content top



Tampilkan postingan dengan label JATI DIRI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JATI DIRI. Tampilkan semua postingan

CARA PRAKTIS MENGENAL DIRI

Bismillaahirrahmaanirrahiim 

Proses pengenalan terhadap diri merupakan suatu langkah yang utama untuk tahapan lebih merasakan ketiada berdayaan seorang makhluk kepada Sang Penciptanya.Pengenalan diri merupakan hal yang sangat penting dan mendasari setiap orang dalam mengenal Agama yang diyakininya.

Agama adalah suatu nasehat dari Allah SWT yang diwahyukan kepada para Nabi/Rasul untuk mengatur hidup manusia dalam kehidupan agar teratur/tidak rusak dan tidak berada dalam kekacauan.
Agama memberikan banyak pengajaran kebaikan agar manusia berperilaku baik sehingga tidak melupakan dirinya,dari mana ia datang dan kemana ia akan kembali kelak.

Apabila seorang sedang dalam kondisi emosi sering disebut dalam pribahasa sebagai orang yang "lupa diri".Kalimat yang terdiri dari dua kata tersebut (Lupa Diri) memiliki makna yang mendalam.
Orang yang lupa diri sama dengan orang yang lupa asal usulnya(Purwadaksinya),dan orang yang sudah lupa terhadap asal-usulnya tentu akan lupa terhadap tempat kembalinya kelak(akhirat). Dan orang yang sudah lupa pada tempat kembalinya akan lupa pula kepada Tuhan yang menciptakannya.

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS.Al-Hasyr :19)


Dalam dunia Tasawuf/Sufi dikenal dalil yang sangat populer yang menjadi dasar ma'rifatullah melalui pengenalan diri :

" MAN AROFA NAFSAHU,FAQOD AROFA RABBAHU "
(Barangsiapa yang mengenal dirinya,maka akan mengenal Tuhan yang menciptakannya.)

Orang yang mengenal dirinya sama dengan orang yang selalu mengingat Allah SWT (Eling) ,dan orang yang lupa kepada dirinya sama dengan orang yang tidak mengenal Tuhan yang menciptakannya.
Kata kunci pengenalan diri adalah INGAT dan LUPA, namun dalam hal ini jangan diartikan secara kontektualnya,tetapi lebih diprioritaskan pada Af'al / Perilaku dalam kehidupan nyata. Apabila seorang yang selalu mengingat Allah SWT, maka setiap perilakunya akan selaras dengan kehendak-NYA,dan menjauhi perilaku yang dilarang-NYA. Ia akan menghiasi dirinya dengan busana ketaqwa'an

Dalam hati saya berkeyakinan ,bahwa pada dasarnya semua orang telah mengenal dirinya, sebab mereka telah beragama dan setiap orang yang beragama, minimal juga mengenal  Tuhannya ,namun terkadang kita sendiri tidak menyadari sehingga lupa. Didalam lupa itulah merasuk pemikiran syetan  yang memberikan berbagai teori yang rumit dan mengaburkan pemahaman tentang diri dan berakibat manusia seperti "katak dalam tempurung" (mencari sesuatu, padahal sesuatu itu sudah ada bersamanya).




Bagaimanakah cara untuk mengenal diri yang efektif?



1.BERCERMIN


Cara termudah bagi setiap orang untuk mengenal dirinya yaitu dengan bercermin,  mengapa?...sebab setiap orang suka bercermin ,bahkan terkadang betah berlama-lama didepan cermin hanya untuk menyakinkan dirinya dalam berpenampilan,sudah cantikkah/tampankah aku?
Dan ketika bercermin, merasa kurang sesuai dengan dandanannya maka ia merubah penampilannya kembali hingga merasakan sesuai yang diharapkan dan yakin ,"aku sudah tampan/cantik" dan aku siap menemui kekasihku untuk apel dimalam minggu...hehee


Kira-kira pernahkah anda berpikir kenapa manusia dengan ilham-NYA bisa menciptakan/memproduksi sebuah cermin ?
Coba anda bayangkan bila tidak ada cermin,apakah manusia bisa mengenali wajahnya sendiri,bagaimana bentuk atau rupa wajahnya?...untuk mengenal wajahnya saja tidak bisa terus bagaimana mungkin bisa mengenali drinya secara keseluruhan?


