content top



RAHASIA KEHIDUPAN DALAM AL-QUR'AN



BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM

Banyak orang yang tidak beriman kepada al-Qur’an sekalipun mereka mengaku sebagai orang yang beriman. Mereka menghabiskan hidup mereka dengan berpegang pada khayalan, dan kehidupan mereka menyalahi al-Qur’an, bahkan mereka menolak al-Qur’an sebagai pembimbing mereka. Padahal, hanya al-Qur’an yang memberikan pengetahuan yang benar dalam masa kehidupan ini kepada setiap orang, dan al-Qur’an menjelaskan rahasia-rahasia penciptaan Allah dengan penjelasan paling benar dan paling murni. Informasi apa pun yang tidak berdasarkan pada al-Qur’an adalah informasi yang tidak benar, dengan demikian informasi tersebut merupakan tipuan dan khayalan. Dengan demikian, orang-orang yang tidak berpegang pada al-Qur’an hidupnya dalam keadaan mengkhayal. Di akhirat, mereka akan dilaknat selama-lamanya.

Dalam al-Qur’an, juga dalam shalat, perintah, larangan, dan akhlak yang baik, Allah menjelaskan berbagai rahasia kepada umat manusia. Sesungguhnya semuanya ini merupakan rahasia penting, dan mata yang mau memperhatikan dapat menyaksikan rahasia-rahasia ini di dalam hidupnya. Tidak ada sumber lain selain al-Qur’an yang dapat menjelaskan rahasia-rahasia ini. Al-Qur’an adalah sumber istimewa bagi rahasia-rahasia ini, sehingga siapa pun orangnya, betapapun ia orang yang cerdas dan melek huruf tidak akan pernah menemukan rahasia-rahasia ini di tempat lain.

Jika sebagian orang tidak dapat memahami pesan-pesan yang tersembunyi dalam al-Qur’an,sedangkan orang lain dapat memahaminya, ini merupakan rahasia lain yang diciptakan oleh Allah. Orang-orang yang tidak mengkaji rahasia-rahasia yang diwahyukan dalam al-Qur’an hidup dalam keadaan menderita dan berada dalam kesulitan. Ironisnya, mereka tidak pernah mengetahui penyebab penderitaan mereka. Dalam pada itu, orang-orang yang mempelajari rahasia-rahasia dalam al-Qur’an menjalani kehidupannya dengan mudah dan gembira.

Sebabnya adalah karena al-Qur’an itu jelas, mudah, dan cukup sederhana untuk dipahami oleh setiap orang. Dalam al-Qur’an. Allah berfirman:

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. Kami telah menurunkan kepadamu cahaya yang terang benderang. Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya dan limpahan karunia-Nya, dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” (Q.s. an-Nisa’: 174-75).

Namun demikian, kebanyakan manusia, meskipun mereka sanggup memecahkan masalah yang sangat sulit, memiliki pemahaman dan mampu mempraktikkan filsafat yang sangat membingungkan, ternyata tidak mampu memahami hal-hal yang jelas dan sederhana yang terdapat dalam al-Qur’an. Sebagaimana tetah dijelaskan dalam buku ini, persoalan ini merupakan rahasia yang penting. Di samping tidak mampu memahami sifat dunia yang sementara, hari demi hari orang-orang seperti ini semakin dekat kepada kematian yang tak dapat dielakkan.
Rahasia-rahasia dalam Al-Qur’an merupakan rahmat bagi orang beriman, dan di sisi lain, al-Qur’an memberikan ancaman bagi orang-orang kafir, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

Allah menjelaskan kenyataan ini dalam sebuah ayat sebagai berikut:

“Dan Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur’an itu hanyalah menambah kerugian bagi orang-orang yang zalim.” (Q.s. al-Isra’: 82).

Semenjak orang bangun pada pagi hari, wujud dari rahasia-rahasia yang diciptakan Allah ini dapat dilihat. Untuk memahami rahasia-rahasia ini, yang ia perlukan hanyalah selalu memperhatikannya, berpaling kepada Allah, dan bertafakur. Maka, ia akan menyadari bahwa hidupnya sama sekali tidak tergantung pada hukum–hukum yang merugikan sebagaimana yang dipakai banyak orang, dan ia akan menyadari bahwa satu-satunya kekuasaan dan hukum yang dapat dipercaya hanyalah hukum Allah. Ini merupakan rahasia yang sangat penting.

Tidak ada kebaikan di dalam aturan-aturan dan praktik-praktik yang digunakan kebanyakan orang selama berabad-abad yang dianggap sebagai kebenaran yang pasti. Sesungguhnya, orang-orang ini telah tertipu.

Kebenaran adalah apa yang dinyatakan dalam al-Qur’an. Siapa pun yang membaca al-Qur’an dengan ikhlas, lalu memikirkan berbagai peristiwa berdasarkan al-Qur’an dan iman, dan mendekatkan diri kepada Allah, ia akan melihat dengan jelas rahasia-rahasia ini.

Perbuatan inilah yang akan memberikan pemamahan yang lebih baik bahwa Allah adalah Yang Maha Esa Yang mengendalikan setiap makhluk, hati, dan pikiran, sebagaimana pernyataan Allah dalam sebuah ayat:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap
ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu benar.Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala
sesuatu?” (Q.s. Fushshilat: 53).

ALLAH MENGABULKAN DOA SETIAP ORANG

Allah Yang Mahakuasa, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang, telah berfirman dalam al-Qur’an bahwa Dia dekat dengan manusia dan akan mengabulkan permohonan orang-orang yang berdoa kepada-Nya. Adapun salah satu ayat yang membicarakan masalah tersebut adalah:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.s. al-Baqarah: 186).

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas, Allah itu dekat kepada setiap orang. Dia Maha Mengetahui keinginan, perasaan, pikiran, kata-kata yang diucapkan, bisikan, bahkan apa saja yang tersembunyi dalam hati setiap orang. Dengan demikian, Allah Mendengar dan Mengetahui setiap orang yang berpaling kepada-Nya dan berdoa kepada-Nya. Inilah karunia Allah kepada manusia dan sebagai wujud dari kasih-sayang-Nya, rahmat-Nya, dan kekuasaan-Nya yang tiada batas.

Allah memiliki kekuasaan dan pengetahuan yang tiada batas. Dialah Pemilik segala sesuatu diseluruh alam semesta. Setiap makhluk, setiap benda, dari orang-orang yang tampaknya paling kuat hingga orang-orang yang sangat kaya, dari binatang-binatang yang sangat besar hingga yang sangat kecil yang mendiami bumi, semuanya milik Allah dan semuanya berada dalam kehendak-Nya dan pengaturan-Nya yang mutlak.

Seseorang yang beriman terhadap kebenaran ini dapat berdoa kepada Allah mengenai apa saja dan dapat berharap bahwa Allah akan mengabulkan doa-doanya. Misalnya, seseorang yang mengidap penyakit yang tidak dapat disembuhkan tentu saja akan berusaha untuk melakukan berbagai macam pengobatan. Namun ketika mengetahui bahwa hanya Allah yang dapat memberikan kesehatan, lalu ia pun berdoa kepada-Nya memohon kesembuhan. Demikian pula, orang yang mengalami ketakutan atau kecemasan dapat berdoa kepada Allah agar terbebas dari ketakutan dan kecemasan. Seseorang yang menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan dapat berpaling kepada Allah untuk menghilangkan kesulitannya. Seseorang dapat berdoa kepada Allah untuk memohon berbagai hal yang tidak terhitung banyaknya seperti untuk memohon bimbingan kepada jalan yang benar, untuk dimasukkan ke dalam surga bersama-sama orang-orang beriman lainnya,agar lebih meyakini surga, neraka, Kekuasaan Allah, untuk kesehatan, dan sebagainya.

Inilah yang telah ditekankan Rasulullah saw. dalam sabdanya:

“Maukah aku beritahukan kepadamu suatu senjata yang dapat melindungimu dari kejahatan musuh dan agar rezekimu bertambah?” Mereka berkata, “Tentu saja wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Serulah Tuhanmu siang dan malam, karena ‘doa’ itu merupakan senjata bagi orang yang beriman.”

Namun demikian, terdapat rahasia lain di balik apa yang diungkapkan dalam al-Qur’an yang perlu kita bicarakan dalam masalah ini. Sebagaimana Allah telah menyatakan dalam ayat:

“Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan manusia itu tergesa-gesa.” (Q.s. al-Isra’:11).

Tidak setiap doa yang dipanjatkan oleh manusia itu bermanfaat. Misalnya seseorang memohon kepada Allah agar diberi harta dan kekayaan yang banyak untuk anak-anaknya kelak.
Akan tetapi Allah tidak melihat kebaikan di dalam doanya itu. Yakni, kekayaan yang banyak itu justru dapat memalingkan anak-anak tersebut dari Allah. Dalam hal ini, Allah mendengar doa orang tersebut, menerimanya sebagai amal ibadah, dan mengabulkannya dengan cara yang sebaik-baiknya.

Sebagai contoh lainnya, seseorang berdoa agar tidak terlambat dalam memenuhi perjanjian. Namun tampaknya lebih baik baginya jika ia sampai di tujuan setelah waktu yang ditentukan, karena ia dapat bertemu dengan seseorang yang memberikan sesuatu yang lebih bermanfaat untuk kehidupan yang abadi. Allah mengetahui masalah ini, dan Dia mengabulkan doa bukan berdasarkan apa yang dipikirkan orang itu, tetapi dengan cara yang terbaik. Yakni, Allah mendengar doa orang itu, tetapi jika Dia melihat tidak ada kebaikan dalam doanya itu, Dia memberikan apa yang terbaik bagi orang itu. Tentu saja hal ini merupakan rahasia yang sangat penting.

Ketika doa tidak dikabulkan, orang-orang tidak menyadari tentang rahasia ini, mereka mengira bahwa Allah tidak mendengar doa mereka. Sesungguhnya hal ini merupakan keyakinan orang-orang bodoh yang sesat, karena “Allah itu lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya sendiri.” (Q.s. Qaf: 16).

Dia Maha Mengetahui perkataan apa saja yang diucapkan, apa saja yang dipikirkan, dan peristiwa apa saja yang dialami seseorang. Bahkan ketika seseorang tertidur, Allah mengetahui apa yang ia alami dalam mimpinya. Allah adalah Yang menciptakan segala sesuatu. Oleh karena itu, kapan saja seseorang berdoa kepada Allah, ia harus menyadari bahwa Allah akan menerima doanya pada saat yang paling tepat dan akan memberikan apa yang terbaik baginya.

Doa, di samping sebagai bentuk amal ibadah, juga merupakan karunia Allah yang sangat berharga bagi manusia, karena melalui doa, Allah akan memberikan kepada manusia sesuatu yang Dia pandang baik dan bermanfaat bagi dirinya.

Allah menyatakan pentingnya doa dalam sebuah ayat:

“Katakanlah: ‘Tuhanku tidak mengindahkan kamu, andaikan tidak karena doamu. Tetapi kamu sungguh telah mendustakan-Nya, karena itu kelak azab pasti akan menimpamu’.” (Q.s. al-Furqan: 77)

Allah Mengabulkan Doa Orang-orang yang Menderita dan Berada dalam Kesulitan

Doa adalah saat-saat ketika kedekatan seseorang dengan Allah dapat dirasakan. Sebagai hamba Allah, seseorang sangat memerlukan Dia. Hal ini karena ketika seseorang berdoa, ia akan menyadari betapa lemahnya dan betapa hinanya dirinya di hadapan Allah, dan ia menyadari bahwa tak seorang pun yang dapat menolongnya kecuali Allah. Keikhlasan dan kesungguhan seseorang dalam berdoa tergantung pada sejauh mana ia merasa memerlukan. Misalnya, setiap orang berdoa kepada Allah untuk memohon keselamatan di dunia. Namun, orang yang merasa putus asa ditengah-tengah medan perang akan berdoa lebih sungguh-sungguh dan dengan berendah diri dihadapan Allah. Demikian pula, ketika terjadi badai yang menerpa sebuah kapal atau pesawat terbang sehingga terancam bahaya, orang-orang akan memohon kepada Allah dengan berendah diri. Mereka akan ikhlas dan berserah diri dalam berdoa.

Allah menceritakan keadaan ini dalam sebuah ayat:

“Katakanlah: Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan dilaut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan berendah diri dengan suara yang lembut:

'‘Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur’.” (Q.s. al-An‘am: 63).

Di dalam al-Qur’an, Allah memerintahkan manusia agar berdoa dengan merendahkan diri:

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Q.s. al-A‘raf: 55).

Dalam ayat lainnya, Allah menyatakan bahwa Dia mengabulkan doa orang-orang yang teraniaya dan orang-orang yang berada dalam kesusahan:

“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu sebagai khalifah di bumi? Apakah ada tuhan lain selain Allah? Sedikit sekali kamu yang memperhatikannya.” (Q.s. an-Naml: 62).


Tentu saja orang tidak harus berada dalam keadaan bahaya ketika berdoa kepada Allah.
Contoh-contoh ini diberikan agar orang-orang dapat memahami maknanya sehingga mereka berdoa dengan ikhlas dan merenungkan saat kematian, ketika seseorang tidak lagi merasa lalai sehingga mereka berpaling kepada Allah dengan keikhlasan yang dalam. Dalam pada itu, orang-orang yang beriman, yang dengan sepenuh hati berbakti kepada Allah, selalu menyadari kelemahan mereka dan kekurangan mereka, mereka selalu berpaling kepada Allah dengan ikhlas, sekalipun mereka tidak berada dalam keadaan bahaya. Ini merupakan ciri penting yang membedakan mereka dengan orangorang kafir dan orang-orang yang imannya lemah.


Tidak Ada Pembatasan Apa pun dalam Berdoa

Seseorang dapat memohon apa saja kepada Allah asalkan halal. Hal ini karena sebagaimana telah disebutkan terdahulu, Allah adalah satu-satunya penguasa dan pemilik seluruh alam semesta dan jika Dia menghendaki, Dia dapat memberikan kepada manusia apa saja yang Dia inginkan.
Setiap orang yang berpaling kepada Allah dan berdoa kepada-Nya, haruslah meyakini bahwa Allah berkuasa melakukan apa saja dan bersungguh-sungguhlah dalam berdoa sebagaimana disabdakan oleh Nabi saw. Ia perlu mengetahui bahwa mudah saja bagi-Nya untuk memenuhi keinginan apa saja, dan Dia akan memberikan apa yang diminta oleh seseorang jika di dalamnya terdapat kebaikan bagi orang itu dalam doa tersebut. Doa-doa para nabi dan orang-orang beriman yang disebutkan dalam al-Qur’an merupakan contoh bagi orang-orang beriman tentang hal-hal yang dapat mereka mohon kepada Allah. Misalnya, Nabi Zakaria a.s. berdoa kepada Allah agar diberi keturunan yang diridhai, dan Allah pun mengabulkan doanya, meskipun istrinya mandul:

“Yaitu ketika ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul,maka anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang putra. Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya‘qub; dan jadikanlah ia ya Tuhanku, seorang yang diridhai’.” (Q.s.Maryam: 3-6).

Maka Allah mengabulkan doa Nabi Zakaria dan memberikan kepadanya berita gembira tentang Nabi Yahya a.s.. Setelah menerima berita gembira tentang seorang anak laki-laki, Nabi Zakaria merasa heran karena istrinya mandul. Jawaban Allah kepada Nabi Zakaria menjelaskan tentang sebuah rahasia yang hendaknya selalu dicamkan dalam hati orang-orang yang beriman:

“Zakaria berkata, ‘Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua.’
Tuhan berfirman, ‘Demikianlah.’ Tuhan berfirman, ‘Hal itu mudah bagi-Ku, dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu belum ada sama sekali’.” (Q.s.Maryam: 8-9)

Ada beberapa Nabi lainnya yang disebutkan dalam al-Qur’an yang doa-doa mereka dikabulkan. Misalnya, Nabi Nuh a.s. memohon kepada Allah untuk menimpakan azab kepada kaumnya yang tersesat meskipun ia telah berusaha sekuat tenaga untuk membimbing mereka kepada jalan yang lurus. Sebagai jawaban dari doanya, Allah menimpakan azab besar kepada mereka yang tercatat dalam sejarah.

Nabi Ayub a.s. menyeru Tuhannya ketika ia sakit, ia berkata, “… Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (Q.s. al-Anbiya’: 83).

Sebagai jawaban terhadap doa Nabi Ayub, Allah berfirman sebagai berikut:

“Maka Kami pun mengabulkan doanya itu, lalu Kami hilangkan penyakit yang menimpanya
dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (Q.s. al-Anbiya’: 84).

Allah mengabulkan Nabi Sulaiman a.s. yang berdoa, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (Q.s. Shad: 35).

Maka Allah mengaruniakan kekuasaan yang besar dan kekayaan yang banyak kepadanya. Oleh karena itu, orang-orang yang berdoa hendaknya mencamkan dalam hati ayat ini,

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah.’ Maka terjadilah ia. (Q.s. Yasin: 82)


Sebagaimana dinyatakan dalam ayat ini, segala sesuatu itu mudah bagi Allah dan Dia Mendengar dan Mengetahui setiap doa.

Allah Memberi Karunia di Dunia ini bagi Orang-orang yang menginginkannya, Tetapi di Akhirat Mereka akan Menderita Kerugian orang-orang yang tidak memiliki ketakwaan kepada Allah dalam hatinya, dan imannya sangat lemah terhadap kehidupan akhirat, hanyalah menginginkan keduniaan. Mereka meminta kekayaan,harta benda, dan kedudukan hanyalah untuk kehidupan di dunia ini. Allah memberi tahu kita bahwa orang-orang yang hanya menginginkan keduniaan tidak akan memperoleh pahala di akhirat.

Tetapi bagi orang-orang yang beriman, mereka berdoa memohon dunia dan akhirat karena mereka percaya bahwa kehidupan di akhirat sama pastinya dan sama dekatnya dengan kehidupan dunia ini. Tentang masalah ini, Allah menyatakan sebagai berikut:

“Di antara manusia ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,’ dan tidak ada baginya bagian di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.’ Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari apa yang mereka usahakan, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (Q.s. al-Baqarah: 200).

Orang-orang yang beriman juga berdoa memohon kesehatan, kekayaan, ilmu, dan kebahagiaan. Akan tetapi, semua doa mereka adalah untuk mencari keridhaan Allah dan untuk memperoleh kebaikan bagi agamanya. Mereka memohon kekayaan misalnya, adalah untuk digunakan di jalan Allah. Berkenaan dengan masalah ini, Allah memberikan contoh tentang Nabi Sulaiman di dalam al-Qur’an. Jauh dari keinginan untuk memperoleh dunia, doa Nabi Sulaiman untuk meminta kekayaan adalah demi tujuan mulia untuk digunakan di jalan Allah, untuk menyeru manusia kepada agama Allah, dan agar dirinya sibuk berdzikir kepada Allah. Kata-kata Nabi
Sulaiman sebagaimana yang diceritakan dalam al-Qur’an menunjukkan niatnya yang ikhlas:

“Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik karena ingat kepada Tuhanku.” (Q.s. Shad: 32).

Maka Allah mengabulkan doa Nabi Sulaiman a.s. tersebut dengan mengaruniakan kepadanya kekayaan yang sangat banyak di dunia dan ia akan memperoleh pahala di akhirat. Dalam pada itu,Allah juga mengabulkan keinginan orang-orang yang hanya menghendaki kehidupan dunia, namun azab yang pedih menunggu mereka di akhirat. Keuntungan yang telah mereka peroleh di dunia ini tidak akan mereka peroleh lagi di akhirat kelak.

Kenyataan yang sangat penting ini diceritakan dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami akan memberikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya bagian sedikit pun di akhirat. (Q.s. asy-Syura: 20).

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang, maka Kami segerakan baginya di dunia apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (Q.s. al-Isra’:18).


ALLAH MENAMBAHKAN NIKMATNYA KEPADA ORANG-ORANG YANG BERSYUKUR

Setiap orang sangat memerlukan Allah dalam setiap gerak kehidupannya. Dari udara untuk bernafas hingga makanan yang ia makan, dari kemampuannya untuk menggunakan tangannya hingga kemampuan berbicara, dari perasaan aman hingga perasaan bahagia, seseorang benar-benar sangat memerlukan apa yang telah diciptakan oleh Allah dan apa yang dikaruniakan kepadanya.

Akan tetapi kebanyakan orang tidak menyadari kelemahan mereka dan tidak menyadari bahwa mereka sangat memerlukan Allah. Mereka menganggap bahwa segala sesuatunya terjadi dengan sendirinya atau mereka menganggap bahwa segala sesuatu yang mereka peroleh adalah karena hasil jerih payah mereka sendiri. Anggapan ini merupakan kesalahan yang sangat fatal dan benar-benar tidak mensyukuri nikmat Allah. Anehnya, orang-orang yang telah menyatakan rasa terima kasihnya kepada seseorang karena telah memberi sesuatu yang remeh kepadanya, mereka menghabiskan hidupnya dengan mengabaikan nikmat Allah yang tidak terhitung banyaknya di sepanjang hidupnya.

Bagaimanapun, nikmat yang diberikan Allah kepada seseorang sangatlah besar sehingga tak seorang pun yang dapat menghitungnya.
Allah menceritakan kenyataan ini dalam sebuah ayat sebagai berikut:

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. an-Nahl: 18).


Meskipun kenyataannya demikian, kebanyakan manusia tidak mampu mensyukuri kenikmatan yang telah mereka terima. Adapun penyebabnya diceritakan dalam al-Qur’an.
Setan yang berjanji akan menyesatkan manusia dari jalan Allah, berkata bahwa tujuan utamanya adalah untuk menjadikan manusia tidak bersyukur kepada Allah. Pernyataan setan yang mendurhakai Allah ini menegaskan pentingnya bersyukur kepada Allah:

“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. Allah berfirman, ‘Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya’.” (Q.s. al-A‘raf: 17-8).

Dalam pada itu, orang-orang yang beriman karena menyadari kelemahan mereka, di hadapan Allah mereka memanjatkan syukur dengan rendah diri atas setiap nikmat yang diterima. Bukan hanya kekayaan dan harta benda yang disyukuri oleh orang-orang yang beriman. Karena orangorang yang beriman mengetahui bahwa Allah adalah Pemilik segala sesuatu, mereka juga bersyukur atas kesehatan, keindahan, ilmu, hikmah, kepahaman, wawasan, dan kekuatan yang dikaruniakan kepada mereka, dan mereka mencintai keimanan dan membenci kekufuran.

Mereka bersyukur karena telah dibimbing dalam kebenaran dan dimasukkan dalam golongan orang-orang beriman.
Pemandangan yang indah, urusan yang mudah, keinginan yang tercapai, berita-berita yang menggembirakan, perbuatan yang terpuji, dan nikmat-nikmat lainnya, semua ini menjadikan orang-orang beriman berpaling kepada Allah, bersyukur kepada-Nya yang telah menunjukkan rahmat dan kasih sayang-Nya.
Sebagai balasan atas kesyukurannya, sebuah pahala menunggu orang-orang yang beriman. Ini merupakan rahasia lain yang dinyatakan dalam al-Qur’an.

Allah menambah nikmat-Nya kepada orang-orang yang bersyukur. Misalnya, bahkan Allah memberikan kesehatan dan kekuatan yang lebih banyak lagi kepada orang-orang yang bersyukur kepada Allah atas kesehatan dan kekuatan yang mereka miliki. Bahkan Allah mengaruniakan ilmu dan kekayaan yang lebih banyak kepada orang-orang yang mensyukuri ilmu dan kekayaan tersebut. Hal ini karena mereka adalah orang-orang yang ikhlas yang merasa puas dengan apa yang diberikan Allah dan mereka ridha dengan karunia tersebut, dan mereka menjadikan Allah sebagai pelindung mereka.

Allah menceritakan rahasia ini dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“Dan ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (Q.s. Ibrahim: 7)

Mensyukuri nikmat juga menunjukkan tanda kedekatan dan kecintaan seseorang kepada Allah. Orang-orang yang bersyukur memiliki kesadaran dan kemampuan untuk melihat keindahan dan kenikmatan yang dikaruniakan Allah. Rasulullah saw. juga menyebutkan masalah ini, beliau bersabda:

“Jika Allah memberikan harta kepadamu, maka akan tampak kegembiraan pada dirimu dengan nikmat dan karunia Allah itu."

Dalam pada itu, seorang kafir atau orang yang tidak mensyukuri nikmat hanya akan melihat cacat dan kekurangan, bahkan pada lingkungan yang sangat indah, sehingga ia akan merasa tidak berbahagia dan tidak puas, maka Allah menjadikan orang-orang seperti ini hanya menjumpai berbagai peristiwa dan pemandangan yang tidak menyenangkan.

Akan tetapi Allah menampakkan lebih banyak nikmat dan karunia-Nya kepada orang-orang yang ikhlas dan memiliki hati nurani.

Bahwa Allah menambah kenikmatan kepada orang-orang yang bersyukur, ini juga merupakan salah satu rahasia dari al-Qur’an. Bagaimanapun harus kita camkan dalam hati bahwa keikhlasan merupakan prasyarat agar dapat mensyukuri nikmat. Jika seseorang menunjukkan rasa syukurnya tanpa berpaling dengan ikhlas kepada Allah dan tanpa menghayati rahmat dan kasih sayang Allah yang tiada batas, tetapi rasa syukurnya itu hanya untuk menarik perhatian orang, tentu saja ini merupakan ketidakikhlasan yang parah. Allah mengetahui apa yang tersimpan dalam hati dan mengetahui ketidakikhlasannya tersebut. Orang-orang yang memiliki niat yang tidak ikhlas bisa saja menyembunyikan apa yang tersimpan dalam hati dari orang lain. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya dari Allah.

Orang-orang seperti itu bisa saja mensyukuri nikmat ketika tidak menghadapi penderitaan. Tetapi pada saat-saat berada dalam kesulitan, mungkin mereka akan mengingkari nikmat.
Perlu diperhatikan, bahwa orang-orang mukmin sejati tetap bersyukur kepada Allah sekalipun mereka berada dalam keadaan yang sangat sulit. Seseorang yang melihat dari luar mungkin melihat berkurangnya nikmat pada diri orang-orang yang beriman. Padahal, orang-orang beriman yang mampu melihat sisi-sisi kebaikan dalam setiap peristiwa dan keadaan juga mampu melihat kebaikan dalam penderitaan tersebut. Misalnya, Allah menyatakan bahwa Dia akan menguji manusia dengan rasa takut, lapar, kehilangan harta dan jiwa. Dalam keadaan seperti itu, orang-orang beriman tetap bergembira dan merasa bersyukur, mereka berharap bahwa Allah akan memberi pahala kepada mereka berupa surga sebagai pahala atas sikap mereka yang tetap istiqamah dalam menghadapi ujian tersebut. Mereka mengetahui bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kekuatannya. Sikap istiqamah dan tawakal yang mereka jalani dalam menghadapi penderitaan tersebut akan membuahkan sifat sabar dan syukur dalam diri mereka.

