content top



Tampilkan postingan dengan label RASA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RASA. Tampilkan semua postingan

MENGENAL AJI RASA

Aji Rasa merupakan ilmu kamanungsa'an/berprilaku baik terhadap sesama manusia,sehingga merealisasikan sifat manusia yang sebenarnya sebagai khalifah dimuka bumi.

Pondasinya adalah IMAN, Tiangnya adalah TAWADHU' , atapnya adalah CINTA, Prinsipnya adalah apa yang tidak ingin dilakukan orang lain terhadap diri kita,maka janganlah kita melakukannya kepada orang lain.Dan apa yang dirasakan oleh orang lain merupakan bagian dari yang kita rasakan.

Puncak dari Rasa adalah untuk penyempurnaan AKHLAQ manusia dan tingkat keberhasilan seseorang dalam beragama ketika rasa didalam dirinya hidup,Rasa adalah bagian dari bathiniyah sebab rasa itu sifatnya ghoib/tidak tampak secara dhohir.

Hidupnya rasa ketika diri kita memandang orang lain ibarat satu tubuh/bagian dari diri kita pribadi,sebagaimana sabda Rasulullah SAW ;

" Orang-orang mukmin itu ibarat satu tubuh/jasad, apabila satu anggota badan sakit, maka seluruh tubuhnya ikut merasakan sakit demam dan tidak dapat tidur." (HR. Muslim)

Tumbuhnya Rasa karna adanya naungan ghoib yang disebut dengan CINTA. Apabila kita mencintai seseorang secara universal atas dasar iman kepada Allah SWT,maka kita tidak memandang bentuk dan rupa seseorang,tidak memandang ras,suku,agama, keturunan dan kedudukkan/martabat.Karna yang kita lihat adalah sama-sama manusia yang berasal dari satu Pencipta dan juga sama-sama memilki rasa,memiliki cinta, ingin kasih dan saling mengasihi,sehingga terwujudlah suatu akhlaq/perilaku yang mulia.

"Keramah-tamahan dalam perkataan menciptakan rasa kedamaian, keramah-tamahan dalam pemikiran menciptakan rasa keyakinan, keramah-tamahan dalam memberi menciptakan rasa kasih sayang"


Rasulullah SAW bersabda ;

"Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Tidak maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai: Sebarkanlah SALAM diantara kalian." (HR. Muslim)

Dari hadist tersebut ada tiga pokok utama yaitu IMAN,CINTA dan SALAM ,dimana apabila seseorang ingin menghidupkan rasa didalam dirinya haruslah menghidupkan iman dan cinta kemudian direalisasikan dengan SALAM.

Inti dari salam adalah Habluminannas yang membentuk sudut siku-siku yaitu vertikal dan horisontal (Penekanan pada huruf LAM).

Ketika kita mengucapkan salam (Assalam) kepada orang lain bukan berarti hanya ucapan belaka ,tetapi makna yang terkandung didalam Assalam itulah yang perlu kita ketahui untuk bisa mewujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Assalam terdiri dari huruf ALIF,SIN,LAM dan MIM

Alif =Adanya Ahadiyah/dzat Tunggal pemberi Hidup yang meliputi semua makhluk
Sin =Adanya cipta ,rasa dan karsa yang diberikan kepada manusia sebagai ciptaan-Nya
Lam=Adanya perilaku yang harus diwujudkan oleh manusia sebagai pencerminan syukur dari cipta,rasa dan karsa
Mim=Hidupnya Cipta ,rasa dan karsa manusia yang telah menyatu dengan kudrat dan iradat Sang Pencipta

Maksudnya : Semua manusia tercipta berasal dari SATU PENCIPTA yang telah memberi hidup dan meliputi seluruh makhluk ciptaan-Nya,dan DIA telah memberikan kesempurnaan kepada manusia dengan diberikannya CIPTA (AKAL), RASA (CINTA), KARSA (KEHENDAK UNTUK BERPRILAKU). Oleh karena itu wujudkanlah cipta,rasa,dan karsa tersebut dalam perilaku nyata sesuai dengan kudrat dan iradat-Nya kepada sesama manusia untuk mendapatkan keridhoan-Nya. Apabila perilaku tersebut telah nyata diwujudkan dalam kehidupan maka akan hiduplah cipta,rasa,dan karsa dari manusia tersebut.