Bila mau mengkaji lebih dalam pada hakekatnya kehidupan ini adalah CERMIN..Dan Cermin ini berfungsi untuk membiaskan Cahaya sehingga terbentuk suatu wujud bayangan nyata yang ada diseluruh alam semesta ini.
Manusia dengan manusia yang lainnya merupakan hasil dari  bias cermin.
Manusia dengan hewan adalah hasil bias cermin
Manusia dengan alam juga merupakan hasil bias cermin.
Dan hubungan antara manusia,hewan dan alam saling berinteraksi dalam membentuk karakter perilaku,karna sama-sama bagian dari bias cahaya yang terdiri dari berbagai warna hasil dari bias cahaya dari cermin yang membentuk wujud beraneka ragam terlihat oleh penglihatan .
Manusia bisa melihat hasil bias cermin karna memiliki mata,dan mata bisa melihat sesuatu wujud  karna adanya CAHAYA.
Karna itulah kehidupan manusia yang nyata dan sedang dialami didunia meliputi dua alam yaitu alam gelap ( Malam ) dan alam terang (Siang).
Alam gelap disebut sebagai alam lupa ,sebab manusia kebanyakan tidur/istirahat
Alam siang disebut sebagai alam ingat ,sebab manusia kebanyakan dalam keadaan terjaga/beraktifitas.


"Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar(mengambil pelajaran darinya)." (QS.Yunus : 67) 

Namun ketika manusia dalam keadaan tidur,apakah dirinya tidur secara total ?...tentunya tidak!
Tidur hanya berlaku bagi jasad,namun jiwa manusia tetap terjaga dan berkelana menciptakan suatu bias-bias cermin dan bisa hadir dalam mimpi. Dan mimpi ini bisa terbentuk dari alam pikiran maupun perilaku jasad ketika terjaga/beraktifitas.
Jadi ketika jasad tidur,maka hati sebagai pusat pergolakan jiwa/nafs ,hendaknya tetap terjaga/tidak tidur,yaitu tetap INGAT. 

Sebagai contoh jiwa yang INGAT ketika tidur,yaitu pada saat anda bermimpi suatu kejadian yang buruk,misalnya bertemu/berperang dengan JIN,secara tidak sadar didalam mimpi tersebut anda tiba-tiba membacakan ayat suci Al-Qur'an,sehingga jin tersebut kabur/musnah/tak berkutik.Hal ini menandakan bahwa anda ingat kepada Sang Pencipta walaupun jasad dalam keadaan tidur (Hati tetap terjaga walaupun sedang tidur) .

"Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati." (QS.Al-Hadiid : 6)


Bercermin diri memiliki makna yang luas dan mendalam. Sebagai contoh,ketika seseorang jatuh cinta kepada lawan jenisnya,apakah yang dirasakan ? bisa saja dia akan buta ,dalam artian tidak perduli pada keadaan dirinya maupun lingkungan orang disekitarnya,yang penting cinta didapat tak perduli kotoran,tetap saja dianggap coklat ,dijilat terus dechhh.
Dalam kondisi demikian,terkadang dari saudara atau kerabatnya mengingatkan ,"Ngaca donk kamu!"
Atau dalam perkara lain sering kali kita dinasehati untuk bercermin kepada air,bercermin kepada tumbuhan,bercermin kepada batu,gunung,angin,api,dll.
Jadi semua wujud yang ada dialam semesta ini adalah cermin/perwujudan dari Dzat Sang Pencipta (Maujuda Ilallah). 


Bila seseorang tersebut menyadari ketika disuruh Ngaca/Bercermin,sama halnya  menasehati untuk melihat kedalam diri/instropeksi diri dengan tujuan agar tidak lupa diri.
Instropeksi diri secara bersungguh-sungguh akan melibatkan akal/pikiran,hati (Ruh dan Jiwa) serta jasad/raga :

1.Akal/Pikiran akan membisikkan sesuatu kebaikan atau keburukan berdasar ilmu ,pengalaman dan pertimbangan pada kenyataan hidup 
2.Ruh akan membisikkan kebaikan pada kebenaran dan ketaatan kepada Allah SWT  sehingga menyebabkan keselamatan dan kemuliaan manusia, baik di dunia maupun di akherat.
3.Jiwa akan membisikkan pada pemuasan hawa nafsu,ketika hawa nafsu memuncak maka jiwa akan labil/bergejolak seperti air mendidih.
4.Jasad/Raga digunakan sebagai sarana penggerak dari Akal,Ruh dan Jiwa . 

