebut terjadi pada agama-agama. 
Spiritualitas sang Nabi atau pembawa agama yang demikian kaya, dinamis dan otonom, menjadi kaku, establis dan komunal. Tangga pencapaian kesempurnaan spiritualitas mengalami penyeragaman dan pembakuan, dimana perubahan dan penafsiran hanyalah milik para Nabi atau Rasul (dalam agama) atau para imam thareqat. Maka umat atau murid kehilangan otoritasnya dalam melakukan perubahan dan penafsiran yang radikal.
 
Ketika Agama telah menjadi konsumsi dan milik masyarakat penganutnya, secara umum telah menjadi seperangkat norma-norma etika sosial (hubungan antar manusia) dan norma-norma etika ritual (hubungan manusia dengan Tuhan) yang disepakati (konvensi) yang kadang akhirnya kehilangan dimensi spiritualnya. 
Tingkatan keberagamaan pada akhirnya diukur dengan identifikasi-identifikasi formal, konvensional. Sakralitas dan sebagai suatu pengalaman bathin.
 
Dalam agama pada umumnya, konvensi-konvensi tersebut berpijak di atas konvensi teks (teks suci) atau pun konvensi historis. Dengan demikian, agama yang pada awalnya merupakan akumulasi kepedulian para nabi, rasul atau pembawa agama terhadap kesempurnaan kualitas spiritual manusia dan kemanusiaan,  menjadi kodifikasi sejarah kehidupan (biografi) sang nabi, yang kemudian dijadikan rujukan formal dan mutlak oleh pengikurnya. 

Teks suci yang sarat dengan wacana dan dimensi spiritual, menjadi sekedar catatan dogma-dogma dan norma-norma yang membuat manusia kerdil. Doktrin atau ajaran agama yang asalnya bertujuan liberasi, setelah menjadi teks malah menjadikan manusia terbelenggu oleh makna-makna gramatikal dan leksikal, sehingga manusia kehilangan “kebebasannya”. Teks kehilangan spiritualitasnya. 

Al-Qur’an telah diletakkan sebagai naskah berdimensi tunggal, dimensi tekstual. Ia kehilangan ruhnya, ruh yang menjadikan al-Qur’an memiliki “makna” yang luas tak terbatas, dan menjadikannya berdimensi spritual. Kemukzizatan al-Qur’an yang hanya dipersepsikan dari pendekatan “ilmiah” atau sains, al-Qur’an menjadi tidak lebih dari sekedar ensiklopedi ilmu pengetahuan yang sangat sederhana (tidak lengkap).

Demikian pula dengan ritual-ritual keagamaan. Ritual menjadi aktivitas rutin tanpa “jiwa”. Ritual dilakukan tak lebih dari sebagai kemestian hukum-hukum syari’at. Karenanya dimensi spiritual tercerabut dari dimensi agama. Ritual sebagai komunikasi spiritual, menjadi sekedar “upacara” rutin yang bersifat sosial dan jasmaniah. Hal tersebut tampak pada kecenderungan orang untuk lebih memperhatikan detail prilaku badaniah dan performent ritual, dari pada performent spiritual dari ritual tersebut. Demikian pula dengan indikasi-indikai kekhusuan dan kesyahannya. Tidak dilihat dari kedalaman sensibilitas dan kedalaman kesadaran spiritualnya. 

Bahkan  tidak jarang pula kehidupan spiritual sering dijadikan kambing hitam bagi keterbelakangan dimensi material umat beragama. Kesederhanaan, dan pilihan nabi untuk tidak memiliki kekayaan hanya menjadi mitos dan cerita pengantar tidur. 

Dengan ungkapan yang lazim didengar “ …Ah itu kan Nabi, kita kan hanya manusia biasa…” dilanjutkan dengan perkataan “Bukankah sangat manusiawi bila kita mengejar kesenangan dunia..!”. 
Itu artinya telah memposisikan pilihan nabi sebagai pilihan yang tidak manusiawi. Peradaban Madinah yang asalnya ditegakkan di atas kesadaran universalitas spiritual yang memungkinkan terjadinya harmoni dalam masyarakat plural (dengan pluralitas agama, suku bangsa, klas sosial dan pluralitas lainnya), lebih kita persepsikan hanya dari sisi materialnya. 

Fase Madinah sebagai titik awal pembangunan peradaban “material”. Demokrasi dalam Islam tiada lain dari buah kesetaraan atau liberasi spiritual. Dengan kata lain: kesadaran universalitas dan kesatuan spiritual manusialah yang melahirkan liberasi dan kultur demokrasi di Madinatur Rasul. Dalam kondisi demikian, maka semakin tegaslah, bahwa agama bukan lagi sebagai pembebas akan tetapi, malah menjadi sumber keterbelengguan manusia. 