"Jadi hidupnya cipta,rasa dan karsa karna adanya perilaku nyata,tidak akan hidup cipta,rasa dan karsa bila kita hanya diam ditempat tanpa melakukan suatu gerak/aktivitas."

"Hidupnya pribadi seseorang yang beragama karna hidupnya Rasa didalam dirinya,hidupnya Rasa akan menimbulkan Kesadaran,hidupnya Kesadaran akan mewujudkan akhlaq yang mulia."

contohnya : Bagaimana mungkin kita bisa merasakan penderitaan orang yang sakit / orang yang ditimpa bencana bila kita tidak menjenguknya/melihat secara langsung?



Macam-Macam Rasa :


1. RASA TUNGGAL

Rasa Tunggal berasal dari dalam jasad/tubuh,seperti rasa lelah, lemah,lemas,letih,dan lesu,dikarenakan reaksi tubuh yang melebihi ambang batas(batas maksimal). Hal ini terjadi karena kurangnya perawatan tubuh/kurangnya memperhatikan kesehatan fisik/psikis.

Fisik = karena kurangnya memperhatikan kebersihan badan dan asupan suplemen/vitamin kedalam tubuh,sehingga fungsi organ tubuh tidak seimbang dan bisa menimbulkan berbagai macam keluhan sakit.

Psikis = Karena menuruti hawa nafsu,kurangnya pengendalian diri dan karena banyaknya Dzad (angan-angan). Sehingga menimbulkan kekesalan pikiran dan hati yang berakibat sakit pada anggota badannya.


2. SEJATINYA RASA

Rasa ini berasal dari luar tubuh manusia karena adanya reaksi dari panca indera dan sifatnya nyata sesuai dengan sifat atau keadaan zat yang sebenarnya.
Alat panca indera terdiri : MATA,TELINGA,HIDUNG,KULIT ,LIDAH
Kelima panca indera tersebut apabila mendapat reaksi dari luar baik secara penglihatan,pendengaran,penciuman aroma tertentu dan sentuhan yang dirasa oleh kulit maka akan menggambarkan / meneruskan suatu rangsangan kepada syaraf sesuai kondisi/keadaan zat tersebut,sehingga menimbulkan  rasa.
Misalnya : Ketika mata mendapat rangsangan cahaya dari suatu benda yang berwarna merah atau memiliki suatu bentuk tertentu maka akan memberikan suatu wujud bayangan sesuai aslinya dari warna/wujud benda tersebut,warna merah akan tetap menghasilkan refleksi penglihatan merah,dll 


3. RASA SEJATI

Rasa sejati timbul karna adanya reaksi spontan dari dalam tubuh dikarenakan reaksi tertentu dan efek yang keluar dari dalam tubuh berupa cairan,seperti air mata,air liur dan air mani(sperma).
contoh: Ketika seseorang bersedih secara tiba-tiba keluar air mata bahkan sampai menangis,atau orang yang merasakan puncak syahwat maka akan mengeluarkan air mani,dll 


4. RASA TUNGGAL JATI

Rasa Tunggal Jati adalah menyatunya rasa diri dengan rasa Dzat tunggal Sejati/Sang Pencipta.
Rasa ini timbul karna kedekatan,ketaqwaan,dan selalu mengingat Sang Maha Pencipta dalam setiap keadaan/ kondisi.
Rasa ini menimbulkan ketenangan/ketentraman lahir dan bathin,tiada lagi sedih/bahagia,seseorang berada dalam kefanaan,atau berada dalam kondisi netral.

Rasa merupakan dasar pembentukkan akhlaq dan hidupnya kesadaran beragama dan sebagai lingkaran penghubung etika berperilaku terhadap Sang Pencipta,sesama manusia dan seluruh alam. 
Karena pada hakekatnya seluruh yang ada dialam semesta ini Hidup. Dan setiap yang Hidup memiliki Rasa, sebab didalam Rasa itulah terdapat Hidup dan setiap yang memiliki Rasa ingin diperlakukan dengan baik.