Jadi jasad itu ibarat perahunya untuk berlabuh dilautan kehidupan dunia ,sedangkan nahkodanya adalah Akal, Ruh dan Jiwa/Nafs. Kemudian  diantara ketiga nahkoda tersebut,manakah yang lebih berperan mengendalikan perahu dalam berlabuh,yaitu yang mengendalikan jasad kita.


2.NAMA
 

Secara lahir pengenalan diri selaras  dengan indentitas  yang tercatat dalam catatan sipil pemerintahan dalam bentuk KTP(Kartu Tanda Penduduk) atau  Akte Kelahiran sebagai bukti  siapa diri anda.
Nama yang tertulis dalam KTP adalah pengenal terhadap diri anda,dan nama inilah yang akan melekat selamanya sampai anda memasuki alam akhirat,karna itu kita harus bersyukur bahwa orangtua telah memberikan nama sebagai pengenal diri kita.

Dalam hadist Rasulullah menganjurkan untuk membaguskan nama-nama panggilan untuk diri.


Dari Abu Dardaa’, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian”  [ HR. Abu Dawud , Ad-Daarimiy, Al-Baihaqi ].




Mengapa Nama merupakan salah satu cara untuk mengenal diri?

Sebab didalam nama itu mengandung sifat dan Af'al yang menunjukkan karakter perilaku diri.
Dan dengan nama itulah kita bisa dikenali oleh orang lain,dan dengan nama itu pula bisa membuat seseorang menjadi wangi/harum pada sifat dan perilakunya,yang bisa dikenang sepanjang masa,walaupun dia sudah meninggal beribu-ribu tahun yang lalu.

Peribahasa mengatakan,"Harimau mati meninggalkan belang,sedangkan manusia mati meninggalkan NAMA". 

Didalam nama juga melahirkan sifat dan menghidupkan rasa cinta terhadap diri sendiri dan sesama,oleh karena itu apabila "tak kenal maka tak akan sayang, apabila tak sayang maka tak akan cinta, dan apabila tak cinta maka tak akan mau saling mengasihi."

Dan mungkinkah kita bisa mengenal diri apabila tidak mencintai diri sendiri? 
Mungkinkah kita bisa mencintai orang lain apabila tidak diawali dengan mencintai diri sendiri?


3.KESADARAN

Setelah kita memahami cermin dan nama,langkah selanjutnya adalah kesadaran (Sadar diri). Didalam kesadaran akan menumbuhkan berbagai macam ilmu pengetahuan  secara lahir dan bathin,serta perilaku pada kebaikan untuk menuju kesempurnaan dan pengenalan diri yang sejati.
Kesadaran diri meliputi pemahaman wilayah bathin dan bersifat kasyaf yang akan muncul seiring perjalanannya dalam ketaqwa'an.

“Dan bertaqwalah kepada Allah niscaya Allah akan mengajari kalian ILMU dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. “ (QS. Al- Baqarah : 282). 

"Orang yang sadar diri adalah orang yang Taqwa dan tidak terlalu jauh mencari keindahan diluar dirinya,sebab keindahan itu ada di dalam diri,bahkan  seluruh dunia adalah cermin/refleksi yang ada di dalam diri. Maka ia akan selalu memusatkan pikiran,mengheningkan cipta siang dan malam untuk berjaga ,dan memandang bahwa segala yang ada di sekelilingnya adalah buah dari amal perbuatannya"

Semoga penjelasan yang singkat ini dapat membuka cakrawala pengenalan diri secara mudah serta tidak membingungkan dengan segala macam teori yang rumit.