Dengan demikian,ciri-ciri orang yang beriman adalah tetap menunjukkan ketaatan dan bertawakal kepada-Nya, dan Allah berjanji akan menambah nikmat kepada hamba-hamba-Nya yang mensyukuri nikmat-Nya, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.


RAHASIA BERSERAH DIRI DAN BERTAWAKAL KEPADA ALLAH

Berserah diri kepada Allah merupakan ciri khusus yang dimiliki orang-orang mukmin, yang memiliki keimanan yang mendalam, yang mampu melihat kekuasaan Allah, dan yang dekat dengan-Nya. Terdapat rahasia penting dan kenikmatan jika kita berserah diri kepada Allah. Berserah diri kepada Allah maknanya adalah menyandarkan dirinya dan takdirnya dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Allah telah menciptakan semua makhluk, binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa masing-masing dengan tujuannya sendiri-sendiri dan takdirnya sendiri-sendiri.

Matahari, bulan, lautan, danau, pohon, bunga, seekor semut kecil, sehelai daun yang jatuh, debu yang ada di bangku, batu yang menyebabkan kita tersandung, baju yang kita beli sepuluh tahun yang lalu, buah persik di lemari es, ibu anda, teman kepala sekolah anda, diri anda pendek kata segala sesuatunya, takdirnya telah ditetapkan oleh Allah jutaan tahun yang lalu. Takdir segala sesuatu telah tersimpan dalam sebuah kitab yang dalam al-Qur’an disebut sebagai ‘Lauhul-Mahfuzh’.

Orang-orang yang beriman meyakini takdir ini dan mereka mengetahui bahwa takdir yang diciptakan oleh Allah adalah yang terbaik bagi mereka. Itulah sebabnya setiap detik dalam kehidupan mereka, mereka selalu berserah diri kepada Allah. Dengan kata lain, mereka mengetahui bahwa Allah menciptakan semua peristiwa ini sesuai dengan tujuan ilahiyah, dan terdapat kebaikan dalam apa saja yang diciptakan oleh Allah. Misalnya, terserang penyakit yang berbahaya, menghadapi musuh yang kejam, menghadapi tuduhan palsu padahal ia tidak bersalah, atau menghadapi peristiwa yang sangat mengerikan, semua ini tidak mengubah keimanan orang yang beriman,juga tidak menimbulkan rasa takut dalam hati mereka. Mereka menyambut dengan rela apa saja
yang telah diciptakan Allah untuk mereka. Orang-orang beriman menghadapi dengan kegembiraan keadaan apa saja, keadaan yang pada umumnya bagi orang-orang kafir menyebabkan perasaan ngeri dan putus asa. Hal itu karena rencana yang paling mengerikan sekalipun, sesungguhnya telah direncanakan oleh Allah untuk menguji mereka. Orang-orang yang menghadapi semuanya ini dengan sabar dan bertawakal kepada Allah atas takdir yang telah Dia ciptakan, mereka akan dicintai dan diridhai Allah. Mereka akan memperoleh surga yang kekal abadi. Itulah sebabnya orang-orang yang beriman memperoleh kenikmatan, ketenangan, dan kegembiraan dalam kehidupan mereka karena bertawakal kepada Tuhan mereka. Inilah nikmat dan rahasia yang dijelaskan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman. Allah menjelaskan dalam al-Qur’an bahwa Dia mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (Q.s. Ali ‘Imran: 159)

Rasulullah saw. juga menyatakan hal ini, beliau bersabda:

“Tidaklah beriman seorang hamba Allah hingga ia percaya kepada takdir yang baik dan buruk, dan mengetahui bahwa ia tidak dapat menolak apa saja yang menimpanya (baik dan buruk), dan ia tidak dapat terkena apa saja yang dijauhkan darinya (baik dan buruk).”

Masalah lainnya yang disebutkan dalam al-Qur’an tentang bertawakal kepada Allah adalah tentang “melakukan tindakan”. Al-Qur’an memberitahukan kita tentang berbagai tindakan yang dapat dilakukan orang-orang yang beriman dalam berbagai keadaan. Dalam ayat-ayat lainnya, Allah juga menjelaskan rahasia bahwa tindakan-tindakan tersebut yang diterima sebagai ibadah kepada Allah, tidak dapat mengubah takdir. Nabi Ya‘qub a.s. menasihati putranya agar melakukan beberapa tindakan ketika memasuki kota, tetapi setelah itu beliau diingatkan agar bertawakal kepada Allah.

Inilah ayat yang membicarakan masalah tersebut:

“Dan Ya‘qub berkata, ‘Hai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlainan, namun demikian aku tidak dapat melepaskan kamu barang sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri’.” (Q.s. Yusuf: 67).

Sebagaimana dapat dilihat pada ucapan Nabi Ya‘qub, orang-orang yang beriman tentu saja juga mengambil tindakan berjaga-jaga, tetapi mereka mengetahui bahwa mereka tidak dapat mengubah takdir Allah yang dikehendaki untuk mereka. Misalnya, seseorang harus mengikuti aturan lalu lintas dan tidak mengemudi dengan sembarangan. Ini merupakan tindakan yang penting dan merupakan sebuah bentuk ibadah demi keselamatan diri sendiri dan orang lain. Namun, jika Allah menghendaki bahwa orang itu meninggal karena kecelakaan mobil, maka tidak ada tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah kematiannya. Terkadang tindakan pencegahan atau suatu perbuatan tampaknya dapat menghindari orang itu dari kematian. Atau mungkin seseorang dapat melakukan keputusan penting yang dapat mengubah jalan hidupnya, atau seseorang dapat sembuh dari penyakitnya yang mematikan dengan menunjukkan kekuatannya dan daya tahannya. Namun, semua peristiwa ini terjadi karena Allah telah menetapkan yang demikian itu. Sebagian orang salah menafsirkan peristiwa-peristiwa seperti itu sebagai “mengatasi takdir seseorang” atau “mengubah takdir seseorang”. Tetapi, tak seorang pun, bahkan orang yang sangat kuat sekalipun di dunia ini yang dapat mengubah apa yang telah ditetapkan oleh Allah. Tak seorang manusia pun yang memiliki kekuatan seperti itu. Sebaliknya, setiap makhluk sangat lemah dibandingkan dengan ketetapan Allah. Adanya fakta bahwa sebagian orang tidak menerima kenyataan ini tetap tidak mengubah kebenaran. Sesungguhnya, orang yang menolak takdir juga telah ditetapkan demikian. Karena itulah orang-orang yang menghindari kematian atau penyakit, atau mengubah jalannya kehidupan, mereka mengalami peristiwa seperti ini karena Allah telah menetapkannya. Allah menceritakan hal ini dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (Q.s. al-Hadid: 22-3).

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas, peristiwa apa pun yang terjadi telah ditetapkan sebelumnya dan tertulis dalam Lauh Mahfuzh. Untuk itulah Allah menyatakan kepada manusia supaya tidak berduka cita terhadap apa yang luput darinya. Misalnya, seseorang yang kehilangan semua harta bendanya dalam sebuah kebakaran atau mengalami kerugian dalam perdagangannya, semua ini memang sudah ditetapkan. Dengan demikian mustahil baginya untuk menghindari atau mencegah kejadian tersebut. Jadi tidak ada gunanya jika merasa berduka cita atas kehilangan tersebut. Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan berbagai kejadian yang telah ditetapkan untuk mereka. Orang-orang yang bertawakal kepada Allah ketika mereka menghadapi peristiwa seperti itu, Allah akan ridha dan cinta kepadanya. Sebaliknya, orang-orang yang tidak bertawakal kepada Allah akan selalu mengalami kesulitan, keresahan, ketidakbahagiaan dalam kehidupan mereka di dunia ini,dan akan memperoleh azab yang kekal abadi di akhirat kelak. Dengan demikian sangat jelas bahwa bertawakal kepada Allah akan membuahkan keberuntungan dan ketenangan di dunia dan di akhirat.

Dengan menyingkap rahasia-rahasia ini kepada orang-orang yang beriman, Allah membebaskan mereka dari berbagai kesulitan dan menjadikan ujian dalam kehidupan di dunia ini mudah bagi mereka.


TERDAPAT KEBAIKAN DALAM SETIAP PERISTIWA

Allah memberitahukan kita bahwa dalam setiap peristiwa yang Dia ciptakan terdapat kebaikan di dalamnya. Ini merupakan rahasia lain yang menjadikan mudah bagi orang-orang yang beriman untuk bertawakal kepada Allah. Allah menyatakan, bahkan dalam peristiwa-peristiwa yang tampaknya tidak menyenangkan terdapat kebaikan di dalamnya:

“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Q.s. an-Nisa’: 19).

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah: 216).

Dengan memahami rahasia ini, orang-orang yang beriman menjumpai kebaikan dan keindahan dalam setiap peristiwa. Peristiwa-peristiwa yang sulit tidak membuat mereka merasa gentar dan khawatir. Mereka tetap tenang ketika menghadapi penderitaan yang ringan maupun berat.

Orang-orang Muslim yang ikhlas bahkan melihat kebaikan dan hikmah Ilahi ketika mereka kehilangan seluruh harta benda mereka. Mereka tetap bersyukur kepada Allah yang telah mengkaruniakan kehidupan. Mereka yakin bahwa dengan kehilangan harta tersebut Allah sedang melindungi mereka dari perbuatan maksiat atau agar hatinya tidak terpaut dengan harta benda. Untuk itu, mereka bersyukur dengan sedalam-dalamnya kepada Allah karena kerugian di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kerugian di akhirat. Kerugian di akhirat artinya azab yang kekal abadi dan sangat pedih. Orang-orang yang tetap sibuk mengingat akhirat melihat setiap peristiwa sebagai kebaikan dan keindahan untuk menuju kehidupan akhirat. Orang-orang yang bersabar dengan penderitaan yang dialaminya akan menyadari bahwa dirinya sangat lemah di hadapan Allah, dan akan menyadari betapa mereka sangat memerlukan Dia. Mereka akan berpaling kepada Allah dengan lebih berendah diri dalam doa-doa mereka, dan dzikir mereka akan semakin mendekatkan diri mereka kepada-Nya. Tentu saja hal ini sangat bermanfaat bagi kehidupan akhirat seseorang.

Dengan bertawakal sepenuhnya kepada Allah dan dengan menunjukkan kesabaran, mereka akan memperoleh ridha Allah dan akan memperoleh pahala berupa kebahagiaan abadi.
Manusia harus mencari kebaikan dan keindahan tidak saja dalam penderitaan, tetapi juga dalam peristiwa sehari-hari. Misalnya, masakan yang dimasak dengan susah payah ternyata hangus, dengan kehendak Allah, mungkin akan bermanfaat menjauhkan dari madharat kelak di kemudian hari. Seseorang mungkin tidak diterima dalam ujian masuk perguruan tinggi untuk menggapai harapannya pada masa depan. Bagaimanapun, hendaknya ia mengetahui bahwa terdapat kebaikan dalam kegagalannya ini. Demikian pula hendaknya ia dapat berpikir bahwa barangkali Allah menghendaki dirinya agar terhindar dari situasi yang sulit, sehingga ia tetap merasa senang dengan kejadian itu. Dengan berpikir bahwa Allah telah menempatkan berbagai rahmat dalam setiap peristiwa,baik yang terlihat maupun yang tidak, orang-orang yang beriman melihat keindahan dalam bertawakal mengharapkan bimbingan Allah.

Seseorang mungkin tidak selalu melihat kebaikan dan hikmah Ilahi di balik setiap peristiwa.
Sekalipun demikian ia mengetahui dengan pasti bahwa terdapat kebaikan dalam setiap peristiwa. Ia memanjatkan doa kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya kebaikan dan hikmah Ilahi di balik segala sesuatu yang terjadi.

Orang-orang yang menyadari bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah memiliki tujuan tidak pernah mengucapkan kata-kata, “Seandainya saya tidak melakukan…” atau “Seandainya saya tidak berkata …,” dan sebagainya. Kesalahan, kekurangan, atau peristiwa-peristiwa yang kelihatannya tidak menguntungkan, pada hakikatnya di dalamnya terdapat rahmat dan masing-masing merupakan ujian. Allah memberikan pelajaran penting dan mengingatkan manusia tentang tujuan penciptaan pada setiap orang. Bagi orang-orang yang dapat melihat dengan hati nuraninya,tidak ada kesalahan atau penderitaan, yang ada adalah pelajaran, peringatan, dan hikmah dari Allah.

Misalnya, seorang Muslim yang tokonya terbakar akan melakukan mawas diri, bahkan keimanannya menjadi lebih ikhlas dan lebih lurus, ia menganggap peristiwa itu sebagai peringatan dari Allah agar tidak terlalu sibuk dan terpikat dengan harta dunia.

Hasilnya, apa pun yang dihadapinya dalam kehidupannya, penderitaan itu pada akhirnya akan berakhir sama sekali. Seseorang yang mengenang penderitaannya akan merasa takjub bahwa penderitaan itu tidak lebih dari sekadar kenangan dalam pikiran, bagaikan orang yang mengingat kembali adegan dalam film. Oleh karena itu, akan datang suatu saat ketika pengalaman yang sangat pedih akan tinggal menjadi kenangan, bagaikan bayangan adegan dalam film. Hanya ada satu yang masih ada: bagaimanakah sikap seseorang ketika menghadapi kesulitan, dan apakah Allah ridha kepadanya atau tidak. Seseorang tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang telah ia alami,tetapi yang dimintai tanggung jawab adalah sikapnya, pikirannya, dan keikhlasannya terhadap apa yang ia alami. Dengan demikian, berusaha untuk melihat kebaikan dan hikmah Ilahi terhadap apa yang diciptakan Allah dalam situasi yang dihadapi seseorang, dan bersikap positif akan mendatangkan kebahagiaan bagi orang-orang beriman, baik di dunia maupun di akhirat. Tidak duka cita dan
ketakutan yang menghinggapi orang-orang yang beriman yang memahami rahasia ini. Demikian pula, tidak ada manusia dan tidak ada peristiwa yang menjadikan rasa takut atau menderita di dunia ini dan di akhirat kelak. Allah menjelaskan rahasia ini dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“Kami berfirman, ‘Turunlah kamu dari surga itu. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan mereka tidak bersedih hati’.” (Q.s. al-Baqarah: 38).

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.
Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (Q.s. Yunus: 62-4).


WAJAH ORANG-ORANG BERIMAN BERCAHAYA, DAN WAJAH ORANG-ORANG
KAFIR DILIPUTI KEHINAAN

Salah satu rahasia yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an adalah bahwa keimanan dan kekufuran tercermin di wajah dan kulit manusia. Di beberapa ayat, Allah memberitahukan bahwa terdapat cahaya di wajah orang-orang beriman, sedangkan wajah orang-orang kafir diliputi kehinaan:

“Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu …” (Q.s. asy-Syura: 45).

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan ada tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak pula kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan memperoleh balasan yang setimpal dan mereka diliputi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari azab Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Q.s. Yunus: 26-7).

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat-ayat tersebut, wajah orang-orang kafir diliputi oleh kehinaan. Sebaliknya, wajah orang-orang beriman bercahaya. Allah menyatakan bahwa mereka dikenal karena adanya bekas sujud pada wajah mereka:

“Muhammad itu adalah Utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…” (Q.s. al-Fath: 29).

Dalam ayat-ayat lainnya, Allah memberitahukan bahwa orang-orang kafir dan orang-orang yang berdosa dikenali dari wajah mereka:

“Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka.” (Q.s. ar-Rahman: 41).

“Dan kalau kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka, dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” (Q.s. Muhammad: 30).

Keajaiban dan rahasia penting yang diungkapkan dalam al-Qur’an adalah adanya perubahan fisik yang terjadi pada wajah seseorang. Hal itu tergantung pada keimanan dan dosa seseorang.
Keadaan ruhani menghasilkan pengaruh fisik pada tubuh, sekalipun bentuknya tetap sama, namun ekspresi wajah dapat berubah, yakni wajahnya diliputi kegelapan atau cahaya. Jika Allah menghendaki,orang yang beriman dapat melihat keajaiban ini yang ditunjukkan kepada orang-orang.


RAHASIA MENGAPA ALLAH MENGHAPUS PERBUATAN BURUK

Orang-orang beriman bercita-cita memperoleh keridhaan, kasih sayang, dan surga Allah.
Namun, manusia diciptakan dalam keadaan lemah dan lupa sehingga manusia melakukan banyak kesalahan dan memiliki banyak kelemahan. Allah Yang Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya dan Maha Pengasih dan Penyayang memberitahukan kita bahwa Dia akan menghapus perbuatan buruk dari hamba-Nya yang ikhlas dan akan memberikan kepada mereka pemeriksaan yang mudah:

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya dengan gembira.” (Q.s. al-Insyiqaq: 7-9).

Tentu saja Allah tidak mengubah perbuatan buruk setiap orang menjadi kebaikan. Adapun sifat orang-orang beriman yang perbuatan buruknya dihapus Allah dan diampuni-Nya diberitahukan dalam al-Qur’an.

Orang-orang yang Menjauhi Dosa-dosa Besar

Dalam sebuah ayat Allah menyatakan:

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya,niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia.” (Q.s. an-Nisa’: 31).

Orang-orang yang beriman yang mengetahui fakta ini berbuat dengan sangat hati-hati dengan memperhatikan batas-batas yang ditetapkan Allah, dan mereka menghindari hal-hal yang dilarang.
Jika mereka melakukan kesalahan karena kealpaannya, mereka segera berpaling kepada Allah,bertobat, dan memohon ampunan.

Allah memberitahukan kita dalam al-Qur’an tentang hamba-hamba-Nya yang tobatnya akan diterima. Dalam hal ini, jika kita mengetahui perintah Allah, namun dengan sengaja kita melakukan dosa dan berkata, “Tidak apa-apa, apa pun yang terjadi saya akan diampuni.” Perkataan ini benar-benar menunjukkan cara berpikir yang salah, karena Allah mengampuni perbuatan dosa hamba-hamba-Nya yang dilakukan karena kealpaan dan ia segera bertobat dan tidak berniat mengulanginya lagi:

“Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran ketidaktahuan, yang kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima tobatnya oleh Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang.’ Dan tidak pula orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (Q.s.an-Nisa’: 17-8).

Sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, menjauhi perbuatan dosa dengan sungguh-sungguh sangatlah penting jika seseorang ingin perbuatan-perbuatan buruknya dihapuskan, dan jika tidak menginginkan penyesalan pada hari pengadilan kelak. Dalam pada itu, seorang beriman yang melakukan suatu dosa, hendaknya secepatnya memohon ampun kepada Allah.

Orang-orang yang Sibuk Mengerjakan Amal Saleh

Dalam ayat lainnya, Allah menyatakan bahwa Dia akan menutupi perbuatan buruk orang-orang yang beramal saleh. Sebagian dari ayat-ayat yang membicarakan masalah ini adalah sebagai berikut:

“Pada hari ketika Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari ditampakkannya kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar.” (Q.s. at-Taghabun: 9).

“Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, maka mereka itu kejahatan mereka diganti dengan Allah dengan kebajikan. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. al-Furqan: 70).

Setiap perbuatan dan semua tindakan yang dilakukan untuk mencari karunia Allah adalah “amal saleh”. Misalnya, perbuatan seperti menyampaikan perintah agama Allah kepada manusia, memperingatkan seseorang yang tidak mau bertawakal kepada Allah atas takdirnya, menjauhi seseorang dari menggunjing, memelihara rumah dan badan agar tetap bersih, memperluas wawasan dengan membaca dan belajar, berbicara dengan sopan, mengingatkan orang tentang akhirat, merawat orang sakit, menunjukkan perasaan cinta dan kasih sayang kepada yang lebih tua, mencari nafkah dengan cara yang halal sehingga hasilnya dapat digunakan untuk kemanfaatan orang lain, mencegah kejahatan dengan kebaikan dan kesabaran, semua itu merupakan amal saleh jika dilakukan untuk mencari keridhaan Allah. Orang-orang yang menginginkan agar kesalahannya diampuni dan diganti dengan kebaikan di akhirat, hendaknya selalu melakukan perbuatan yang sangat diridhai Allah.

Untuk tujuan itu, hendaknya kita selalu ingat perhitungan pada Hari Pengadilan. Tentunya menjadi jelas bagaimanakah seseorang seharusnya berbuat, misalnya jika ia diletakkan di depan api neraka,kemudian kepadanya diperlihatkan perbuatan-perbuatan buruknya yang telah ia kerjakan semasahidupnya, kemudian diingatkan bahwa ia seharusnya berbuat benar agar diampuni. Seseorang yang melihat api neraka, yang mendengar keputusasaan, penyesalan, dan keluh kesah para penghuni neraka yang mengalami siksaan yang pedih, dan yang menyaksikan siksa neraka dengan matanya,tentu saja akan melakukan perbuatan yang sangat diridhai Allah dan akan berusaha dengan sekuat tenaganya. Orang ini akan mengerjakan shalat tepat pada waktunya, melakukan amal saleh, tidak akan pernah lalai, tidak pernah berani melakukan perbuatan yang kurang diridhai Allah, jika ia mengetahui bahwa ada perbuatan lainnya yang lebih diridhai-Nya. Karena neraka yang ada disisinya akan selalu mengingatkannya tentang kehidupan yang kekal abadi dan siksaan Allah. Ia akan segera melakukan apa yang diperintahkan oleh hati nuraninya. Ia akan berhati-hati dalam menjaga shalatnya. Sehingga, dalam kehidupan di dunia ini, perbuatan buruk bagi orang-orang yang melakukan amal saleh, takut kepada Allah dan hari pengadilan, bagaikan orang yang melihat neraka lalu dikembalikan ke dunia, atau bagaikan mereka selalu melihat api neraka di sisinya sehingga ia segera melakukan kebaikan. Orang-orang yang beriman ini merasa yakin tentang akhirat dan mereka sangat takut dengan azab Allah dan berusaha menjauhinya.


TUJUAN MEMBELANJAKAN HARTA DI JALAN ALLAH

Salah satu amal ibadah yang terpenting yang dapat membersihkan kotoran kebendaan dan keruhanian, dan sebagai latihan bagi ruhani sehingga seseorang dapat mencapai derajat akhlak yang tinggi sehingga Allah akan ridha kepadanya adalah membelanjakan harta di jalan Allah. Allah telah berfirman kepada Nabi saw. agar mengambil zakat dari harta benda orang-orang beriman untuk membersihkan dan menyucikan harta tersebut.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (Q.s. at-Taubah: 103).

Meskipun demikian, perbuatan membelanjakan harta yang dapat membersihkan dan menyucikan orang-orang adalah jika dilakukan berdasarkan ketentuan yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an. Orang-orang beranggapan bahwa mereka telah menunaikan tugas mereka ketika mereka memberikan sejumlah uang yang sangat sedikit yang diberikan kepada pengemis, memberikan pakaian bekas kepada orang miskin, atau memberi makan kepada orang yang lapar. Tidak diragukan lagi bahwa perbuatan-perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang akan memperoleh pahala dari Allah jika niatnya untuk mencari ridha Allah. Namun sesungguhnya ada batas-batas yang telah ditentukan dalam al-Qur’an. Misalnya, Allah memerintahkan manusia agar menginfakkan apa saja yang melebihi keperluannya:

“Mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir.” (Q.s. al-Baqarah: 219).

Manusia hanya memerlukan sedikit saja untuk memenuhi keperluan hidupnya di dunia. Harta benda yang di luar keperluan seseorang adalah harta yang berlebih. Yang terpenting bukan jumlah yang diberikan, tetapi apakah ia memberikannya dengan ikhlas atau tidak. Allah mengetahui segala sesuatu dan Dia telah memberi hati nurani kepada manusia untuk menetapkan hal-hal yang sesungguhnya tidak diperlukan. Menginfakkan harta benda merupakan bentuk ibadah yang mudah bagi orang-orang yang tidak dihinggapi ketamakan terhadap dunia dan yang tidak mengejar dunia,tetapi merindukan akhirat. Allah telah memerintahkan kita untuk menginfakkan sebagian dari harta kita untuk menjauhkan cinta dunia. Menginfakkan harta benda merupakan sarana untuk membersihkan diri dari sifat tamak. Tidak diragukan lagi bahwa bentuk ibadah ini sangat penting bagi orang-orang yang beriman dalam kaitannya dengan perhitungan di akhirat. Rasulullah saw. juga bersabda bahwa orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah akan dirahmati Allah:

“Dua manusia akan dirahmati: Yang pertama adalah orang yang diberi oleh Allah al-Qur’an dan ia hidup berdasarkan al-Qur’an itu. Ia menganggap halal apa saja yang dihalalkan, dan menganggap haram apa saja yang diharamkan. Yang lain adalah orang yang diberi harta oleh Allah, dan harta itu dibelanjakannya kepada sanak keluarga dan dibelanjakan di jalan Allah."


Manusia Harus Memberikan Apa yang Ia Cintai kepada Orang Miskin

Orang sering kali cenderung memberikan sesuatu jika sesuatu yang diberikan itu tidak merugikan kepentingannya. Misalnya, ketika seseorang memberikan harta bendanya kepada orang miskin, sering kali ia memberikan sesuatu yang tidak lagi diperlukannya dan tidak disukainya, sudah ketinggalan mode, atau tidak layak pakai. Tampaknya orang merasa berat untuk memberikan harta benda yang dicintainya, padahal sesungguhnya kedermawanan seperti ini sangat penting untuk membersihkan diri dan agar mencintai amal kebajikan. Ini merupakan rahasia penting yang diungkapkan Allah kepada umat manusia. Allah telah menyatakan bahwa tidak ada cara lain untuk mencapai kebajikan bagi manusia kecuali melalui:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan sebelum kamu menafkahkan sebagian dari harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Q.s. Ali Imran: 92).

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Q.s. al-Baqarah: 267).