Semoga Bermanfaat 
 
"Ilmu saya tak lebih dari sebuah pendapat. Itulah hasil terbaik yang bisa saya capai. Apabila ada orang lain bisa memberikan pendapat lebih baik, tentu itu lebih mendekati kebenaran"  
(Kata Bijak dari Abu Hanifah Muhammad Nu'man ibn Tsabit)




MARHABAN YAA RAMADHAN



Marhaban Yaa Ramadhan
Kini saatnya telah tiba
Melatih diri untuk kesucian
Melebur segala perilaku dosa...

Jika harta akan menjadi DERITA
Maka ZAKAT-lah penawarnya
Jika HIDUP penuh dengan DOSA
Maka TOBAT-lah sebagai obatnya...

Jika BULAN yang lalu penuh NODA
Maka RAMADHAN-lah sebagai pemutihnya
Sebelum pintu taubat ditutup
Sebelum ajal datang menjemput
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN......

MANUSIA DIWAJIBKAN UNTUK BERPIKIR


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Manusia adalah makhluk yang sempurna karena diberi anugerah kelebihan untuk berfikir terhadap segala yang ada di alam sebagai wujud dalam kehidupan. Aktifitas berfikir sebagai karakter utama manusia mendapat perhatian yang istimewa dalam al-Qur’an. Akal yang merupakan alat untuk berfikir disebutkan al-Qur’an sebanyak 49 kali, yang semuanya dalam bentuk kata kerja (fi’il) dan tidak satupun kata akal (‘aql) digunakan dalam bentuk kata benda (isim) . 

Hal ini mengisyaratkan bahwa akal adalah sebuah proses berfikir yang berkesinambungan tanpa henti,sebab  akal tidak akan memiliki makna kalau tidak digunakan. 
Alat untuk berfikir di dalam al-Qur’an juga disebut sebagai al-qalb, al-fu’ad, al-nuha, al-hijr, al-hilm dan al-lubb. 

Dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat-ayat yang menyerukan pentingnya proses berfikir bagi setiap manusia. Ayat-ayat ini dapat dikategorikan sebagai berikut:

1. Ayat-ayat yang menyerukan berfikir dan penggunaan akal sebagai kekuatan alami yang dimiliki manusia. Di antaranya adalah: 

"Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahaminya(menggunakan akal)." (QS.An-Nahl:12)
Ayat-ayat seperti ini juga dapat di lihat di Surat Al-Baqarah: 164,  Ar-Ra’d: 4,  An-Nahl: 64  dan  Ar-Rum: 24. 

Semua ayat-ayat tersebut di atas diakhiri dengan pernyataan “bagi kaum yang mau menggunakan akal” (li qaumin ya’qilun) sebagai penekanan terhadap sesuatu yang secara alami merupakan suatu keharusan untuk difikirkan dan difahami, yaitu suatu keharusan untuk memikirkan dan memaharni semua fenomena kejadian di alam raya ini. 


2. Ayat-ayat al-Qur’an yang ditujukan khusus kepada para Uli al-bab, intellektual, dan mereka yang memiliki kemampuan berfikir secara sempurna. Orang-orang ini disebut dalam al-Qur ‘an sebanyak 16 kali, yang semuanya berirama pujian dan penghormatan, hal ini karena mereka menurut al-Qur’an adalah orang orang yang memiliki tingkatan yang tinggi di dalam berfikir. Diantara ayat-ayat ini adalah firman Allah yang maksudnya: 

“Maka adakah orang yang mengetahui bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dan Tuhanmu itu (wahai Muhammad) perkara yang benar, sama dengan orang yang buta matahatinya? Sesungguhnya orang-orang yang mau memikirkan hal itu hanyalah orang-orang yang berakal sempurna (uli al-bab).” (QS.Ar-Ra’d: 19).


3. Ayat-ayat yang mencela dan menghardik orang orang yang tidak mau berfikir. Untuk mencela orang-orang yang tidak berfikir dan tidak menggunakan akal al-Qur’an banyak menggunakan tanda tanya yang bersifat negatif seperti: 
Apakah kamu tidak menggunakan akal fikiran (afala ta’qilun)? 
Apakah kamu tidak berfikir (afala tatafakkarun?) 
Apakah kamu tidak melihat (afala tubsirun)? 
Apakah kamu tidak ingat (afala tadzakkarun)? 
Apakah mereka tidak mendalami (afala tadabbarun)? 