MENGENAL TUHAN


Bismillaahirrohmaanirrohiim


Dalam istilah Jawa,Tuhan adalah sang Sangkan sekaligus sang Paran(Sangkan Paraning Dumadi), karena itu juga disebut Sang Hyang Sangkan Paran. Dia hanya satu, tanpa kembaran ( Pangeran iku mung sajuga tan kinembari). 
Orang Jawa biasa menyebut-NYA dengan “Gusti” atau “Pangeran” artinya Raja. Masyarakat tradisional sering mengartikan "Pangeran" berasal dari kata "pangegeran", yang artinya "Tempat bernaung atau berlindung" 

Sedang wujud-NYA tak tergambarkan, karena pikiran tak mampu mencapai-NYA dan kata kata tak dapat menerangkan-NYA. Didefinisikan pun tidak mungkin, sebab kata-kata hanyalah produk pikiran hingga tak dapat digunakan untuk menggambarkan kebenaran-NYA. 

Karena itu orang Jawa menyebutnya "Tan kena kinaya ngapa" ( tak dapat diserupakan). Manusia hanya bisa memberikan sebutan sehubungan dengan peranan-NYA. Karena itu 
kepada-NYA diberikan banyak sebutan, misalnya:

1.Gusti Kang Karya Jagad (Sang Pembuat Jagad),

2.Gusti Kang Gawe Urip (Sang Pembuat Kehidupan),

3.Gusti Kang Murbeng Dumadi (Sang Penentu nasib semua mahluk) ,

4.Gusti Kang Maha Agung (Tuhan Yang Maha Besar), dan lain-lain.

"Tuhan itu satu tetapi menyebut-NYA dengan banyak
nama".


Dalam pengertian Jawa menyatakan bahwa Tuhan telah menyatu dengan ciptaan-NYA. Persatuan antara Tuhan dan ciptaan-NYA itu digambarkan sebagai "curiga manjing warangka,warangka manjing curiga" (keris masuk ke dalam sarungnya,seperti sarung memasuki kerisnya). 
Meski ciptaan-NYA selalu berubah, Tuhan tidak terpengaruh oleh perubahan yang terjadi pada ciptaan-NYA.


Dalam kalimat puitis orang Jawa mengatakan: 

“Pangeran nganakake geni manggon ing geni nanging ora kobong dening geni, Nganakake banyu manggon ing banyu ora teles dening banyu”
(Tuhan mengadakan api, berada dalam api, namun tidak terbakar,mencipta air bertempat di air tetapi tidak basah).

Menyatunya Tuhan dengan ciptaan-NYA secara simbolis juga dikatakan: 

"kaya kodok ngemuli leng, kaya kodok kinemulan ing leng" (seperti katak menyelimuti liangnya dan seperti katak  terselimuti liangnya)... Atau "DIA ada padaku dan aku ada pada-NYA". 

Dengan pengertian demikian maka jarak antara Tuhan dan ciptaan-NYA pun menjadi tak terukur lagi. 

"Adoh tanpa wangenan, cedhak tanpa senggolan"
(jauh tanpa batas, dekat namun tak bersentuhan)

Dan juga dinyatakan dengan kata- kata "Gusti lan kawula iku tunggal" (Tuhan dan aku menyatu).

Di sini pengertian Gusti adalah Tuhan yang juga disebut Ingsun, sedang Kawula adalah Sira,…."Sira Iku Ingsun" (ENGKAU adalah aku)

Pemahaman yang demikian itu tentunya memungkinkan terjadinya salah tafsir, karena menganggap manusia itu sama dengan Tuhan. 
Untuk menghindari pendapat yang demikian, orang Jawa dengan bijak menepis dengan kata-kata: 

"yo ngono nanging ora ngono"
(ya begitu tetapi tidak seperti itu).

Sebab pengertian keberadaan Tuhan yang menyatu dengan ciptaan-NYA bisa ditafsirkan sebagai Tuhan berada di apa saja dan siapa saja,hingga apa saja dan siapa saja bisa di Tuhankan. 
Anggapan demikian tentulah salah,sebab Gusti bukan Kawula walau keberadaan keduanya selalu menyatu,dalam bahasa Jawa disebut "kaya geni lan urubpe" (seperti api dengan cahayanya),"kaya gulo lan legine"(seperti gula dengan manisnya) atau tak terpisahkan.