Membelanjakan Harta di Jalan Allah sebagai Sarana Agar Dekat Dengan-Nya Bagi orang yang beriman, tidak ada sesuatu pun yang lebih dirindukan daripada memperoleh keridhaan Allah dan dicintai oleh-Nya. Orang yang beriman berusaha mencari asbab untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam hidupnya. Tentang hal ini, Allah menyatakan sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Q.s. al-Ma’idah: 35).

Sebagai sebuah rahasia dan berita gembira bagi orang-orang beriman, Allah mengungkapkan dalam al-Qur’an bahwa apa yang dibelanjakan akan menjadi asbab untuk mencapai kedekatan dengan-Nya. Dengan demikian bagi orang yang beriman, memberikan apa yang ia cintai dan yang melebihi keperluannya kepada orang-orang miskin tidaklah sulit, tetapi merupakan kesempatan berharga untuk membuktikan bahwa ia adalah orang yang taat dan cinta kepada Allah. Tentang hal ini Allah menyatakan sebagai berikut:

“Dan diantara orang-orang Arab Badui ada orang yang beriman kepada Allah dan hari Kiamat, dan memandang apa yang dinafkahkannya itu sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri. Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. at-Taubah: 99).

Apa Saja yang Dinafkahkan di Jalan Allah akan Memperoleh Balasan yang Baik Rahasia lain yang diungkapkan tentang membelanjakan harta seseorang di jalan Allah menurut al-Qur’an adalah, bahwa apa saja yang dinafkahkannya itu pasti akan memperoleh balasan.

Ini merupakan janji Allah. Orang-orang yang menafkahkan harta mereka di jalan Allah tanpa takut akan menjadi miskin, akan memperoleh rahmat yang menakjubkan dalam kehidupan mereka. Apa saja yang dibelanjakan di jalan Allah akan diganjar sepenuhnya. Sebagian ayat yang menceritakan janji tersebut adalah sebagai berikut:

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allahlah yang memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, maka pahalanya itu untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya.” (Q.s. al-Baqarah: 272).

“Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya.” (Q.s. al-Anfal: 60).

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.’ Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Q.s. Saba’: 39).

Orang-orang yang beriman hanya mengharapkan keridhaan Allah dan surga ketika mereka memberikan harta mereka; tetapi sebagai rahasia yang diungkapkan oleh Allah, apa saja yang mereka nafkahkan akan dikembalikan lagi kepada mereka. Pengembalian ini merupakan rahmat didunia, dan di atas segalanya, Allah menyediakan surga bagi orang-orang yang beriman. Dalam pada itu, berkebalikan dengan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, Allah akan mengurangi rezeki orang-orang yang bakhil dalam menafkahkan kekayaan mereka, atau orang yang suka mengumpulkan kekayaan yang lebih banyak dan mengabaikan batasan-batasan Allah. Salah satu ayat yang berkaitan dengan masalah ini menceritakan tentang keadaan orang-orang yang memakan riba:

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (Q.s. al-Baqarah: 276).

Allah memberitahukan tentang keberuntungan yang akan didapatkan oleh orang-orang yang memberikan harta mereka sebagai berikut:

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah: 261).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakitinya, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah ia bersih. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kalilipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Q.s. al-Baqarah: 265).

Dalam setiap ayat tersebut terdapat rahasia yang diungkapkan Allah kepada orang-orang yang beriman dalam al-Qur’an. Orang-orang yang beriman memberikan harta benda mereka hanya untuk mencari keridhaan dan rahmat Allah dan surga-Nya. Namun, menyadari tentang rahasia-rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an, mereka juga mengharapkan rahmat dan karunia Allah. Semakin banyak mereka memberikan hartanya di jalan Allah, dan semakin mereka memperhatikan apa yang diharamkan dan yang dihalalkan, Allah akan semakin menambah kekayaan mereka, tugas-tugas mereka dijadikan mudah, dan Allah memberikan kesempatan yang semakin banyak untuk menafkahkan hartanya di jalan Allah. Setiap orang beriman yang bertakwa kepada Allah dan dalam hatinya tidak ada kekhawatiran terhadap masa depan, ia akan memahami rahasia ini dalam kehidupannya.


PENGARUH PERBUATAN BAIK DAN UCAPAN YANG BAIK

Manusia senantiasa mencari lingkungan yang tenang tempat mereka dapat hidup dengan aman, gembira, dan membina persahabatan. Meskipun mereka merindukan keadaan yang demikian itu, mereka tidak pernah melakukan usaha untuk menyuburkan nilai-nilai tersebut, tetapi sebaliknya,mereka sendirilah yang menjadi penyebab terjadinya konflik dan kesengsaraan. Sering kali orang mengharapkan agar orang lain memberikan ketenangan, kedamaian, dan bersikap bersahabat. Hal ini berlaku dalam hubungan keluarga, hubungan antarpegawai di perusahaan, hubungan kemasyarakatan, maupun persoalan internasional. Namun, untuk membina persahabatan dan menciptakan kedamaian dan keamanan dibutuhkan sikap mau mengorbankan diri. Konflik dan keresahan tidak dapat dihindari jika orang-orang hanya bersikukuh pada ucapannya, jika mereka
hanya mementingkan kesenangannya sendiri tanpa bersedia melakukan kompromi atau pengorbanan. Bagaimanapun, orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah tidak bersikap seperti itu. Orang-orang yang beriman tidak mementingkan diri sendiri, suka memaafkan, dan sabar.

Bahkan ketika mereka dizalimi, mereka bersedia mengabaikan hak-hak mereka. Mereka menganggap bahwa kedamaian, keamanan, dan kebahagiaan orang lain lebih penting dibandingkan dengan kepentingan pribadi mereka, dan mereka menunjukkan sikap yang santun. Ini merupakan sifat mulia yang diperintahkan Allah kepada orang-orang beriman:

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Q.s. Fushshilat: 34-5).

“Ajaklah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.s. an-Nahl: 125).

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut, sebagai balasan atas perbuatan baiknya bagi orang-orang yang beriman, Allah mengubah musuh mereka menjadi “teman yang setia”. Ini merupakan salah satu rahasia Allah. Bagaimanapun juga, hati manusia berada di tangan Allah. Dia mengubah hati dan pikiran siapa saja yang Dia kehendaki.

Dalam ayat lainnya, Allah mengingatkan kita tentang pengaruh ucapan yang baik dan lemah lembut. Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun a.s. agar mendatangi Fir‘aun dengan lemah lembut. Meskipun Fir‘aun itu zalim, congkak, dan kejam, Allah memerintahkan rasul-Nya agar berbicara kepadanya dengan lemah lembut. Allah menjelaskan alasannya dalam al-Qur’an:

“Pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas.
Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Q.s. Thaha: 43-4).

Ayat-ayat ini memberitahukan kepada orang-orang yang beriman tentang sikap yang harus mereka terapkan terhadap orang-orang kafir, musuh-musuh mereka, dan orang-orang yang sombong. Tentu saja ini mendorong kepada kesabaran, kemauan, kesopanan, dan kebijakan. Allah telah mengungkapkan sebuah rahasia bahwa Dia akan menjadikan perbuatan orang-orang beriman itu akan menghasilkan manfaat dan akan mengubah musuh-musuh menjadi teman jika mereka mentaati perintah-Nya dan menjalankan akhlak yang baik.


TERDAPAT KEMUDAHAN DALAM KESULITAN

Allah menciptakan dunia sebagai ujian bagi manusia. Sebagaimana sifat ujian itu sendiri,terkadang Dia menguji manusia dengan kesenangan, terkadang dengan penderitaan. Orang-orang yang menilai berbagai peristiwa tidak berdasarkan al-Qur’an tidak mampu menafsirkan secara tepat berbagai peristiwa tersebut, kemudian menjadi bersedih hati dan kehilangan harapan. Padahal Allah mengungkapkan rahasia penting dalam al-Qur’an yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang benar-benar beriman. Rahasia tersebut dijelaskan sebagai berikut:

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.s. asy-Syarh: 5-6).

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dalam ayat ini, apa pun bentuk penderitaan yang dialami seseorang atau bagaimanapun situasi yang dihadapi, Allah menciptakan sebuah jalan keluar dan memberikan kemudahan kepada orang-orang yang beriman. Sesungguhnya, orang yang beriman akan menyaksikan bahwa Allah memberikan kemudahan di dalam semua kesulitan jika ia tetap istiqamah dalam kesabarannya. Dalam ayat lainnya, Allah telah memberi kabar gembira berupa petunjuk dan rahmat kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa kepada-Nya:

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (Q.s. ath-Thalaq: 2-3).

Allah Tidak Membebani Seseorang di Luar Kemampuannya 

Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Mahaadil, menjadikan kemudahan dalam segala sesuatu dan menguji manusia sesuai dengan batas-batas kekuatan mereka. Shalat yang diperintahkan Allah untuk dikerjakan manusia, kesulitan-kesulitan yang Dia ciptakan untuk mengujinya, tanggung jawab yang Dia bebankan kepada manusia, semuanya sesuai dengan kemampuan seseorang. Ini merupakan kabar gembira dan menentramkan bagi orang-orang beriman,dan merupakan wujud dari kasih sayang dan kemurahan Allah. Allah menceritakan rahasia ini dalam beberapa ayat sebagai berikut:

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat,hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.
Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabatmu,dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.” (Q.s. al-An‘am: 152).

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekadar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (Q.s. al-A‘raf: 42).

“Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.” (Q.s. al-Mu’minun: 62).

Hidup Menjadi Mudah dengan Menjalankan Agama Allah


Sebagian besar manusia beranggapan bahwa agama menjadikan hidup mereka sulit dan mereka dibebani dengan kewajiban-kewajiban yang berat. Sesungguhnya ini merupakan anggapan sesat yang dibisikkan oleh Setan kepada manusia agar mereka tersesat. Sebagaimana telah disebutkan terdahulu, agama itu mudah. Allah menyatakan bahwa Dia akan memberikan kemudahan kepada orang-orang beriman setelah mereka menghadapi kesulitan. Di samping itu, ajaran agama seperti bertawakal kepada Allah dan meyakini takdir juga dapat menghilangkan semua beban,kesulitan, dan penyebab penderitaan dan duka cita. Bagi seseorang yang hidup dengan agama Allah,tidak ada penderitaan, duka cita, atau putus asa. Dalam beberapa ayat, Allah menjanjikan akan menolong orang-orang yang berserah diri kepada-Nya dan orang-orang yang membantu agama-Nya,dan akan memberikan kehidupan yang baik kepada mereka, baik di dunia ini maupun di akhirat
kelak. Tuhan kita, Yang tidak pernah mengingkari ucapan-Nya, menyatakan sebagai berikut:

“Ketika orang-orang yang bertakwa ditanya, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Kebaikan.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapatkan yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik, dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.” (Q.s. an-Nahl: 30).

Allah memberikan berita gembira kepada orang-orang yang beriman bahwa Dia akan memberikan keberhasilan kepada orang-orang yang menjalankan agama-Nya:

“Adapun orang yang memberikan hartanya (di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (Q.s. al-Lail: 5-7).

Sebagaimana yang diungkapkan oleh rahasia-rahasia ini, orang yang dengan ikhlas berpaling kepada agama Allah berarti telah memilih jalan yang benar sejak permulaan, jalan yang mudah yang akan membawa kepada keberhasilan, yang akan mendatangkan manfaat di dunia dan di akhirat.

Dalam pada itu bagi orang-orang kafir, yang terjadi adalah sebaliknya. Orang-orang kafir semenjak awal telah mengalami kehidupan yang penuh dengan duka cita, kesedihan, dan mengalami kerugian,baik di dunia maupun di akhirat. Pada saat mereka memutuskan berada dalam kekufuran, mereka telah mengalami kerugian di dunia dan akhirat. Hal ini dinyatakan dalam ayat-ayat sebagai berikut:

“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sulit.” (Q.s. al-Lail: 8-10).

Allah adalah Pemilik dan Pencipta segala sesuatu. Dengan demikian tentu saja sangat penting bagi seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah, memohon bantuan dan pertolongan-Nya agar Dia memberikan kekuatan. Orang yang menjadikan Allah sebagai penolongnya dan berserah diri sepenuhnya kepada-Nya, hidupnya di dunia dan akhirat akan dipenuhi rahmat dan karunia, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat mencelakakan dirinya. Ini merupakan fakta yang tidak dapat dipungkiri.

Oleh sebab itu, setiap orang yang memahami kebenaran dan memiliki hati nurani tentu memahami rahasia-rahasia yang dijelaskan dalam al-Qur’an dan memilih jalan yang benar dan lurus. Jika orangorang kafir tidak dapat memahami fakta-fakta yang sangat jelas ini, tentu saja hal ini juga merupakan rahasia tersendiri. Betapapun mereka sangat cerdas dan berpendidikan, akal mereka tidak mereka gunakan sehingga mereka tidak dapat memahami dan melihat fakta-fakta tersebut.


ALLAH MENGABURKAN PEMAHAMAN ORANG-ORANG KAFIR

Jika orang-orang kafir tidak dapat memahami al-Qur’an, ini merupakan rahasia yang sangat penting yang dijelaskan dalam al-Qur’an. Sesungguhnya ini merupakan rahasia penting, karena al-Qur’an itu merupakan kitab yang sangat jelas, mudah, dan sederhana. Siapa pun yang mau dapat membaca al-Qur’an dan mengkaji firman Allah tentang akhlak terpuji yang diridhai-Nya, keadaan surga dan neraka, dan tentang berbagai rahasia yang juga diketengahkan dalam kitab ini. Meskipun hukum-hukum Allah tersebut tidak terbantahkan, sebagian orang tidak mampu memahami al-Qur’an, sekalipun telah sangat jelas. Di samping itu, orang-orang seperti insinyur nuklir atau profesor biologi, yang dapat memahami cabang-cabang sains yang rumit seperti fisika, kimia, atau matematika, dan mampu memahami Budhisme, Hinduisme, Shintoisme, materialisme atau komunisme,anehnya mereka tidak mampu memahami al-Qur’an. Orang-orang yang berpegang pada sistem non-al-Qur’an yang rumit tersebut bagaimanapun tidak dapat memahami agama Allah yang jelas dan mudah, bahkan mereka juga tidak mampu memahami persoalan-persoalan yang jelas yang terkandung di dalamnya.

Bahwa mereka tidak dapat memahami fakta yang sangat jelas, sesungguhnya ini juga merupakan keajaiban tersendiri. Dengan menunjukkan bahwa mereka memiliki kekurangan yang parah dalam hal pemahaman, Allah menjelaskan bahwa sebagian orang memiliki kehidupan yang berbeda. Di sisi lain, hal ini memberikan bukti terhadap fakta bahwa sesungguhnya hati, akal, dan pemahaman itu berada di tangan Allah. Allah menyatakan bahwa Dia akan menutupi hati dan pemahaman orang-orang yang dihinggapi perasaan takabur, yaitu orang yang tidak mau berserah diri kepada Allah. Fakta bahwa mereka dapat memahami apa saja kecuali al-Qur’an, ini menjelaskan bahwa Allah telah memalingkan mereka dari ayat-ayat-Nya, dan mereka terhijab dari al-Qur’an karena ketidakikhlasan mereka. Adapun sebagian ayat yang membicarakan masalah ini adalah:

“Dan apabila kamu membaca al-Qur’an, niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman dengan kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup, dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam al-Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.” (Q.s. al-Isra’: 45-6).

“Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkanmu, padahal Kami telah meletakkan tutup di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan sumbatan ditelinganya. Dan jika mereka melihat segala tanda, mereka tetap tidak mau beriman kepadanya.
Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: ‘Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu’.” (Q.s. al-An‘am: 25).

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayatayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka sehingga mereka tidak memahaminya, dan sumbatan di telinga mereka, dan meskipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selamalamanya.” (Q.s. al-Kahfi: 57).

Sebagaimana telah dijelaskan dalam ayat-ayat tersebut, mengapa orang-orang kafir tidak dapat memahami al-Qur’an, rahasianya adalah bahwa Allah telah menutupi pemahaman mereka dan meletakkan tutup di hati mereka karena penolakan mereka. Ini merupakan keajaiban besar yang menunjukkan kebesaran Allah, dan bahwa Dia adalah pemilik hati dan pikiran setiap orang.


ALLAH MENGARUNIAKAN PEMAHAMAN KEPADA ORANG-ORANG YANG BERTAKWA

Rahasia lain yang diungkapkan dalam al-Qur’an adalah bahwa Allah memberikan kemampuan kepada orang-orang yang beriman kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan yang salah. Hal ini disebut sebagai “hikmah”. Allah menceritakan rahasia ini dalam Surat al-Anfal sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan (petunjuk yang dapat membedakan antara yang hak dan batil) dan menghapuskan segala kesalahanmu dan mengampunimu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Q.s. al-Anfal: 29).

Sebagaimana telah dijelaskan dalam bab terdahulu, Allah mengaburkan pemahaman orangorang kafir. Orang-orang ini, betapapun cerdasnya otak mereka, tidak dapat memahami prinsip-prinsip agama yang sangat jelas. Hikmah adalah sifat istimewa yang dimiliki orang-orang yang beriman.
Sebagian besar manusia menganggap bahwa kecerdasan otak dan hikmah itu memiliki makna yang sama. Kecerdasan otak adalah kemampuan pikiran yang dimiliki oleh setiap orang.
Misalnya,menjadi seorang ilmuwan ahli atom atau jenius di bidang matematika menunjukkan kecerdasan otak.
Akan tetapi hikmah adalah hasil dari ketakwaan seseorang kepada Allah dan digunakannya hati nurani, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kecerdasan otak. Bisa saja seseorang sangat cerdas otaknya, tetapi ia tidak akan menjadi orang bijak selagi ia tidak bertakwa kepada Allah.

Dengan demikian, hikmah adalah rahmat dari Allah yang dikaruniakan kepada orang-orang yang beriman. Orang-orang yang dijauhkan dari pemahaman seperti itu bahkan tidak menyadari keadaan mereka. Misalnya, orang-orang yang menganggap bahwa mereka adalah sumber kekuasaan dan kekayaan, lalu menjadi sombong. Sesungguhnya anggapan dan sikap seperti ini menunjukkan bahwa ia tidak memiliki hikmah. Karena jika ia memiliki hikmah, ia akan menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa kecuali Kehendak Allah. Kesadaran ini pada akhirnya akan menghasilkan sikap yang rendah hati. Namun, orang seperti ini tidak berpikir bahwa jika Allah menghendaki, semua kekayaannya dapat musnah dalam waktu sekejap, atau bahwa dia dapat menghadapi kematian, dan semua yang ia miliki ia tinggalkan di dunia, dan ia akan berada di neraka untuk menerima balasannya. Semua ini lebih pasti dan lebih nyata daripada apa yang dimiliki seseorang di dunia. Hanya orang-orang beriman yang bertakwa kepada Allah yang memiliki pemahaman seperti ini, sehingga mereka tidak tertipu oleh kehidupan dunia. Mereka menghabiskan hidup
mereka dengan memahami hakikat segala sesuatu. Allah mengaruniakan pemahaman kepada orangorang
beriman melalui keimanan mereka. Jika mereka merasa semakin dekat kepada Allah, pemahaman mereka pun meningkat dan mereka menjadi lebih memahami rahasia-rahasia ciptaan Allah.


ORANG-ORANG YANG BERBUAT BAIK AKAN MEMPEROLEH KEBAIKAN

Rahasia lain yang dijelaskan Allah dalam al-Qur’an adalah bahwa orang-orang yang berbuat kebaikan akan memperoleh pahala berupa kebaikan di dunia dan akhirat. Mengenai hal ini, Allah berfirman sebagai berikut:

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.s. az-Zumar: 10).

Bagaimanapun, orang perlu mengetahui apakah sesungguhnya “kebaikan” itu. Setiap kaum memiliki pendapat masing-masing tentang kebaikan; ada yang menyatakan bahwa yang disebut kebaikan adalah bersikap menyenangkan, memberikan uang kepada orang miskin, bersikap sabar terhadap berbagai bentuk perlakuan, itulah yang sering kali disebut “kebaikan” oleh masyarakat.

Namun, Allah memberitahukan kita di dalam al-Qur’an tentang hakikat “kebaikan”:

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaikan, akan tetapi sesungguhnya kebaikan ialah beriman kepada Allah, hari Kiamat, malaikat-malaikat, Kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, dan orang-orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan,penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
(Q.s. al- Baqarah: 177).

Sebagaimana diingatkan dalam ayat di atas, kebaikan yang sesungguhnya adalah bertakwa kepada Allah, menyibukkan diri mengingat hari perhitungan, menggunakan hati nurani, dan selalu sibuk melakukan amalan yang mendatangkan ridha Allah. Utusan Allah, Nabi Muhammad saw.,juga memerintahkan agar orang-orang beriman bertakwa kepada Allah dan berbuat kebaikan:

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Bersegeralah berbuat kebaikan setelah berbuat dosa agar dosa itu menjadi bersih, dan selalu berlemah lembut dalam bergaul dengan manusia.”

Allah telah menyatakan dalam al-Qur’an bahwa Dia mencintai orang-orang yang selalu berbuat kebaikan karena keimanan mereka, dan orang-orang yang takut dan cinta kepada Allah, selanjutnya Dia menyatakan akan memberi pahala kepada mereka dengan kebaikan:

“Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.s. Ali ‘Imran: 148).

“Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik, dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.” (Q.s. an-Nahl: 30).

Ini merupakan kabar baik yang diberitakan dalam al-Qur’an kepada orang-orang yang berbuat kebaikan, yang mengorbankan diri, dan yang berusaha untuk memperoleh keridhaan Allah.

Allah memberikan kepada orang-orang ini berita gembira tentang kehidupan yang baik, didunia ini dan di akhirat kelak, dan Allah akan menambahkan karunia-Nya, baik yang berupa kebendaan maupun keruhanian. Nabi Sulaiman yang diberi seluruh kerajaan, yang tidak pernah diberikan kepada siapa pun, dan Nabi Yusuf yang diberi wewenang atas seluruh harta benda Mesir,adalah contoh-contoh yang diceritakan dalam al-Qur’an. Allah memberitahukan kita tentang nikmat yang Dia berikan kepada Nabi Muhammad saw. dalam ayat,

“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (Q.s. adh-Dhuha: 8).

Perlu kita ketahui bahwa kehidupan yang indah dan baik tidak saja diberikan kepada orang-orang beriman dari generasi terdahulu. Allah menjanjikan bahwa dalam setiap kurun, Dia akan memberikan kehidupan yang baik kepada hamba-hamba-Nya yang beriman:

“Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik,dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.s. an-Nahl: 97).

Orang-orang yang beriman tidak pernah mengejar dunia, yakni mereka tidak tamak terhadap harta dunia, kedudukan, atau kekuasaan. Sebagaimana yang dinyatakan Allah dalam sebuah ayat,mereka telah menjual diri dan harta mereka untuk memperoleh surga. Jual beli dan perdagangan tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan berjuang untuk agama. Disamping itu, mereka tetap sabar dan taat sekalipun mereka diuji dengan kelaparan atau kehilangan harta, dan mereka tidak pernah mengeluh. Orang-orang yang berhijrah pada zaman Nabi merupakan sebuah contoh. Mereka berhijrah ke kota lain dengan meninggalkan rumah, pekerjaan, perdagangan,harta, dan kebun mereka, dan di sana mereka puas dengan yang sedikit mereka miliki. Sebagai balasannya, mereka hanya mengharapkan keridhaan Allah. Kerelaan mereka dan keikhlasan mereka dalam mengingat akhirat menyebabkan mereka memperoleh rahmat dari Allah berupa kehidupan yang baik. Kekayaan yang diberikan Allah kepada mereka tidak menyebabkan mereka mencintai dunia, sebaliknya mereka bersyukur kepada Allah dan mengingat-Nya. Allah menjanjikan kehidupan yang baik di dunia ini kepada setiap orang yang beriman dan berakhlak mulia.

Allah Berjanji akan Melipatgandakan Perbuatan Hamba-hamba-Nya yang Berbuat Kebaikan

Allah berjanji akan melipatgandakan perbuatan hamba-hamba-Nya yang berbuat kebaikan. Sebagian ayat-ayat al-Qur’an yang membicarakan masalah ini adalah sebagai berikut:

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya.” (Q.s. al-An‘am: 160).

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (Q.s. an-Nisa’: 40).

Tanda yang paling jelas bahwa Allah melipatgandakan setiap perbuatan baik adalah perbedaan antara kehidupan di dunia dan akhirat. Kehidupan di dunia sangatlah singkat waktunya,yang lebih kurang berlangsung selama 60 tahun. Namun, orang-orang yang sibuk membersihkan diri mereka dan sibuk dalam amal saleh di dunia ini akan memperoleh pahala berupa kebaikan tak terbatas di akhirat sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan selama kehidupannya yang singkat di dunia. Allah telah menyatakan janji ini dalam sebuah ayat sebagai berikut:

“Bagi orang-orang yang berbuat baik ada pahala yang terbaik dan tambahannya.” (Q.s.Yunus: 26).

Kita perlu merenungkan pengertian “tak terbatas” agar dapat memahami besarnya pahala ini.Marilah kita bayangkan tentang semua orang yang pernah hidup di bumi, orang-orang yang sedang hidup di bumi, dan orang-orang yang akan hidup di bumi, bagaimana mereka menghabiskan setiap detik dalam kehidupan mereka. Tentu saja angka ini akan sangat besar jika dituliskan. Namun,sesudah “tak terbatas”, bahkan angka yang sangat besar ini tidak berarti apa-apa. Karena “takterbatas” maknanya adalah tidak ada akhirnya, tidak memiliki batas waktu. Orang-orang yang taat kepada Allah ketika di dunia, mereka ketika di akhirat akan bertempat tinggal di surga. Mereka akan tinggal di sana untuk selama-lamanya, mereka akan memperoleh apa saja yang mereka inginkan,yang tidak ada batasnya. Tentu saja ini merupakan contoh yang harus direnungkan agar kita dapat memahami besarnya kasih sayang dan rahmat Allah.