Agama menjadi legimitasi bagi penindasan hanya karena alasan perbedaan dalam mengekspresikan pengalaman dan pemahaman keagamaannya. Hal ini seperti diungkapkan Frithjof Schuon, bahwa pada tataran ekstrinsiklah manusia beragama saling berbeda dan saling sikut, bukan pada tataran intrinsik. Partialitas dan kompositas dimensi ekstrinsik akan semakin melebar ketika otoritas kehidupan spiritual individu ditolak, dinafikan. Dengan kata lain, bila ukuran tingkat spiritualitas menjadi milik “masyarakat” maka individu akan kehilangan otoritas dan haknya untuk “berkembang”.  Ketika itulah pesan liberasi dari diutusnya para nabi dan para rasul kehilangan maknanya. 

Hubungan manusia-alam-Tuhan menjadi inti persoalan  dalam tasawuf atau spiritualisme Islam. Hubungan spiritual manusia-alam-Tuhan tersebut pada titik puncaknya terjadi dalam hubungan yang mengatasi konvensi sosial dan norma-norma sosial-manusia. Ia berada pada tataran yang tidak bisa dicapai dan dijelaskan secara tuntas dengan penjelasan-penjelasan biasa atau rasional sekalipun. Bahkan tidak bisa diidentifikasi oleh norma-norma formal ritual keagamaan sekali pun (fiqh sebagai contoh). Karena ia menjadi suatu fenomena suigeneris, fenomena yang unik dan otonom. Lain halnya dengan norma-norma agama (Fiqh) yang secara spesifik dan eksplisit, walaupun sesungguhnya ia merupakan derivasi dari ekpresi pengalaman spiritualitas keagamaan, akan tetapi dalam hal-hal tertentu masih memungkinkan untuk diindentifikasi dan diverifikasi oleh kerangka berpikir rasional. 

Untuk menjembatani paradoks demensi keagamaan tersebut, biasanya, para sufi mengkatagorikan tingkatan keagamaan dalam tiga tingkatan, yaitu “syari’at, (thariqat, sebagai perantara), ma’rifat dan hakikat”. Ketiga tingkatan tersebut dikenal “tri-tunggal jalan menuju Tuhan. 

Hadits Nabi menjelaskan tentang ketiga jalan tersebut:
 
"Syari’at adalah perkataanku (aqwali), thariqat adalah perbuatanku (‘amali), dan hakikat adalah keadaan bathinku."

Mengenal pintu Syari’at merupakan kewajiban pertama seseorang yang mau menempuh perjalanan mistik. 

Syair Turki mengungkapkan : Syari’at: milikmu milikmu, milikku, milikku Tariqat: milikmu milikmu, milikku milikmu juga Hakikat: tak ada milikku atau milikmu.

Kategori syari’at, yaitu kategori keberagamaan “awal” yang masih bersifat minimalis. Menjadikan teks-teks dan sejarah kehidupan empirik para nabi sebagai pola dan acuan dalam beragama. 

Thariqat, upaya-upaya imitatif dalam melakukan penggemblengan spiritual, dalam tahap-tahap tertentu, yang dirumuskan dan diajarkan oleh sang Mursyid. Sedangkan kategori ma’rifat dicapai ketika ia menyaksikan kedalaman spiritual yang dialami para nabi dalam pengalaman spiritualnya sendiri. Dalam tataran ini, pengetahuann dan ilmu agama beralih dari pengetahuan dari ilmu al-yakin ke ‘ain al-yaqin. 

Keyakinannya tidak lagi akan mengalami pasang surut, karena ia telah menjadi saksi bagi dirinya sendiri tentang apa yang para nabi “ketahui”. Pengetahuan al-‘ilmu al-yaqin memang memiliki kemungkinan untuk pasang surut walaupun mungkin tidak sampai padam, karena keyakinan tersebut berpijak dan disandarkan di atas “keyakinan apriori” bahwa teks-teks suci tersebut di bawa oleh seorang nabi dari Tuhan-nya. Sedangkan pada tataran ‘ain al-yakin, keyakinan atas teks telah terbukti karena ia menyaksikannya, sebagaimana yang para nabi saksikan. Bahkan tingkat al-ain al-yaqin, sesungguhnya telah mengatasi teks.