Dari pengertian tersebut maka Tuhan adalah "sesuatu yang tak tergambarkan" atau hakekat Tuhan adalah sebuah "kekosongan" atau "suwung", Kekosongan adalah sesuatu yang ada tetapi tak tergambarkan.
Jadi hakekat Tuhan adalah "kekosongan abadi yang padat energi", seperti areal hampa udara yang menyelimuti jagad raya, yang meliputi segalanya secara immanen sekaligus transenden,tak terbayangkan namun mempunyai energi luar biasa, hingga membuat
semua benda di angkasa berjalan sesuai kodratnya dan tidak saling bertabrakan. Sang "kosong" atau "suwung" itu meliputi segalanya(suwung iku angliputi sakalir kang ana), seperti udara yang tanpa batas dan keberadaannya menyelimuti semua yang ada,baik di luar maupun di dalamnya.

Apabila hakekat Tuhan adalah "kekosongan" maka untuk menyatukan diri, maka diri kita pun harus "kosong", Sebab hanya "yang kosonglah yang dapat menyatu dengan sang maha kosong".

Caranya dengan berusaha "mengosongkan diri" atau "membersihkan diri" dengan "menghilangan muatan-muatan yang membebani diri" yang berupa berbagai nafsu dan keinginan dengan “samadi/meditasi” yang intinya adalah menghentikan segala aktifitas pikiran berserta semua nafsu dan keinginan yang membebaninya. Sebab pikiran yang selalu bekerja tak akan pernah
menjadikan diri "kosong". Karena itu salah satu caranya dengan
berusaha "mengosongkan diri" dengan berkonsentrasi untuk menyatukan diri dengan "Sang Maha Kosong".

Dengan demikian mereka berharap dapat menyatu dalam rasa, yaitu rasa damai sebenarnya.Apabila tujuan "samadi" itu berhasil, terdapat tanda-tanda khusus. Konon, ketika puncak keheningan tercapai, orang serasa terjun ke suasana "heneng" atau "sunya", tenggelam dalam suasana "kedamaian batin sejati, rasa damai yang akut", yang dikatakan "manjing jroning sepi", atau "rasa damai yang tak terkatakan". Suasana demikian terjadi hanya sesaat, atau "tarlen saking liyep layaping aluyup, pindha pesating supena sumusup ing rasa jati"
(ketika tiba di ambang batas kesadaran, hanya seperti kilasan mimpi, kita seolah menyelinap ke dalam rasa sejati).

Di sini makna kedamaian adalah "kekosongan sejati di mana jiwa terbebas dari beban apa pun", yang diistilahkan dengan suasana "hening heneng" atau "kedamaian sejati" atau Kebahagian abadi yang tanpa sedikitpun rasa duka atau memasuki gelombang Theta.

Pada dasarnya proses penyatuan (meditasi) itu dimaksudkan sebagai usaha memperpendek jarak antara Manusia dengan Tuhan, antara Sira dengan Ingsun,yang dalam istilah Jawa disebut “ngudi cinaket ing Widhi” ( berusaha agar semakin dekat dengan Tuhan).

Dalam ketidaktahuan manusia diistilahkan dalam kalimat:
“Apek banyu pikulane warih, apek geni dedamaran, kodok ngemuli elenge, tanpa suku lumaku, tanpa una lan tanpa uni “
(terlihat ada orang mencari air, padahal ia telah memakai air sebagai pikulan, dan ada yang mencari api, padahal telah membawa lentera, katak menyelimuti liangnya, tanpa kaki ia berjalan, tanpa rasa dan tanpa suara).

Maksudnya mereka tidak mengerti bahwa Gusti dan Kawula Tunggal, hingga tidak menyadari bahwa yang dicari sebenarnya telah ada dalam dirinya sendiri, walaupun dengan nama yang berbeda...
"kana kene yo podho bae" (sana dan sini sama saja).
Karena ketidaktahuanlah yang menyebabkan orang
kebingungan.

Ada pula istilah lain,bahwa untuk mendekatkan diri agar mengenal serta mengetahui Gusti lan Kawula,kudu biso ngebagusing ati(harus bisa membersihkan/memperbagus hati),budi pekerti sing apek,lampahe urip kudu bener,eling lan waspodo(budi pekerti harus baik,menjalani hidup harus benar,selalu ingat dan berhati-hati).




