content top



Tampilkan postingan dengan label SYAIR SUFI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SYAIR SUFI. Tampilkan semua postingan

SYAIR PERJALANAN SUFI

 
Pemilik Cahaya Hati dan Samudera Cinta
Kami kekasih yang berdoa kepada-Mu
Memohon ampunan atas segala  khilaf dan dosa
Semoga bersih dan suci kembali jiwa yang ternoda debu....

Dalam membuka lembaran baru 
Meneruskan hari demi hari dalam mengarungi jalan kehidupan haqiqat ma'rifatullah
Semoga tetap istiqomah dan bermusahabah,
Setia menanti dan penuh kesabaran menggapai ridho-Mu...
 
Angin pagi berhembus perlahan 
Membelai manja para laksamana dirantau angan 
Merampas suara hati di hujam pilu
Menitipkan harap dalam segenggam janji sembilu...

Dimanakah dermaga rindu meretas qalbu ?
Terasa jauh dari tatapan bunda
Terasa jauh dari kekasih yang tercinta
Membias aura rindu nan kelabu...

Gelombang laut bercanda dengan anganku 
Menghamparkan lautan kisah perjalanan para kekasih ILAHI 
Dalam sesaat samudra doaku 
Diantara samudra Cinta nan Suci... 

Menutup senja bersama mimpi 
Dalam sujud yang panjang bertasbih bersama para bintang-MU
Menembus hijab dalam hamparan rasaku
Bait-bait kehidupan menoreh fatwa para SUFI...

Dimana tadabur alam meninggikan nama kebesaran ILAHI
Dalam wadah-wadah yang berjalan tersesat di bumi
Dalam luasnya keagungan dari ciptaanmu yang tak tertandingi
Menjabarkan semua dalam keikhlasan yang tertambat dihati...

Dalam kalimat sederhana di antara kebesaran JIWA
Walau melesatnya waktu menembus semua ilmu dan dimensi dunia
HAQIQATMU GHOIB di hamparan semua hati
Kuatkanlah kami agar tetap saling mengasihi...

Titian hidup dari perjalanan hati 
Mewarnai kesadaran tujuan para SUFI
Memilah harap bersama buku nafas
Walau lautan noda merintangi dengan buas...

Walau lautan nista di langkahi
Tiada dan ada selalu sama rasa tertanam
Malam datang membawa paham
Siang pergi membuahkan ilmu sejati...

Dimana semua rahasia selalu tidur bersama selimutku. 
Semua HAQIQAT melebur bersama kebesaran CINTA-MU
Lebur dalam keridhoan-MU
Fana menyatu dalam Dzat,Sifat,Asma dan Af'al suci-MU... 

Tonggak tonggak thoriqat hanyalah semu
Dalam mimpi di akhir bimbang
Perjalanan para SUFI menggulung semua kisah dalam sehembus nafas
Setetes cintaku takkan mampu menandingi samudra cintamu ya ILAHI...

Alam raya luas menyatu dalam kuasa-MU
Takkan mampu setetes tinta sejarah hayatku menguraikan ilmu-MU
Dalam sampan takdir ku lewati waktu menyelami dalamnya Qolbu 
Berbagi kebaikan menyerukan semua kekasih-MU...

Agar tiada lelah meredam rindu dan menanggung pilu 
Sampai dipertemukan olehmu dalam waktu yang tak terbatas
Dimana CINTA bersambut diatas rasa syukur pada-MU
Hidup dialam keabadian dalam samudera kasih-MU yang Maha luas....

[SYAIR IMAM SYEIKH SUFI AKHIR ZAMAN,25-09-2011]


Slide Show Album Gambar



Dibawah ini merupakan Album gambar yang berisi ayat-ayat dan hadist,serta makna yang terkandung dibalik setiap gambar.
Semoga bermanfaat dan dapat memberi ilham bagi anda yang mau berpikir........