RAHASIA MENGAPA ALLAH MEMERINTAHKAN MANUSIA UNTUK “MELAPANGKAN” MAJELIS

Salah satu kesalahan besar yang dilakukan oleh orang-orang adalah bahwa mereka menganggap segala sesuatu itu sebagai akibat dari sesuatu lainnya. Misalnya, sebagaimana telah disebutkan dalam halaman-halaman sebelumnya, mereka berpendapat bahwa mereka akan kehabisan uang jika mereka menafkahkan harta mereka di jalan Allah. Padahal, ada suatu rahasia dalam ciptaan Allah yang tidak mereka ketahui, bahwa Allah akan menambah karunia-Nya kepada orang-orang yang menginfakkan hartanya karena Allah, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Tentu saja Allah menjadikan manusia melihat hal ini sebagai sebab akibat yang berlaku di dunia.
Misalnya,urusan seseorang yang menginfakkan hartanya karena Allah dijadikan mudah dan rezekinya pun ditambah oleh Allah. Atau, sebagaimana dijelaskan dalam bagian terdahulu, seseorang mungkin akan menggunakan kekerasan dalam menghadapi orang yang marah karena ia mempercayai bahwa kata-kata yang lemah lembut tidak dapat meredakan kemarahannya. Namun, bagi seseorang yang menaati perintah Allah, rahasia-rahasia yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an memberikan jalan keluarnya.

Salah satu di antara rahasia-rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an adalah perintah Allah lainnya:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.s. al-Mujadalah: 11).

Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar menaati seruan agar melapangkan majelis bagi orang yang baru datang atau merenggangkan kerumunan jika diperlukan. Hal ini, disamping menunjukkan pentingnya bertenggang rasa juga sebagai tanda ketaatan. Allah menjelaskan bahwa Dia akan memberi kelapangan kepada orang-orang yang beriman dan akan meninggikan derajat mereka sebagai balasan atas perbuatan mereka. Niat dan hati setiap orang berada dalam genggaman Allah. Jika Dia ridha dengan perbuatan mereka, Dia dapat memberikan apa saja yang Dia kehendaki kepada orang ini. Untuk itulah orang-orang yang beriman mengharapkan balasan dan pahala apa saja dari Allah. Jika mereka melapangkan ruangan dalam suatu majelis, mereka tidak mengharapkan ucapan terima kasih dari orang lain, tetapi hanya mengharapkan keridhaan Allah,karena Dia akan memberikan ketenangan dalam hati mereka dan akan meninggikan derajat mereka.


ALLAH PASTI MENOLONG ORANG-ORANG YANG MENOLONG AGAMANYA

Allah mengungkapkan sebuah rahasia dalam al-Qur’an sebagai berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Q.s. Muhammad: 7).

Sepanjang hidup mereka, orang-orang beriman melakukan usaha yang sungguh-sungguh untuk mendakwahkan ajaran-ajaran al-Qur’an di kalangan manusia, dan mendakwahkan perintah
Allah. Di sisi lain, di sepanjang sejarah, selalu saja ada sekelompok orang-orang kafir yang menentang orang-orang beriman dan menghalangi mereka dengan kekerasan dan tekanan. Dalam al-Qur’an, Allah menyatakan bahwa Dia akan selalu bersama-sama orang yang beriman dalam menghadapi orang-orang kafir, bahwa Dia akan menjadikan urusan orang-orang beriman menjadi mudah,dan bahwa Dia akan membela dan menolong orang-orang beriman. Orang-orang beriman yang berjuang dengan ikhlas di jalan Allah dapat merasakan semua ini dalam setiap detik dalam kehidupan mereka, yakni Allah menjadikan urusan-urusan mereka dapat diselesaikan dengan mudah, dan Allah memberikan kepada mereka kejayaan dan kebahagiaan. Bahkan dalam situasi yang sangat sulit, Dia memberikan kemudahan kepada orang-orang yang beriman. Bahkan ketika orang-orang lemah imannya berkeluh kesah, berputus asa, dan tidak melihat jalan keluar, Allah menurunkan bantuannya kepada orang-orang yang beriman dan memberikan kejayaan kepada mereka.

Orang-orang beriman yang yakin akan pertolongan Allah tidak pernah kehilangan harapan,

dan mereka menunggu dengan penuh kegembiraan untuk melihat bagaimana Allah akan

menyelesaikan masalah mereka. Nabi Musa dan kaumnya merupakan contoh dari peristiwa ini. Nabi

Musa dan Bani Israel meninggalkan Mesir untuk menyelamatkan diri dari kekejaman Fir‘aun. Tetapi

Fir‘aun dan bala tentaranya mengejar mereka. Ketika Nabi Musa dan kaumnya, Bani Israel, sampai

di lautan, sebagian dari mereka yang imannya lemah merasa ketakutan dan kehilangan harapan,

mereka berpikir akan terkejar oleh Fir‘aun. Namun, Nabi Musa berkata, “Sesungguhnya Tuhanku

besertaku, kelak Dia akan memberikan petunjuk kepadaku.” (Q.s. asy-Syu‘ara’: 62).

Demikianlah Nabi Musa menunjukkan keimanannya bahwa Allah akan menolong orang-orang yang

beriman. Kemudian Allah mengeringkan air laut sehingga memungkinkan Nabi Musa dan para

pengikutnya melintasi lautan untuk menuju ke pantai seberang dengan selamat. Sementara itu, Dia

menutup lautan untuk Fir‘aun dan bala tentaranya sehingga mereka tenggelam.

Orang yang beriman, yang dekat dengan Allah, yang menjadikan Allah sebagai pelindungnya,

dan mengetahui bahwa Dia akan menolong orang-orang yang beriman, akan melihat rahasia-rahasia

tersebut ditampakkan dalam setiap saat dalam kehidupannya. Tentu saja mukjizat seperti air laut

yang mengering merupakan ayat-ayat (tanda-tanda) yang ditunjukkan oleh Allah kepada sebagian

dari para utusan-Nya. Namun demikian, jika orang-orang yang beriman merenungkan dengan ikhlas,

bertafakkur tentang ciptaan Allah dan ayat-ayat al-Qur’an dalam setiap peristiwa, mereka dapat

melihat perwujudan dari pertolongan Allah yang menyerupai mukjizat dalam setiap situasi.

Allah juga Menolong Orang-orang Beriman

Melalui Cara-cara yang Tak Terlihat

Dalam beberapa ayat, Allah telah memberitahukan kepada orang-orang beriman tentang

pertolongan yang Dia berikan kepada mereka. Misalnya, dalam sebuah ayat, Allah telah menyatakan

bahwa Dia akan menjadikan musuh-musuh mereka melihat orang-orang beriman jumlahnya menjadi

dua kali lipat:

“Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu

(dalam pertempuran). Segolongan berperang di jalan Allah dan yang lain kafir yang dengan

mata kepala melihat orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan

dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu

terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (Q.s. Ali Imran: 13).

Allah Menolong Orang-orang Beriman dengan Cara

Menggagalkan Rencana Jahat yang Ditujukan

kepada Mereka

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, orang-orang kafir menyebabkan kesulitan bagi

orang-orang beriman dan membuat rencana jahat bagi mereka untuk menghalangi orang-orang

beriman dari jalan Allah. Tetapi Allah memberitahukan dalam al-Qur’an bahwa semua rencana jahat

terhadap orang-orang beriman itu akan digagalkan, akan dikembalikan kepada si pembuat rencana,

dan sama sekali tidak akan mencelakakan orang-orang beriman. Di antara ayat-ayat tersebut adalah

sebagai berikut:

“Ketika datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak

menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan

mereka di muka bumi dan karena rencana mereka yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak

akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tidaklah yang mereka nantinantikan

melainkan (berlakunya) sunah kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekalikali

kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunah Allah, dan sekali-kali tidak (pula)

akan menemui penyimpangan bagi sunah Allah itu.” (Q.s. Fathir: 42-3).

Sebagai contoh dari hal ini adalah kehidupan Nabi Yusuf, yakni rencana yang dibuat untuk

mencelakakan orang-orang beriman pada akhirnya berbalik kepada mereka sendiri dan

mencelakakan si pembuat rencana. Sebagaimana diceritakan dalam Surat Yusuf, saudara-saudara

Nabi Yusuf, yang dihinggapi rasa iri, merencanakan untuk melempar beliau ke dalam sumur. Ketika

Nabi Yusuf a.s. masih muda, rencana yang lain juga dibuat oleh istri gubernur, di mana Nabi Yusuf

tinggal di tempat itu. Sesuai dengan janji-Nya, Allah menggagalkan semua rencana itu dan

melindunginya dari madharat. Setelah rencana itu dibuat, Allah memberikan kekuasaan kepada Nabi

Yusuf atas seluruh perbendaharaan negeri. Setelah itu, Nabi Yusuf berkata bahwa rencana orangorang

kafir itu menemui kegagalan.

“(Yusuf berkata), ‘Yang demikian itu agar dia (al-Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya

aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak

meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat’.” (Q.s. Yusuf: 52).





SALING BERDEBAT MENYEBABKAN HILANGNYA KEKUATAN



Salah satu rahasia penting dari Allah yang diungkapkan kepada orang-orang beriman adalah

supaya tidak berdebat. Jika saling berdebat, kekuatan mereka akan hilang dan hati mereka akan

menjadi lemah. Adapun ayat yang membicarakan masalah tersebut adalah sebagai berikut:

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan jangan saling berdebat, yang menyebabkan

kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah

beserta orang-orang yang sabar.” (Q.s. al-Anfal: 46).

Akhlak Qur’ani bercirikan kerendahan hati. Orang-orang yang berpegang pada nilai-nilai

akhlak dalam al-Qur’an menghindari pertengkaran, mencari jalan keluar dari masalah, memberikan

kemudahan kepada orang, dan tidak menunjukkan ketamakan. Tanpa berpegang pada akhlak

Qur’ani, pertikaian dan konflik tidak dapat dielakkan. Adalah hal yang sangat wajar jika setiap orang

memiliki pendapat yang berbeda-beda. Misalnya, 20 orang dapat mengusulkan 20 pemecahan yang

berbeda-beda. Masing-masing pemecahan mungkin saja cocok bagi atau benar bagi orang yang

bersangkutan. Jika setiap orang bersikukuh bahwa usulannya yang benar, dapat dipastikan yang

terjadi adalah kekacauan dan konflik. Dalam kasus seperti ini, jika tidak terwujud kesepakatan dari

20 orang tersebut, maka yang terjadi adalah pertengkaran dan ambisi pribadi, yang dapat

menghapuskan amal saleh yang telah dilakukan untuk mencari ridha Allah. Akibatnya, seluruh

kekuatan dari 20 orang tersebut akan hilang, persatuan dan persaudaraan di antara mereka akan

lemah.

Orang-orang yang beriman harus saling mencintai satu sama lain, berkorban dan mempererat

kesetia-kawanan dan kerja sama di antara mereka. Terutama pada saat-saat menghadapi kesulitan,

mereka harus menyibukkan diri mengingat Allah, lebih bersabar dan saling membantu. Saling

berdebat dapat mengurangi kekuatan, sedangkan kerja sama dapat meningkatkan kekuatan di antara

orang-orang beriman. Dalam ayat lainnya, Allah telah mengungkapkan rahasia bahwa jika orangorang

beriman tidak menjadi teman dan pelindung satu sama lain, maka akan terjadi kekacauan dan

kerusakan besar di muka bumi:

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian

yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (saling

melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan yang besar.” (Q.s. al-Anfal: 73).

Masing-masing dari rahasia Allah tersebut telah diungkapkan, dan orang-orang Muslim

dibebani tanggung jawab. Orang Muslim tidak boleh menganggap bahwa pertengkaran dengan

sesama Muslim merupakan hal yang remeh, dengan mengatakan, “Bagaimanakah jika kita

berdebat?” Karena, sebagaimana telah diberitahukan oleh Allah kepada kita, setiap pertengkaran

antara orang-orang Muslim, artinya menghilangkan kekuatan orang-orang beriman, terhadap hal ini,

orang-orang Muslim akan dimintai tanggung jawab oleh Allah. Itulah sebabnya Nabi kita tercinta

saw. bersabda, “Takutlah kepada Allah, berdamailah sesama kamu agar Allah menciptakan

perdamaian sesama Muslim.”1

Orang-orang Muslim jangan sampai saling melihat kesalahan atau kekurangan masingmasing,

tetapi sebaliknya supaya menutupi kesalahan sesama Muslim yang lain dengan penuh kasih

sayang. Kekuatan orang-orang beriman berasal dari persatuan ini, artinya mengerahkan segenap

tenaganya untuk mendakwahkan agama Allah dan akhlak al-Qur’an. Dengan persatuan, mereka

dapat berkonsentrasi untuk menyampaikan tanda-tanda keberadaan Allah melalui karya-karya ilmiah

dan melakukan pelayanan yang bermanfaat bagi umat manusia. Namun, kita harus ingat bahwa

setiap orang yang melakukan pelayanan ini harus diniatkan terutama untuk mencari kehidupan yang

abadi di akhirat dan agar diselamatkan dari azab Allah.





HANYA DENGAN BERDZIKIR, HATI MENJADI TENANG



Semua manusia yang hidup di muka bumi mencari jalan untuk memperoleh kebahagiaan

hakiki. Harapan ditumpahkan untuk mencapai tujuan memperoleh kebahagiaan. Sebagian orang

mencari kebahagiaan melalui gaya hidup yang mewah, sebagian lainnya melalui pekerjaan yang

bergengsi, perkawinan yang indah, bedah plastik, dan gelar akademis. Namun, jika tujuan itu telah

tercapai, semua kebahagiaan seperti itu hanyalah bersifat sementara. Atau sering kali tidak ada

kegembiraan atau kepuasan sama sekali setelah semuanya itu diperoleh. Bagaimanapun, tak seorang

pun di muka bumi ini yang akan mencapai kebahagiaan sejati melalui cara-cara tersebut. Terdapat

beberapa hal yang mengganggu atau membuat bosan orang yang mempercayai bahwa tujuan dalam

mencapai kebahagiaan hakiki telah tercapai.

Kebahagiaan, ketenangan, kesenangan, atau kenyamanan sejati hanya dapat ditemukan dalam

mengingat Allah. Allah menceritakan kenyataan ini dalam sebuah ayat sebagai berikut:

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat

Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.s. ar-Ra‘d: 28).

Ini merupakan rahasia yang sangat penting yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an untuk

umat manusia. Karena tidak memahami kenyataan ini, banyak orang yang menghabiskan hidup

mereka dalam khayalan bahwa harta benda dunia dapat memberikan kepuasan. Seakan-akan tidak

akan pernah mati dan menghadapi hari hisab, mereka dengan tamaknya berusaha keras untuk memiliki

hal-hal yang bersangkut paut dengan keduniaan.

Namun, sesungguhnya ini merupakan khayalan besar. Tidak ada sesuatu pun yang dimiliki di

dunia ini yang dapat memberikan ketenteraman dan kebahagiaan sejati. Hanya orang-orang yang

beriman saja, yang dengan ikhlas berbakti kepada Allah, dan orang-orang yang menyadari rahmat,

kasih sayang, dan perlindungan Allah atas mereka yang dapat memperoleh perasaan hati yang

tenteram. Allah memberikan perasaan tenteram ini ke dalam hati orang yang memperhatikan buktibukti

ciptaan Allah dan mengingat-Nya setiap saat. Dengan demikian sia-sia saja jika mencari

kesenangan, ketenteraman, dan kebahagiaan melalui asbab yang lain.

TIPU DAYA SETAN ITU LEMAH

Musuh manusia terbesar semenjak Nabi Adam a.s. adalah setan. Setan bersumpah kepada

dirinya sendiri untuk menyesatkan manusia pada saat Nabi Adam diciptakan, dan setan

melaksanakan sumpahnya itu dengan menyusun tipu daya agar dunia ini tampak memikat dan

mempesona di mata manusia. Al-Qur’an juga memberi tahu kita bahwa tipu daya setan itu lemah

dan tidak memiliki kekuasaan atas manusia:

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir

berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya

tipu daya setan itu lemah.” (Q.s. an-Nisa’: 76).

“Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap

mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian orang-orang yang beriman. Dan tidak

ada kekuasaan iblis atas mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa

yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan

Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.” (Q.s. Saba’: 20-1).

Sesungguhnya, bahwa tipu daya setan itu lemah dan bahwa ia tidak memiliki kekuasaan atas

manusia, adalah agar Allah menjadikan segala sesuatu itu mudah bagi manusia. Setan hanyalah

kekuatan negatif bagi agama, dan kelemahan setan ini bermakna, bahwa orang-orang yang beriman

tidak akan mengalami kesulitan apa pun dalam hidupnya jika mereka mengamalkan agama. Tetapi,

hal ini akan terjadi jika memiliki iman yang ikhlas. Dalam al-Qur’an, Allah memberi tahu kita

bahwa orang-orang yang memiliki iman yang ikhlas tidak akan terpengaruh oleh tipu daya setan:

“Ia (setan) berkata, ‘Ya Tuhanku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat,

pasti aku akan menjadikan hal-hal di muka bumi terlihat baik bagi mereka (manusia) dan

aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara

mereka’.” (Q.s. al-Hijr: 39-40).

Dalam ayat lainnya, Allah telah mengungkapkan bahwa setan tidak memiliki kekuasaan atas

orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan:

“Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan

bertawakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya hanyalah atas orang-orang yang

mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan

Allah.” (Q.s. an-Nahl: 99-100).

Rahasia Bagaimana Menjauhi

Angan-angan Kosong dan Bisikan Setan

Meskipun setan itu tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman, kadang-kadang

ia berusaha menggoda mereka dengan bisikan-bisikan, karena kesalahan yang telah mereka lakukan.

Rahasia penting lainnya yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an adalah bagaimana

menyelamatkan diri dari bisikan setan. Ini merupakan masalah penting bagi orang-orang beriman

yang takut kepada Allah dan menginginkan surga, karena bisikan setan itu menyesatkan dan

memalingkan manusia dari jalan Allah, dan menjadikan manusia sibuk dengan perbuatan sia-sia dan

remeh. Setan berusaha untuk menanamkan perasaan sedih dan takut kepada manusia, menyemaikan

benih-benih pertentangan di antara mereka, menyebabkan mereka merasa ragu-ragu terhadap Allah,

al-Qur’an, dan agama. Setan memenuhi hati manusia dengan angan-angan kosong. Sebagian dari

ayat-ayat yang menjelaskan tentang bisikan setan kepada manusia adalah sebagai berikut:

“Dan saya benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan anganangan

kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka memotong telinga binatang ternak,

lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan saya suruh mereka, lalu mereka benarbenar

mengubah ciptaan Allah. Barangsiapa yang menjadikan setan sebagai pelindung selain

Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. Setan itu memberikan janjijanji

kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan

itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (Q.s. an-Nisa’: 119-20).

“Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.” (Q.s. an-Nas: 5).

Apa saja yang dibisikkan setan kepada manusia, ia tidak dapat memalingkan manusia dari

bimbingan Allah sepanjang mereka mengikuti jalan yang telah Allah tunjukkan. Allah

memperingatkan orang-orang beriman agar waspada terhadap bisikan setan:

“Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah.

Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang

yang bertakwa, bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka

ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (Q.s. al-A‘raf: 200-01).

Sebagaimana dapat kita pahami dari ayat tersebut, orang-orang yang beriman tetap waspada

terhadap bisikan setan. Mereka tidak mau kehilangan waktu untuk memperhatikan bisikan itu, dan

karena sadar bahwa hal itu tidak akan diridhai Allah, mereka tidak pernah membiarkan diri mereka

larut dalam keputusasaan, takut dan duka cita, yang semuanya itu merupakan perasaan negatif yang

dijauhi oleh orang-orang beriman. Manakala orang-orang beriman diganggu dengan sesuatu yang

tidak sesuai dengan ajaran al-Qur’an, mereka segera mengenali bahwa itu merupakan bisikan

berbahaya dari setan yang tidak akan mendatangkan keridhaan Allah. Mereka mengusir bisikan

setan itu melalui dzikrullah dan ayat-ayat al-Qur’an.





MENGIKUTI SEBAGIAN BESAR ORANG HANYALAH AKAN MENYESATKAN DARI

JALAN YANG BENAR



Anggapan yang pada umumnya diyakini orang adalah bahwa mayoritas itu adalah yang benar,

pandangan ini sering kali menyesatkan manusia. Sesungguhnya, jika ditanya tentang alasan yang

mendasari perbuatan atau sikap tertentu, banyak orang yang menjawab, “Karena kebanyakan orang

melakukannya.” Namun, Allah memberitahukan kita bahwa mengikuti sebagian besar orang itu

menyesatkan:

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya

mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti

persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.” (Q.s. al-An‘am: 116).

Dalam ayat lainnya, Allah menyatakan bahwa sebagian besar manusia tidak akan beriman:

“Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu menginginkannya.”

(Q.s. Yusuf: 103).

Dalam surat al-Ma’idah, Allah menyebutkan tentang merajalelanya yang “buruk” dan

menyerukan agar orang-orang yang berakal menjauhinya.

“Katakanlah, ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang

buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar

kamu mendapat keberuntungan’.” (Q.s. al-Ma’idah: 100).

Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh sebagian besar orang dan yang mempercayainya

atau yang mendukungnya, tidaklah dapat dipakai sebagai sumber rujukan yang dapat dipercaya.

Orang-orang cenderung untuk mengikuti sebagian besar orang karena menuruti “kecenderungan

berkelompok”. Namun, orang-orang yang beriman yang berbuat sesuai dengan rahasia Ilahi yang

diberikan Allah dalam al-Qur’an tidaklah mengikuti sebagian besar orang, tetapi mereka hanya

melaksanakan perintah Allah dan agama-Nya. Sekalipun seorang diri, mereka tidak pernah merasa

bimbang terhadap keyakinan mereka dan jalan yang mereka tempuh.





RAHASIA TENTANG BERTAMBAH ATAU BERKURANGNYA NIKMAT



Dalam al-Qur’an, Allah mengungkapkan alasan mengapa Dia memberikan nikmat atau

mengambilnya dari manusia:

“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah sesuatu

nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kamu, hingga kaum itu mengubah apa

yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha

Mengetahui.” (Q.s. al-Anfal: 53).

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan

di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak

mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri

mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka

tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

(Q.s. ar-Ra‘d: 11).

Apa yang dikemukakan dalam ayat-ayat tersebut merupakan rahasia yang sangat penting yang

tidak diketahui atau diabaikan oleh kebanyakan manusia. Allah berfirman bahwa Dia akan

menambah nikmat bagi orang-orang yang sibuk mengerjakan amal saleh, dan akan mempersempit

nikmat bagi orang-orang yang melakukan kemaksiatan, dan nikmat terhadap manusia akan berubah

sesuai dengan perubahan perbuatan dan keikhlasan mereka.

Orang-orang yang beriman yang mengetahui rahasia-rahasia Allah ini berusaha untuk melihat

maksud tersembunyi di balik ciptaan Allah dalam setiap keadaan yang mereka jumpai dan mereka

senantiasa memperhatikan masalah tersebut. Mereka tidak pernah merasa sempurna, tetapi mereka

berusaha keras untuk memiliki kesempurnaan akhlak sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an,

dan berusaha membetulkan kesalahan dan kekhilafan mereka. Dalam hal ini, mereka tidak pernah

ragu-ragu untuk selalu berusaha memperbaiki akhlak mereka dan membersihkan tingkah laku

mereka.





MENAATI RASUL BERARTI MENAATI ALLAH



Salah satu amal ibadah yang sangat penting yang diperintahkan Allah kepada orang-orang

beriman dalam al-Qur’an adalah menaati Rasul-Nya. Allah berfirman bahwa Dia telah mengirim

para rasul-Nya untuk ditaati, dan orang-orang beriman, dalam setiap zaman, telah diuji ketaatan

mereka terhadap para rasul tersebut. Para rasul adalah orang-orang yang menyampaikan pesan Allah

dan perintah-Nya kepada manusia, dan mengingatkan mereka tentang hari perhitungan dan tentang

ayat-ayat-Nya. Para rasul adalah orang-orang yang lurus dan dirahmati, yang dipilih Allah di antara

seluruh manusia; dan perbuatan, sikap, dan kesempurnaan akhlak mereka sebagai teladan. Mereka

adalah para kekasih Allah yang sangat dekat dengan-Nya. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat

berikut ini, orang yang menaati rasul berarti menaati Allah.

“Barangsiapa yang menaati rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan

barangsiapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi

mereka.” (Q.s. an-Nisa’: 80).

Rasulullah saw. juga bersabda bahwa orang yang bersaksi terhadap hal ini akan memperoleh

berita gembira:

“Tidakkah kamu telah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa saya adalah

utusan-Nya? Jika demikian, maka kabar gembira bagi kamu. Qur’an adalah sebuah tali yang satu

ujungnya sampai kepada Allah dan ujung yang lain sampai kepadamu. Berpegang teguhlah

kepadanya. Jika kamu melakukan itu, kamu tidak pernah terjerumus dalam kesalahan atau bahaya.1

Mendurhakai seorang rasul adalah mendurhakai Allah dan agama-Nya. Ini merupakan salah

satu rahasia penting yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an. Dalam sebuah ayat, Allah

menceritakan keadaan orang-orang yang menaati rasul dan orang-orang yang mendurhakainya:

“Itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-

Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungaisungai,

sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa

yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya,

niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya

siksa yang menghinakan.” (Q.s. an-Nisa’: 13-4).

Allah telah mengungkapkan dengan jelas dalam al-Qur’an tentang ketaatan kepada rasul, dan

menjelaskan bahwa orang-orang yang benar-benar taat dan berserah diri juga akan diterima di sisi-

Nya. Sebagaimana yang terlihat dalam ayat-ayat ini, dipenuhinya semua syarat agama dan

melakukan banyak ibadah belumlah mencukupi. Jika seseorang tidak menerapkan sikap dan akhlak

yang menunjukkan ketaatan kepada rasul sesuai dengan yang dijelaskan Allah dalam al-Qur’an dan

hanya setengah-setengah dalam menaati-Nya, mungkin Allah akan menjadikan semua perbuatannya

sia-sia. Sebagian dari ayat-ayat yang membicarakan masalah ini dikaji di bawah ini yang dibagi

menjadi beberapa bagian:

Tidak Beriman sehingga Menyerahkan Diri

Mereka Sepenuhnya kepada Rasul

Allah mengungkapkan sebuah rahasia yang sangat penting dalam Surat an-Nisa’:

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim

terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati

mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima

dengan sepenuhnya.” (Q.s. an-Nisa’: 65).

Dalam ayat ini diungkapkan sebuah rahasia penting tentang ketaatan yang sempurna kepada

rasul. Hampir semua orang mengetahui apakah ketaatan itu. Namun, ketaatan kepada rasul sangat

berbeda dibandingkan dengan bentuk-bentuk ketaatan sebagaimana yang diketahui orang banyak.

