content top



Tampilkan postingan dengan label SHOLAWAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SHOLAWAT. Tampilkan semua postingan

MARHABAN YAA RAMADHAN



Marhaban Yaa Ramadhan
Kini saatnya telah tiba
Melatih diri untuk kesucian
Melebur segala perilaku dosa...

Jika harta akan menjadi DERITA
Maka ZAKAT-lah penawarnya
Jika HIDUP penuh dengan DOSA
Maka TOBAT-lah sebagai obatnya...

Jika BULAN yang lalu penuh NODA
Maka RAMADHAN-lah sebagai pemutihnya
Sebelum pintu taubat ditutup
Sebelum ajal datang menjemput
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN......

SYAIR ALAM


Tampak Gunung-gunung berjajar
Hamparan Pasir seperti terukir
Menapaki jalan semu dalam angan
Melihat kejadian yang prihatin


Terlanjur terbawa hawa alam
Pandangan kelangit tiada penghalang
Cahaya lembayung begitu jelas
Menyinari kesegala penjuru


Terangnya menembus alam pikir
Berselimir angin lirih
Menerpa bunga yang mekar
Memberi penghibur duka lara


Bak tekad tuk berbakti
Meminta pengajaran pada sang alam
Ciri suatu diri sejati
Sebuah sifat asli tidak direka-reka


Pengaruh diri menapaki perjalanan
Menyembah pada sang pemberi mu'zizat
Dibawah kaki gunung kehidupan
Terdapat sunatullah yang resmi tak tergugat


Seperti karang yang bertapa
Dalam diam kekhusyu'an
Tak tergoyah selalu ingat
Mengalir dihati sifat kerahayuan


Menjunjung tinggi kemulyaan
Untuk jalan keselamatan
Memuji pada sejatinya diri
Terhampar pada kenyataan rasa


Membunuh sifatnya napsu
Menyatu rasa tunggal pada pemilik sifat
Ikhlas pada kenyataan yang terjadi
Tidak tertarik pada cinta dunia
Dan tidak pula pada kecantikan didalamnya


Hanyalah bertauhid pada penciptanya
Merasakan kesejatian didalam dirinya
Tersibak dalam sifat kelemahan
Tiada lagi daya dan kekuatan
Selain hanya pada sang pemberi kehidupan
..........................................................................



SERAT WEDHATAMA KE-2

Sambungan dari SERAT WEDHATAMA KE-1


83




Mangka kanthining tumuwuh,


Salami mung awas eling,


Eling lukitaning alam,


Dadi wiryaning dumadi,


Supadi nir ing sangsaya,


Yeku pangreksaning urip.




Padahal bekal hidup,


selamanya waspada dan ingat,


Ingat akan pertanda yang ada


di alam ini,


Menjadi kekuatannya asal-usul, supaya lepas dari sengsara.


Begitulah memelihara hidup.


84




Marma den taberi kulup,


Anglung lantiping ati,


Rina wengi den anedya,


Pandak panduking pambudi,


Bengkas kahardaning driya,


Supaya dadya utami.`




Maka rajinlah anak-anakku,


Belajar menajamkan hati,


Siang malam berusaha,


merasuk ke dalam sanubari,


melenyapkan nafsu pribadi,


Agar menjadi (manusia) utama.


85




Pangasahe sepi samun,


Aywa esah ing salami,


Samangsa wis kawistara,


Lalandhepe mingis mingis,


Pasah wukir reksamuka,


Kekes srabedaning budi.




Mengasahnya di alam sepi (semedi),


Jangan berhenti selamanya,


Apabila sudah kelihatan,


tajamnya luar biasa,


mampu mengiris gunung penghalang,


Lenyap semua penghalang budi.


86




Dene awas tegesipun,


Weruh warananing urip,


Miwah wisesaning tunggal,


Kang atunggil rina wengi,


Kang mukitan ing sakarsa,


Gumelar ngalam sakalir.




Awas itu artinya,


tahu penghalang kehidupan,


serta kekuasaan yang tunggal,


yang bersatu siang malam,


Yang mengabulkan segala kehendak,


terhampar alam semesta.


87




Aywa sembrana ing kalbu,


Wawasen wuwus sireki,


Ing kono yekti karasa,


Dudu ucape pribadi,


Marma den sembadeng sedya,


Wewesen praptaning uwis.