Ayat-ayat yang berkaitan dengan tanda tanya ini, banyak menyuruh manusia untuk membedakan antara baik dan buruk, jahat dan mulia dan untuk menimbang dan memilih antara kelezatan kehidupan dunia dan akhirat kelak. Seperti firman Allah yang maksudnya: 

“Jijik perasaanku terhadap kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Maka mengapa kamu tidak mau menggunakan akal fikiran kamu?” (QS.Al-Anbiya’: 67). 

Dalarn banyak ayat Allah mensifatkan orang-orang yang tidak berfikir sama dengan binatang dan bahkan lebih hina daripada binatang, hal ini karena binatang memang sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk berfikir, sedangkan manusia sudah diberi alat untuk berfikir namun mereka tidak menggunakannya dengan sempurna. 

Kasus ini dapat dilihat dalam firman Allah: 

“Sesungguhnya sejahat-jahat makhluk yang melata, pada sisi (hukum dan ketetapan) Allah, ialah orang-orang yang pekak lagi bisu, yang tidak mau memahami sesuatupun (dengan akal fikirannya).” (QS.Al-Anfâl: 22) ....terdapat juga  didalam Surat al-Furqan: 44.


4. Ayat-ayat yang berkaitan dengan kewajiban manusia untuk melihat, meneliti, mengingat, memahami yang semuanya merupakan proses berfikir terhadap semua fenomena  kehidupan dalam berbagai istilah seperti berikut:

a) Kata-kata yang berasal dari fa-ka-ra yang berarti berfikir terdapat dalam 16 ayat. Semua ayat-ayat ini menyerukan manusia untuk berfikir tentang semua fenomena wujud, baik alam raya maupun diri manusia sendiri: 

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir” (QS.Al-Jathiyah: 13). 

Kata ‘berfikir’ dalam ayat ini merupakan hal yang sangat penting, dimana kalau Allah telah menghamparkan dan menundukkan untuk manusia alam raya ini maka pada saat yang sama manusia tidak boleh bersikap acuh dan pasif tapi harus mengambil posisi aktif dan dinamis. Kedinamisan ini diwujudkan dalarn bentuk menela'ah, melakukan eksperimen dan  memanfaatkan alam bagi kebaikan kehidupan umat manusia. 

Pengendalian dan pemanfaatan segala apa yang terhampar di alam raya ini harus dengan studi dan penelitian. Pandangan yang sedemikian ini terhadap objek alam raya, langit dan bumi akan dapat meningkatkan kehidupan material, dan dalam waktu yang sama dapat meningkatkan kehidupan spiritual, seperti apa yang ditegaskan oleh al-Qur’an: 

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? ” (QS.Al-Fushshilat: 53).


b) Kata-kata yang berasal dari na-dla-ra yang maknanya melihat terdapat dalam 129 ayat, ada yang bermakna melihat dengan mata secara biasa, tapi secara umum memberi makna melihat dengan akal fikiran, seperti: 

“(Setelah mengetahui yang demikian), maka hendaklah manusia memperhatikan (memikirkan): dari apakah ia diciptakan.” (QS.At-Thaariq: 5). Ayat yang sama juga terdapat  di Surat ‘Abasa: 24,  Al-A’raf: 185.


c) Kata-kata yang berasal dari ba-sha-ra yang secara bahasa bermakna melihat dengan mata, maksudnya meneliti dan menggunakan akal secara rasional terhadap semua fenomena kehidupan yang tampak secara empiris/nyata di depan mata. 