Lebih tinggi lagi ketika apa yang para nabi “alami”, dialaminya pula. Pengetahuannya bukan hanya disandarkan di atas sekedar keyakinannya dan “persaksiannya”, akan tetapi disandakan pada pengalaman.
Tahap inilah yang dikenal dengan al-haqqul al-yaqin. Tahap ini dalam tradisi tasawuf (falsafi) dikenal dengan wihdat al-wujud atau ittihad, yaitu kesatuan spiritual antara dirinya dengan para nabi dan rasul dalam kebersatuannya dengan cahaya ruh ilahi. Kesulitan orang untuk mengungkap pengalaman spiritual yang dialaminya tersebut sering menjebaknya dalam keterbatasan-keterbatasan “bahasa”. 
Lebih parah lagi ketika ungakapan-ungkapan tersebut dibaca oleh orang yang memiliki tingkat kedalaman dan pengalaman spriritual yang berbeda, lebih rendah. Maka yang terjadi adalah vonis atas seseorang didasarkan atas kehadiran “teks” bukan kehadiran “pengalaman”. Hal ini pula yang terjadi ketika orang membaca dan menyimak al-Qur’an secara tekstual. Ia hanya menghadirkan makna-makna teks bukan menghadirkan kebenaran realitas hakikiah dari teks. Ia hanya akan menemukan kebenaran teks (sejauh gramatika dan kekayaan kosa kata bahasa teks bisa mewadahinya), bukan kebenaran dari kehadiran “pewahyuan Ilahi” kepada Rasulnya. 

Ketika rasul menerima wahyu tersebut tentunya yang hadir bukan sekedar kesadaran kebahasaan, akan tetapi lebih merupakan kehadiran secara utuh “spiritualitas” nabi. Hal ini digambarkan oleh teguran kepada nabi untuk tidak “melafalkan” apa yang diwahyukan ketika menerima wahyu, karena Allah akan menanamkannya dalam hati atau nurani (dimensi dan kesadaran spiritual) nabi. 

Perjalanan spiritual seorang manusia, baik yang berakar pada suatu sistem keyakinan agama maupun yang berakal pada kesadaran “integritas kemanusiaan dan kealaman” pada akhirnya berpangkal pada satu titik yang sama, yaitu kesadaran atas integritas eksistensi diri/jati diri. Integritas kedirian dan integritas diri dalam relasinya dengan sesuatu “di luar diri”. 

Kesadaran relasional tersebut, tentunya didasarkan pada suatu pandangan akan kesetaraan esensial dan eksistensial antara diri dengan yang di luar diri tesebut. Sufisme memandang seluruh realitas alamiah termasuk manusia merupakan jejak perwujudan kuasa Ilahi. Dengan dasar keyakinan bahwa seluruh makluk: gunung, burung dan lain sebagainya (bukan hanya manusia dan para malaikat) bertasbih kepada Allah, sufisme melakukan perubahan cara pandang terhadap “dunia”, dari cara pandang konvensional. Walau pun umat Islam pada umumnya meyakini bahwa seluruh makhluk bertasbih kepada Allah, akan tetapi pengetahuan tersebut lebih merupakan pengetahuan dan keyakinan yang “doktriner” sifatnya. 

Kaum Sufi, tidak lagi sekedar memandang fenomena tersebut sebagai unsur “doktriner” dan “imani” belaka, lebih dari itu mereka berusaha untuk ikut bahkan tampil kemuka untuk menjadi “makhluk” yang paling banyak bertasbih kepada Allah.
 
Secara terminologis bertasbih adalah “pengakuan dan persaksian” atas kesadaran akan kesucian Allah. Dalam konteks kesufian (teosofi), bertasbih harus berakar dari pengetahuan dan kesadaran yang muncul dari perjumpaan (‘ain al-yaqin) dengan Tuhan dan makhluk serta dirinya sendiri. 

Pernyataan atas “pengakuan” didasarkan pada kesadaran dan pengetahuan yang benar bahwa memang Tuhan itu Maha Suci, setelah ia “melihat” Tuhan dan melihat diri serta makhluk lainnya. Seperti halnya dalam kalimat Syahadatain, sebelum menyatakan Allah sebagai satu-satunya Tuhan tanpa sekutu, harus diawali oleh pengetahuan manusia atas tuhan-tuhan lain, dan kemudian dinafikannya. 

Penafian harus diawali dengan pengakuan, dan pengakuan harus diawali oleh penafian atas yang lainnnya: 
                                                           Laa ilaaha, illa Allah.

Dengan demikian, pendakian spiritual dalam tradisi dan tata pikir sufistik harus diawali dengan pengenalan terhadap “diri” dan kemudian “sesuatu di luar diri”. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengenal substansi dan diri yang otonom serta substansi dan sesuatu di luar diri yang otonom, juga “unsur” atau garis yang menghubungkan dan mempersatukannnya. 

Pengenalan diri, merupakan akar dan syarat mutlak untuk mengenal sesuatu di luar diri. Pengenalan terhadap Tuhan, dalam dunia sufi mutlak harus diawali dengan pengenalan terhadap diri: 
                                         Man ‘arafa Nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu 

Pengenalan diri, dalam tradisi tasawuf merupakan syarat mutlak dalam perjalanan spiritual. Penekanan yang sangat terhadap pentingnya pengenalan diri dan menjadikan diri sebagai pijakan awal dalam perjalanan spiritual, diungkapkan secara sangat radikal oleh Yunus Amre dalam Diwan, sebagaimana dikutif Annemarie: 

Jika kau mencari Tuhan, carilah Dia Dalam hatimu 
Ia tidak ada di Baitulmakdis, tidak pula Di Makah, atau di dalam haji. 