Hati jangan lengah,


Waspadailah kata-katamu,


Di situ tentu terasa,


bukan ucapan pribadi,


Maka tanggungjawablah, perhatikan semuanya sampai tuntas.


88




Sirnakna semanging kalbu,


Den waspada ing pangeksi,


Yeku dalaning kasidan,


Sinuda saka sethithik,


Pamothahing nafsu hawa,


Linalantih mamrih titih.




Sirnakan keraguan hati,


waspadalah terhadap pandanganmu,


Itulah caranya berhasil,


Kurangilah sedikit demi sedikit godaan hawa nafsu,


Latihlah agar terlatih.


89




Aywa mematuh nalutuh,


Tanpa tuwas tanpa kasil,


Kasalibuk ing srabeda,


Marma dipun ngati-ati,


Urip keh rencananira,


Sambekala den kaliling.




Jangan terbiasa berbuat aib,


Tiada guna tiada hasil,


terjerat oleh aral,


Maka berhati-hatilah,


Hidup ini banyak rintangan,


Godaan harus dicermati.


90




Umpamane wong lumaku,


Marga gawat den liwati,


Lamun kurang ing pangarah,


Sayekti karendhet ing ri.


Apese kasandhung padhas,


Babak bundhas anemahi.




Seumpama orang berjalan,


Jalan berbahaya dilalui,


Apabila kurang perhitungan,


Tentulah tertusuk duri,


celakanya terantuk batu,


Akhirnya penuh luka.


91




Lumrah bae yen kadyeku,


Atetamba yen wus bucik,


Duweya kawruh sabodhag,


Yen tan nartani ing kapti,


Dadi kawruhe kinarya,


Ngupaya kasil lan melik.




Lumrahnya jika seperti itu,


Berobat setelah terluka,


Biarpun punya ilmu segudang,


bila tak sesuai tujuannya,


ilmunya hanya dipakai mencari nafkah dan pamrih.


92




Meloke yen arsa muluk,


Muluk ujare lir wali,


Wola wali nora nyata,


Anggepe pandhita luwih,


Kaluwihane tan ana,


Kabeh tandha tandha sepi.




Baru kelihatan jika keinginannya muluk-muluk,


Muluk-muluk bicaranya seperti wali,


Berkali-kali tak terbukti,


merasa diri pandita istimewa,


Kelebihannya tak ada,


Semua bukti sepi.


93




Kawruhe mung ana wuwus,


Wuwuse gumaib gaib,


Kasliring thithik tan kena,


Mancereng alise gathik,


Apa pandhita antiga,


Kang mangkono iku kaki,




Ilmunya sebatas mulut,


Kata-katanya di gaib-gaibkan,


Dibantah sedikit saja tidak mau, mata membelalak alisnya menjadi satu,


Apakah yang seperti itu pandita palsu,..anakku ?


94




Mangka ta kang aran laku,


Lakune ngelmu sejati,


Tan dahwen pati openan,


Tan panasten nora jail,


Tan njurungi ing kahardan,


Amung eneng mamrih ening.




Padahal yang disebut “laku”,


sarat menjalankan ilmu sejati tidak suka omong kosong dan tidak suka memanfaatkan hal-hal sepele yang bukan haknya,


Tidak iri hati dan jail,


Tidak melampiaskan hawa nafsu. Sebaliknya, bersikap tenang agar menggapai keheningan jiwa.


95




Kaunanging budi luhung,


Bangkit ajur ajer kaki,


Yen mangkono bakal cikal,


Thukul wijining utami,


Nadyan bener kawruhira,


Yen ana kang nyulayani.




Luhurnya budipekerti,


pandai beradaptasi, anakku !


Demikian itulah awal mula,


tumbuhnya benih keutamaan,


Walaupun benar ilmumu,


bila ada yang mempersoalkan..


96




Tur kang nyulayani iku,


Wus wruh yen kawruhe nempil,


Nanging laire angalah,


Katingala angemori,


Mung ngenaki tyasing liyan,


Aywa esak aywa serik.




Walau orang yang mempersoalkan itu, sudah diketahui ilmunya dangkal,


tetapi secara lahir kita mengalah,


berkesanlah persuasif,


sekedar menggembirakan hati orang lain.


Jangan sakit hati dan dendam.


