content top



Tampilkan postingan dengan label NAFSU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NAFSU. Tampilkan semua postingan

MARHABAN YAA RAMADHAN



Marhaban Yaa Ramadhan
Kini saatnya telah tiba
Melatih diri untuk kesucian
Melebur segala perilaku dosa...

Jika harta akan menjadi DERITA
Maka ZAKAT-lah penawarnya
Jika HIDUP penuh dengan DOSA
Maka TOBAT-lah sebagai obatnya...

Jika BULAN yang lalu penuh NODA
Maka RAMADHAN-lah sebagai pemutihnya
Sebelum pintu taubat ditutup
Sebelum ajal datang menjemput
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN......

MANUSIA DIWAJIBKAN UNTUK BERPIKIR


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Manusia adalah makhluk yang sempurna karena diberi anugerah kelebihan untuk berfikir terhadap segala yang ada di alam sebagai wujud dalam kehidupan. Aktifitas berfikir sebagai karakter utama manusia mendapat perhatian yang istimewa dalam al-Qur’an. Akal yang merupakan alat untuk berfikir disebutkan al-Qur’an sebanyak 49 kali, yang semuanya dalam bentuk kata kerja (fi’il) dan tidak satupun kata akal (‘aql) digunakan dalam bentuk kata benda (isim) . 

Hal ini mengisyaratkan bahwa akal adalah sebuah proses berfikir yang berkesinambungan tanpa henti,sebab  akal tidak akan memiliki makna kalau tidak digunakan. 
Alat untuk berfikir di dalam al-Qur’an juga disebut sebagai al-qalb, al-fu’ad, al-nuha, al-hijr, al-hilm dan al-lubb. 

Dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat-ayat yang menyerukan pentingnya proses berfikir bagi setiap manusia. Ayat-ayat ini dapat dikategorikan sebagai berikut:

1. Ayat-ayat yang menyerukan berfikir dan penggunaan akal sebagai kekuatan alami yang dimiliki manusia. Di antaranya adalah: 

"Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahaminya(menggunakan akal)." (QS.An-Nahl:12)
Ayat-ayat seperti ini juga dapat di lihat di Surat Al-Baqarah: 164,  Ar-Ra’d: 4,  An-Nahl: 64  dan  Ar-Rum: 24. 

Semua ayat-ayat tersebut di atas diakhiri dengan pernyataan “bagi kaum yang mau menggunakan akal” (li qaumin ya’qilun) sebagai penekanan terhadap sesuatu yang secara alami merupakan suatu keharusan untuk difikirkan dan difahami, yaitu suatu keharusan untuk memikirkan dan memaharni semua fenomena kejadian di alam raya ini. 


2. Ayat-ayat al-Qur’an yang ditujukan khusus kepada para Uli al-bab, intellektual, dan mereka yang memiliki kemampuan berfikir secara sempurna. Orang-orang ini disebut dalam al-Qur ‘an sebanyak 16 kali, yang semuanya berirama pujian dan penghormatan, hal ini karena mereka menurut al-Qur’an adalah orang orang yang memiliki tingkatan yang tinggi di dalam berfikir. Diantara ayat-ayat ini adalah firman Allah yang maksudnya: 

“Maka adakah orang yang mengetahui bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dan Tuhanmu itu (wahai Muhammad) perkara yang benar, sama dengan orang yang buta matahatinya? Sesungguhnya orang-orang yang mau memikirkan hal itu hanyalah orang-orang yang berakal sempurna (uli al-bab).” (QS.Ar-Ra’d: 19).


3. Ayat-ayat yang mencela dan menghardik orang orang yang tidak mau berfikir. Untuk mencela orang-orang yang tidak berfikir dan tidak menggunakan akal al-Qur’an banyak menggunakan tanda tanya yang bersifat negatif seperti: 
Apakah kamu tidak menggunakan akal fikiran (afala ta’qilun)? 
Apakah kamu tidak berfikir (afala tatafakkarun?) 
Apakah kamu tidak melihat (afala tubsirun)? 
Apakah kamu tidak ingat (afala tadzakkarun)? 
Apakah mereka tidak mendalami (afala tadabbarun)? 

Ayat-ayat yang berkaitan dengan tanda tanya ini, banyak menyuruh manusia untuk membedakan antara baik dan buruk, jahat dan mulia dan untuk menimbang dan memilih antara kelezatan kehidupan dunia dan akhirat kelak. Seperti firman Allah yang maksudnya: 

“Jijik perasaanku terhadap kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Maka mengapa kamu tidak mau menggunakan akal fikiran kamu?” (QS.Al-Anbiya’: 67). 