Atau apa yang diungkapkan Sufi dan Budayawan Sunda, Hasan Mustapa: 

Kaduhung ngajugjug jauh, 
Puguh nguntit-nguntit aing, 
Baluas da kurang awas, 
Ati lali ka ma’ani,
Gumelar maknawiyahna,
Nuding kanu lain-lain.
(Menyesal setelah jauh mencari,
Padahal (Tuhan) bersatu dalam diri, 
Tertipu karena tidak waspada, 
Hati lupa pada ma’ani, 
Yang tampak hanyalah manawiyah, 
Akhirnya salah menyapa) 

Wujud dan cara pengenalan diri ini dilakukan dengan beberapa tahap dan persinggahan, antara lain: Taubat, zuhud, faqr, sabr, syukr, khauf dan raja’, ridla, fana wal baqa.
 
Taubat adalah pembersihan diri dari dosa atau paradoks. Upaya untuk keluar dari aktualisasi diri. Hal tersebut dilakukan dengan merubah cara pandang terhadap diri dan dunia, dan kepasrahan (ridla, sabar, tawakal). Memandang hal tersebut sebagai takdir. Perbuatan dosa pada umumnya terjadi dan muncul dari rasa ketidakpastian tentang masa depan kehidupannya yang melahirkan kegelisahan, kegalauan, samar-samar, tidak puas, dan akhirnya hilang kepercayaan diri. Untuk mengatasi hal tersebut ia melakukan jalan pintas dengan “menghalalkan segala cara”, yang mengakibatkan split personaliti dan akhirnya mengalami keterasingan dari dirinya. Perasaan ketidakpastian tersebut muncul karena manusia tidak pernah merasa yakin dengan apa-apa yang terjadi, khususnya dengan peristiwa-peristiwa yang tidak terduga. Peristiwa-peristiwa yang sulit untuk diketahui dan dijelaskan runtut kausalnya. Kadang orang “ketiban pulung” secara tidak terduga, atau sebaliknya (hal yang dirasa lebih sering) mendapat bencana tanpa dapat diduga. 

Bencana, biasanya merupakan peristiwa lebih kuat terpatri dalam ingatan seseorang dari pada mendapat pulung, sehingga orang cenderung merasa lebih sering mendapat bencana dari pada pulung. Karena itulah manusia senantiasa berada dalam kondisi traumatis dalam hidup, karena senantiasa dibayangi oleh bencana-bencana yang tidak terduga. Peristiwa-peristiwa tak terduga ini lebih dipandang sebagai kejadian yang bersifat kebetulan. Trauma-trauma ini akhirnya tersimpan dibawah alam sadarnya, dan senantiasa menghantui selama hidupnya. 

Hasrat dan obsesi (berharap tinggi, over estimate) terhadap “pulung” tertekan oleh trauma bencana kehidupan yang tidak terduga. Dalam kondisi ini terjadi saling tarik-menarik atau saling tindih antara hasrat dan angan-angan dengan kekuatan di luar dirinya. Konflik tersebut tumbuh saling mendominasi dan mengontrol sebagai kemestian universal. Ketidakmampuan orang untuk memahami kebetulan-kebetulan tersebut karena ia sulit untuk mehamai kelokan-kelokan serta relasi kausal yang rumit dan kasat mata. 

Taubat merupakan terapi dengan merubah cara pandang terhadap diri dan dunia: yaitu dari cara pandang yang menyebelah dan sempit terhadap diri dan dunia serta peristiwa yang dialaminya, kasf al-kauny. 
Selanjutnya ia memandang seluruh kejadian sebagai peristiwa sinkronik (berkesinambungan dan terencana. Dengan demikian, hilang rasa takut dan waswas (la takhuf wa la takhzhan) atau rasa cemas dari dirinya, karena ia yakin dan melihat bahwa tidak ada peristiwa yang betul-betul berdiri sendiri. 

Dengan demikian, hilang pulalah su’udzan terhadap orang dan Tuhan. Akhirnya ia akan positive thinking terhadap semua kejadian yang dialaminya. Ia tawakal terhadap hukum dan “kehendak” Ilahi yang termanifestasi dalam kejadian-kejadian pada alam dan dirinya. 