 “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahanam banyak dari jin dan manusia yang mempunyai hati (tetapi) tidak mau memahami dengannya (ayat-ayat Allah), dan yang mempunyai mata (tetapi) tidak mau melihat dengannya (bukti keesaan Allah) dan yang mempunyai telinga (tetapi) tidak mau mendengar dengannya (ajaran dan nasihat); mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi; mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS.Al-A’raf: 179) 
Ayat yang sama juga terdapat di surat Al-Dzariyat:21, Al-Sajdah: 28.


d). Kata-kata yang berasal dari dab-ba-ra yang secara bahasa bermakna memahami, terdapat dalam 4 ayat yang semuanya berkaitan dengan pemahaman terhadap al-Quran, yang memberi perintah terhadap kita untuk memahami dengan teliti dan meinikirkan rahasia-rahasia dan keajaiban kandungan didalamnya, seperti: 

“(Al-Quran ini) sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu (dan umatmu wahai Muhammad), Kitab yang banyak faedah-faedah dan manfaatnya, untuk mereka yang memahami dengan teliti kandungan ayat-ayatnya, dan untuk orang-orang yang berakal(berfikir).” (QS.Shaad: 29). Ayat yang lainnya terdapat dalam Surat An-Nisa’: 82,  Al-Mu’minun: 68 dan  Surat Muhammad: 24.


e) Kata-kata fa-qi-ha di dalam al-Qur’an bermakna mendalami, dan fa-qi-ha termasuk proses berfikir yang tinggi. Akar kata fa-qi-ha terdapat dalam 20 ayat, dan diantaranya adalah: 

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS.Al-A’raf : 179).


f) Ayat-ayat yang menyerukan manusia untuk mengambil iktibar/pelajaran baik dari peristiwa sejarah dan pengalaman kehidupan manusia maupun dari peristiwa alam: 

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ” (QS.Yusuf: 111). Ayat-ayat yang lain terdapat dalam Surah al-Hashr: 2, Ali-‘Imran: 13, dan  An-Nur: 43-44.


g) Ayat-ayat yang menyerukan manusia untuk mengingat (tadzakkur). Dalam psykologi, mengingat adalah juga merupakan proses yang penting, dan karena itulah al-Qur’an banyak mengkaitkan proses ini dengan para ulil albab (intellektual), seperti firman Allah yang maksudnya: 

Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. ” (QS.Az-Zumar: 9)


Al-Qur’an memberikan contoh metode berfikir secara ilmiah dan methodologis. 

Diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Metode sejarah: 
Terhadap sejarah, sebagai salah satu sumber pengetahuan manusia, al-Qur’an telah memperhatikan secara serius dengan membicarakan kembali keadaan dan pengalaman umat manusia di masa lalu, dan menyuruh setiap manusia untuk melihat dan menemukan hukun-hukum (sunnatullah) yang terdapat di dalam setiap peristiwa dan perubahan sejarah manusia: 

“ Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah. Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS.Ali Imran: 137). 

Demikian juga Al-Qur’an telah memperhatikan pentingnya memastikan secara kritis dan objektif terhadap kebenaran setiap berita dan data-data sejarah: 

“Hai orang-orang yang berman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti.” (QS.Al-Hujurat: 6). 

Dan Al-Qur’an telah meletakkan dasar yang paling utama dalam kritik sejarah, dimana ia telah meletakkan etika penyampaian berita sebagai faktor yang paling dominan untuk menilai kandungan sebuah berita. Orang-orang Islam telah menerapkan prinsip ini dalam periwayatan hadith Nabi. 

Prinsip kritik yang telah diterapkan oleh para perawi hadith inilah yang kemudian menjadi prinsip dasar dalam metode penelitian sejarah.


2) Metode silogisme: 
Metode ini termasuk cabang ilnu mantik (logika Aristoteles), yaitu metode berfikir untuk menetapkan keyakinan dalam keputusan atau hasil dari dua mukadimah.(Premis dan Silogis) 
Metode ini diisaratkan oleh al-Qur’an dalam kisah Iblis ketika menolak untuk bersujud kepada Adam:

Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?."
Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." (QS.Shaad: 75-76). 

Dalam peristiwa ini Iblis membuat silogisme sebagai berikut: Saya (Iblis) diciptakan daripada api, sedangkan Adam diciptakan daripada tanah (premis I). 
Api lebih baik daripada tanah (premis II), maka saya (Iblis) lebih baik daripada Adam (keputusan) . 
Karena silogisme ini Iblis menolak untuk bersujud pada Adam. Dalam silogisme, untuk mendapatkan keputusan yang benar premis pertama dan kedua harus betul dan ilmiah. 
Struktur silogisme yang digunakan Iblis ini memang betul tetapi tidak ilmiah, karena premis yang dia bangun bersifat subjektif dan masih dapat ditolak. 
Bagi Iblis api lebih baik dan tanah, tapi bagi manusia tanah lebih baik dan lebih bermanfaat daripada api, dan dengan demikian dalam perspektif manusia Adam lebih baik daripada Iblis.