DAWAI KERINDUAN











Duhai dimalam nan hening 
 Mengalun semai nada menggugah jiwa 
Nada itu adalah firman-Nya 
Yang begitu indah dan menenteramkan hati gersang 

 Kegersangan hati akan mulai bersemi  
Oleh kumandang senandung indah penggugah jiwa  
Harapan tertanam dalam desiran resah diri 
 Agar senandungnya selalu menyatu dalam jiwa raga 

Bilakah kerinduan hati selalu ada 
Kepada Ilahi dan Rasul-Nya 
Yang selalu terpaut dalam sukma 
Maka itu adalah azam yang tiada tara 

Bathin bergema dalam jeritan memohon ampunan Ilahi 
Terhadap titik-titik noda dan buih-buih cinta dunia 
Yang membawa diri hanyut dalam derai derita jiwa 
Yang selalu berkepanjangan tiada puasnya.... 

Ingin rasa menghapus noda hitam dalam qalbu 
Mengubahnya menjadi qalbu yang bening dan penuh cinta 
Namun kadangkala deburan ombak dunia kian menderu 
Membuat jiwa raga lemah tak berdaya.......  

Yaa Rabbi...... 
Bimbing diri ini menuju cinta-Mu 
Menggapai mahligai mahabbah Rasul-Mu 
Jadikan getah getar kidung ini terpatri 
Dalam diri siapapun yang mampu menepiskannya 
Dalam ukiran emas didalam qalbu  

Yaa Rabbi...... 
Ingin kami memiliki rasa rindu tak terperih akan cinta-Mu 
Rindu yang menghanyutkan qalbu untuk selalu mengingat-Mu... 

Bilakah rindu ini berlabuh dalam lautan kasih-Mu 
Rindu yang membawa damai oleh kemiskinan duniawi... 

Bilakah rindu ini selalu terpuaskan oleh kemurahan-Mu 
Dikala kemewahan dunia dalam genggaman tangan ini 
.............................................................................................. 





SYAIR ALAM


Tampak Gunung-gunung berjajar
Hamparan Pasir seperti terukir
Menapaki jalan semu dalam angan
Melihat kejadian yang prihatin


Terlanjur terbawa hawa alam
Pandangan kelangit tiada penghalang
Cahaya lembayung begitu jelas
Menyinari kesegala penjuru


Terangnya menembus alam pikir
Berselimir angin lirih
Menerpa bunga yang mekar
Memberi penghibur duka lara


Bak tekad tuk berbakti
Meminta pengajaran pada sang alam
Ciri suatu diri sejati
Sebuah sifat asli tidak direka-reka


Pengaruh diri menapaki perjalanan
Menyembah pada sang pemberi mu'zizat
Dibawah kaki gunung kehidupan
Terdapat sunatullah yang resmi tak tergugat


Seperti karang yang bertapa
Dalam diam kekhusyu'an
Tak tergoyah selalu ingat
Mengalir dihati sifat kerahayuan


Menjunjung tinggi kemulyaan
Untuk jalan keselamatan
Memuji pada sejatinya diri
Terhampar pada kenyataan rasa


Membunuh sifatnya napsu
Menyatu rasa tunggal pada pemilik sifat
Ikhlas pada kenyataan yang terjadi
Tidak tertarik pada cinta dunia
Dan tidak pula pada kecantikan didalamnya


Hanyalah bertauhid pada penciptanya
Merasakan kesejatian didalam dirinya
Tersibak dalam sifat kelemahan
Tiada lagi daya dan kekuatan
Selain hanya pada sang pemberi kehidupan
..........................................................................



SERAT WEDHATAMA KE-2

Sambungan dari SERAT WEDHATAMA KE-1


83




Mangka kanthining tumuwuh,


Salami mung awas eling,


Eling lukitaning alam,


Dadi wiryaning dumadi,


Supadi nir ing sangsaya,


Yeku pangreksaning urip.




Padahal bekal hidup,


selamanya waspada dan ingat,


Ingat akan pertanda yang ada


di alam ini,


Menjadi kekuatannya asal-usul, supaya lepas dari sengsara.