Dalarn banyak ayat Allah mensifatkan orang-orang yang tidak berfikir sama dengan binatang dan bahkan lebih hina daripada binatang, hal ini karena binatang memang sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk berfikir, sedangkan manusia sudah diberi alat untuk berfikir namun mereka tidak menggunakannya dengan sempurna. 

Kasus ini dapat dilihat dalam firman Allah: 

“Sesungguhnya sejahat-jahat makhluk yang melata, pada sisi (hukum dan ketetapan) Allah, ialah orang-orang yang pekak lagi bisu, yang tidak mau memahami sesuatupun (dengan akal fikirannya).” (QS.Al-Anfâl: 22) ....terdapat juga  didalam Surat al-Furqan: 44.


4. Ayat-ayat yang berkaitan dengan kewajiban manusia untuk melihat, meneliti, mengingat, memahami yang semuanya merupakan proses berfikir terhadap semua fenomena  kehidupan dalam berbagai istilah seperti berikut:

a) Kata-kata yang berasal dari fa-ka-ra yang berarti berfikir terdapat dalam 16 ayat. Semua ayat-ayat ini menyerukan manusia untuk berfikir tentang semua fenomena wujud, baik alam raya maupun diri manusia sendiri: 

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir” (QS.Al-Jathiyah: 13). 

Kata ‘berfikir’ dalam ayat ini merupakan hal yang sangat penting, dimana kalau Allah telah menghamparkan dan menundukkan untuk manusia alam raya ini maka pada saat yang sama manusia tidak boleh bersikap acuh dan pasif tapi harus mengambil posisi aktif dan dinamis. Kedinamisan ini diwujudkan dalarn bentuk menela'ah, melakukan eksperimen dan  memanfaatkan alam bagi kebaikan kehidupan umat manusia. 

Pengendalian dan pemanfaatan segala apa yang terhampar di alam raya ini harus dengan studi dan penelitian. Pandangan yang sedemikian ini terhadap objek alam raya, langit dan bumi akan dapat meningkatkan kehidupan material, dan dalam waktu yang sama dapat meningkatkan kehidupan spiritual, seperti apa yang ditegaskan oleh al-Qur’an: 

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? ” (QS.Al-Fushshilat: 53).


b) Kata-kata yang berasal dari na-dla-ra yang maknanya melihat terdapat dalam 129 ayat, ada yang bermakna melihat dengan mata secara biasa, tapi secara umum memberi makna melihat dengan akal fikiran, seperti: 

“(Setelah mengetahui yang demikian), maka hendaklah manusia memperhatikan (memikirkan): dari apakah ia diciptakan.” (QS.At-Thaariq: 5). Ayat yang sama juga terdapat  di Surat ‘Abasa: 24,  Al-A’raf: 185.


c) Kata-kata yang berasal dari ba-sha-ra yang secara bahasa bermakna melihat dengan mata, maksudnya meneliti dan menggunakan akal secara rasional terhadap semua fenomena kehidupan yang tampak secara empiris/nyata di depan mata. 

 “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahanam banyak dari jin dan manusia yang mempunyai hati (tetapi) tidak mau memahami dengannya (ayat-ayat Allah), dan yang mempunyai mata (tetapi) tidak mau melihat dengannya (bukti keesaan Allah) dan yang mempunyai telinga (tetapi) tidak mau mendengar dengannya (ajaran dan nasihat); mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi; mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS.Al-A’raf: 179) 
Ayat yang sama juga terdapat di surat Al-Dzariyat:21, Al-Sajdah: 28.


d). Kata-kata yang berasal dari dab-ba-ra yang secara bahasa bermakna memahami, terdapat dalam 4 ayat yang semuanya berkaitan dengan pemahaman terhadap al-Quran, yang memberi perintah terhadap kita untuk memahami dengan teliti dan meinikirkan rahasia-rahasia dan keajaiban kandungan didalamnya, seperti: 

“(Al-Quran ini) sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu (dan umatmu wahai Muhammad), Kitab yang banyak faedah-faedah dan manfaatnya, untuk mereka yang memahami dengan teliti kandungan ayat-ayatnya, dan untuk orang-orang yang berakal(berfikir).” (QS.Shaad: 29). Ayat yang lainnya terdapat dalam Surat An-Nisa’: 82,  Al-Mu’minun: 68 dan  Surat Muhammad: 24.