97




Yeku ilapating wahyu,


Yen yuwana ing salami,


Marga wimbuh ing nugraha,


Saking heb Kang mahasuci,


Cinancang pucuking cipta,


Nora ucul ucul kaki.




Begitulah sarat turunnya wahyu,


Bila teguh selamanya,


dapat bertambah anugrahnya,


dari sabda Tuhan Mahasuci,


terikat di ujung cipta,


tiada terlepas-lepas anakku.


98




Mangkono ingkang tinamtu,


Tampa nugrahaning Widhi,


Marma ta kulup den bisa,


Mbusuki ujaring janmi,


Pakoleh lair batinnya,


Iyeku budi premati.




Begitulah yang digariskan,


Untuk mendapat anugrah Tuhan.


Maka dari itu anakku,


sebisanya, kalian pura-pura menjadi orang bodoh terhadap perkataan orang lain,


nyaman lahir batinnya,


yakni budi yang baik.


99




Pantes tinulat tinurut,


Laladane mrih utami,


Utama kembanging mulya,


Kamulyan jiwa dhiri,


Ora ta yen ngeplekana,


Lir leluhur nguni-uni.




Pantas menjadi suri tauladan yang ditiru,


Wahana agar hidup mulia,


kemuliaan jiwa raga.


Walaupun tidak persis, seperti nenek moyang dahulu.


100




Ananging ta kudu kudu,


Sakadarira pribadi,


Aywa tinggal tutuladan,


Lamun tan mangkono kaki,


Yekti tuna ing tumitah,


Poma kaestokna kaki.




Tetapi harus giat berupaya, sesuai kemampuan diri,


Jangan melupakan suri tauladan,


Bila tak berbuat demikian itu anakku,


pasti merugi sebagai manusia.


Maka lakukanlah anakku !

SERAT PEPALI



1. Jalma luwih medharken mamanis,
Kang cinatur Kitab Tafsir Alam.
Tinetepan umpamane:Ingkang segara agung,
Lawan papan kang tanpa tulis,
Tunjung tanpa selaga,
Sapa gawe iku? 
Kalawan jenenging Allah.
Lan Muhammad anane ana ing endi?
Ywan sirna ana apa?

Artinya:

Manusia terpilih membentangkan perihal yang sedap
Yang dibicarakan dalam Kitab Tafsir Alam.
Dinyatakan misalnya:/Samudera besar,
Dan tempat yang tak bertulis,
Teratai yang tak berkuncup,
Siapa yang membuat?
Dan nama Allah
Dan Muhammad dimana adanya?
Bila lenyap apa yang masih ada?


2. Damar murup tanpa sumbu nenggih,
Godhong ijo ingkang tanpa wreksa,
Modin tan ana bedhuge,
Sentek pisan wus rampung,
Tanggal pisan purnama sidi,
Panglong grahana lintang, Iku semunipun, Kang sampun awas ing cipta.
Aja sira katungkul maca pribadi,
Takokna kang wus wignya.

Artinya:

Pelita menyala tak bersumbu,
Daun hijau tak berpohon,
Muazin tak ada beduknya,
Sekali tarik sudah tamat,
Tanggal satu bulan purnama,
Panglong gerhana bintang,
Itulah lambang,
Manusia yang sudah waspada akan ciptanya.
Jangan selalu membaca sendiri saja.
Tanyakanlah kepada yang sudah tahu.


3. Lawan sastra adi kang linuwih,
Lawan Kur’an pira sastra nira,
Estri priyadi tunggale, 
Lawan ingkang tumuwuh, 
Sapa njenengaken sireki? 
Duk sira palakrama, Kang ngawinken iku? 
Sira yen bukti punika, 
Sapandulang yen tan weruha, sayekti. 
Jalma durung utama.

Artinya:

Dan sastra indah-utama berapa jumlahnya,
Kitab Al-Quran berapa sastranya,
Perempuan dan laki-laki utama ada berapa jodohnya?
dan berapa jumlahnya yang tumbuh?
Siapa yang memberi nama kepadamu?
Waktu kamu kawin.
Siapa yang mengawinkan?
Kalau makan siapa yang menyuapi?
Jika belum mengetahuinya sebenarnya
Belum menjadi manusia yang utama.