Begitulah memelihara hidup.


84




Marma den taberi kulup,


Anglung lantiping ati,


Rina wengi den anedya,


Pandak panduking pambudi,


Bengkas kahardaning driya,


Supaya dadya utami.`




Maka rajinlah anak-anakku,


Belajar menajamkan hati,


Siang malam berusaha,


merasuk ke dalam sanubari,


melenyapkan nafsu pribadi,


Agar menjadi (manusia) utama.


85




Pangasahe sepi samun,


Aywa esah ing salami,


Samangsa wis kawistara,


Lalandhepe mingis mingis,


Pasah wukir reksamuka,


Kekes srabedaning budi.




Mengasahnya di alam sepi (semedi),


Jangan berhenti selamanya,


Apabila sudah kelihatan,


tajamnya luar biasa,


mampu mengiris gunung penghalang,


Lenyap semua penghalang budi.


86




Dene awas tegesipun,


Weruh warananing urip,


Miwah wisesaning tunggal,


Kang atunggil rina wengi,


Kang mukitan ing sakarsa,


Gumelar ngalam sakalir.




Awas itu artinya,


tahu penghalang kehidupan,


serta kekuasaan yang tunggal,


yang bersatu siang malam,


Yang mengabulkan segala kehendak,


terhampar alam semesta.


87




Aywa sembrana ing kalbu,


Wawasen wuwus sireki,


Ing kono yekti karasa,


Dudu ucape pribadi,


Marma den sembadeng sedya,


Wewesen praptaning uwis.




Hati jangan lengah,


Waspadailah kata-katamu,


Di situ tentu terasa,


bukan ucapan pribadi,


Maka tanggungjawablah, perhatikan semuanya sampai tuntas.


88




Sirnakna semanging kalbu,


Den waspada ing pangeksi,


Yeku dalaning kasidan,


Sinuda saka sethithik,


Pamothahing nafsu hawa,


Linalantih mamrih titih.




Sirnakan keraguan hati,


waspadalah terhadap pandanganmu,


Itulah caranya berhasil,


Kurangilah sedikit demi sedikit godaan hawa nafsu,


Latihlah agar terlatih.


89




Aywa mematuh nalutuh,


Tanpa tuwas tanpa kasil,


Kasalibuk ing srabeda,


Marma dipun ngati-ati,


Urip keh rencananira,


Sambekala den kaliling.




Jangan terbiasa berbuat aib,


Tiada guna tiada hasil,


terjerat oleh aral,


Maka berhati-hatilah,


Hidup ini banyak rintangan,


Godaan harus dicermati.


90




Umpamane wong lumaku,


Marga gawat den liwati,


Lamun kurang ing pangarah,


Sayekti karendhet ing ri.


Apese kasandhung padhas,


Babak bundhas anemahi.




Seumpama orang berjalan,


Jalan berbahaya dilalui,


Apabila kurang perhitungan,


Tentulah tertusuk duri,


celakanya terantuk batu,


Akhirnya penuh luka.


91




Lumrah bae yen kadyeku,


Atetamba yen wus bucik,


Duweya kawruh sabodhag,


Yen tan nartani ing kapti,


Dadi kawruhe kinarya,


Ngupaya kasil lan melik.




Lumrahnya jika seperti itu,


Berobat setelah terluka,


Biarpun punya ilmu segudang,


bila tak sesuai tujuannya,


ilmunya hanya dipakai mencari nafkah dan pamrih.


92




Meloke yen arsa muluk,


Muluk ujare lir wali,


Wola wali nora nyata,


Anggepe pandhita luwih,


Kaluwihane tan ana,


Kabeh tandha tandha sepi.




Baru kelihatan jika keinginannya muluk-muluk,


Muluk-muluk bicaranya seperti wali,


Berkali-kali tak terbukti,


merasa diri pandita istimewa,


Kelebihannya tak ada,


Semua bukti sepi.