e) Kata-kata fa-qi-ha di dalam al-Qur’an bermakna mendalami, dan fa-qi-ha termasuk proses berfikir yang tinggi. Akar kata fa-qi-ha terdapat dalam 20 ayat, dan diantaranya adalah: 

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS.Al-A’raf : 179).


f) Ayat-ayat yang menyerukan manusia untuk mengambil iktibar/pelajaran baik dari peristiwa sejarah dan pengalaman kehidupan manusia maupun dari peristiwa alam: 

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ” (QS.Yusuf: 111). Ayat-ayat yang lain terdapat dalam Surah al-Hashr: 2, Ali-‘Imran: 13, dan  An-Nur: 43-44.


g) Ayat-ayat yang menyerukan manusia untuk mengingat (tadzakkur). Dalam psykologi, mengingat adalah juga merupakan proses yang penting, dan karena itulah al-Qur’an banyak mengkaitkan proses ini dengan para ulil albab (intellektual), seperti firman Allah yang maksudnya: 

Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. ” (QS.Az-Zumar: 9)


Al-Qur’an memberikan contoh metode berfikir secara ilmiah dan methodologis. 

Diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Metode sejarah: 
Terhadap sejarah, sebagai salah satu sumber pengetahuan manusia, al-Qur’an telah memperhatikan secara serius dengan membicarakan kembali keadaan dan pengalaman umat manusia di masa lalu, dan menyuruh setiap manusia untuk melihat dan menemukan hukun-hukum (sunnatullah) yang terdapat di dalam setiap peristiwa dan perubahan sejarah manusia: 

“ Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah. Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS.Ali Imran: 137). 

Demikian juga Al-Qur’an telah memperhatikan pentingnya memastikan secara kritis dan objektif terhadap kebenaran setiap berita dan data-data sejarah: 

“Hai orang-orang yang berman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti.” (QS.Al-Hujurat: 6). 

Dan Al-Qur’an telah meletakkan dasar yang paling utama dalam kritik sejarah, dimana ia telah meletakkan etika penyampaian berita sebagai faktor yang paling dominan untuk menilai kandungan sebuah berita. Orang-orang Islam telah menerapkan prinsip ini dalam periwayatan hadith Nabi. 

Prinsip kritik yang telah diterapkan oleh para perawi hadith inilah yang kemudian menjadi prinsip dasar dalam metode penelitian sejarah.


2) Metode silogisme: 
Metode ini termasuk cabang ilnu mantik (logika Aristoteles), yaitu metode berfikir untuk menetapkan keyakinan dalam keputusan atau hasil dari dua mukadimah.(Premis dan Silogis) 
Metode ini diisaratkan oleh al-Qur’an dalam kisah Iblis ketika menolak untuk bersujud kepada Adam:

Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?."
Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." (QS.Shaad: 75-76). 

Dalam peristiwa ini Iblis membuat silogisme sebagai berikut: Saya (Iblis) diciptakan daripada api, sedangkan Adam diciptakan daripada tanah (premis I). 
Api lebih baik daripada tanah (premis II), maka saya (Iblis) lebih baik daripada Adam (keputusan) . 
Karena silogisme ini Iblis menolak untuk bersujud pada Adam. Dalam silogisme, untuk mendapatkan keputusan yang benar premis pertama dan kedua harus betul dan ilmiah. 
Struktur silogisme yang digunakan Iblis ini memang betul tetapi tidak ilmiah, karena premis yang dia bangun bersifat subjektif dan masih dapat ditolak. 
Bagi Iblis api lebih baik dan tanah, tapi bagi manusia tanah lebih baik dan lebih bermanfaat daripada api, dan dengan demikian dalam perspektif manusia Adam lebih baik daripada Iblis.


3) Metode qiyas (analogical deducation): 
Metode ini digunakan dalan Ushul Fiqh. Ayat al-Qur’an yang mengisyaratkan metode ini adalah: 

“…maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang berakal. ” (QS.Al-Hashyr: 2). 

Dalam ayat ini Allah menceritakan apa yang telah terjadi pada Bani Nadhir, dimana mereka ditimpa azab yang pedih di dunia akibat dari kekafiran, pelanggaran perjanjian dan tipu muslihat nereka kepada Rasul dan Kaum Mukinin. Kemudian Allah memberi pernyataan: “..Maka ambilah iktibar/pelajaran wahai orang-orang yang berakal.” 