4. Lawan angangsu pikulan warih,
Amek geni pan nganggo dedamar,
Kodhok angemuli lenge,
Rangka manjing ing dhuwung,
Miwah baita mot ing jladri,
Kuda ngrap ing pandengan.
Lan gigiring punglu,
Tapake kuntul anglayang,
Kakang mbarep miwah adhine wuragil. 
Tunjung tanpa selaga.

Artinya:

Mencari air membawa sepikul air,
Mencari api membawa pelita (damar),
Katak menyelubungi liangnya,
Sarung masuk ke dalam keris,
dan sampan berisi samudera,
Kuda melonjak dimuka pandangan,
Punggung peluru, dimana?
Bekas kuntul yang melayang-layang,
Kakak si sulung, adik si bungsu,
Teratai tak berselaga.


5. Lawan siti pinendhem ing bumi,
Miwah tirta kinum jroning toya,
Lawan srengenge pinepe,
Lawan geni tinunu,
Pan walanjar dereng akrami,
Prawan adarbe suta,
Ndhog bisa kaluruk,
Jejaka rabine papat,
Pan wong mangan saben dina-dina ngelih,
Lawan mangan sapisan (pan wus marem).

Artinya:

Dan tanah tertanam dalam bumi,
Atau air terendam dalam laut,
Matahari dijemur,
Dan api terbakar ,
Janda belum pernah kawin,
Dara (gadis) berputera,
Telur dapat berkokok,
Bujang beristeri empat,
Orang makan sehari-hari lapar,
Dan makan sekali (sudah puas).


1. Simbolisme ‘Samudera Besar’

Bait yang berbunyi ingkang segara agung (samudera besar), dijelaskan maknanya sebagai berikut:

Ingkang samodra agung, Tanpa tepi anerambahi. Endi kang aran Allah? Tan roro tetelu. Kawulane tanna wikan, Sirna luluh kang aneng datu’llah jati, Aran sagara Purba.

(Samudera besar yang tak bertepi, meresapi seluruh alam. Manakah yang disebut Allah? Tak ada lainnya (dua atau tiga). Makhluknya tak ada yang menyadari, Karena musnah terlarut dalam zat Allah sejati, Yang disebut Lautan Purba.)


2. Simbolisme ‘Tempat tak Bertulisan’

Bait lawan papan kang tanpa tulis (dan tempat yang tak bertulis) dijelaskan maknanya dalam pepali berikut ini:

Ana papan ingkang tanpa tulis. Wujud napi artine punika, Sampyuh ing solah semune, Nir asma kawuleku, Mapan jati rasa sejati. Ing njro pandugeng taya. Marang Ing Hyang Agung. Pangrasa sajroning rasa, Sayektine kang rasa nunggal lan urip,Urip langgeng dimulya.

(Ada tempat yang tak bertulisan. Kosong mutlak artinya itu, Dalamnya lenyap terlarut segala gerak dan semu. Hapus sebutan Aku karena Masuk kedalam inti rasa sejati, Didalam tiada bangun (sadar) Kediaman Hyang Agung Perasaan masuk kedalam rasa, Sebenarnya rasa sudah bersatu dengan hidup, Hidup kekal serba nikmat).


3. Simbolisme ‘Teratai Putih tak Berkelopak’

Bait tunjung tanpa selaga (teratai tak berkelopak) dijelaskan maknanya sebagai berikut:

Sasmitane ingkang tunjung putih
Tanpa slaga inggih nyatanira
Rokh ilafi satuhune
Datullah ananipun
Yeku sabda ingkang arungsit.
Iku pan bangsa cipta,
Hananira iku.
Tandha kang darbe pratandha.

(Isyarat teratai putih
Tak berkelopak adalah kenyataan.
Ruh ilafi sebenarnya.
Itu adanya datullah,
Itu, sabda yang sangat pelik.
Itu kan perihal cipta,
Yang disebut itu.
Sifat yang memiliki segala sifat.)


4. Simbolisme ‘Lampu Menyala tanpa Sumbu’

Bait damar murup tanpa sumbu nenggih (lampu menyala tanpa sumbu) dijelaskan artinya sebagai berikut:

Damar murup tanpa sumbu nenggih
Semunira urup aneng Karsa.
Dat mutlak iku jatine!
Anglir tirta kamanu,
Kadi pulung sarasa jati.
Puniku wujud tunggal,
Aranira iku.