3) Metode qiyas (analogical deducation): 
Metode ini digunakan dalan Ushul Fiqh. Ayat al-Qur’an yang mengisyaratkan metode ini adalah: 

“…maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang berakal. ” (QS.Al-Hashyr: 2). 

Dalam ayat ini Allah menceritakan apa yang telah terjadi pada Bani Nadhir, dimana mereka ditimpa azab yang pedih di dunia akibat dari kekafiran, pelanggaran perjanjian dan tipu muslihat nereka kepada Rasul dan Kaum Mukinin. Kemudian Allah memberi pernyataan: “..Maka ambilah iktibar/pelajaran wahai orang-orang yang berakal.” 

Maknanya wahai orang-orang yang berakal ambilah iktibar terhadap apa yang menimpa mereka dan sebab-sebab mengapa mereka ditimpa bencana tersebut, kemudian berusahalah untuk tidak melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan, sehingga kamu tidak ditimpa bencana seperti mereka, kamu semua adalah manusia-manusia seperti mereka, dan apa yang terjadi pada mereka bisa juga terjadi pada kamu sekalian jika terdapat alasan/ sebab (‘illah) yang sama. 

Qiyas dalam Ushul Fiqh berbeda dengan Silogisme. Dalam Usul Fiqh, Qiyas tidak harus memiliki dua premis seperti dalam Silogisme, sebagai contoh praktikal, Rasulullah menentukan: 
Seorang pembunuh tidak boleh menerima warisan dari orang yang dia bunuh. Secara analogi seorang pembunuh juga tidak boleh menerima bagian wasiat dari orang yang dia bunuh. Atau contoh lain: 

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS.Al-Isra’: 23).
Secara analogi seseorang benar-benar dilarang untuk memarahi apalagi memukul kedua orang tuanya.

4) Metode induksi:
Induksi adalah metode berfikir untuk mendapatkan kesimpulan dan hukum tertentu dari hal atau fenomena yang umum. Metode ini adalah metode empirik yang menekankan pada penelitian secara mendalam dan terus-menerus terhadap suatu objek untuk mendapatkan kaedah-kaedah atau hukum-hukum tertentu.
Dalam al-Qur’an proses ini diawali dengan penelitian terhadap bagian-bagian dari alam raya ini, Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk mengkaji dan meneliti secara mendalam tentang hubungan dan pengaruh suatu objek terhadap objek yang lain.

“Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS.Yunus: 101).

"Tidakkah mereka memperhatikan keadaan unta bagaimana ia diciptakan? Dan keadaan langit bagaimana ia ditinggikan binaannya.? Dan keadaan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan keadaan bumi bagaimana ia dihamparkan?" (QS.Al-Ghasyiyah: 17-20).

“Dan Dialah (Allah) yang menghantarkan angin sebagai pembawa berita yang mengembirakan sebelum kedatangan rahmatnya (yaitu hujan), hingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halaukan dia ke negeri yang mati (ke daerah yang kering), lalu Kami turunkan hujan dengan awan itu, kemudian Kami keluarkan dengan air hujan itu berbagai-bagai jenis buah-buahan.” (QS.Al-A’raf: 57).

Dan proses-proses inilah kemudian manusia dapat menyingkap kaidah-kaidah, hukum-hukum dan teori-teori tertentu tentang alam.


5) Metode perbandingan:
Al-Qur’an banyak menggunakan metode ini, dengan maksud membandingkan antara hak dan batil, baik dan buruk, cahaya dan kegelapan, dan antara Tuhan yang patut disembah dan yang tidak :

“Adakah Allah yang menciptakan semuanya itu sama seperti makhluk-makhluk yang tidak menciptakan sesuatu?” (QS.An-Nahl: 17)

Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah." Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?." Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa."  (QS.Ar-Ra’d: 16).