Maknanya wahai orang-orang yang berakal ambilah iktibar terhadap apa yang menimpa mereka dan sebab-sebab mengapa mereka ditimpa bencana tersebut, kemudian berusahalah untuk tidak melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan, sehingga kamu tidak ditimpa bencana seperti mereka, kamu semua adalah manusia-manusia seperti mereka, dan apa yang terjadi pada mereka bisa juga terjadi pada kamu sekalian jika terdapat alasan/ sebab (‘illah) yang sama. 

Qiyas dalam Ushul Fiqh berbeda dengan Silogisme. Dalam Usul Fiqh, Qiyas tidak harus memiliki dua premis seperti dalam Silogisme, sebagai contoh praktikal, Rasulullah menentukan: 
Seorang pembunuh tidak boleh menerima warisan dari orang yang dia bunuh. Secara analogi seorang pembunuh juga tidak boleh menerima bagian wasiat dari orang yang dia bunuh. Atau contoh lain: 

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS.Al-Isra’: 23).
Secara analogi seseorang benar-benar dilarang untuk memarahi apalagi memukul kedua orang tuanya.

4) Metode induksi:
Induksi adalah metode berfikir untuk mendapatkan kesimpulan dan hukum tertentu dari hal atau fenomena yang umum. Metode ini adalah metode empirik yang menekankan pada penelitian secara mendalam dan terus-menerus terhadap suatu objek untuk mendapatkan kaedah-kaedah atau hukum-hukum tertentu.
Dalam al-Qur’an proses ini diawali dengan penelitian terhadap bagian-bagian dari alam raya ini, Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk mengkaji dan meneliti secara mendalam tentang hubungan dan pengaruh suatu objek terhadap objek yang lain.

“Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS.Yunus: 101).

"Tidakkah mereka memperhatikan keadaan unta bagaimana ia diciptakan? Dan keadaan langit bagaimana ia ditinggikan binaannya.? Dan keadaan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan keadaan bumi bagaimana ia dihamparkan?" (QS.Al-Ghasyiyah: 17-20).

“Dan Dialah (Allah) yang menghantarkan angin sebagai pembawa berita yang mengembirakan sebelum kedatangan rahmatnya (yaitu hujan), hingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halaukan dia ke negeri yang mati (ke daerah yang kering), lalu Kami turunkan hujan dengan awan itu, kemudian Kami keluarkan dengan air hujan itu berbagai-bagai jenis buah-buahan.” (QS.Al-A’raf: 57).

Dan proses-proses inilah kemudian manusia dapat menyingkap kaidah-kaidah, hukum-hukum dan teori-teori tertentu tentang alam.


5) Metode perbandingan:
Al-Qur’an banyak menggunakan metode ini, dengan maksud membandingkan antara hak dan batil, baik dan buruk, cahaya dan kegelapan, dan antara Tuhan yang patut disembah dan yang tidak :

“Adakah Allah yang menciptakan semuanya itu sama seperti makhluk-makhluk yang tidak menciptakan sesuatu?” (QS.An-Nahl: 17)

Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah." Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?." Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa."  (QS.Ar-Ra’d: 16).


Slide Show Album Gambar



Dibawah ini merupakan Album gambar yang berisi ayat-ayat dan hadist,serta makna yang terkandung dibalik setiap gambar.
Semoga bermanfaat dan dapat memberi ilham bagi anda yang mau berpikir........



DAWAI KERINDUAN











Duhai dimalam nan hening 
 Mengalun semai nada menggugah jiwa 
Nada itu adalah firman-Nya 
Yang begitu indah dan menenteramkan hati gersang 

 Kegersangan hati akan mulai bersemi  
Oleh kumandang senandung indah penggugah jiwa  
Harapan tertanam dalam desiran resah diri 
 Agar senandungnya selalu menyatu dalam jiwa raga 

Bilakah kerinduan hati selalu ada 
Kepada Ilahi dan Rasul-Nya 
Yang selalu terpaut dalam sukma 
Maka itu adalah azam yang tiada tara 

Bathin bergema dalam jeritan memohon ampunan Ilahi 
Terhadap titik-titik noda dan buih-buih cinta dunia 
Yang membawa diri hanyut dalam derai derita jiwa 
Yang selalu berkepanjangan tiada puasnya.... 