93




Kawruhe mung ana wuwus,


Wuwuse gumaib gaib,


Kasliring thithik tan kena,


Mancereng alise gathik,


Apa pandhita antiga,


Kang mangkono iku kaki,




Ilmunya sebatas mulut,


Kata-katanya di gaib-gaibkan,


Dibantah sedikit saja tidak mau, mata membelalak alisnya menjadi satu,


Apakah yang seperti itu pandita palsu,..anakku ?


94




Mangka ta kang aran laku,


Lakune ngelmu sejati,


Tan dahwen pati openan,


Tan panasten nora jail,


Tan njurungi ing kahardan,


Amung eneng mamrih ening.




Padahal yang disebut “laku”,


sarat menjalankan ilmu sejati tidak suka omong kosong dan tidak suka memanfaatkan hal-hal sepele yang bukan haknya,


Tidak iri hati dan jail,


Tidak melampiaskan hawa nafsu. Sebaliknya, bersikap tenang agar menggapai keheningan jiwa.


95




Kaunanging budi luhung,


Bangkit ajur ajer kaki,


Yen mangkono bakal cikal,


Thukul wijining utami,


Nadyan bener kawruhira,


Yen ana kang nyulayani.




Luhurnya budipekerti,


pandai beradaptasi, anakku !


Demikian itulah awal mula,


tumbuhnya benih keutamaan,


Walaupun benar ilmumu,


bila ada yang mempersoalkan..


96




Tur kang nyulayani iku,


Wus wruh yen kawruhe nempil,


Nanging laire angalah,


Katingala angemori,


Mung ngenaki tyasing liyan,


Aywa esak aywa serik.




Walau orang yang mempersoalkan itu, sudah diketahui ilmunya dangkal,


tetapi secara lahir kita mengalah,


berkesanlah persuasif,


sekedar menggembirakan hati orang lain.


Jangan sakit hati dan dendam.


97




Yeku ilapating wahyu,


Yen yuwana ing salami,


Marga wimbuh ing nugraha,


Saking heb Kang mahasuci,


Cinancang pucuking cipta,


Nora ucul ucul kaki.




Begitulah sarat turunnya wahyu,


Bila teguh selamanya,


dapat bertambah anugrahnya,


dari sabda Tuhan Mahasuci,


terikat di ujung cipta,


tiada terlepas-lepas anakku.


98




Mangkono ingkang tinamtu,


Tampa nugrahaning Widhi,


Marma ta kulup den bisa,


Mbusuki ujaring janmi,


Pakoleh lair batinnya,


Iyeku budi premati.




Begitulah yang digariskan,


Untuk mendapat anugrah Tuhan.


Maka dari itu anakku,


sebisanya, kalian pura-pura menjadi orang bodoh terhadap perkataan orang lain,


nyaman lahir batinnya,


yakni budi yang baik.


99




Pantes tinulat tinurut,


Laladane mrih utami,


Utama kembanging mulya,


Kamulyan jiwa dhiri,


Ora ta yen ngeplekana,


Lir leluhur nguni-uni.




Pantas menjadi suri tauladan yang ditiru,


Wahana agar hidup mulia,


kemuliaan jiwa raga.


Walaupun tidak persis, seperti nenek moyang dahulu.


100




Ananging ta kudu kudu,


Sakadarira pribadi,


Aywa tinggal tutuladan,


Lamun tan mangkono kaki,


Yekti tuna ing tumitah,


Poma kaestokna kaki.




Tetapi harus giat berupaya, sesuai kemampuan diri,


Jangan melupakan suri tauladan,


Bila tak berbuat demikian itu anakku,


pasti merugi sebagai manusia.


Maka lakukanlah anakku !



Semua Manusia akan rusak,kecuali yang Berilmu... Orang yang berilmu pun akan rusak ,kecuali orang yang beramal... Orang yang beramal juga akan rusak ,kecuali orang yang Ikhlas (Imam Al-Ghozali)