Sebagaimana dinyatakan Allah dalam ayat di atas, orang-orang yang beriman haruslah menaati rasul

dengan sepenuh hati, tanpa ada sedikit pun perasaan ragu di dalam hati. Jika seseorang merasa raguragu

terhadap apa yang dikatakan oleh rasul dan menganggap pikirannya sendiri lebih benar

daripada pikiran rasul, maka sebagaimana dinyatakan oleh ayat tersebut, pada hakikatnya ia

bukanlah orang yang beriman.

Orang-orang yang benar-benar beriman dan berserah diri mengetahui bahwa apa yang

disabdakan oleh rasul adalah yang terbaik bagi mereka. Sekalipun sabdanya tersebut bertentangan

dengan kepentingan pribadi mereka, mereka menerima dan menaati dengan penuh gairah dan

semangat. Sikap seperti ini merupakan tanda bahwa ia adalah orang yang benar-benar beriman, dan

Allah memberikan kabar gembira berupa keselamatan kepada orang-orang yang menaati rasul

dengan ketaatan yang sempurna. Inilah sebagian dari ayat-ayat yang menyatakan kabar gembira dari

Allah:

“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama

dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin.”

(Q.s. an-Nisa’: 69).

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan

bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (Q.s.

an-Nur: 52).

“Katakanlah, ‘Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan jika kamu berpaling,

maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan

kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika

kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu

melainkan menyampaikan dengan terang’.” (Q.s. an-Nur: 54).

Sebagaimana dinyatakan di atas, orang-orang yang menaati rasul akan memperoleh petunjuk.

Di sepanjang sejarah, semua orang diuji atas ketaatan mereka terhadap para rasul. Allah selalu

memilih Rasul-rasul-Nya dari kalangan manusia. Dalam hal ini, orang-orang yang berpikiran sempit

dan tidak memiliki hikmah tidak mampu memahami bagaimana menaati seorang manusia dari

kalangan mereka sendiri, atau seseorang yang tidak lebih kaya daripada diri mereka sendiri. Namun,

Allah telah memilih Rasul-rasul-Nya, menolong mereka dari sisi-Nya, dan memberikan kepada

mereka ilmu dan kekuatan. Hakikat dari persoalan ini yang tidak mampu dipahami oleh orang-orang

adalah bahwa Allah memilih siapa saja yang Dia kehendaki. Orang beriman yang ikhlas dengan

sepenuh hati menaati dan menghormati orang yang telah dipilih Allah, lalu ia mengikutinya dengan

sepenuh hati. Ia mengetahui bahwa jika ia menaati rasul, sesungguhnya ia menaati Allah. Orangorang

yang berserah diri kepada Allah dan melaksanakan agama dengan demikian juga

menyerahkan diri kepada rasul. Allah menceritakan keadaan orang-orang yang menyerahkan diri

kepada-Nya sebagai berikut:

“Bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan,

maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap

mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (Q.s. al-Baqarah: 112).

Perbuatan Orang-orang yang Meninggikan Suara

Mereka Melebihi Suara Nabi Menjadi Terhapus:

Dalam sebuah ayat, Allah menyatakan sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari

suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana

kerasnya sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus amalan-amalanmu

sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya

di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka Allah untuk

bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Q.s. al-Hujurat:: 2-3).

Rasulullah selalu menyeru orang-orang beriman kepada jalan yang lurus dan kepada kebaikan.

Tentu saja ada saat-saat ketika seruan para rasul ini bertentangan dengan kepentingan orang-orang

yang diseru. Namun, orang-orang yang beriman dan menaati rasul tidak menuruti pikirannya sendiri,

tetapi berserah kepada firman Allah, Rasul-Nya, dan al-Qur’an . Dalam pada itu, orang-orang yang

imannya lemah, yang tidak dapat mengendalikan nafsu mereka menunjukkan kedurhakaan atau

kelemahan terhadap seruan rasul. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut, suara mereka,

pembicaraan mereka, dan kata-kata yang mereka ucapkan, dapat mengungkapkan penyakit yang ada

dalam hati mereka dan lemahnya mereka dalam ketaatan. Perbuatan mereka yang menentang apa

yang dikatakan oleh Nabi dan sikap mereka yang meninggikan suaranya tersebut, sesungguhnya

menunjukkan kebodohan mereka. Allah memberi tahu bahwa perbuatan orang-orang seperti ini akan

menjadi terhapus. Allah menyatakan bahwa semua perbuatan orang seperti ini, sekalipun ia berusaha

siang malam untuk menyebarkan agama, hanyalah sia-sia karena kedurhakaannya tersebut.

Ini merupakan rahasia penting yang diungkapkan dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an. Allah

telah memerintahkan manusia agar mengerjakan amal saleh, berjuang dengan sungguh-sungguh dan

teguh untuk kepentingan Islam, bertingkah laku sesuai dengan akhlak mulia sebagaimana yang

dijelaskan dalam al-Qur’an , dermawan, sabar, menjaga perasaan orang lain, jujur, dan dapat dipercaya.

Tidak diragukan lagi, semua ini merupakan bentuk ibadah yang penting yang akan mensyafaati

orang yang melakukannya di akhirat kelak. Namun, sebagaimana yang tercantum dalam Surat al-

Hujurat, satu sikap yang tidak menghormati Rasulullah dapat menyebabkan semua perbuatan orang

itu sia-sia. Sekali lagi, hal ini mengingatkan kita betapa pentingnya menaati dan menghormati

Rasulullah.

Allah Mencabut Kekuatan Orang-orang

yang Tidak Menaati Rasul

Kisah tentang Thalut dan bala tentaranya yang diceritakan dalam al-Qur’an merupakan

peringatan lain, yang sangat menekankan pentingnya menaati Rasulullah. Sebagaimana diceritakan

dalam al-Qur’an , ketika Thalut memberangkatkan pasukannya untuk melawan musuh, ia

memperingatkan pasukannya agar jangan minum air sungai yang akan mereka seberangi. Berikut ini

adalah ayat yang menceritakan kisah tersebut:

“Maka ketika Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, “Sesungguhnya Allah

akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya,

bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tidak meminumnya, kecuali menciduk seciduk

tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa

orang di antara mereka. Maka ketika Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia

telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, “Tak ada

kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang

meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, ‘Berapa banyak terjadi golongan yang

sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta

orang-orang yang sabar’.” (Q.s. al-Baqarah: 249).

Sebagaimana terlihat dari ayat tersebut, orang-orang yang tidak menaati perintah Thalut

menjadi lemah, sedangkan orang-orang yang menaati Thalut diberi kekuatan oleh Allah, dan atas

kehendak-Nya, mereka dapat mengalahkan musuh meskipun jumlah mereka lebih sedikit. Ini

merupakan rahasia yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an kepada manusia. Kekuatan,

kemenangan, dan keunggulan tidak tergantung pada kekayaan materi, kedudukan yang bergengsi,

jumlah yang banyak, atau kekuatan jasmani. Barangsiapa yang menjalankan perintah Allah, menaati

Dia dan Rasul-Nya, Allah menjadikan mereka lebih kuat dibandingkan semuanya, dan Allah akan

memberi pahala kepada mereka dengan karunia yang sangat banyak seperti hikmah, kekayaan,

kebaikan, kenikmatan, dan kekayaan. Bagi orang-orang yang siap untuk mengikuti Rasulullah disediakan

kenikmatan yang kekal abadi di akhirat kelak.





KELOMPOK MINORITAS ORANG BERIMAN DAPAT MENGALAHKAN ORANG KAFIR YANG JUMLAHNYA LEBIH BESAR



Salah satu mukjizat dari Allah yang diberikan kepada orang-orang yang beriman, meskipun

mereka berjumlah sedikit adalah bahwa mereka dapat mengalahkan musuh-musuh mereka dengan

Kehendak Allah. Ini merupakan rahasia penting yang diungkapkan Allah dalam beberapa ayat

sehingga menjadikan orang-orang kafir tertipu. Sebagaimana dapat dilihat dalam kisah tentang

Thalut, Allah menjadikan orang-orang beriman memperoleh kemenangan karena ketaatan mereka,

meskipun mereka berjumlah sedikit. Allah mengakhiri kisah tentang Thalut dengan kata-kata

sebagai berikut:

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang

banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.s. al-Baqarah: 249).

Dengan Bersabar, Orang-orang Beriman

akan Memperoleh Kekuatan Besar

Sebagaimana sering kali ditekankan dalam buku ini, terdapat banyak rahasia yang tersembunyi

dalam berbagai ayat al-Qur’an. Salah satu di antara rahasia-rahasia tersebut adalah tentang

kesabaran. Allah memberikan kabar gembira bahwa orang-orang yang bersabar akan semakin kuat.

Ingatlah bahwa semua kekuatan adalah milik Allah. Bahkan kekuatan orang yang menentang Allah

sesungguhnya juga milik Allah. Allah memberikan berbagai macam kemampuan kepada orangorang

untuk menguji mereka dan orang-orang di sekeliling mereka. Demikian pula, Dia dapat

mengambil dengan mudah sebagaimana Dia dapat memberikan dengan mudah apa saja yang Dia

kehendaki. Allah memberi tahu kita bahwa orang-orang yang bersabar akan menjadi kuat, yakni Dia

akan memberikan kekuatan kepada mereka. Tentang hal ini, Allah menyatakan sebagai berikut:

“Ya, jika kamu bersabar dan bersiap siaga, dan mereka datang menyerang kamu

dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang

memakai tanda.” (Q.s. Ali Imran: 125).

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas, jika Allah menghendaki, Dia dapat memberikan

kemenangan kepada orang-orang dengan cara yang tak terlihat. Dalam usaha untuk

memperjuangkan agama Allah misalnya, Allah dapat memberikan pertolongan yang tak terlihat

sehingga memungkinkan seseorang bicaranya sangat berpengaruh dan membuat hati orang-orang

yang mendengarkannya berpaling kepada agama. Dengan demikian, tak seorang pun yang dapat

memperoleh kemenangan atau mempengaruhi orang lain, kecuali jika Allah menghendakinya.

Pemilik semua kejayaan, kemenangan, dan pengaruh adalah Allah. Apa yang harus dilakukan oleh

manusia adalah menaati perintah Allah dan melaksanakan ketentuan-ketentuan-Nya. Dalam ayat

lainnya, Allah memberi tahu orang-orang yang beriman cara memperoleh kekuatan besar:

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh

orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus musuh. Dan

jika ada seratus orang diantaramu, mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir disebabkan

orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Sekarang Allah telah meringankan

kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada

diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang,

dan jika diantaramu ada seribu orang, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang

dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.s. al-Anfal: 65-6).

Sebagaimana dinyatakan Allah dalam ayat tersebut, jika orang-orang beriman tidak memiliki

kelemahan dalam diri mereka, dan mereka teguh, sabar, dan yakin, maka kekuatan satu orang

beriman adalah sama dengan kekuatan sepuluh orang. Dalam hal ini, perkataan “kekuatan” memiliki

pengertian lain yang bukan sekadar kekuatan fisik. Misalnya, kekuatan seorang beriman yang

menyampaikan pesan agama dan menyeru manusia ke jalan Allah adalah sama dengan kekuatan

sepuluh orang. Dalam pada itu, pengetahuan seorang yang beriman dapat menyamai pengetahuan

sepuluh orang. Perbuatan baik seorang beriman yang dilakukan semata-mata untuk mencari ridha

Allah dapat menyamai perbuatan yang dilakukan sepuluh orang. Seorang yang beriman dapat

menyeru sepuluh orang kafir yang tersesat kepada jalan Allah yang benar dan dapat menjadi asbab

bagi perbaikan iman mereka. Seorang yang beriman dapat menghancurkan kekafiran orang kafir dan

menggantinya dengan kebenaran.

Rahasia yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an ini sangat penting. Hal ini karena jika

semua orang Islam saling berlomba-lomba di jalan yang benar, betapapun kecilnya jumlah mereka,

Allah akan memberikan kemenangan kepada mereka dalam setiap urusan yang mereka lakukan.

Misalnya, jika orang di seluruh dunia ini berkumpul yang terdiri dari orang-orang kafir, dan

profesor-profesor kafir dari seluruh dunia yang memimpin semua orang di setiap negara agar

menjadi kafir, maka Allah cukup mengirim sekelompok kecil orang-orang Muslim yang kuat,

bertanggung jawab, dan cukup bijak untuk menunjukkan kepada orang-orang tersebut jalan yang

benar. Allah memberikan kemudahan kepada orang-orang beriman dalam setiap urusan mereka dan

membuat berbagai urusan menjadi sulit bagi orang-orang kafir. Untuk itulah, orang-orang beriman

yang mengetahui rahasia ini jangan sampai meremehkan usaha mereka dan mengatakan,

“Mungkinkah usaha kita ini dapat membawa perubahan terhadap situasi seperti ini?” Tetapi

sebaliknya mereka yakin bahwa Allah akan membalas setiap perbuatan yang ikhlas, yang dilakukan

semata-mata untuk mencapai ridha-Nya tersebut dengan hasil yang baik. Sebaris tulisan tentang

keberadaan Allah, sepatah kata yang menyeru manusia kepada Allah, atau suatu perbuatan yang

sesuai dengan nilai-nilai ajaran al-Qur’an dapat saja membawa manusia kepada keselamatan dan

membangkitkan perasaan cinta dan takut kepada Allah dalam diri mereka. Perlu kita camkan bahwa

hukum-hukum dan fenomena sebab dan akibat yang berlaku di dunia ini hanyalah berdasarkan apa

yang dijelaskan oleh Allah dalam al-Qur’an. Siapa pun yang berpikirnya sesuai dengan al-Qur’an

dapat memahami rahasia-rahasia dalam ciptaan Allah ini, dan dengan kehendak Allah, akan

memperoleh kekuatan yang lebih unggul dan hikmah melebihi apa yang dapat dicapai oleh orang

lain. Allah memberikan berita gembira kepada orang-orang yang beriman bahwa mereka akan

mengalahkan orang-orang kafir jika mereka teguh keimanannya:

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah

orang-orang yang paling tinggi jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q.s. Ali Imran: 139).

Sebagaimana dapat dibaca pada ayat di atas, persyaratan yang diperlukan agar memperoleh

kemenangan dan ketinggian, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak adalah keimanan yang ikhlas.

Rahasia lain yang diungkapkan dalam al-Qur’an dalam masalah ini adalah beriman dengan tidak

menyekutukan Allah.





ALLAH MENJADIKAN AGAMANYA TINGGI JIKA ORANG-ORANG HANYA MENYEMBAH DIA SAJA



Salah satu tujuan terpenting bagi seorang Muslim dalam hidup ini adalah mendakwahkan

ajaran-ajaran al-Qur’an ke seluruh dunia, sehingga orang-orang dapat menyembah Allah

sebagaimana yang seharusnya. Dalam al-Qur’an, Allah telah menunjukkan kepada orang-orang

beriman jalan untuk mencapai tujuan ini, dan Dia memerintahkan sebagai berikut:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan

mengerjakan amal-amal saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka

berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka

berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka yang telah

diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah

mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku

dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang kafir

sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Q.s. an-Nur: 55).

Berdasarkan rahasia Allah yang diungkapkan kepada orang-orang beriman, Allah akan

meneguhkan nilai-nilai al-Qur’an di seluruh dunia jika orang-orang beriman dan hanya menyembah

Allah, tanpa menyekutukan-Nya. Ini merupakan rahasia yang sangat penting, karena hal ini

menunjukkan bahwa sesungguhnya merupakan tanggung jawab setiap orang beriman untuk

mendakwahkan ajaran al-Qur’an kepada manusia. Dengan demikian setiap orang beriman yang

memiliki hati nurani harus menjauhkan diri dengan sungguh-sungguh dari menyekutukan Allah dan

hanya menyembah-Nya. Dibandingkan hal-hal lainnya, menyekutukan Allah merupakan dosa yang

tidak akan diampuni oleh Allah dan orang yang melakukannya akan dimasukkan ke dalam neraka.

Bagaimanapun, tampaknya sebagian besar manusia terlibat dalam ajaran-ajaran orang musyrik yang

menyembah berhala. Manusia harus waspada terhadap “kemusyrikan yang tersembunyi”. Dalam

bentuk kemusyrikan seperti ini, orang tersebut menyatakan beriman kepada Allah, mengakui Allah

itu satu, Allah Yang Menciptakan, dan Yang wajib ditaati. Tetapi, ia juga takut kepada makhluk

selain Allah, menganggap persetujuan dan dukungan orang lain lebih penting, menganggap bahwa

perdagangan, keluarga, dan anak cucu lebih penting daripada Allah dan berjuang di jalan-Nya,

sesungguhnya semua ini merupakan bentuk kemusyrikan yang nyata. Keimanan yang benar

sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an adalah memandang bahwa keridhaan Allah adalah di

atas segala-galanya. Mencintai makhluk lain selain Allah hanyalah sebagai asbab untuk mencari

keridhaan-Nya. Orang-orang yang merasa berutang budi kepada manusia yang telah memberi

sesuatu kepada mereka, yang memandang manusia sebagai pelindungnya, sesungguhnya mereka

adalah orang-orang musyrik. Hal ini karena Yang memberi rezeki hanyalah Allah, Yang memberi

makan, menolong, dan melindungi setiap makhluk hidup dan menyembuhkan orang yang sakit,

hanyalah Allah. Jika Allah menghendaki, Dia dapat menyembuhkan orang yang sakit melalui tangan

seorang dokter. Dalam hal ini, sungguh tidak masuk akal jika seseorang menumpukan harapannya

hanya pada dokter. Karena, tak seorang dokter pun yang dapat menyembuhkan pasiennya kecuali

jika Allah menghendaki. Seseorang yang melihat kesehatannya membaik harus melihat, bahwa

dokter itu sebagai orang yang dipakai tangannya oleh Allah untuk menyembuhkannya, sehingga ia

akan menghormati dokter itu dengan semestinya. Namun, karena ia mengetahui bahwa sesungguhnya

yang menyembuhkan adalah Allah, maka hanya kepada Allah saja ia harus bersyukur. Jika

tidak demikian, berarti ia telah menyekutukan Allah dan menganggap sama sifat Allah dengan sifat

manusia. Semua Muslim harus menjauhi dengan sungguh-sungguh syirik yang tersembunyi ini, dan

jangan sampai menjadikan penolong dan pelindung selain Allah.





KEHIDUPAN DUNIA INI SANGAT SINGKAT



Sebagian besar manusia sangat mencintai dunia ini seakan-akan mereka tidak akan pernah

mati, sehingga mereka menjauhi kehidupan agama, tidak ingat mati dan akhirat. Padahal, kehidupan

dunia yang sangat mereka cintai ini sesungguhnya sangatlah singkat dan sementara. Bahkan orangorang

yang umurnya sangat panjang pada suatu saat pasti akan menghadapi kematian. Di samping

itu, kehidupan dunia ini sesungguhnya tidaklah sebagaimana yang tampak. Allah mengungkapkan

rahasia ini kepada manusia dalam beberapa ayat al-Qur’an:

“Allah bertanya, ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab,

‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orangorang

yang menghitung.’ Allah berfirman, ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar

saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.’ Maka apakah kamu mengira bahwa

sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main, dan bahwa kamu tidak akan

dikembalikan kepada Kami?” (Q.s. al-Mu’minun: 112-15).

“Dan pada hari terjadinya Kiamat, orang-orang yang berdosa bersumpah bahwa

mereka tidak berdiam melainkan sesaat, seperti itulah mereka selalu dipalingkan dari

kebenaran.” (Q.s. ar-Rum: 55).

Percakapan di atas adalah percakapan antara orang-orang yang dikumpulkan untuk dihisab.

Sebagaimana yang ditunjukkan dalam percakapan tersebut, setelah mati orang-orang menyadari

bahwa sesungguhnya mereka tinggal di dunia hanya sebentar. Yaitu, waktu yang tampaknya enam

puluh atau tujuh puluh tahun dalam kehidupan dunia ini, sesungguhnya sama singkatnya dengan satu

hari, atau bahkan lebih singkat lagi. Hal ini bagaikan kisah seseorang yang menganggap bahwa ia

telah menghabiskan beberapa hari, bulan, atau bahkan beberapa tahun dalam mimpinya, tetapi

setelah bangun baru menyadari bahwa mimpi tersebut hanya berlangsung selama beberapa detik.

Dengan bertafakkur, orang akan dapat memahami betapa singkatnya dan betapa sementaranya

kehidupan dunia ini. Misalnya, setiap orang membuat rencana yang jelas dan menetapkan beberapa

tujuan dalam hidupnya. Rencana-rencana ini merupakan tujuan yang tidak pernah berakhir. Antara

keduanya saling mengikuti. Demikian pula orang yang baru lulus dari SLTA, lalu masuk ke Perguruan

Tinggi, lalu bekerja di sebuah perusahaan. Betapapun, semua ini merupakan pengalaman yang

bersifat sementara. Ketika muda, orang hampir-hampir tidak dapat membayangkan ia akan berumur

tiga puluh tahun. Tetapi tahu-tahu ia telah berumur empat puluh tahun.

Singkatnya kehidupan dunia ini merupakan kepastian dari Allah yang diungkapkan dalam al-

Qur’an, yang dapat dipahami oleh siapa pun sebelum mati. Bagi orang yang memahaminya, betapa

bodohnya jika ia mengabaikan kehidupan yang nyata dan tidak berakhir di akhirat, hanya untuk

mengejar kehidupan yang singkat dan sementara ini. Sebagian di antara ayat-ayat, yang di dalamnya

Allah mengingatkan manusia tentang singkatnya kehidupan dunia adalah sebagai berikut:

“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara, dan

sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (Q.s. Ghafir: 39).

“Sesungguhnya mereka menyukai kehidupan dunia yang sementara dan mereka tidak

mempedulikan hari yang berat.” (Q.s. al-Insan: 27).





ALLAH MEMASUKKAN RASA TAKUT KE DALAM HATI ORANG-ORANG KAFIR



Allah menyatakan dalam beberapa ayat bahwa Dia memasukkan perasaan takut ke dalam hati

orang-orang kafir:

“Ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku bersama

kamu, maka teguhkanlah orang-orang yang telah beriman.’ Kelak akan Aku jatuhkan rasa

ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir.” (Q.s. al-Anfal: 12).

“Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampungkampung

mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tidak menyangka bahwa

mereka akan keluar dan mereka pun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat

mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka

(hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan

ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka

sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah untuk menjadi pelajaran, hai

orang-orang yang mempunyai pandangan.” (Q.s. al-Hasyr: 2).

Apa yang diceritakan dalam ayat-ayat tersebut merupakan mukjizat dari Allah. Dengan cara

memasukkan perasaan takut ke dalam hati mereka, Allah menghilangkan kekuatan orang-orang yang

menentang orang-orang beriman dan yang menolak Allah dan agama-Nya. Sangatlah penting agar

orang-orang beriman merenungkan ayat-ayat ini dan mengambil pelajaran bagi diri mereka. Hal ini

karena — sebagaimana disebutkan pada bab-bab terdahulu — hati kita berada di tangan Allah, dan

Allah memasukkan apa saja ke dalam hati, kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Tugas orangorang

beriman bukanlah berusaha untuk menciptakan pengaruh kepada orang lain, tetapi hanya

supaya ikhlas. Misalnya, seorang beriman memiliki tanggung jawab untuk mengingatkan seseorang

berdasarkan ayat-ayat Allah. Namun, orang itu hanya akan memperoleh hidayah dari nasihat yang

diberikan — betapapun penjelasannya itu sangat terang — Allah membimbing orang itu ke jalan

yang benar. Dengan penjelasan tersebut, seorang beriman tidak berdaya menghadapi bahaya.

Demikian pula, ia tidak mempunyai kekuatan untuk menjadikan musuh ketakutan. Tetapi Allah

melindungi dan menolong orang-orang beriman yang ikhlas dan dalam melakukan usahanya hanya

untuk mencari ridha Allah. Misalnya, sebagaimana dikatakan dalam ayat di atas, Dia memasukkan

perasaan takut ke dalam hati musuh, dan menjadikan mereka terjerumus dalam kesulitan mereka

sendiri. Dengan cara inilah Allah memberikan jalan keluar kepada orang-orang yang beriman.

Allah memasukkan berbagai ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir seperti takut mati,

takut masa depan, takut terluka, takut akan bencana, atau takut kehilangan harta. Demikian pula,

mereka takut mati karena tidak mempercayai akhirat dan sangat mencintai dunia. Meyakini bahwa ia

akan lenyap dan kehilangan semua kekayaannya, ketakutan terhadap mati semakin besar. Pada

akhirnya, rasa takut ini berkembang menjadi sakit.

Allah menceritakan kepada kita bahwa rasa takut tersebut dimasukkan ke dalam hati orangorang

kafir karena mereka menyekutukan Allah. Kesudahan orang-orang seperti ini diceritakan

dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka

menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan

tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal

orang-orang yang zalim.” (Q.s. Ali Imran: 151).





HIKMAH DAN PEMBICARAAN YANG JELAS ADALAH RAHMAT DARI ALLAH



Hikmah dan pembicaraan yang jelas adalah rahmat dari Allah, sebagaimana yang diceritakan

dalam ayat-ayat al-Qur’an sebagai berikut:

“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa

diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil

pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” (Q.s. al-Baqarah: 269).

“Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan pembicaraan

yang jelas.” (Q.s. Shad: 20).