SERAT WEDHATAMA KE-2

Sambungan dari SERAT WEDHATAMA KE-1


83




Mangka kanthining tumuwuh,


Salami mung awas eling,


Eling lukitaning alam,


Dadi wiryaning dumadi,


Supadi nir ing sangsaya,


Yeku pangreksaning urip.




Padahal bekal hidup,


selamanya waspada dan ingat,


Ingat akan pertanda yang ada


di alam ini,


Menjadi kekuatannya asal-usul, supaya lepas dari sengsara.


Begitulah memelihara hidup.


84




Marma den taberi kulup,


Anglung lantiping ati,


Rina wengi den anedya,


Pandak panduking pambudi,


Bengkas kahardaning driya,


Supaya dadya utami.`




Maka rajinlah anak-anakku,


Belajar menajamkan hati,


Siang malam berusaha,


merasuk ke dalam sanubari,


melenyapkan nafsu pribadi,


Agar menjadi (manusia) utama.


85




Pangasahe sepi samun,


Aywa esah ing salami,


Samangsa wis kawistara,


Lalandhepe mingis mingis,


Pasah wukir reksamuka,


Kekes srabedaning budi.




Mengasahnya di alam sepi (semedi),


Jangan berhenti selamanya,


Apabila sudah kelihatan,


tajamnya luar biasa,


mampu mengiris gunung penghalang,


Lenyap semua penghalang budi.


86




Dene awas tegesipun,


Weruh warananing urip,


Miwah wisesaning tunggal,


Kang atunggil rina wengi,


Kang mukitan ing sakarsa,


Gumelar ngalam sakalir.




Awas itu artinya,


tahu penghalang kehidupan,


serta kekuasaan yang tunggal,


yang bersatu siang malam,


Yang mengabulkan segala kehendak,


terhampar alam semesta.


87




Aywa sembrana ing kalbu,


Wawasen wuwus sireki,


Ing kono yekti karasa,


Dudu ucape pribadi,


Marma den sembadeng sedya,


Wewesen praptaning uwis.




Hati jangan lengah,


Waspadailah kata-katamu,


Di situ tentu terasa,


bukan ucapan pribadi,


Maka tanggungjawablah, perhatikan semuanya sampai tuntas.


88




Sirnakna semanging kalbu,


Den waspada ing pangeksi,


Yeku dalaning kasidan,


Sinuda saka sethithik,


Pamothahing nafsu hawa,


Linalantih mamrih titih.




Sirnakan keraguan hati,


waspadalah terhadap pandanganmu,


Itulah caranya berhasil,


Kurangilah sedikit demi sedikit godaan hawa nafsu,


Latihlah agar terlatih.


89




Aywa mematuh nalutuh,


Tanpa tuwas tanpa kasil,


Kasalibuk ing srabeda,


Marma dipun ngati-ati,


Urip keh rencananira,


Sambekala den kaliling.




Jangan terbiasa berbuat aib,


Tiada guna tiada hasil,


terjerat oleh aral,


Maka berhati-hatilah,


Hidup ini banyak rintangan,


Godaan harus dicermati.


90




Umpamane wong lumaku,


Marga gawat den liwati,


Lamun kurang ing pangarah,


Sayekti karendhet ing ri.


Apese kasandhung padhas,


Babak bundhas anemahi.




Seumpama orang berjalan,


Jalan berbahaya dilalui,


Apabila kurang perhitungan,


Tentulah tertusuk duri,


celakanya terantuk batu,


Akhirnya penuh luka.


91




Lumrah bae yen kadyeku,


Atetamba yen wus bucik,


Duweya kawruh sabodhag,


Yen tan nartani ing kapti,


Dadi kawruhe kinarya,


Ngupaya kasil lan melik.




Lumrahnya jika seperti itu,


Berobat setelah terluka,


Biarpun punya ilmu segudang,


bila tak sesuai tujuannya,


ilmunya hanya dipakai mencari nafkah dan pamrih.


92




Meloke yen arsa muluk,


Muluk ujare lir wali,


Wola wali nora nyata,


Anggepe pandhita luwih,


Kaluwihane tan ana,


Kabeh tandha tandha sepi.