(Lampu menyala tanpa sumbunya
Itu lambang nyala pada Kehendak.
Dat Mutlak itu sebenarnya!
Sebagai air yang bercahaya,
Wahyu kesatuan dengan rasa sejati.
Itulah bentuk tunggal,
Yang disebut itu.)


5. Simbolisme ‘Daun Hijau tak Berpohon’

Bait Godhong ijo ingkang tanpa wreksa (daun hijau tak berpohon) dijelaskan Ki Ageng Selo sebagai berikut:

Godhong ijo tanpa wreksa iki,
Semunira ing masalah ing rat,
Lah iya urip jatine.
Dudu napas puniku,
Dudu swara lan dudu osik,
Dudu paningalira,
Dudu rasa perlu,
Dudu cahya kantha warna,
Urip jati iku, nampani sakalir,
Langgeng tan kena owah.

(Daun hijau yang tak berpohon,
Itu lambang masalah alam.
Yaitu hidup sejatinya.
Bukan nafas itu,
Bukan suara dan bukan gerak batin,
Bukan pemandangan,
Dan bukan rasa syahwat,
Bukan cahaya, bangun atau warna.
Itulah hidup sejati, yang menerima segala persaksian,
Kekal tak ada ubahnya.)

6. Simbolisme ‘Muazzin tanpa Bedug’

Bait Modin tan ana bedhuge (muazzin tanpa bedug) dijelaskan Ki Ageng Selo sebagai berikut:

Pasemone kang modin puniki,
Pan bedhuge muhung aneng cipta,
Iya ciptanira dhewe.
Pan ingaken sulih Hyang Widi.
Cipta iku Muhammad,
Tinut ing tumuwuh.
Wali, mukmin datan kocap.
Jroning cipta Gusti Allah ingkang mosik,
Unine: rasulullah.
Lamun meneng Muhammad puniki,
Ingkang makmum apan jenengira.
Dene ta genti arane,
Yen imam Allah iku,
Ingkang makmum Muhammad jati.
Iku rahsaning cipta,
Sampurnaning kawruh.
Imam mukmin pan wus nunggal,
Allah samar Allah tetep kang sejati,
Wus campuh nunggal rasa.

(Yang dilambangkan oleh muazzin itu,
Karena akal berperanan bedug juga,
Ialah akalmu sendiri.
Akan tetapi kamu itu
Sebenarnya mewakili Hyang Widi juga.
Akal itu Muhammad,
Pemimpin hidupmu.
Wali, mukmin tak disebut,
Dalam akal Tuhan Allah yang bergerak,
Katanya: rasulullah.
Dalam ketenangan Muhammad itu,
Yang makmum ialah kamu sendiri.
Sebaliknya pada yang disebut,
Allah sebagai imam
Yang makmum ialah Muhammad sejati.
Itulah inti-sari akal,
Kesempurnaan ilmu.
Imam mukmin sudah bersatu,
Allah bayangan dan Allah tetap yang sejati,
Sudah campur bersatu rasa.)

7. Simbolisme `Buku, Bulan Purnama, dan Gerhana Bintang’

Bait-bait sentek pisan wus rampung, tanggal pisan purnama sidi, dan panglong grahana lintang diterangkan oleh Ki Ageng sebagai berikut:

Sentek pisan wus rampung,
tanggal pisan purnama sidi,
panglong grahana lintang,
Iku semunipun,
kang sampun awas ing cipta.


(Sekali singgung sudah tamat,
tanggal satu bulan purnama,
tidak kurang gerhana bintang,
itulah lambang,
manusia yang sudah waspada akan ciptanya.)


8. Simbolisme ‘Angka Satu’

Bait-bait seperti lawan sastra adi kang linuwih, lawan Qur’an pira sastra nira, estri priyadi tunggale, lawan ingkang tumuwuh tidak diterangkan jelas-jelas oleh Ki Ageng Selo dalam Pepalinya.

(Dan sastra indah-utama, berapakah jumlahnya? Kitab Al-Qur’an, berapakah sastranya? Perempuan dan laki-laki utama, ada berapakah jodohnya? Dan berapakah jumlah yang tumbuh?)


[KI AGENG SELO]











Semua Manusia akan rusak,kecuali yang Berilmu... Orang yang berilmu pun akan rusak ,kecuali orang yang beramal... Orang yang beramal juga akan rusak ,kecuali orang yang Ikhlas (Imam Al-Ghozali)