Hikmah dan kemampuan berbicara yang jelas adalah karunia yang besar dari Allah. Suatu

persoalan dapat dijelaskan oleh bermacam-macam orang dengan gaya yang berbeda-beda. Namun,

gaya yang paling berpengaruh adalah gaya yang mengesankan dan jelas. Penjelasan seperti itu dapat

menjadikan seseorang memusatkan perhatiannya, membangunkannya dari kelalaian, mendorongnya

untuk berpikir tentang hal-hal yang telah diketahui tetapi sering dilupakan. Seseorang yang memiliki

kemampuan berbicara yang jelas tidak perlu berbicara panjang lebar, tetapi cukup menyatakan

pikiran-pikirannya dan pandangan-pandangannya secara singkat, padat, namun memiliki pengertian

yang sangat luas dan mengesankan. Seorang bijak yang menjelaskan suatu persoalan dengan ikhlas

menjadikan penjelasan yang diberikannya menimbulkan kesan yang lebih kuat bagi orang lain. Satu

hal yang patut disebutkan di sini — bahwa berbicara dengan jelas itu bukan merupakan sebuah

bidang yang dapat dipelajari. Ia tidak memiliki aturan atau teori yang rumit. Ia hanya memerlukan

keikhlasan dan doa untuk meminta rahmat dari Allah. Ketika seseorang berbicara, Allah

memberikan ilham kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Karya agung tentang hikmah dan pembicaraan yang jelas adalah al-Qur’an , yang merupakan

firman Allah secara langsung. Hikmah ini merupakan sesuatu yang istimewa dari semua kitab yang

diturunkan Allah kepada umat manusia. Hal ini diceritakan dalam ayat berikut ini:

“Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya

terdapat cegahan: itulah suatu hikmah yang sempurna tetapi peringatan-peringatan itu

tidak berguna.” (Q.s. al-Qamar: 4-5).





MANUSIA JUGA AKAN DIMINTAI TANGGUNG JAWAB ATAS APA YANG MEREKA PIKIRKAN DAN MEREKA NIATKAN



Dalam al-Qur’an, Allah memerintahkan manusia agar hidup berdasarkan asas-asas agama

dengan kerelaan hati dan dengan khusyuk:

“Barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebaikan, maka itulah yang lebih baik

baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah: 184).

“Peliharalah segala shalatmu, dan peliharalah shalat wustha. Berdirilah untuk Allah

(dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (Q.s. al-Baqarah: 238).

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh

kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan

Tuhan.” (Q.s. an-Nahl: 120).

Sebagaimana terlihat dalam ayat-ayat di atas, Allah memerintahkan umat manusia agar

mengerjakan semua shalatnya dengan khusyuk. Di samping mengerjakan shalat, puasa, bersedekah,

atau amal saleh lainnya, yang sesungguhnya sangat penting bagi seseorang adalah niatnya. Dalam

al-Qur’an, Allah mengingatkan kita tentang keadaan sebagian orang yang mengerjakan shalat atau

yang menginfakkan hartanya hanya untuk pamer. Kemungkinan orang seperti ini tidak mengingat

Allah, tidak bersikap khusyuk dan khudhu’ di hadapan Allah dalam shalatnya, tetapi shalatnya

hanya bersifat ritual saja. Mungkin seseorang secara lahiriah tampak melakukan kedermawanan,

menyumbang sekolah, atau membantu orang miskin. Tetapi jika hal itu tidak dikerjakan untuk

mencari ridha Allah, tidak menyadari kelemahannya, tidak merasa memerlukan Allah, tidak takut

terhadap akhirat, amalan-amalan ini tidak akan diterima Allah. Allah menceritakan kepada kita

bahwa darah binatang kurban tidak sampai kepada-Nya, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah

ketakwaannya:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat sampai kepada Allah,

tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah

menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya

kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.s. al-

Hajj: 37).

Di antara kesalahan-kesalahan besar yang banyak dipercayai adalah bahwa manusia menganggap,

mereka hanya akan dimintai tanggung jawab atas perbuatan mereka. Padahal, Allah

memberi tahu kita bahwa manusia akan dimintai tanggung jawabnya atas niatnya, pikirannya,

bahkan apa yang tersimpan di dalam lubuk hatinya.

“Kepunyaan Allah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika kamu melahirkan

apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan

membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatan itu. Maka Allah mengampuni siapa

yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa

atas segala sesuatu.” (Q.s. al-Baqarah: 284).

Allah mengetahui apa yang ada dalam hati seseorang, apa yang ada dalam bawah sadarnya,

apa yang dipikirkannya, dan apa yang tersembunyi dari orang lain. Allah menengahi antara

seseorang dan hatinya. Dengan demikian, manusia tidak mungkin menyembunyikan segala sesuatu

dari Allah. Keraguan apa pun yang terlintas dalam hati, bisikan-bisikan setan, keimanannya yang

sesungguhnya, keimanannya terhadap al-Qur’an, apa saja yang terlintas dalam hatinya ketika sedang

shalat, semuanya diketahui satu per satu oleh Allah, dan semuanya diingat oleh Allah. Misalnya,

Allah mengetahui ketika seseorang mengerjakan shalat dengan malas, atau ketika pikirannya

mengalami pertentangan. Manusia akan menjumpai semuanya itu pada Hari Akhir. Membersihkan

hati, menjalani hidup berdasarkan agama dan dalam mengamalkannya tidak hanya bersifat ritual

tetapi dengan ikhlas dan penuh kekhusyukan, semua ini merupakan jalan untuk mencapai keselamatan.

Betapa bodohnya mengabaikan kehidupan yang abadi dan hakiki hanya untuk mengejar

kehidupan yang singkat dan sementara. Di bawah ini diketengahkan beberapa ayat, yang di

dalamnya Allah mengingatkan manusia tentang singkatnya kehidupan di dunia:

“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara dan

sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (Q.s. Ghafir: 39).

“Sesungguhnya mereka menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan

hari yang berat.” (Q.s. al-Insan: 27).





ALLAH MEMASUKKAN RASA CINTA KEDALAM HATI MANUSIA



Dalam beberapa ayat, Allah menyatakan bahwa Dialah Yang memasukkan perasaan cinta dan

kasih sayang ke dalam hati manusia. Misalnya, Allah telah menyatakan dalam ayat di bawah ini

bahwa Dialah Yang mengumpulkan orang-orang beriman dan menyatukan hati mereka sebagai

saudara:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai

berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, maka

Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang

yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan

kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu

mendapat petunjuk.” (Q.s. Ali Imran: 103).

Dalam ayat lainnya, Allah memberi tahu kita bahwa Dialah Yang memberikan kepada orangorang

beriman perasaan belas kasihan.

“Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak, dan rasa belas

kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian. Dan ia adalah seorang yang bertakwa.”

(Q.s. Maryam: 12-3).

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha

Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Q.s. Maryam: 96).

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri

dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-

Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar

terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Q.s. ar-Rum: 21).

Allah juga menyatakan bahwa Dia akan memasukkan perasaan kasih sayang di antara orangorang

yang beriman dan orang-orang yang memusuhi mereka. Telah jelas bahwa Allahlah yang

mengendalikan semua hati – baik orang-orang yang beriman maupun yang tidak beriman.

“Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang

yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Mahakuasa. Dan Allah Maha

Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. al-Mumtahanah: 7).





KEMATIAN ORANG-ORANG YANG BERIMAN DAN KAFIR TIDAK AKAN SAMA



Dalam al-Qur’an, Allah mengungkapkan suatu rahasia tentang kematian, yang tidak diketahui

oleh banyak orang — bahwa saat kematian yang dialami oleh seseorang sesungguhnya tidaklah

sebagaimana yang dilihat orang lain. Allah menceritakan kepada kita dalam al-Qur’an, sebagai

berikut:

“Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu

melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat.” (Q.s.

al-Waqi‘ah: 83-5).

Rahasia lain yang diungkapkan Allah tentang kematian adalah bahwa saat kematian itu bagi

orang-orang kafir merupakan pengalaman yang mengerikan dan menyengsarakan. Tetapi orangorang

di sekitarnya tidak dapat menyaksikan kengerian itu. Allah menyatakan kenyataan ini dalam

ayat-Nya sebagai berikut:

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap

Allah atau yang berkata, ‘Telah diwahyukan kepada saya,’ padahal tidak ada diwahyukan

sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata, ‘Saya akan menurunkan seperti apa yang

diturunkan Allah.’ Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang

zalim berada dalam tekanan-tekanan sakaratul-maut, sedang para malaikat memukul dengan

tangannya, sambil berkata, ‘Keluarkanlah nyawamu.’ Di hari ini kamu dibalas dengan

siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah

(perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayatayat-

Nya. (Q.s. al-An‘am: 93).

“Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya

Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan

agar melayang nyawa mereka, dalam keadaan kafir.” (Q.s. at-Taubah: 9).

Berdasarkan rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an, seorang kafir tampaknya saja mati

dalam keadaan tenang di tempat tidurnya. Kelihatannya bagi orang-orang yang ada di sekitarnya ia

sama sekali tidak mengalami kesakitan atau penderitaan pada saat kematiannya, kecuali matanya

hanya tertutup. Namun, Allah memberi tahu kita bahwa seorang kafir merasakan penderitaan yang

dahsyat yang tidak dapat kita saksikan. Bagaimana para malaikat mencabut nyawa orang-orang kafir

dijelaskan dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“Bagaimanakah apabila malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul muka

mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka

mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci apa yang

diridhai-Nya; sebab itu Allah menghapus amal-amal mereka.” (Q.s. Muhammad: 27-8).

“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir

seraya memukul muka mereka dan belakang mereka, ‘Rasakanlah olehmu siksa neraka yang

membakar. Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah

sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya’.” (Q.s. al-Anfal: 50-1).

Sebagai kebalikan dari kematian yang menyengsarakan yang dialami orang-orang kafir,

orang-orang beriman mengalami kematian dengan sangat mudah. Misalnya, seorang beriman yang

berperang di medan peperangan di dekat nabi, kemudian ditikam dengan pedang, ia terbebas dari

semua rasa takut, ia mengalami saat kematian yang damai. Sebagaimana diberitakan oleh Allah

dalam ayat tersebut, nyawa orang-orang yang beriman akan dicabut dalam keadaan suci dan mereka

akan disambut oleh malaikat dengan salam dan berita gembira. Allah menjelaskan kematian orangorang

beriman sebagai berikut:

“Orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan

mengatakan, ‘Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang

telah kamu kerjakan’.” (Q.s. an-Nahl: 32).





SHALAT MENJAUHKAN MANUSIA DARI PERBUATAN JAHAT



Shalat diperintahkan kepada orang-orang beriman pada saat-saat yang telah ditetapkan setiap

hari, sebagaimana telah dijelaskan dalam al-Qur’an. Allah menjanjikan pahala bagi orang-orang

yang benar-benar menjaga shalatnya dan yang istiqamah dalam mengerjakannya. Pahala lain yang

akan diberikan kepada orang-orang yang mengerjakan shalat dijelaskan dalam al-Qur’an, sebagai

berikut:

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur’an ) dan

dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan

mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar. Dan Allah

mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.s. al-‘Ankabut: 45).

Sebagaimana dinyatakan Allah dalam ayat di atas, orang-orang yang mengerjakan shalat

dijauhkan dari perbuatan keji dan mungkar. Allah akan menolong untuk menjauhkannya dari

perbuatan jahat.

Orang yang benar-benar menjaga dan mengerjakan shalat sebagaimana dijelaskan dalam al-

Qur’an adalah orang yang bertakwa kepada Allah. Orang yang berdiri, ruku’, dan sujud di hadapan

Allah pada waktu-waktu tertentu setiap hari pasti akan dijauhkan dari perbuatan jahat, dan ia akan

sangat takut kepada Allah. Hati nurani orang-orang seperti itu, dengan kehendak Allah, akan

senantiasa dijauhkan dari perbuatan keji dan mungkar. Sekalipun mereka melakukan kemungkaran

untuk sementara waktu, mereka akan menyadari kesalahan mereka pada saat berdoa dan bertafakkur

di hadapan Allah Yang Mahakuasa. Kemudian mereka akan bertobat dan menjauhi kemungkaran

tersebut pada masa berikutnya.





ORANG-ORANG YANG TERBUNUH DI JALAN ALLAH TIDAKLAH MATI



Allah telah mengungkapkan dalam al-Qur’an, bahwa orang-orang yang meninggal di jalan-

Nya sesungguhnya tidaklah “mati”, tetapi hidup di sisi-Nya. Keadaan mereka ini diungkapkan dalam

ayat-ayat sebagai berikut:

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati;

bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan

gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka

bersenang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul

mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih

hati. Mereka bersenang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa

Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” (Q.s. Ali Imran: 169-71).

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah itu

mati. Bahkan mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Q.s. al-Baqarah: 154).

Bahwa Allah akan menyempurnakan rahmat bagi orang-orang yang syahid dan bahwa mereka

akan dimasukkan ke dalam surga merupakan rahasia Allah lainnya yang diungkapkan dalam al-

Qur’an.

“Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal

mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka,

dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenankan-Nya kepada mereka.”

(Q.s. Muhammad: 4-6).

“Maka Tuhan mereka mengabulkan permohonan mereka, ‘Sesungguhnya Aku tidak

menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau

perempuan, sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang

berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang

berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Aku hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan

pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya,

sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik’.” (Q.s. Ali Imran:

195).

“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati,

benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik. Dan sesungguhnya

Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke

dalam suatu tempat yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui

lagi Maha Penyantun.” (Q.s. al-Hajj: 58-9).

Kenyataan yang diungkapkan dalam ayat-ayat di atas tentang orang-orang yang gugur di jalan

Allah adalah di antara rahasia-rahasia dalam al-Qur’an, yang pada umumnya tidak diketahui orang

banyak.



ALLAH PEMBERI KEMULIAAN



Banyak orang yang tidak mempercayai akhirat, sehingga berlomba mencari kekuasaan,

kekuatan, dan kehebatan di dunia, mereka menganggap bahwa kehidupan itu hanyalah kehidupan

dunia. Sepanjang hidup mereka, mereka berusaha dengan tamak untuk mencapai tujuan ini. Mereka

memiliki nilai dan patokan tersendiri tentang kekuasaan, kekuatan, dan kemuliaan. Menurut kriteria

mereka, orang perlu kaya, memiliki peran penting dalam masyarakat, dan kemasyhuran. Seandainya

mereka tidak memiliki salah satu di antara kriteria tersebut, mereka menganggap bahwa mereka

tidak memiliki harga diri, kemuliaan, dan gengsi. Padahal itu merupakan pandangan yang salah.

Kesalahan ini dijelaskan dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahansembahan

itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak, kelak mereka (sembahansembahan)

itu akan mengingkari penyembahan terhadapnya, dan mereka (sembahansembahan)

itu akan menjadi musuh bagi mereka.” (Q.s. Maryam: 81-2).

Satu-satunya pemiliki kekuatan dan kekuasaan adalah Allah, dan Dialah yang memberikan

kekuatan dan kekuasaan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dengan demikian, orang-orang

yang menggunakan asbab lain untuk memperoleh kekuatan dan kekuasaan selain dari berdoa kepada

Allah sesungguhnya telah menyekutukan-Nya. Hal ini karena kekayaan, prestise, atau kedudukan

tidak dapat memberikan kekuatan kepada seseorang. Di samping itu, bagi Allah hanya memerlukan

waktu sedetik saja untuk mencabut kekuasaan itu dari seseorang. Misalnya, seorang top-eksekutif

bisa saja kehilangan seluruh kekayaannya, kehormatannya, dan kedudukannya dalam sesaat, karena

satu-satunya pemilik yang hakiki dari segala sesuatu adalah Allah.

Allah mengaruniakan kekuatan dan kemuliaan kepada hamba-hamba-Nya yang dekat dengan-

Nya, yang dengan sepenuh hati mengabdi kepada-Nya, dan yang mengikuti al-Qur’an. Seseorang

yang hidup berdasarkan al-Qur’an tidak pernah melakukan apa pun yang dapat membawa kepada

kehinaan, penyesalan, atau malu di hadapan Tuhan. Orang-orang yang benar-benar beriman tidak

takut kepada siapa pun dan kekuasaan mana pun, dan tidak pernah menjilat siapa pun. Yang mereka

inginkan hanyalah memperoleh ridha Allah dan hanya takut kepada Allah. Itulah sebabnya mereka

tidak merasa lemah dan tidak pernah merasa kekurangan. Meskipun mereka tidak memiliki harta

benda, kekayaan, jabatan, atau prestise, Allah memberikan kepada mereka kekuatan dan kemuliaan.

Orang-orang seperti itu memiliki ketinggian dan kemuliaan karena iman mereka, dan mereka hidup

berdasarkan ajaran al-Qur’an. Tentang hal ini, Allah menyatakan sebagai berikut:

“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang

mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.” (Q.s. al-Munafiqun: 8).





RAHASIA MENCARI JALAN YANG BENAR



Hampir setiap orang memiliki kriteria sendiri-sendiri tentang yang benar dan yang salah.

Kriteria yang digunakan untuk menetapkan yang benar dan yang salah ini sangat berbeda-beda.

Sebuah buku, seseorang, seorang politisi, atau kadang-kadang seorang filsuf, barangkali dijadikan

pembimbing dalam kehidupan seseorang. Namun demikian, jalan yang benar, sebagai satu-satunya

jalan yang menuju kepada keselamatan, adalah agama yang telah dipilihkan oleh Allah. Menurut

jalan ini, tujuan utamanya adalah untuk mencari keridhaan, rahmat, dan surga Allah. Sedangkan

jalan-jalan lainnya, betapapun menariknya jalan itu kelihatannya, hanyalah menipu dan

menjerumuskan kepada kehancuran, keputusasaan, penderitaan, dan siksa yang pedih, baik di dunia

maupun di akhirat.

Orang-orang yang dibimbing ke jalan yang benar merupakan rahasia yang diungkapkan dalam

al-Qur’an. Mereka adalah hamba-hamba yang dibimbing Allah kepada jalan-Nya dan yang

memperoleh surga-Nya.

Beriman dengan Penuh Keyakinan Sebelum yang lain-lainnya, orang perlu memiliki iman agar dapat memperoleh bimbingan kepada jalan yang lurus. Jika seseorang meyakini bahwa pemilik dan Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu di antara langit dan bumi itu adalah Allah, dan ia merasa yakin bahwa tujuan

keberadaannya di dunia adalah untuk menjadi hamba Allah, dan ia mencari ridha Allah dalam

seluruh kehidupannya, maka Allah akan membimbingnya ke jalan yang lurus. Beriman kepada

Allah, akhirat, dan al-Qur’an haruslah merupakan iman yang teguh dan yakin. Meskipun sebagian

orang mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman, tetapi mereka menyimpan

keraguan. Ketika mereka berkumpul dengan orang-orang kafir dan berada di bawah pengaruh

mereka, orang-orang seperti itu kemungkinan menampakkan kelemahan dan bersikap memusuhi

terhadap Allah dan agama-Nya. Akan tetapi, orang-orang yang dibimbing Allah kepada jalan yang

lurus memiliki iman yang teguh dan tidak tergoyahkan:

“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwa al-Qur’an itulah yang

hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan hati mereka tunduk kepadanya, dan sesungguhnya

Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang

lurus.” (Q.s. al-Hajj: 54).

Berpaling kepada Allah dengan

Penyerahan yang Sempurna

Orang-orang beriman yang berpaling kepada Allah dengan penyerahan yang sempurna

merupakan rahasia lain dalam memperoleh petunjuk ke jalan yang lurus. Bagi orang yang beriman

kepada Allah dan takut akan akhirat, dunia ini tidaklah menarik baginya.

Karena yang didambakannya hanya mencari ridha Allah, orang-orang yang benar-benar

beriman berpaling kepada Allah dalam semua perbuatan mereka, dan mereka mengetahui bahwa

Allah menguji mereka, mereka berserah diri kepada Allah atas takdir mereka yang telah ditetapkan

Allah. Allah telah memberi tahu bahwa orang-orang yang berserah diri kepada-Nya akan

memperoleh petunjuk kepada jalan yang lurus:

“Dan bagaimanakah kamu menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada

kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa berpegang teguh

kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Q.s. Ali

Imran: 101).

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya

kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu:

Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orangorang

musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu

orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada-Nya orang yang kembali kepada-

Nya.” (Q.s. asy-Syura: 13).

Mengikuti Nasihat yang Diberikan

Perintah Allah lainnya kepada hamba-hamba-Nya yang menginginkan petunjuk kepada jalan

yang lurus adalah sebagai berikut:

“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada

mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan mereka.

Dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami,

dan pasti Kami tunjukkan mereka ke jalan yang lurus.” (Q.s. an-Nisa’: 66-8).

Orang-orang beriman yang bertakwa kepada Allah berusaha untuk membersihkan diri mereka

dari kesalahan dan berusaha untuk memperoleh kesempurnaan akhlak yang menjadikan Allah ridha

kepadanya. Namun, orang perlu bersikap rendah hati agar kesalahan-kesalahannya diampuni dan

agar memperoleh petunjuk kepada jalan yang lurus. Orang yang rendah hati yang berusaha untuk

membersihkan dirinya, pertama-tama akan bersungguh-sungguh mengikuti perintah-perintah Allah.

Di samping itu, orang-orang beriman yang ikhlas saling menjadi teman dan pelindung bagi orang

lain. Mereka memerintahkan yang benar dan melarang yang mungkar. Dengan demikian, karena

mengetahui bahwa peringatan seorang yang beriman itu sangat penting bagi penghisaban seseorang

di akhirat, maka orang-orang yang beriman juga harus saling mau menerima nasihat. Orang yang

mau mengikuti nasihat yang baik akan memperoleh petunjuk kepada jalan yang lurus. Allah

memberikan kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya yang menjauhi bujukan setan dan menaati

orang-orang yang menyeru kepada al-Qur’an dan perintah-perintah-Nya:

“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut tidak menyembahnya dan kembali kepada

Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-

Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka

itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang

mempunyai akal.” (Q.s. az-Zumar: 17-8).





NAFSU MANUSIA MEMERINTAHKAN PERBUATAN FASIK



Nafsu manusia merupakan kekuatan dari dalam yang mendorong dan mengetahui kefasikan

dan cara menjauhinya. Dengan kata lain, ia merupakan nafsu yang mengilhamkan kefasikan dan

kejahatan. Allah menceritakan dua sifat nafsu ini dalam al-Qur’an, sebagai berikut:

“Dan nafsu serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada nafsu itu

kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan nafsu itu.”

(Q.s. asy-Syams: 7-9).

Nafsu disebutkan dalam ayat tersebut sebagai sumber semua keburukan dan kesalahan bagi

manusia. Karena memiliki sifat seperti itu, nafsu merupakan salah satu di antara musuh manusia

yang sangat berbahaya. Nafsu itu bersifat sombong dan mementingkan diri sendiri; ia selalu ingin

memuaskan kehendaknya dan kesombongannya. Ia hanya memperhatikan kebutuhannya sendiri, kepentingannya

sendiri, dan hanya mencari kesenangan. Ia berusaha melakukan apa saja untuk

memperdayakan manusia, karena nafsu selalu tidak mungkin dapat memenuhi keinginannya melalui

cara yang benar. Ucapan Nabi Yusuf menjelaskan keadaan ini dalam al-Qur’an, sebagai berikut:

“Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu

selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.

Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. Yusuf: 53).

Bahwa nafsu seseorang dengan kuat mengilhamkan perbuatan fasik dan jahat merupakan

rahasia penting yang diungkapkan kepada orang-orang beriman, dan takut kepada Allah. Dengan

diungkapkannya rahasia ini, mereka dapat mengetahui bahwa nafsu tidak pernah berhenti bekerja,

sekalipun hanya sedetik. Melalui godaan, ia selalu berusaha menjerumuskan manusia dari jalan

Allah. Berdasarkan rahasia ini, nafsu tidak akan pernah diam; ia akan selalu membenarkan perbuatannya

dalam keadaan apa saja, ia akan selalu mencintai dirinya sendiri melebihi yang lain, ia

semakin sombong, menginginkan benda apa saja dan menginginkan kenikmatan. Pendek kata, ia

berusaha dengan cara apa saja agar seseorang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan halhal

yang diridhai Allah.

Sesungguhnya, perilaku dan perbuatan orang-orang kafir yang tidak sesuai dengan ajaran al-

Qur’an sepenuhnya dibentuk oleh nafsu mereka. Karena tidak takut kepada Allah, orang-orang kafir

tidak memiliki kehendak untuk mengikuti hati nurani mereka, tetapi lebih cenderung untuk mengikuti

nafsu mereka. Percekcokan, konflik kepentingan, dan ketidakbahagiaan yang melanda

masyarakat dan agama diabaikan, berakar dari individu-individu yang terjerat oleh nafsu mereka dan

kepentingan diri mereka, sehingga akibatnya, mereka kehilangan sifat-sifat manusia seperti kasih

sayang, saling menghormati, dan pengorbanan.

Itulah sebabnya mengapa rahasia yang diungkapkan oleh Allah ini sangat penting. Jika

seseorang mencamkan rahasia ini dalam hatinya, ia dapat mewaspadai nafsu dan melakukan

perbuatan yang benar. Nafsu dapat ditundukkan dengan melakukan hal-hal yang bertentangan

dengan apa yang diperintahkan. Misalnya, ketika nafsu memerintahkan untuk bermalas-malas, kita

harus bekerja lebih keras. Ketika nafsu memerintahkan untuk mementingkan diri sendiri, kita harus

lebih banyak berkorban. Ketika nafsu memerintahkan untuk berbuat kikir, kita harus menjadi lebih

dermawan.

Di samping sisi nafsu yang jahat, dari surat asy-Syams kita mengetahui bahwa Allah juga

mengilhamkan kepada nafsu hati nurani yang menjadikan seseorang dapat mengendalikan nafsunya

agar tidak memuaskan keinginannya yang rendah. Yaitu, di samping nafsu itu mendordong kepada

kefasikan, ia juga mendorong kepada kebajikan. Setiap orang mengetahui akan bisikan ini dan dapat

mengenali perbuatan fasik dan perbuatan baik. Namun, hanya orang-orang yang takut kepada Allah

yang dapat mengikuti hati nurani mereka.





RAHASIA KEMAKMURAN DAN KEKAYAAN YANG DIBERIKAN KEPADA MANUSIA



Seluruh alam raya ini adalah milik Allah, dan Dia memberikan apa saja yang Dia kehendaki

kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allahlah yang memberi rezeki kepada manusia, Dialah yang

menjadikan mereka kaya, dan Dialah yang memberi panen yang berlimpah kepada mereka.