Di sisi lain, ia menyadari bahwa: bisa jadi kejadian-kejadian yang di luar “perkiraan tersebut”, karena ia membuat estimasi yang berlebihan, estimasi yang tidak didasarkan perhitungan yang matang sesuai dengan “hukum” alamiah yang utuh. Untuk itulah, kaum sufi senantiasa menjaga untuk tidak berangan-angan yang melampaui batas. Lebih dari itu ia berusaha untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap pemenuhan kesenangan material, duniawi (zuhud). 

Karena angan-angan yang melahirkan harapan yang berlebihan bisa melahirkan kekecewaan dan keputusasaan. Kecenderungan untuk menghilangkan angan-angan serta melakkan kontrol terhadap kecenderungan pemenuhan terhadap hasrat-hasrat material dan duniawi ini dalam dunia tasawuf dikenal dengan wara’. Hasrat-hasrat tersebut oleh kaum sufi disublimasikan pada hasrat-hasrat spiritual yang bersifat eternal atau infinity.
 
Di sisi lain, taubat dilakukan dengan melakukan penjernihan terhadap sumber-sumber traumatik di masa lalu. Traumatik di masa lalu disembuhkan dengan melakukan pengingatan ulang dan menghadirkan diri dalam kondisi historis masa lalu. Dengan cara itu orang akan mampu melakukan revisi dan pemaknaan ulang secara positif terhadap peristiwa-peristiwa yang mengakibatkan trauma tersebut. Proses penghadiran masa lalu historis hanya bisa dilakukan dengan “pengakuan” terhadap adanya peristiwa tersebut, dan menjadikannya bagian integral dari rentang historis

Secara integral dengan masa kini dan masa depannya. Dalam konteks sufistik, cara ini merupakan fenomena mukasyafah atau penyingkapan sekat-sekat historis. Ketika konflik-konflik eksistensial (yang menimbulkan sekat-sekat atau tabir yang menghalangi komunikasi dan relasi) teratasi melalui proses penyucian diri (taubat, tazkiah an-Nafs) , terjadi penggantian pola relasi. Dari relasi penguasaan dan kontrol ke relasi saling membutuhkan, saling mengerti. Bahkan relasi yang dibangun diatas cinta yang murni, yang muncul dari kesadakan akan setauan spiritual (spiritual unity). 

Dengan cinta, energi konflik disublimasikan menjadi energi pengikat. Setelah proses pensucian diri tersebut, sekat-sekat (tabir) yang memisahkan diri dengan dirinya sendiri tersibak, demikian pula dengan sekat yang memisahkan antara diri dengan segala sesuatu di luar dirinya (alam dan Tuhan) pun terbuka. Maka, ketika itulah eksistensi diri dibangun di atas kesadaran relasi substansial di antara seluruh realitas. Ia menjadi bagian dari keseluruhan realitas, sekaligus hilang dalam keutuhan realitas (fana wa al baqa). Ia ada sekaligus tiada. 

Pola relasional yang terjadi bukan lagi dalam bentuk relasi-relasi fungsional, akan tetapi dalam bentuk relasi mistikal. Relasi yang bersifat unik dan otonom. Dalam pola relasi tersebut, memungkin bagi manusia untuk menarik garis relasional antara diri dengan realitas alamiah di luar dirinya. Relasi manusia-alam-Tuhan tersebut terjadi dalam suatu relasi mistikal yang khas, yaitu dalam relasi cahaya ruh Ilahiyah. Ruhani manusia menjadi titik api dari pancaran sinar Ilahi yang dalam diri manusia. 

Manusia menyapa, memandang, mendengar dan bersatu dengan alam raya di atas paradigma kesatuan cahaya ruhaniah Ilahi. Pencapaian ini dikenal dengan Ma’rifat. Ketika itu lengkaplah hubungan relasional manusia dengan alam dan Tuhannya. Hubungan-hubungan relasional tersebut dalam Celestin Profecy dan Tenth Insight disebut dengan energi. Orientasi fundamental dari sufisme adalah upaya menarik garis lurus paling pendek antara sumber cahaya (Tuhan) dengan titik api cahaya Ilahi dalam dirinya. Ruhani, (titik yang menyatukan seluruh pancaran cahaya Ilahi), dan dengan kalbu sebagai lokus (cermin yang mewadahi dan memantulkan kembali cahaya Ilahi) yang bila tidak ada sekatan yang akan mengakibatkan pembiasan (divergensi) yang diakibatkan oleh aura energi jasmani yang tidak stabil dan konstan. Untuk itulah harus dilakukan upaya untuk menyelaraskan antara aura jasmani dengan aura lingkungan, dan selanjutnya menyelaraskannya dengan aura energi cahaya Ilahiyah (Tajalliyah ar-Ruh). 

Maka, yang terjadi bukan saja tidak terjadinya bias cahaya Ilahi, melainkan semakin memperkuat getaran aura sinar Ilahi yang dipantul manusia.
Dalam tradisi sufi, penyelarasan akselerasi antara energi-energi alamiah serta jasmani dengan aura sinar Ilahi tersebut digunakan suatu metode “meditasi” yang disertai dengan sejumlah “lafal  dzikir” baik secara dzahar maupun khofi. 