Baru kelihatan jika keinginannya muluk-muluk,


Muluk-muluk bicaranya seperti wali,


Berkali-kali tak terbukti,


merasa diri pandita istimewa,


Kelebihannya tak ada,


Semua bukti sepi.


93




Kawruhe mung ana wuwus,


Wuwuse gumaib gaib,


Kasliring thithik tan kena,


Mancereng alise gathik,


Apa pandhita antiga,


Kang mangkono iku kaki,




Ilmunya sebatas mulut,


Kata-katanya di gaib-gaibkan,


Dibantah sedikit saja tidak mau, mata membelalak alisnya menjadi satu,


Apakah yang seperti itu pandita palsu,..anakku ?


94




Mangka ta kang aran laku,


Lakune ngelmu sejati,


Tan dahwen pati openan,


Tan panasten nora jail,


Tan njurungi ing kahardan,


Amung eneng mamrih ening.




Padahal yang disebut “laku”,


sarat menjalankan ilmu sejati tidak suka omong kosong dan tidak suka memanfaatkan hal-hal sepele yang bukan haknya,


Tidak iri hati dan jail,


Tidak melampiaskan hawa nafsu. Sebaliknya, bersikap tenang agar menggapai keheningan jiwa.


95




Kaunanging budi luhung,


Bangkit ajur ajer kaki,


Yen mangkono bakal cikal,


Thukul wijining utami,


Nadyan bener kawruhira,


Yen ana kang nyulayani.




Luhurnya budipekerti,


pandai beradaptasi, anakku !


Demikian itulah awal mula,


tumbuhnya benih keutamaan,


Walaupun benar ilmumu,


bila ada yang mempersoalkan..


96




Tur kang nyulayani iku,


Wus wruh yen kawruhe nempil,


Nanging laire angalah,


Katingala angemori,


Mung ngenaki tyasing liyan,


Aywa esak aywa serik.




Walau orang yang mempersoalkan itu, sudah diketahui ilmunya dangkal,


tetapi secara lahir kita mengalah,


berkesanlah persuasif,


sekedar menggembirakan hati orang lain.


Jangan sakit hati dan dendam.


97




Yeku ilapating wahyu,


Yen yuwana ing salami,


Marga wimbuh ing nugraha,


Saking heb Kang mahasuci,


Cinancang pucuking cipta,


Nora ucul ucul kaki.




Begitulah sarat turunnya wahyu,


Bila teguh selamanya,


dapat bertambah anugrahnya,


dari sabda Tuhan Mahasuci,


terikat di ujung cipta,


tiada terlepas-lepas anakku.


98




Mangkono ingkang tinamtu,


Tampa nugrahaning Widhi,


Marma ta kulup den bisa,


Mbusuki ujaring janmi,


Pakoleh lair batinnya,


Iyeku budi premati.




Begitulah yang digariskan,


Untuk mendapat anugrah Tuhan.


Maka dari itu anakku,


sebisanya, kalian pura-pura menjadi orang bodoh terhadap perkataan orang lain,


nyaman lahir batinnya,


yakni budi yang baik.


99




Pantes tinulat tinurut,


Laladane mrih utami,


Utama kembanging mulya,


Kamulyan jiwa dhiri,


Ora ta yen ngeplekana,


Lir leluhur nguni-uni.




Pantas menjadi suri tauladan yang ditiru,


Wahana agar hidup mulia,


kemuliaan jiwa raga.


Walaupun tidak persis, seperti nenek moyang dahulu.


100




Ananging ta kudu kudu,


Sakadarira pribadi,


Aywa tinggal tutuladan,


Lamun tan mangkono kaki,


Yekti tuna ing tumitah,


Poma kaestokna kaki.




Tetapi harus giat berupaya, sesuai kemampuan diri,


Jangan melupakan suri tauladan,


Bila tak berbuat demikian itu anakku,


pasti merugi sebagai manusia.


Maka lakukanlah anakku !



Semua Manusia akan rusak,kecuali yang Berilmu... Orang yang berilmu pun akan rusak ,kecuali orang yang beramal... Orang yang beramal juga akan rusak ,kecuali orang yang Ikhlas (Imam Al-Ghozali)