Sebagaimana Allah menyatakan dalam sebuah ayat, Allah meluaskan rezeki kepada hamba-hamba-

Nya menurut kehendak-Nya, dan Dialah juga yang menyempitkan rezeki tersebut. Dia melakukan

ini untuk alasan tertentu dan karena hikmah tertentu. Baik orang-orang yang rezekinya diluaskan

maupun yang rezekinya disempitkan, pada hakikatnya merupakan ujian dari Allah. Orang-orang

yang tidak menjadi sombong dan boros karena apa yang telah diberikan kepada mereka, tetapi

bersyukur kepada Allah atas segala sesuatu yang dikaruniakan kepada mereka, orang-orang yang

bertawakal kepada Allah dan tetap bersabar ketika harta mereka disempitkan, mereka adalah hambahamba

yang diridhai Allah. Ucapan Nabi Sulaiman yang diketengahkan dalam al-Qur’an

menjelaskan bahwa nikmat dari Allah yang dikaruniakan kepada manusia pada hakikatnya

merupakan bagian dari ujian:

“Seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab berkata, ‘Aku akan membawa singgasana

itu kepadamu sebelum matamu berkedip.’ Maka ketika Sulaiman melihat singgasana itu

terletak di hadapannya, ia pun berkata, ‘Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku

apakah aku bersyukur atau ingkar. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya

dia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya

Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia’.” (Q.s. an-Naml: 40).

Ucapan Nabi Sulaiman yang menyatakan, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku

apakah aku bersyukur atau ingkar,” menjelaskan salah satu alasan mengapa orang-orang diberi harta.

Apa yang Allah nyatakan sebagai “kesenangan dunia” dalam al-Qur’an — termasuk harta

benda, anak-anak, istri, sanak keluarga, kedudukan, kehormatan, kecerdasan, kecantikan atau

ketampanan, kesehatan, perdagangan yang menguntungkan, keberhasilan, pendek kata segala

sesuatu yang diberikan tersebut merupakan ujian bagi manusia.

Rahasia Kemakmuran yang Diberikan

kepada Orang-orang Kafir

Banyak manusia di dunia ini, meskipun tidak beriman kepada Allah, mereka menikmati umur

yang panjang, memiliki kekayaan yang tak terhitung banyaknya, memiliki kebun yang berbuah dan

anak-anak yang sehat. Orang-orang seperti ini bukannya mencari keridhaan Allah, tetapi semua

karunia yang dinikmatinya tersebut justru menjauhkan dirinya dari Allah. Orang-orang seperti ini,

yang menjalani kehidupannya yang panjang dengan mendurhakai Allah dan yang melakukan dosa

semakin banyak hari demi hari, menganggap bahwa apa yang mereka miliki itu merupakan kebaikan

bagi mereka. Namun, al-Qur’an mengingatkan kita tentang rahasia lain dan tujuan Allah di balik

nikmat dan waktu yang diberikan kepada mereka:

“Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya

Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan

agar melayang nyawa mereka, dalam keadaan kafir.” (Q.s. at-Taubah: 85).

“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa Kami menangguhkan

mereka itu lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami menangguhkan mereka hanyalah

supaya bertambah dosa mereka, dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (Q.s. Ali Imran:

178).

“Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu. Apakah mereka

mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu Kami bersegera

memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.”

(Q.s. al-Mu’minun: 54-6).

Sebagaimana dijelaskan dalam ayat tersebut, apa yang dimiliki orang-orang tersebut

sesungguhnya bukanlah merupakan kebaikan bagi mereka. Waktu yang diberikan kepada mereka

hanyalah untuk menambah dosa mereka. Ketika waktu yang diberikan kepada mereka sudah habis;

kekayaan mereka, anak-anak mereka, atau kedudukan mereka, tidak dapat menyelamatkan mereka

dari siksa yang pedih. Sesungguhnya, Allah telah menceritakan keadaan umat-umat terdahulu yang

hidup dengan kekayaannya dan harta yang melimpah, namun mereka ditimpa azab yang pedih:

“Berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka , sedang mereka

lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap dipandang mata.” (Q.s. Maryam: 74).

Ayat berikut ini menjelaskan alasan mengapa orang-orang tersebut diberi perpanjangan

waktu:

“Katakanlah, ‘Barangsiapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan Yang

Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya; sehingga apabila mereka telah melihat apa

yang diancamkan kepadanya, baik siksa maupun Kiamat, maka mereka akan mengetahui

siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah penolong-penolongnya?” (Q.s. Maryam:

75).

Allah adalah Mahaadil dan Maha Penyayang. Dia menciptakan segala sesuatu dengan

kebijaksanaan dan kebaikan, dan setiap orang akan dibalas sepenuhnya atas apa yang mereka

kerjakan. Menyadari hal ini, orang-orang yang beriman melihat berbagai peristiwa dengan maksud

untuk melihat kebijaksanaan dan kebaikan yang diciptakan Allah dalam setiap peristiwa. Jika tidak,

orang-orang akan menjalani hidupnya dengan tertipu dan jauh dari kenyataan.





RAHASIA MENGAPA ALLAH TIDAK SEGERA MENYIKSA ORANG-ORANG KAFIR



Salah satu rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an adalah bahwa manusia tidak segera

dibalas atas perbuatan buruk yang mereka lakukan, tetapi siksa tersebut ditangguhkan hingga waktu

tertentu. Hal ini dikemukakan dalam ayat-ayat sebagai berikut:

“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak

akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun akan tetapi

Allah menangguhkan mereka, sampai waktu tertentu; maka apabila datang ajal mereka,

maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (Q.s. Fathir: 45).

“Dan Tuhanmulah Yang Maha Pengampun lagi mempunyai rahmat. Jika Dia

mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi

mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu yang mereka sekali-kali tidak akan

menemukan tempat berlindung daripadanya.” (Q.s. al-Kahfi: 58).

Bahwa banyak orang yang tidak segera dibalas atas perbuatan buruk mereka menyebabkan

mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan pernah diminta tanggung jawab atas perbuatan jahat

mereka. Anggapan ini menyebabkan mereka tidak mau bertobat, merasa menyesal, dan memperbaiki

kesalahan mereka. Di samping itu, hal tersebut semakin menambah keangkuhan mereka. Karena terjauh

dari hikmah, mereka tidak dapat melihat bahwa apa yang mereka lakukan itu akan

menyebabkan datangnya azab, bahkan azab tersebut semakin berat di akhirat kelak. Dalam al-

Qur’an, Allah menyatakan sebagai berikut:

“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh

Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh

kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka azab

yang menghinakan.” (Q.s. Ali Imran: 178).

Inilah penangguhan yang diberikan Allah untuk menguji manusia. Namun, tentu saja ada

waktu yang telah ditetapkan Allah sehingga setiap orang akan dibalas atas apa yang mereka perbuat.

Ketika waktu yang ditetapkan ini tiba, maka waktu tersebut tidak dapat ditunda atau dipercepat,

meskipun hanya sesaat. Allah memberi tahu kita bahwa setiap orang pasti akan memperoleh balasan:

“Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan dari Allah yang telah terdahulu atau tidak

ada ajal yang telah ditentukan, pasti (azab itu) menimpa mereka.” (Q.s. Thaha: 129).

“Dan Aku tangguhkan mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (Q.s. al-A‘raf:

183).



KESIMPULAN



Setiap orang yang membaca al-Qur’an kemudian dicamkan dalam hati dan jiwanya, yang

memikirkan tentang kehidupan, berbagai peristiwa, dan orang-orang di sekitarnya dengan sikap

seorang yang beriman, dan yang menganggap Allah sebagai satu-satunya penolong dapat melihat

rahasia-rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an. Tidak ada satu peristiwa pun, yang penting dan

yang remeh, terjadi begitu saja; tak ada sesuatu pun yang terjadi secara kebetulan. Di balik sebuah

rahasia terdapat tujuan yang baik, dan hikmah yang diciptakan oleh Allah. Jika manusia berbuat

dengan ikhlas dan selalu berpaling kepada Allah, maka mereka dapat mengetahui rahasia-rahasia ini

dan hikmah di balik rahasia-rahasia tersebut.

Orang yang dapat memahami rahasia-rahasia al-Qur’an dan memperhatikan rahasia-rahasia

dalam kehidupan ini semakin dekat kepada Allah dan hubungan dengan-Nya akan semakin kokoh.

Orang-orang seperti ini semakin mengenal Rabbnya, Pencipta langit dan bumi dan akan semakin

memahami kekuasaan-Nya, hikmah-Nya, dan ilmu-Nya. Mereka menyadari bahwa tidak ada

penolong atau pelindung selain Allah. Mereka merasa bergembira ketika melihat dan memahami

hikmah dan rahasia yang diciptakan Allah setiap saat. Allah menyingkapkan lebih banyak rahasiarahasia

ciptaan-Nya kepada orang-orang seperti itu. Sekalipun kehidupan orang seperti itu

tampaknya biasa-biasa saja bagi orang lain, namun sesungguhnya Allah menciptakan sesuatu yang

luar biasa kepada orang tersebut setiap saat. Allah akan menunjukkan hal ini kepada setiap orang

yang dengan ikhlas ingin memahami hikmah dan rahasia dalam ciptaan-Nya.

Allah menyatakan dalam al-Qur’an:

“Sesungguhnya (dalam al-Qur’an) terdapat peringatan yang jelas bagi orang-orang

yang menyembah.” (Q.s. al-Anbiya’: 106).



KEPALSUAN TEORI EVOLUSI



Setiap bagian di alam semesta ini menunjukkan adanya penciptaan yang luar biasa.

Sebaliknya, faham materialisme, yang berusaha menolak fakta tentang penciptaan alam semesta,

tidak lain hanyalah merupakan faham palsu yang tidak ilmiah.

Jika faham materialisme telah tumbang, maka semua faham lainnya yang berdasarkan pada

filsafat ini juga tidak memiliki landasan. Hampir semua penganut faham ini adalah penganut

Darwinisme, yakni teori evolusi. Teori ini, yang berpendirian bahwa kehidupan berasal dari benda

mati, yang terjadi secara kebetulan, telah ditumbangkan oleh kenyataan bahwa alam semesta ini

diciptakan oleh Allah. Ahli astrofisika Amerika, Hugh Ross, menyatakan sebagai berikut:

Atheisme, Darwinisme, dan pada dasarnya semua “isme” yang muncul dari filsafat abad

kedelapan belas hingga abad kedua puluh, yang dibangun berdasarkan asumsi, yakni asumsi yang

tidak benar, bahwa alam semesta ini tak terbatas. Keajaiban alam semesta telah membawa kita

berhadapan dengan sebab atau penyebab utama di balik/ di belakang/ di hadapan alam semesta

dan semua isinya, termasuk kehidupan itu sendiri.

Allah-lah yang menciptakan alam semesta dan Yang merancangnya hingga ke bagianbagiannya

yang terkecil. Dengan demikian teori evolusi yang menyatakan bahwa makhluk hidup itu

tidak diciptakan oleh Allah, tetapi terjadi secara kebetulan, adalah teori yang sama sekali tidak

benar.

Tidak heran jika kita memperhatikan teori evolusi, maka kita akan melihat bahwa teori ini

dikecam oleh penemuan ilmiah. Rancangan kehidupan ini sangatlah kompleks dan menakjubkan. Di

dunia makhluk tak bernyawa misalnya, kita dapat melihat betapa luar biasanya keseimbangan pada

atom-atom. Belum lagi pada dunia makhluk bernyawa, kita dapat melihat betapa kompleksnya rancangan

dari kumpulan atom, dan betapa luar biasanya cara kerja dan struktur seperti protein, enzim,

dan sel, yang diciptakan di dalamnya.

Rancangan yang luar biasa dalam kehidupan ini menumbangkan Darwinisme pada akhir abad

kedua puluh.

Kita telah membicarakan dengan sangat detail masalah ini dalam beberapa kajian kami

lainnya, dan kami akan terus melakukannya. Namun mengingat pentingnya persoalan ini, tentunya

akan bermanfaat jika pada kesempatan ini diketengahkan ringkasannya.

Ilmu Pengetahuan Menumbangkan Darwinisme

Meskipun doktrin ini berasal dari zaman Yunani kuno, teori evolusi dikembangkan secara luas

pada abad ke-19. Perkembangan terpenting yang menjadikan teori ini menjadi topik terbesar dalam

dunia sains adalah buku karya Charles Darwin yang berjudul The Origin of Species, yang diterbitkan

pada tahun 1859. Dalam buku ini, Darwin menolak bahwa berbagai spesies yang hidup di bumi,

masing-masing diciptakan oleh Tuhan. Menurut Darwin, semua makhluk hidup memiliki nenek

moyang yang sama dan makhluk-makhluk tersebut kemudian menjadi beraneka ragam dengan

berjalannya waktu melalui perubahan-perubahan kecil.

Teori Darwin tidak berdasarkan pada pembuktian ilmiah yang kongkret; sebagaimana yang

diakuinya sendiri, tetapi hanya berupa “asumsi”. Tambahan pula, sebagaimana pengakuan Darwin

dalam bab panjang dari bukunya yang berudul Difficulties of the Theory, teori tersebut tidak mampu

menghadapi berbagai pertanyaan penting.

Darwin menumpukan semua harapannya pada penemuan-penemuan ilmiah baru, yang ia

harapkan dapat memberikan pemecahan atas Difficulties of the Theory. Namun, berlawanan dengan

harapannya, pembuktian ilmiah justru semakin memperluas dimensi dari kesulitan-kesulitan ini.

Kekalahan Darwinisme atas ilmu pengetahuan dapat disimpulkan menjadi tiga topik dasar:

1) Teori tersebut sama sekali tidak menjelaskan tentang bagaimana asal mula kehidupan di

bumi.

2) Tidak ada pembuktian ilmiah yang menunjukkan bahwa “mekanisme evolusioner” yang

diajukan dalam teori tersebut memiliki kekuatan untuk berkembang.

3) Apa yang dikemukakan dalam teori evolusi tersebut sama sekali bertolak belakang dengan

Catatan fosil.

Dalam bagian ini, kita akan mengkaji tiga poin dasar tersebut secara garis besar:

Langkah Pertama yang Tidak Dapat Diatasi:

Asal-usul Kehidupan

Teori evolusi berpendirian bahwa semua spesies hidup berasal dari satu sel hidup tunggal

yang muncul di bumi 3.8 milyar tahun yang lalu. Bagaimanakah sebuah sel tunggal dapat

menghasilkan jutaan spesies hidup yang kompleks, dan jika evolusi semacam itu benar-benar terjadi,

mengapa jejak-jejaknya tidak dapat dilihat pada catatan fosil, itu merupakan pertanyaan-pertanyaan

yang tidak dapat dijawab oleh teori evolusi. Namun, yang pertama dan utama, dari langkah pertama

yang dinyatakan oleh proses evolusioner tersebut muncul pertanyaan: Bagaimanakah asal mula

terjadinya “sel pertama” tersebut?

Karena teori evolusi menolak penciptaan dan tidak menerima campur tangan supernatural

dalam bentuk apa pun, maka ia berpendirian bahwa “sel pertama” muncul secara kebetulan

berdasarkan hukum alam, tanpa ada rancangan atau perencanaan. Menurut teori ini, materi tak

bernyawa menghasilkan sel bernyawa sebagai akibat dari munculnya sel pertama secara kebetulan

tersebut. Namun, pernyataan ini bahkan tidak sesuai dengan hukum biologi yang paling tidak terbantahkan.

Kehidupan Berasal dari Kehidupan

Dalam bukunya, Darwin tidak pernah menyebut asal-usul kehidupan. Pemahaman kuno

tentang ilmu pengetahuan pada zamannya berangkat dari asumsi bahwa makhluk hidup memiliki

struktur yang sangat sederhana. Semenjak zaman pertengahan, generasi spontan, yakni teori yang

menyatakan bahwa materi tak bernyawa muncul untuk membentuk organisme hidup diterima secara

luas. Pada umumnya diyakini bahwa serangga terjadi dari sisa-sisa makanan, dan tikus berasal dari

gandum. Berbagai eksperimen yang menarik dilakukan untuk membuktikan teori ini. Beberapa

gandum diletakkan pada sebidang kain kotor, kemudian diyakini bahwa setelah beberapa saat tikus

akan muncul darinya.

Demikian pula, ulat yang muncul dalam daging dianggap sebagai bukti dari teori tentang

generasi spontan. Namun, tidak lama kemudian diketahuilah bahwa ulat tidak muncul dari daging

secara spontan, tetapi dibawa oleh lalat dalam bentuk larva, yang tidak dapat dilihat dengan mata

telanjang.

Bahkan pada periode ketika Darwin menulis The Origin of Species, keyakinan bahwa bakteri

dapat terwujud dari materi tak bernyawa diterima secara luas dalam dunia ilmu pengetahuan.

Namun, lima tahun setelah buku Darwin diterbitkan, penemuan Louis Pasteur mematahkan

keyakinan ini, yang merupakan landasan evolusi. Setelah melakukan penelitian dan eksperimen

yang melelahkan, Pasteur menyimpulkan secara ringkas, “Pernyataan bahwa materi tak bernyawa

dapat memunculkan kehidupan telah dikubur dalam sejarah untuk selamanya.”

Para pendukung teori evolusi menolak penemuan Pasteur dalam waktu yang lama. Namun,

ketika perkembangan ilmu pengetahuan berhasil menjelaskan tentang struktur sel dari makhluk

hidup yang kompleks, gagasan bahwa kehidupan dapat muncul secara kebetulan bahkan semakin

menghadapi kebuntuan yang lebih besar.

Usaha-usaha yang Tidak Pernah Menghasilkan

Kesimpulan pada Abad Ke-20

Ahli evolusi pertama yang menggeluti masalah asal-usul kehidupan pada abad ke-20 adalah

ahli biologi Rusia terkenal, Alexander Oparin. Dengan berbagai tesisnya yang ia ajukan pada tahun

1930-an, ia berusaha membuktikan bahwa sel dari sebuah makhluk hidup dapat terjadi secara

kebetulan. Namun, penelitian ini ternyata mengalami kegagalan, dan Oparin harus membuat

pengakuan sebagai berikut:

Sayang, asal-usul sel tetap menjadi tanda tanya, yang sesungguhnya merupakan titik paling

gelap dari seluruh teori evolusi.

Para penganut teori evolusi Oparin berusaha untuk meneruskan eksperimen untuk memecahkan

masalah asal-usul kehidupan. Yang paling terkenal di antara eksperimen-eksperimen ini

dilakukan oleh ahli kimia Amerika, Stanley Miller pada tahun 1953. Dalam permulaan

eksperimennya, ia menyatakan bahwa gabungan gas telah ada pada atmosfer bumi pada zaman

kuno, dan dengan menambahkan energi pada campurannya, Miller mensitesakan beberapa molekul

organik (asam amino) yang ada dalam struktur protein.

Beberapa tahun berlalu, eksperimen tersebut tidak berhasil mengungkapkan apa pun, yang

pada saat itu dilakukan sebagai langkah penting atas nama evolusi, terbukti tidak valid, sedangkan

atmosfer yang digunakan dalam eksperimen tersebut sangat berbeda dengan kondisi bumi yang

sesungguhnya.

Setelah diam dalam jangka waktu yang lama, Miller mengakui bahwa medium atmosfer yang

ia gunakan tidaklah realistik.

Semua usaha ahli evolusi yang dilakukan pada abad ke-20 untuk menjelaskan asal-usul

kehidupan berakhir dengan kegagalan. Ahli geokimia Jeffrey Bada dari San Diego Scripps Institute,

mengakui kenyataan ini dalam sebuah artikel yang dipublikasikan dalam majalah Earth pada tahun

1998:

Dewasa ini, ketika kita meninggalkan abad kedua puluh, kita masih menghadapi persoalan

sangat besar yang belum terpecahkan yang harus kita hadapi ketika kita memasuki abad kedua

puluh: Bagaimanakah asal-usul kehidupan di Bumi ini?

Struktur Kehidupan yang Kompleks

Alasan utama mengapa teori evolusi berakhir dalam kebuntuan besar tentang asal-usul

kehidupan adalah bahwa organisme hidup yang dianggap sangat sederhana ternyata memiliki

struktur yang sangat kompleks. Sel dari makhluk hidup lebih kompleks dibandingkan dengan semua

produk teknologi yang dihasilkan oleh manusia. Dewasa ini, bahkan dalam laboratorium yang paling

maju di seluruh dunia sekalipun, sebuah sel hidup tidak dapat dihasilkan dari materi inorganik.

Persyaratan yang diperlukan bagi terbentuknya sebuah sel terlalu besar kuantitasnya untuk

diabaikan dengan berpegang pada landasan bahwa terbentuknya sel tersebut terjadi secara kebetulan.

Probabilitas tentang protein, perkembangan blok dalam sel, disentesakan secara kebetulan adalah 1

dalam 10950 untuk rata-rata protein yang terdiri dari 500 asam amino. Dalam matematika, suatu

probabilitas yang lebih kecil dari 1 dibanding 1050 dengan sendirinya dianggap tidak mungkin.

Molekul DNA yang terletak di inti sel dan yang menyimpan informasi genetik merupakan

bank data yang luar biasa. Jika informasi yang ada dalam DNA ditulis, maka ia akan merupakan

perpustakaan raksasa yang terdiri dari 900 jilid ensiklopedi yang masing-masing terdiri dari 500

halaman.

Dalam masalah ini muncul dilema yang sangat menarik: DNA hanya dapat direplikasi dengan

bantuan protein-protein khusus (enzim). Namun, sintesa dari enzim-enzim ini hanya dapat

diwujudkan melalui informasi yang tercatat dalam DNA. Karena keduanya saling tergantung,

mereka harus ada pada waktu yang bersamaan untuk replikasi. Hal ini menunjukkan bahwa

pernyataan yang menyatakan bahwa kehidupan itu berasal dari dirinya sendiri mengalami

kebuntuan. Prof. Leslie Orgel, seorang ahli evolusi ternama dari Universitas San Diego, Kalifornia,

mengakui fakta ini di majalah Scientific American yang diterbitkan pada September 1994:

Sangat mustahil bahwa protein dan asam, yang keduanya sama-sama memiliki struktur yang

kompleks, muncul dengan sendirinya pada waktu dan tempat yang sama. Namun juga mustahil jika

yang satu ada tanpa adanya yang lain. Demikian pula, secara sekilas orang dapat menyimpulkan

bahwa sesungguhnya kehidupan tidak mungkin berasal dari sarana kimiawi.

Mekanisme Evolusi Imajiner

Persoalan penting kedua yang menafikan teori Darwin adalah bahwa kedua konsep yang

dikemukakan oleh teori tersebut sebagai “mekanisme evolusioner” pada dasarnya tidak memiliki

kekuatan evolusioner.

Darwin mendasarkan pernyataan evolusinya sepenuhnya pada mekanisme “seleksi alam”.

Pernyataan yang ia tekankan tentang mekanisme ini dapat dilihat dalam bukunya: The Origin of

Species, By Means of Natural Selection…

Seleksi alam berpendirian bahwa makhluk-makhluk hidup yang lebih kuat dan lebih cocok

bagi kondisi alam pada habitat mereka akan dapat bertahan dalam bergulat untuk mempertahankan

kehidupan. Sebagai contoh, pada kawanan rusa yang menghadapi ancaman serangan binatang buas,

maka rusa-rusa yang berlarinya lebih cepat dapat mempertahankan kehidupannya. Dengan demikian,

kawanan rusa itu terdiri dari individu-individu yang lebih cepat dan lebih kuat. Namun tak dapat

disangkal bahwa mekanisme ini tidak menyebabkan rusa tersebut muncul dan berubah menjadi

spesies hidup yang lain, misalnya menjadi kuda.

Dengan demikian, mekanisme seleksi alam tidak memiliki kekuatan evolusioner. Darwin juga

menyadari fakta ini sehingga ia harus menyatakan dalam bukunya The Origin of Species:

Seleksi alam tidak dapat berbuat apa pun hingga terjadi peluang variasi yang sesuai.

Pengaruh Lamarck

Lalu, bagaimanakah “variasi yang sesuai” ini terjadi? Darwin berusaha untuk menjawab

pertanyaan ini dari sudut pandang pemahaman ilmu pengetahuan kuno pada zamannya. Menurut ahli

biologi Prancis, Lamarck, yang hidup sebelum Darwin, makhluk hidup memiliki karakter yang

dibutuhkan selama jangka hidupnya hingga generasi selanjutnya, dan karakter ini berakumulasi dari

satu generasi ke generasi seterusnya sehingga menyebabkan terbentuknya spesies baru. Misalnya,

menurut Lamarck, jerapah terjadi dari kijang, karena kijang-kijang itu berjuang untuk makan daun

dari pohon yang tinggi, sehingga lehernya memanjang dari generasi ke generasi.

Darwin juga memberikan contoh serupa dalam bukunya, The Origin of Species, misalnya, ia

berkata bahwa sebagian beruang ada yang menyelam ke air untuk mencari makanan sehingga

berubah menjadi ikan paus setelah beberapa lama.9

Namun, hukum genetika yang ditemukan oleh Mendel dan dibuktikan oleh ilmu genetika

yang berkembang pada abad ke-20, menolak mentah-mentah anggapan yang mengatakan bahwa

karakter itu diteruskan kepada generasi selanjutnya. Dengan demikian, seleksi alam bertentangan

dengan kenyataan seperti halnya mekanisme evolusioner.

Neo-Darwinisme dan Mutasi

Agar dapat menemukan pemecahan, para pengikut Darwin mengajukan “Teori Sintesa

Modern” atau lebih dikenal sebagai Neo-Darwinisme, pada akhir tahun 1930an. Neo-Darwinisme

menambahkan mutasi, yakni penyimpangan yang dimunculkan oleh gen-gen makhluk hidup karena

adanya faktor-faktor eksternal seperti radiasi atau kesalahan replikasi, sebagai “penyebab variasi

yang sesuai” di samping mutasi alam.

Dewasa ini, model yang mewakili evolusi di dunia adalah Neo-Darwinisme. Teori tersebut

berpendirian bahwa berjuta-juta makhluk hidup yang ada di bumi ini terjadi sebagai akibat dari suatu

proses di mana berbagai organ-organ kompleks dari beberapa organisme seperti telinga, mata, paruparu,

sayap, mengalami “mutasi”, yakni penyimpangan genetis. Namun terdapat fakta ilmiah yang

sama sekali bertentangan dengan teori ini: Mutasi tidak menyebabkan makhluk hidup berkembang,

sebaliknya mutasi menyebabkan kerusakan.