Penggunaan lafal-lafal tersebut karena diyakini, bahwa kata-kata yang disertai konsentrasi penuh akan melahirkan suatu kekuatan atau energi yang mampu menyatukan akselarasi antara getaran-getaran energi lahir dengan energi bathin. Apa lagi lafal-lafal wirid, yang secara spiritual lafal wirid sendiri telah mengandung getaran energi tertentu. Maka getaran energi dari proses “meditasi” tersebut menjadi sangat kuat dan berlipat ganda. 

Dengan lafal-lafal do’a dan wirid, Tuhan tersenyum di hati manusia, menyapa dan mendorong manusia supaya menjawab. Ketika energi atau cahaya Ilahiyah telah menyatu dengan dirinya, maka ia menjadi pusat kontrol seluruh realitas alamiah, termasuk dirinya. Ia bersatu dengan seluruh energi alam raya yang merupakan perwujudan kuasa Ilahi. Ketika itulah ruhani kembali pada puncak potensinya. 

Seperti diungkap al-Qur’an tentang Ruh, “Inama amruhu idza arada syai’an anyakula lahu Kun! Fayakun!” Ketika itulah penglihatannya adalah penglihatan Tuhan, pendengarannya adalah pendengaran Tuhan. Apa pun yang ia kehendaki ia bersama-sama dengan kehendak Tuhan. 
Maka tidak lagi ada sekat ruang waktu bagi dirinya. Ketika itulah puncak keabadian ia capai. Pencapaian ini dikenal dengan Hakikat.


TASAWUF,HIKMAH DAN KEBATHINAN

Dalam dunia Islam kita mengenal adanya suatu ajaran ilmu yang berkembang dimasyarakat secara umum yaitu ilmu tasawuf,ilmu hikmah dan ilmu kebathinan.
Diantara ketiga ilmu tersebut dibedakan berdasar pada  tata cara lakunya.
Tapi entah dari mana asal mula perbedaan diantara ketiganya tersebut. Sebab bagi saya pribadi semuanya bersumber pada satu ajaran yang sama dan mempunyai tujuan yang sama pula pada sifat kamanungsaan dan menuju kesempurnaan.

Semua keilmuan melalui proses dalam pengenalan,sebab ilmu bersifat  ghaib,dan hakekat ilmu itu tidak tampak oleh mata dhohir,sedangkan yang tampak oleh mata dhohir itu bukanlah ilmu,melainkan hanyalah pengetahuan inderawi.Didalam pengetahuan inderawi terdapat berbagai macam istilah penamaan,sehingga melahirkan berbagai macam nama sesuai karakter/sifat yang tampak oleh inderawi.



Secara pengetahuan perbedaan antara tasawuf,hikmah dan kebathinan :



PENGERTIAN TASAWUF

Yaitu bersungguh-sungguh (dalam berbuat baik) dan meninggalkan sifat-sifat tercela,dengan mengutamakan penyucian hati/jiwa(Tazkiyatun Nafs).
Aslinya Tasawuf (yaitu jalan tasawuf) adalah tekun beribadah, berhubungan langsung kepada ALLAH, menjauhkan diri dari kemewahan dan hiasan duniawi, Zuhud (tidak suka) pada kelezatan, harta dan pangkat yang diburu banyak orang, dan menyendiri dari makhluk di dalam kholwat untuk beribadah.

Adapun batasan tasawuf adalah : Maka berkata Junaed : yaitu bahwa kebenaran mematikanmu dari dirimu dan kebenaran tersebut menghidupkanmu dengan kebenaran tersebut. Dan ia berkata juga : Adalah kamu bersama ALLAH tanpa ketergantungan. Beliau mengatakan bahwa:
-Masuk pada segala ciptaan yang mulya dan keluar dari segala ciptaan yang hina.
-Yaitu akhlak mulia yang tampak pada zaman yang mulia beserta kaum yang mulia.
-Bahwa kamu tidak memiliki sesuatu dan sesuatu itu tidak memiliki kamu.

Tasawuf itu dibangun atas 3 macam :

(1) Berpegang dengan kefakiran dan menjadi fakir
(2) kenyataan berkorban dan mementingkan orang lain
(3) Meninggalkan mengatur dan memilih.

PENGERTIAN ILMU HIKMAH

Ilmu hikmah adalah sebuah ilmu kebathinan dengan metode zikir dan doa, adakalanya juga dengan mantra berbahasa Arab atau campuran tetapi tidak bertentangan dengan akidah dan syari’at Islam, ditujukan untuk urusan duniawi seperti kekebalan, pangkat, karir, perjodohan, pengasihan dan lain-lain.