SERAT WEDHATAMA KE-2

Sambungan dari SERAT WEDHATAMA KE-1


83




Mangka kanthining tumuwuh,


Salami mung awas eling,


Eling lukitaning alam,


Dadi wiryaning dumadi,


Supadi nir ing sangsaya,


Yeku pangreksaning urip.




Padahal bekal hidup,


selamanya waspada dan ingat,


Ingat akan pertanda yang ada


di alam ini,


Menjadi kekuatannya asal-usul, supaya lepas dari sengsara.


Begitulah memelihara hidup.


84




Marma den taberi kulup,


Anglung lantiping ati,


Rina wengi den anedya,


Pandak panduking pambudi,


Bengkas kahardaning driya,


Supaya dadya utami.`




Maka rajinlah anak-anakku,


Belajar menajamkan hati,


Siang malam berusaha,


merasuk ke dalam sanubari,


melenyapkan nafsu pribadi,


Agar menjadi (manusia) utama.


85




Pangasahe sepi samun,


Aywa esah ing salami,


Samangsa wis kawistara,


Lalandhepe mingis mingis,


Pasah wukir reksamuka,


Kekes srabedaning budi.




Mengasahnya di alam sepi (semedi),


Jangan berhenti selamanya,


Apabila sudah kelihatan,


tajamnya luar biasa,


mampu mengiris gunung penghalang,


Lenyap semua penghalang budi.


86




Dene awas tegesipun,


Weruh warananing urip,


Miwah wisesaning tunggal,


Kang atunggil rina wengi,


Kang mukitan ing sakarsa,


Gumelar ngalam sakalir.




Awas itu artinya,


tahu penghalang kehidupan,


serta kekuasaan yang tunggal,


yang bersatu siang malam,


Yang mengabulkan segala kehendak,


terhampar alam semesta.


87




Aywa sembrana ing kalbu,


Wawasen wuwus sireki,


Ing kono yekti karasa,


Dudu ucape pribadi,


Marma den sembadeng sedya,


Wewesen praptaning uwis.




Hati jangan lengah,


Waspadailah kata-katamu,


Di situ tentu terasa,


bukan ucapan pribadi,


Maka tanggungjawablah, perhatikan semuanya sampai tuntas.


88




Sirnakna semanging kalbu,


Den waspada ing pangeksi,


Yeku dalaning kasidan,


Sinuda saka sethithik,


Pamothahing nafsu hawa,


Linalantih mamrih titih.




Sirnakan keraguan hati,


waspadalah terhadap pandanganmu,


Itulah caranya berhasil,


Kurangilah sedikit demi sedikit godaan hawa nafsu,


Latihlah agar terlatih.


89




Aywa mematuh nalutuh,


Tanpa tuwas tanpa kasil,


Kasalibuk ing srabeda,


Marma dipun ngati-ati,


Urip keh rencananira,


Sambekala den kaliling.




Jangan terbiasa berbuat aib,


Tiada guna tiada hasil,


terjerat oleh aral,


Maka berhati-hatilah,


Hidup ini banyak rintangan,


Godaan harus dicermati.


90




Umpamane wong lumaku,


Marga gawat den liwati,


Lamun kurang ing pangarah,


Sayekti karendhet ing ri.


Apese kasandhung padhas,


Babak bundhas anemahi.




Seumpama orang berjalan,


Jalan berbahaya dilalui,


Apabila kurang perhitungan,


Tentulah tertusuk duri,


celakanya terantuk batu,


Akhirnya penuh luka.


91




Lumrah bae yen kadyeku,


Atetamba yen wus bucik,


Duweya kawruh sabodhag,


Yen tan nartani ing kapti,


Dadi kawruhe kinarya,


Ngupaya kasil lan melik.




Lumrahnya jika seperti itu,


Berobat setelah terluka,


Biarpun punya ilmu segudang,


bila tak sesuai tujuannya,


ilmunya hanya dipakai mencari nafkah dan pamrih.


92




Meloke yen arsa muluk,


Muluk ujare lir wali,


Wola wali nora nyata,


Anggepe pandhita luwih,


Kaluwihane tan ana,


Kabeh tandha tandha sepi.