Adapun alasannya sangat sederhana: DNA memiliki struktur yang sangat kompleks, dan efek

kebetulan hanya dapat menyebabkan kerusakan baginya. Ahli genetika Amerika, B.G. Ranganathan,

menjelaskan hal ini sebagai berikut:

Mutasi itu kemungkinannya sangat kecil, kebetulan, dan merusak. Mutasi hampir-hampir

tidak terjadi dan kemungkinan besar tidak membawa pengaruh. Empat karakteristik mutasi ini

menunjukkan bahwa mutasi tidak menyebabkan terjadinya pekembangan evolusioner. Perubahan

yang terjadi secara kebetulan pada organisme yang sangat khusus tidak ada pengaruhnya dan tidak

merusak. Perubahan yang terjadi secara kebetulan pada sebuah arloji tidak dapat memperbaiki

arloji tersebut. Bahkan dapat merusak atau paling-paling tidak berpengaruh. Sebuah gempa bumi

tidak mungkin memperbaiki kota, tetapi ia menyebabkan kerusakan

Dengan demikian tidak ada contoh mutasi yang bermanfaat, yakni yang dapat mengembangkan

aturan genetika yang pernah dilihat buktinya hingga saat ini. Semua mutasi terbukti bersifat

merusak. Maka perlu dipahami bahwa mutasi yang dinyatakan sebagai “mekanisme evolusioner”

sesungguhnya merupakan peristiwa genetik yang merusak makhluk hidup dan menimbulkan

gangguan. (Pengaruh mutasi yang sangat umum pada manusia adalah kanker). Tidak diragukan lagi

bahwa suatu mekanisme destruktif tidak dapat menjadi “mekanisme evolusioner”. Dalam pada itu,

seleksi alam “tidak dapat melakukan apa pun bagi dirinya sendiri,” sebagaimana juga diakui oleh

Darwin. Fakta ini menunjukkan pada kita bahwa tidak ada “mekanisme evolusioner” di alam.

Karena mekanisme evolusioner itu tidak ada, maka juga tidak terjadi proses imajiner yang disebut

sebagai evolusi itu.

Catatan Fosil: Tidak Ada Bukti-bukti

tentang Bentuk-bentuk Antara

Bukti yang sangat jelas bahwa pernyataan sebagaimana yang disebutkan dalam teori evolusi

itu tidak pernah terjadi adalah berdasarkan catatan fosil.

Menurut teori evolusi, setiap spesies hidup muncul dari yang mendahuluinya. Suatu spesies

yang dahulu pernah ada, lambat laun berubah kepada bentuk lainnya dan semua spesies muncul

dengan cara seperti ini. Menurut teori ini, transformasi ini berjalan dengan pelan-pelan selama jutaan

tahun.

Seandainya hal ini benar, maka banyak sekali spesies antara yang ada dan hidup dalam

periode transformasi yang panjang.

Misalnya, binatang-binatang yang separuh berbentuk ikan dan separuhnya lagi berbentuk

reptil tentu pernah hidup pada masa lampau sehingga memiliki karakter reptil di samping juga

memiliki karakter ikan. Atau pernah ada burung-reptil, yang memiliki karakter burung di samping

karakter reptil. Karena semua ini berada dalam fase transisi, makhluk-makhluk hidup tersebut tentu

akan lumpuh, cacat, atau pincang. Para ahli evolusi menyebut makhluk-makhluk imajiner ini, yang

mereka yakini pernah hidup pada masa lampau, sebagai “bentuk-bentuk transisi”.

Jika binatang seperti itu benar-benar ada, tentunya terdapat jutaan, bahkan milyaran

jumlahnya dan variasinya. Dan yang lebih penting, sisa-sisa dari makhluk-makhluk aneh seperti itu

tentu ada dalam jejak fosil. Dalam The Origin of Species, Darwin menjelaskan:

Jika teori saya benar, maka tentu terdapat sangat banyak varietas perantara yang saling

menghubungkan antara spesies-spesies dari kelompok yang sama. …Dengan demikian, bukti

tentang keberadaannya pada masa lalu hanya dapat ditemukan di antara peninggalan-peninggalan

fosil.11

Harapan Darwin yang Kandas

Bagaimanapun, sekalipun ahli-ahli evolusi telah bekerja keras untuk menemukan fosil sejak

pertengahan abad ke-19 di seluruh dunia, tidak ada bentuk-bentuk transisi yang mereka temukan.

Semua fosil yang digali menunjukkan, berlawanan dengan harapan ahli-ahli evolusi, kehidupan

muncul di muka bumi secara tiba-tiba dan telah berbentuk sempurna.

Seorang ahli paleontologi ternama dari Inggris, Derek V. Ager, mengakui fakta ini, sekalipun

ia seorang penganut evolusi:

Persoalan pun menjadi jelas ketika saya meneliti bukti-bukti fosil secara detail, entah itu

pada tingkatan ordo atau spesies, berulang kali kami menemukan bahwa bukannya evolusi yang

terjadi secara lambat laun, tetapi yang terjadi adalah satu kelompok muncul secara tiba-tiba,

demikian pula kelompok lainnya.

Ini artinya bahwa bukti fosil menunjukkan bahwa semua spesies hidup tiba-tiba muncul dalam

bentuk yang telah sempurna, tanpa melalui bentuk perantara. Hal ini berlawanan dengan asumsi

Darwin. Demikian pula, terdapat bukti yang sangat kuat bahwa makhluk hidup itu ada karena

diciptakan. Satu-satunya penjelasan yang dapat diberikan adalah bahwa spesies hidup itu muncul

dengan tiba-tiba dan telah sempurna setiap detail tanpa melalui nenek moyang yang berevolusi,

dengan demikian spesies tersebut adalah diciptakan. Fakta ini juga diakui oleh sebagian besar ahli

biologi evolusi, Douglas Futuyma:

Penciptaan dan evolusi, di antara keduanya memerlukan penjelasan tentang asal-usulnya

dari benda-benda hidup. Organisme muncul di bumi dalam keadaan telah berkembang secara

sempurna atau tidak berkembang. Jika organisme tidak berkembang, organisme itu pasti telah

berkembang dari spesies yang pernah ada melalui proses-proses modifikasi. Jika organisme itu

muncul dalam keadaan yang telah berkembang secara sempurna, organisme tersebut tentu telah

diciptakan oleh sesuatu yang luar biasa cerdasnya.

Berbagai fosil menunjukkan bahwa makhluk hidup muncul dalam keadaan yang sempurna di

bumi. Ini artinya bahwa “asal-usus spesies”, bertentangan dengan asumsi Darwin, bukan merupakan

evolusi tetapi merupakan penciptaan.

Dongeng tentang Evolusi Manusia

Persoalan yang seringkali dikemukakan oleh para pendukung teori evolusi adalah persoalan

tentang asal-usul manusia. Para pengikut Darwin menyatakan pendiriannya bahwa manusia modern

dewasa ini merupakan hasil evolusi dari makhluk yang menyerupai kera. Menurut mereka, selama

proses evolusi ini, yang diperkirakan telah dimulai 4-5 juta tahun yang lalu, konon terdapat beberapa

“bentuk transisi” antara manusia modern dengan nenek moyang mereka. Dalam pernyataan yang

sepenuhnya bersifat khayalan ini, disebutkan tentang empat “kategori” dasar:

1. Australopithecus

2. Homo habilis

3. Homo erectus

4. Homo sapiens

Para ahli evolusi menyebut apa yang dinamakan sebagai nenek moyang manusia pertama

yang menyerupai monyet sebagai “Australopithecus” yang artinya “Monyet Afrika Selatan”.

Makhluk hidup ini sesungguhnya tidak lain adalah spesies monyet kuno yang telah punah. Riset

yang mendalam yang dilakukan pada berbagai sampel Australopithecus oleh dua orang ahli anatomi

ternama dunia dari Inggris dan Amerika Serikat, yakni Lord Solly Zuckerman dan Prof. Charles

Oxnard, telah menunjukkan bahwa Australopithecus tersebut merupakan spesies monyet biasa yang

telah punah dan terbukti tidak memiliki kemiripan dengan manusia.

Para ahli evolusi mengklasifikasikan tahap selanjutnya dari evolusi manusia sebagai “homo”,

yakni “manusia”. Menurut pernyataan ahli evolusi, makhluk hidup pada sejumlah Homo lebih

berkembang dibandingkan Australopithecus. Para ahli evolusi telah mengembangkan skema evolusi

khayalan dengan menyusun berbagai fosil dari makhluk-makhluk ini dalam urutan tertentu. Skema

ini bersifat khayalan karena tidak pernah terbukti bahwa terdapat hubungan evolusioner antara

beberapa kelas ini. Ernst Mayr, salah seorang pembela teori evolusi yang terkemuka pada abad ke-

20 mengakui fakta ini dengan mengatakan bahwa “mata rantai yang sampai kepada Homo sapiens

sesungguhnya terputus”.

Dengan membuat pembagian mata rantai seperti “Australopithecus — Homo habilis — Homo

erectus — Homo sapiens”, para ahli evolusi memaksudkan bahwa masing-masing spesies ini

merupakan nenek moyang bagi yang lain. Namun, penemuan terkini dari ahli paleoantrhropologi

telah mengungkapkan bahwa Australopithecus, Homo habilis dan Homo erectus hidup di bagian

yang berlainan di dunia pada saat yang sama.

Di samping itu, segmen manusia tertentu yang diklasifikasikan sebagai Homo erectus telah

hidup hingga zaman modern. Homo sapiens neandarthalensis dan Homo sapiens sapiens (manusia

modern) hidup bersama-sama di kawasan yang sama.

Situasi ini seolah-olah menunjukkan keabsahan klaim tersebut yang menyatakan bahwa

mereka adalah nenek moyang bagi lainnya. Seorang ahli paleontologi dari Universitas Harvard,

Stephen Jay Gould, menjelaskan kebuntuan teori evolusi meskipun ia sendiri seorang penganut evolusi:
Apa yang menjadi tangga bagi kita jika ada tiga garis silsilah hominid (A. africanus, australopithecines yang tegap, dan H. habilis), tak satu pun yang jelas-jelas berasal dari yang lain.
Lagi pula, tak satu pun dari ketiganya yang menunjukkan kecenderungan berevolusi selama mereka mendiami bumi.

Pendek kata, pandangan tentang evolusi manusia, yang berusaha mencari dukungan dengan bantuan berbagai gambaran makhluk “separuh manusia, separuh kera” yang muncul di media dan buku pelajaran, dan dengan bantuan propaganda, terus terang saja hanyalah dongeng yang tidak memiliki landasan ilmiah.

Lord Solly Zuckerman, salah seorang ilmuwan yang terkenal dan dihormati di Inggris, yang melakukan riset tentang persoalan ini selama beberapa tahun, dan secara khusus meneliti fosil-fosil Australopithecus selama 15 tahun, pada akhirnya berkesimpulan bahwa meskipun ia sendiri seorang penganut evolusi, namun sesungguhnya tidak ada tiga cabang famili seperti itu antara makhluk yang menyerupai kera dengan manusia.

Zuckerman juga membuat sebuah “spektrum ilmu pengetahuan” yang menarik. Ia membentuk sebuah spektrum ilmu pengetahuan dari pernyataan yang dianggap ilmiah hingga pernyataan yang dianggap tidak ilmiah. Menurut spektrum Zuckerman, yang paling “ilmiah”, yakni yang tergantung pada medan data kongkret dalam ilmu pengetahuan adalah kimia dan fisika. Setelah keduanya,muncullah ilmu biologi, kemudian ilmu sosial. Pada akhir dari spektrum tersebut, sebagai bagian yang dianggap paling “tidak ilmiah” adalah konsep “persepsi di luar panca indera” seperti telepati dan indera keenam, dan akhirnya “evolusi manusia”.
Zuckerman menjelaskan alasannya:

Kemudian kami segera beralih untuk mencatat kebenaran objektif dalam bidang-bidang yang dianggap sebagai ilmu biologi, seperti persepsi di luar panca indera atau interpretasi tentang sejarah fosil manusia, di mana bagi orang-orang yang mempercayainya (penganut evolusi) apa saja mungkin dan bagi orang yang sangat mempercayainya (dalam evolusi) kadang-kadang dapat mempercayai beberapa hal yang bertentangan pada waktu yang bersamaan. Dongeng tentang evolusi manusia semakin tidak berarti, tetapi interpretasi tentang fosil-fosil yang digali oleh orang-orang tertentu tetap dipercayai oleh orang-orang yang menganut teori ini dengan membabi buta.

Teknologi Mata dan Telinga

Persoalan lainnya yang tetap tak terjawab oleh teori evolusi adalah kemampuan panca indera yang luar biasa pada mata dan telinga.

Sebelum melanjutkan pembicaraan tentang mata, marilah kita jawab secara sepintas tentang pertanyaan “bagaimanakah kita melihat”. Cahaya yang masuk dari sebuah benda jatuh secara berlawanan pada retina mata. Di sini, cahaya ditransmisikan menjadi sinyal-sinyal elektris oleh sel,dan cahaya tersebut sampai ke titik kecil di belakang otak yang disebut sebagai pusat penglihatan. Sinyal-sinyal elektris ini di pusat otak terlihat sebagai bayangan setelah melewati serangkaian proses.

Dengan latar belakang teknis ini, marilah kita berpikir sejenak.

Otak terlindung dari cahaya. Ini artinya bahwa di bagian dalam otak sama sekali gelap, dan cahaya tidak sampai ke lokasi otak. Tempat yang disebut sebagai pusat penglihatan benar-benar gelap, dan cahaya tidak pernah mencapainya. Bahkan mungkin merupakan tempat yang paling gelap yang pernah anda ketahui. Namun, anda melihat dunia yang cemerlang dan terang benderang dari tempat yang sangat gelap.

Gambar yang terbentuk di mata sangat tajam dan sangat jelas, bahkan teknologi abad ke-20 tidak mampu menyamainya. Misalnya, perhatikanlah buku yang anda baca, tangan yang dengannya anda memegang, kemudian angkatlah kepala anda dan lihatlah sekitar anda. Pernahkah anda melihat bayangan yang sangat tajam dan sangat jelas seperti ini di tempat lain? Bahkan layar televisi yang paling unggul yang diproduksi oleh pabrik televisi dunia yang paling canggih sekalipun tidak akan mampu menyajikan gambar yang sangat tajam kepada anda. Gambar di mata ini berbentuk tiga dimensi, berwarna, dan sangat tajam. Selama lebih dari seratus tahun, ribuan insinyur telah berusaha untuk menghasilkan ketajaman ini. Pabrik-pabrik dan perusahaan-perusahaan raksasa pun didirikan, berbagai riset dilakukan, berbagai rencana dan desain dilakukan untuk mencapai tujuan ini. Sekali lagi, lihatlah ke layar TV dan buku yang anda pegang. Anda akan melihat bahwa terdapat perbedaan besar dalam ketajaman dan kejelasan. Di samping itu, layar TV menunjukkan gambar dua dimensi, sedangkan dengan mata anda, anda melihat gambar tiga dimensi yang memiliki ketajaman.

Selama beberapa tahun, sepuluh dari seribu insinyur telah berusaha untuk membuat TV tiga dimensi yang dapat menyamai kualitas pandangan seperti mata. Ya, mereka telah membuat sistem televisi tiga dimensi, tetapi mustahil untuk melihatnya tanpa mengenakan kaca mata, lagi pula,gambar itu merupakan gambar tiga dimensi yang artifisial. Latar belakang tampak kabur, latar depan tampak seperti setting kertas. Sampai kapan pun mustahil untuk menghasilkan pandangan yang tajam dan jelas seperti pandangan pada mata. Baik kamera maupun televisi tidak memiliki kualitas gambar yang tajam dan jelas.

Para ahli evolusi menyatakan bahwa mekanisme yang menghasilkan gambar yang tajam dan jelas ini terjadi secara kebetulan. Sekarang, jika seseorang mengatakan kepada anda bahwa televisi yang ada di kamar anda terjadi secara kebetulan, semua atomnya datang secara kebetulan lalu membentuk peralatan yang dapat menghasilkan gambar, maka bagaimanakah pendapat anda?
Bagaimana mungkin atom-atom dapat melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh ribuan orang?

Jika suatu peralatan yang menghasilkan gambar yang lebih primitif daripada mata tidak dapat terjadi secara kebetulan, maka jelaslah bahwa mata dan gambar yang terlihat oleh mata tidak dapat terjadi secara kebetulan. Keadaan yang sama juga berlaku pada telinga. Telinga bagian luar menangkap suara yang ada melalui daun telinga lalu megarahkan suara itu ke bagian tengah telinga,dan bagian tengah telinga mengirimkan getaran suara ke otak dengan mengubah suara itu menjadi sinyal-sinyal elektrik. Sebagaimana mata, proses mendengar berakhir di pusat pendengaran di otak.
Situasi pada mata juga berlaku pada telinga. Yakni, otak terlindung dari suara sebagaimana ia terlindung dari cahaya: ia tidak membiarkan suara apa pun memasukinya. Dengan demikian,betapapun berisiknya suara di luar, bagian dalam otak sepenuhnya sunyi senyap. Namun demikian,otak dapat menangkap suara dengan sangat jelas. Di otak anda, yang terlindung dari suara, anda mendengar simponi dari sebuah orkestra, dan anda mendengar semua bunyi di keramaian. Namun demikian, jika tingkat suara di otak anda diukur dengan peralatan yang akurat pada saat itu, maka akan diketahui bahwa yang terjadi dalam otak adalah kesunyian.

Sebagaimana pada kasus alat perekam gambar, selama puluhan tahun telah dilakukan usaha untuk menghasilkan suara sebagaimana dalam bentuk aslinya. Hasil dari usaha tersebut adalah perekam suara “high fidelity system”, dan sistem untuk merekam suara. Meskipun teknologi ini telah digali dan ribuan insinyur dan ahli telah bekerja keras, tetapi tidak ada suara yang diperoleh,yang memiliki ketajaman dan kejelasan seperti suara yang ditangkap oleh telinga. Perhatikanlah HIFI sistem dengan kualitas sangat tinggi yang dihasilkan oleh perusahaan terbesar dalam industri musik. Bahkan dalam peralatan ini, ketika suara direkam, sebagian suara ada yang hilang; atau ketika anda menghidupkan HI-FI, anda selalu mendengar suara yang mendesis sebelum musik dimulai. Namun, suara-suara yang merupakan produk dari teknologi tubuh manusia sangat tajam dan jelas. Telinga manusia tidak pernah menangkap suara yang disertai dengan bunyi mendesis sebagaimana pada HI-FI; telinga menangkap suara seperti apa adanya, tajam dan jelas. Keadaan ini berlaku semenjak manusia pertama kali diciptakan.
Sejauh ini, tidak ada peralatan visual atau perekam suara yang dihasilkan oleh manusia yang sangat peka dan berhasil menangkap data indera sebagaimana mata dan telinga.
Namun, sepanjang yang berkaitan dengan penglihatan dan pendengaran, terdapat fakta yang lebih besar di balik semua itu.

Siapakah yang Memberi Kemampuan Otak untuk Melihat dan Mendengar?
Siapakah yang memberi kemampuan pada otak sehingga ia dapat melihat gemerlapnya dunia,mendengar simponi kicau burung, dan mencium bunga mawar?

Rangsang yang datang dari mata, telinga, dan hidung manusia diteruskan ke otak sebagai impuls syaraf elektro-kimia. Dalam buku-buku biologi, fisiologi, dan biokimia, anda dapat menemukan penjelasan bagaimanakah gambar tersebut terbentuk di otak. Namun, anda tidak akan pernah menemukan fakta yang paling penting tentang persoalan ini: Siapakah yang mengatur terjadinya impuls syaraf elektro-kimia tersebut sebagai gambar, suara, bau, dan penginderaan diotak? Terdapat suatu kesadaran di otak yang mampu menangkap semuanya tanpa harus memerlukan mata, telinga, dan hidung. Siapakah yang memberi kemampuan ini? Tidak diragukan lagi bahwa kemampuan ini tidak dimiliki oleh syaraf, lapisan lemak, dan syaraf-syaraf yang terdapat di otak. Itulah sebabnya pengikut Darwin dan kaum materialis tidak mempercayai bahwa segala sesuatu terdiri dari materi, tidak dapat memberikan jawaban apa pun terhadap pertanyaan ini.

Kemampuan ini adalah ruhani yang diciptakan oleh Allah. Ruhani tidak memerlukan mata untuk melihat gambar, atau telinga untuk mendengar suara. Di samping itu, ia juga tidak memerlukan otak untuk berpikir.
Setiap orang yang membaca fakta yang jelas dan ilmiah ini harus berfikir tentang Tuhan Yang Mahakuasa, takut kepada-Nya, dan berlindung kepada-Nya, Dialah Yang menguasai seluruh alam semesta dan sebuah bidang yang gelap yang luasnya beberapa sentimeter kubik dalam bentuk tiga dimensi, berwarna, teduh, dan terang benderang.

Keyakinan Kaum Materialis

Informasi yang kami ketengahkan hingga kini menunjukkan kepada kita bahwa teori evolusi adalah pernyataan yang sangat berbeda dengan temuan ilmiah. Pernyataan yang diberikan oleh teori tersebut tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan, dan mekanisme evolusioner yang diajukannya tidak memiliki pengaruh evolusioner, dan fosil-fosil yang ditunjukkan tentang bentuk-bentuk transisi untuk mendukung teori tersebut tidak pernah ada. Dengan demikian, tentu saja teori evolusi harus dienyahkan karena ia adalah gagasan yang tidak ilmiah, sebagaimana gagasan yang menyatakan bahwa alam semesta ini berpusat pada bumi telah dienyahkan dari agenda ilmu pengetahuan di sepanjang sejarah.
Namun, teori evolusi tetap dimasukkan dalam agenda ilmu pengetahuan. Bahkan sebagian orang berusaha untuk mengajukan kritik terhadap orang-orang yang membantah teori tersebut sebagai “serangan terhadap ilmu pengetahuan”. Mengapa?

Alasannya adalah, bahwa teori evolusi merupakan keyakinan dogmatis yang tidak boleh dibantah bagi beberapa kalangan. Kalangan ini dengan membabi buta mengabdi kepada filsafat materialis dan menerapkan Darwinisme, karena ia merupakan satu-satunya penjelasan ilmiah yang dapat dikemukakan tentang bekerjanya alam.
Yang cukup menarik, kadang-kadang mereka juga mengakui fakta ini. Seorang ahli genetik dan seorang penganut evolusi yang jujur, Richard C. Lewontin dari Universitas Harvard mengakui bahwa dialah yang “mula-mula dan terutama sebagai seorang materialis, kemudian menjadi seorang ilmuwan”:

Bagaimanapun, bukannya metode dan institusi ilmu pengetahuan yang memaksa kita untuk menerima penjelasan material tentang dunia fenomenal, tetapi sebaliknya, kita dipaksa oleh kesetiaan kita yang a priori terhadap penyebab material untuk menciptakan peralatan penelitian dan seperangkat konsep yang menghasilkan penjelasan material, meskipun ia bertentangan dengan intuisi, dan meskipun ia menyesatkan bagi orang-orang awam. Di samping itu, bahwa materialisme itu absolut sehingga kami tidak dapat membiarkan Kaki Tuhan memasuki pintu.

Itulah pernyataan terus terang yang menyatakan bahwa Darwinisme adalah sebuah dogma yang tetap dipertahankan demi kesetiaannya kepada filsafat materialis. Dogma ini berpendirian bahwa tidak ada being (yang ada) kecuali materi. Dengan demikian ia berpendapat bahwa pencipta kehidupan adalah materi tak bernyawa dan tidak memiliki kesadaran. Ia berpendapat bahwa jutaan spesies hidup yang berbeda-beda; misalnya burung, ikan, jerapah, harimau, serangga, pohon, bunga,ikan paus, dan manusia itu terwujud sebagai hasil dari interaksi antara materi seperti hujan yang turun, kilat yang menyambar, dan sebagainya, dari materi tak bernyawa. Pandangan ini bertentangan dengan akal maupun ilmu pengetahuan. Namun, Darwinisme tetap mempertahankannya hanya agar “jangan sampai Kaki Tuhan masuk di pintu”.

Siapa pun yang tidak memperhatikan asal-usul makhluk hidup dengan pandangan materialis akan melihat kebenaran yang nyata ini: Semua makhluk hidup adalah karya dari Sang Pencipta,Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana, dan Maha Mengetahui. Sang Pencipta ini adalah Allah, Yang menciptakan seluruh alam semesta dan semua makhluk dari tidak ada, dan merancangnya dalam bentuk yang sangat sempurna.

“Mereka berkata, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.s. al-Baqarah: 32).

Allah menjelaskan berbagai rahasia kepada manusia melalui al-Qur’an, doa, perintah,larangan, dan akhlak yang mulia. Semua ini merupakan rahasia yang sangat penting, dan orang yang berpikir dapat menyaksikan rahasia-rahasia ini dalam hidupnya. Tidak ada sumber lain kecuali al-Qur’an yang menjelaskan rahasia ini. al-Qur’an merupakan satu-satunya sumber rahasia sehingga orang-orang yang sangat cerdas dan sangat pandai sekalipun tidak akan menemukan rahasia ini dimana pun juga.

Jika sebagian orang dapat memahami sedangkan orang lain tidak dapat memahami pesan-pesan yang tersembunyi dalam al-Qur’an, ini merupakan rahasia lain yang diciptakan Allah. Orang-orang yang tidak memahami rahasia-rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an ini hidup dalam penderitaan dan kesulitan. Anehnya, mereka tidak pernah mengetahui penyebab penderitaannya. Dalam pada itu, orang-orang yang mengkaji rahasia-rahasia dalam al-Qur’an menjalani hidupnya dengan mudah dan gembira.

Buku ini membicarakan tentang persoalan-persoalan yang berkaitan dengan ayat-ayat yang diungkapkan oleh Allah kepada manusia sebagai sebuah rahasia. Manakala orang membaca ayat-ayat ini, dan perhatiannya didtumpukan kepada rahasia-rahasia dalam ayat-ayat ini, apa yang harus ia lakukan adalah berusaha mengetahui tujuan Allah yang tersembunyi dalam setiap peristiwa kemudian mengkaji segala sesuatunya berdasarkan al-Qur’an. Kemudian, orang pun akan menyadari dengan kegembiraan tentang rahasia-rahasia ini, bahwa al-Qur’an mengendalikan kehidupannya dan kehidupan orang lain.

[By.HARUN YAHYA ]




0 komentar:

Posting Komentar

"Silahkan berkomentar yang baik, dan lebih mendekati pada kebenaran"



Semua Manusia akan rusak,kecuali yang Berilmu... Orang yang berilmu pun akan rusak ,kecuali orang yang beramal... Orang yang beramal juga akan rusak ,kecuali orang yang Ikhlas (Imam Al-Ghozali)