TATA CARA MENGUASAI TASAWUF

Maka wajiblah beramal dengan Islam, Maka tidak ada tasawuf kecuali dengan fiqih, karena kita tidak mengetahui hukum-hukum ALLAH Ta’ala yang lahir kecuali dengan fiqih. Dan tidak ada fiqih kecuali dengan tasawuf, karena tidak ada amal dengan kebenaran pengarahan (kecuali dengan tasawuf). Dan juga tidak ada tasawuf dan fiqih kecuali dengan Iman, karena tidaklah sah salah satu dari keduanya (fiqih dan tasawuf) tanpa iman. Maka wajiblah mengumpulkan ketiganya (iman, fiqih, tasawuf) .

Imam Malik berkata : Barangsiapa bertasawwuf tapi tidak berfiqih maka dia telah kafir zindiq (pura-pura beriman), dan barangsiapa yang berfiqih tapi tidak bertasawuf maka dia telah (berdosa) dan barangsiapa yang mengumpulkan keduanya (fiqh dan tasawwuf) maka dia telah benar.

Jadi Tasawwuf itu harus melalui Iman (akidah), Islam (syari’ah) dan Ihsan (Hakikat). Atau amal Syari’ah, Thoriqoh dan Hakikah.

Maka Syari’ah adalah menyembah ALLAH,
Thoriqoh adalah menuju ALLAH, dan
Hakikah adalah menyaksikan ALLAH.

Atau Syari’ah itu untuk memperbaiki lahiriah,
Thoriqoh untuk memperbaiki bathiniah (hati), dan
Hakikah untuk memperbaiki Sir (Rahasia diri).

Memperbaki anggota tubuh dengan 3 perkara : Taubat, Taqwa dan Istiqomah.
Dan memperbaiki hati dengan 3 perkara : Ikhlas, jujur dan tenang.
Dan memperbaiki Sir (Rahasia Diri) dengan 3 perkara : Muroqobah (saling mengawasi antara diri dan ALLAH), Musyahadah (saling menyaksikan antara diri dan ALLAH), dan Ma’rifah (Mengenal ALLAH secara mutlak dan jelas).

Dan terutam harus melalui Ke-Ikhlasan
Dan ikhlas itu ada 3 derajat :

(1) Derajat Awam (umumnya manusia)
(2) Khowwash
(3) Khowwasul Khowwash.

Penjelasannya:

(1) Ikhlasnya orang awam yaitu mengeluarkan makhluk dari beribadah kepada ALLAH beserta mencari bagian-bagian dunia dan akhirat. seperti menjaga badan, harta, keluasan rizki, perdagangan dan yang indah dipandang
(2) Ikhlasnya Khowwash adalah mencari bagian akhirat tanpa mencari bagian dunia.
(3) Dan ikhlasnya Khowwashul Khowwash adalah mengeluarkan bagian-bagian semuanya (dunia dan akhirat). Maka ibadah mereka adalah sebenar-benar penyembahan, dan melaksanakan tugas-tugas dari ALLAH, atau cinta dan rindu melihat-Nya.

Sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Faridh: “Bukanlah permintaanku berupa surga jannatun na’im, hanya saja aku mencintai surga untuk melihat-Mu” (kitab Iyqo-zhul Himam halaman 31-32).

TATA CARA MENGUASAI ILMU HIKMAH

Dengan puasa, zikir/wirid, amalan, doa, membaca ayat-ayat Qur’an, dengan mantra, sya’ir-syair yang dibuat para Ulama Hikmah atau yang didapat dari ilham para Ulama Hikmah atau dari ilham Ahli Tasawuf dan lain-lain

TUJUAN TASAWWUF
Tujuannya adalah Ma’rifatullah (mengenal ALLAH secara mutlak dan lebih jelas)

TUJUAN HIKMAH
Tujuannya umumnya masalah duniawi seperti kekebalan, kesaktian, pengasihan, jodoh, ramalan, pengobatan, kerejekian dan lain-lain

KEKUATAN LUAR BIASA

Kekuatan luar biasa ilmu hikmah termasuk kekuatan luar biasa Hissiah (panca indera/lahiriah) seperti berjalan di atas air, terbang di udara, melipat bumi, menimbulkan air, menarik makanan, tampaknya kegaiban dan lain-lain. Dan kekuatan luar biasa ahli tasawwuf adalah Hakikah / Ma’nawiyyah (sebenar-benarnya karomah) yaitu istiqomahnya (kontinyu) seorang hamba kepada Tuhannya dalam lahir dan bathin. Terbukanya hijab dari hatinya sehingga mengenal jelas Tuhannya. menguasai dirinya dan berbeda dengan hawa nafsunya, kuat yakinnya dan diamnya, tenang dengan ALLAH.