Baru kelihatan jika keinginannya muluk-muluk,


Muluk-muluk bicaranya seperti wali,


Berkali-kali tak terbukti,


merasa diri pandita istimewa,


Kelebihannya tak ada,


Semua bukti sepi.


93




Kawruhe mung ana wuwus,


Wuwuse gumaib gaib,


Kasliring thithik tan kena,


Mancereng alise gathik,


Apa pandhita antiga,


Kang mangkono iku kaki,




Ilmunya sebatas mulut,


Kata-katanya di gaib-gaibkan,


Dibantah sedikit saja tidak mau, mata membelalak alisnya menjadi satu,


Apakah yang seperti itu pandita palsu,..anakku ?


94




Mangka ta kang aran laku,


Lakune ngelmu sejati,


Tan dahwen pati openan,


Tan panasten nora jail,


Tan njurungi ing kahardan,


Amung eneng mamrih ening.




Padahal yang disebut “laku”,


sarat menjalankan ilmu sejati tidak suka omong kosong dan tidak suka memanfaatkan hal-hal sepele yang bukan haknya,


Tidak iri hati dan jail,


Tidak melampiaskan hawa nafsu. Sebaliknya, bersikap tenang agar menggapai keheningan jiwa.


95




Kaunanging budi luhung,


Bangkit ajur ajer kaki,


Yen mangkono bakal cikal,


Thukul wijining utami,


Nadyan bener kawruhira,


Yen ana kang nyulayani.




Luhurnya budipekerti,


pandai beradaptasi, anakku !


Demikian itulah awal mula,


tumbuhnya benih keutamaan,


Walaupun benar ilmumu,


bila ada yang mempersoalkan..


96




Tur kang nyulayani iku,


Wus wruh yen kawruhe nempil,


Nanging laire angalah,


Katingala angemori,


Mung ngenaki tyasing liyan,


Aywa esak aywa serik.




Walau orang yang mempersoalkan itu, sudah diketahui ilmunya dangkal,


tetapi secara lahir kita mengalah,


berkesanlah persuasif,


sekedar menggembirakan hati orang lain.


Jangan sakit hati dan dendam.


97




Yeku ilapating wahyu,


Yen yuwana ing salami,


Marga wimbuh ing nugraha,


Saking heb Kang mahasuci,


Cinancang pucuking cipta,


Nora ucul ucul kaki.




Begitulah sarat turunnya wahyu,


Bila teguh selamanya,


dapat bertambah anugrahnya,


dari sabda Tuhan Mahasuci,


terikat di ujung cipta,


tiada terlepas-lepas anakku.


98




Mangkono ingkang tinamtu,


Tampa nugrahaning Widhi,


Marma ta kulup den bisa,


Mbusuki ujaring janmi,


Pakoleh lair batinnya,


Iyeku budi premati.




Begitulah yang digariskan,


Untuk mendapat anugrah Tuhan.


Maka dari itu anakku,


sebisanya, kalian pura-pura menjadi orang bodoh terhadap perkataan orang lain,


nyaman lahir batinnya,


yakni budi yang baik.


99




Pantes tinulat tinurut,


Laladane mrih utami,


Utama kembanging mulya,


Kamulyan jiwa dhiri,


Ora ta yen ngeplekana,


Lir leluhur nguni-uni.




Pantas menjadi suri tauladan yang ditiru,


Wahana agar hidup mulia,


kemuliaan jiwa raga.


Walaupun tidak persis, seperti nenek moyang dahulu.


100




Ananging ta kudu kudu,


Sakadarira pribadi,


Aywa tinggal tutuladan,


Lamun tan mangkono kaki,


Yekti tuna ing tumitah,


Poma kaestokna kaki.




Tetapi harus giat berupaya, sesuai kemampuan diri,


Jangan melupakan suri tauladan,


Bila tak berbuat demikian itu anakku,


pasti merugi sebagai manusia.


Maka lakukanlah anakku !



Semua Manusia akan rusak,kecuali yang Berilmu... Orang yang berilmu pun akan rusak ,kecuali orang yang beramal... Orang yang beramal juga akan rusak ,kecuali orang yang Ikhlas (Imam Al-Ghozali)