Imam Ibnu ‘A-tho-illah berkata : Seringkali ALLAH memberi rizki karomah (kekeramatan) pada orang yang tidak sempurna istiqomahnya.

Yang diambil pelajaran oleh Ahli Tahqiq (Ahli Tasawwuf sejati) adalah jangan mencari karomah Hissiah ini dan jangan berpaling kepadanya. Karena kadang tampak karomah Hissiah ini pada tangan orang yang tidak sempurna istiqomahnya. Bahkan kadang tampak pada tangan orang yang tidak ada istiqomah sama sekali, seperti para tukang sihir dan dukun. Dan kadang tampak pada tangan-tangan Rahib (pendeta).Dan ini bukanlah karomah tapi Istidroj.

Imam Abu Yazid Al Bustomi berkata : “Jika kamu melihat seseorang yang diberikan karomah (kekeramatan) sehingga dia dapat terbang di udara maka janganlah kamu tertipu dengannya sehingga kamu melihat bagaimana kamu mendapatkan dia melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, menjaga batasan-batasan, dan melaksanakan syari’at”

[Kitab Iyqo-zhul Himam fii Syarhil Hikam cetakan dan terbitan Al Haromain, Jeddah karangan Al ‘Arif Billah Ahmad bin Muhammad bin ‘Ajibah Al Husni]


PENGERTIAN KEBATHINAN.

Ilmu Kebathinan adalah suatu ilmu yang mencakup antara hikmah dan tasawuf,dimana pada hakekatnya antara hikmah dan tasawuf adalah sama-sama metode untuk taqorub ilallah dengan metode-metode tertentu,hanya saja yang membedakannya dari segi agama dan tata cara pelaksanaannya.

Tasawuf dan Hikmah dikenal dalam agama Islam,sedangkan kebathinan mencakup semua agama baik secara orisinal yang bersumber dari agama ataupun yang bersumber dari budaya dan kepercayaan adat tradisional.

Namun pada hakekatnya dari semuanya tersebut tujuan utamanya adalah untuk penyucian dari:

1.AKAL/BUDHI,yaitu menyucikan akal pikirannya dari segala pemikiran yang buruk

2.RAGA/JASAD,yaitu membawa jasadnya dalam kehidupan untuk selalu berbuat kebaikan dan menghindari dari segala perbuatan buruk dan maksiat

3.HATI ,yaitu penyucian hati dengan cara selalu berprasangka baik ,menerima segala ketetapan yang terjadi dengan berprasangka baik terhadap Sang Pencipta,tidak iri,dengki,riya,takabur,dll.

4.SUKMA/ROH,yaitu dengan menuruti apa yang dikehendaki melalui kata hati nurani,karna pada hakekatnya ROH adalah fitrah/suci dan selalu membisikan kebaikan didalam hati.

5.RASA,yaitu qana'ah,menerima segala rasa  yang dialami dalam kehidupan,baik kejadian suka atau duka dengan rasa senang hati,tiada mengeluh,sabar,berprasangka baik dan selalu bersyukur kepada-NYA.


Namun tidak menutup kemungkinan banyak yang mengalami kegagalan dipertengahan jalan,karna bujuk rayu dari syetan/hawa napsunya terhadap duniawi baik itu dari segi hikmah,tasawuf dan kebathinan.Dikarenakan suatu karomah atau sesuatu yang luar biasa diluar nalar yang dapat dilakukan olehnya,sehingga pada akhirnya mencari ketenaran dan mengejar duniawi dan segala ambisi yang timbul dalam dirinya.

Suatu ilmu yang benar-benar pada tujuan kebathinan (tasawuf dan hikmah) merupakan penyatuan penyucian dari kelima unsur (akal,jasad,hati,roh dan rasa) tiada lagi banyak berucap kata,namun apa yang diucapkan adalah kebenaran dan sesuatu yang nyata bisa terjadi.
Hubungan bathin merupakan kontak dari ROH suci dirinya secara nyata terhadap Sang Penciptanya.
Dan secara nyata mengenal hakekat dirinya sendiri,siapakah dirinya?...yang manakah muhammad dalam dirinya,para nabi,sahabat dan Sang Maha Hidup yang menghidupkan dalam dirinya.
Sehingga setiap perilakunya dalam segala kondisi akan merasakan ihsan dan kemanunggalan kepada ALLAH SWT.Akan tumbuh rasa Khauf(takut) bila berprilaku yang melanggar agama.

SEMOGA BERMANFAAT PENJELASAN TAMBAHAN DARI SAYA
SALAM.....






Semua Manusia akan rusak,kecuali yang Berilmu... Orang yang berilmu pun akan rusak ,kecuali orang yang beramal... Orang yang beramal juga akan rusak ,kecuali orang yang Ikhlas (Imam Al-Ghozali)