Ingin rasa menghapus noda hitam dalam qalbu 
Mengubahnya menjadi qalbu yang bening dan penuh cinta 
Namun kadangkala deburan ombak dunia kian menderu 
Membuat jiwa raga lemah tak berdaya.......  

Yaa Rabbi...... 
Bimbing diri ini menuju cinta-Mu 
Menggapai mahligai mahabbah Rasul-Mu 
Jadikan getah getar kidung ini terpatri 
Dalam diri siapapun yang mampu menepiskannya 
Dalam ukiran emas didalam qalbu  

Yaa Rabbi...... 
Ingin kami memiliki rasa rindu tak terperih akan cinta-Mu 
Rindu yang menghanyutkan qalbu untuk selalu mengingat-Mu... 

Bilakah rindu ini berlabuh dalam lautan kasih-Mu 
Rindu yang membawa damai oleh kemiskinan duniawi... 

Bilakah rindu ini selalu terpuaskan oleh kemurahan-Mu 
Dikala kemewahan dunia dalam genggaman tangan ini 
.............................................................................................. 





SYAIR ALAM


Tampak Gunung-gunung berjajar
Hamparan Pasir seperti terukir
Menapaki jalan semu dalam angan
Melihat kejadian yang prihatin


Terlanjur terbawa hawa alam
Pandangan kelangit tiada penghalang
Cahaya lembayung begitu jelas
Menyinari kesegala penjuru


Terangnya menembus alam pikir
Berselimir angin lirih
Menerpa bunga yang mekar
Memberi penghibur duka lara


Bak tekad tuk berbakti
Meminta pengajaran pada sang alam
Ciri suatu diri sejati
Sebuah sifat asli tidak direka-reka


Pengaruh diri menapaki perjalanan
Menyembah pada sang pemberi mu'zizat
Dibawah kaki gunung kehidupan
Terdapat sunatullah yang resmi tak tergugat


Seperti karang yang bertapa
Dalam diam kekhusyu'an
Tak tergoyah selalu ingat
Mengalir dihati sifat kerahayuan


Menjunjung tinggi kemulyaan
Untuk jalan keselamatan
Memuji pada sejatinya diri
Terhampar pada kenyataan rasa


Membunuh sifatnya napsu
Menyatu rasa tunggal pada pemilik sifat
Ikhlas pada kenyataan yang terjadi
Tidak tertarik pada cinta dunia
Dan tidak pula pada kecantikan didalamnya


Hanyalah bertauhid pada penciptanya
Merasakan kesejatian didalam dirinya
Tersibak dalam sifat kelemahan
Tiada lagi daya dan kekuatan
Selain hanya pada sang pemberi kehidupan
..........................................................................



SERAT WEDHATAMA KE-1




1.Mingkar mingkuring angkara, Akarana karanan mardi siwi, Sinawung resmining kidung, Sinuba sinukarta, Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung, Kang tumrap neng tanah Jawa, Agama ageming aji.

Meredam nafsu angkara dalam diri, Hendak berkenan mendidik putra-putri, Tersirat dalam indahnya tembang, dihias penuh variasi, agar menjiwai hakekat ilmu luhur, yang berlangsung di tanah Jawa (nusantara), agama sebagai “pakaian” kehidupan.


2.Jinejer neng Wedatama, Mrih tan kemba kembenganing pambudi, Mangka nadyan tuwa pikun, Yen tan mikani rasa, yekti sepi asepa lir sepah, samun, Samangsane pasamuan, Gonyak ganyuk nglilingsemi.

Disajikan dalam serat Wedhatama, agar jangan miskin pengetahuan, walaupun sudah tua pikun, jika tidak memahami rasa sejati (batin), niscaya kosong tiada berguna, bagai ampas, percuma sia-sia, di dalam setiap pergaulan, sering bertindak ceroboh memalukan.


3.Nggugu karsaning priyangga, Nora nganggo peparah lamun angling, Lumuh ing ngaran balilu, Uger guru aleman, Nanging janma ingkang wus waspadeng semu, Sinamun ing samudana, Sesadon ingadu manis.

Mengikuti kemauan sendiri, Bila berkata tanpa dipertimbangkan (asal bunyi), Namun tak mau dianggap bodoh, Selalu berharap dipuji-puji. (sebaliknya) Ciri orang yang sudah memahami (ilmu sejati) tak bisa ditebak, berwatak rendah hati, selalu berprasangka baik.


4.Si pengung nora nglegawa, Sangsayarda deniro cacariwis, Ngandhar-andhar angendhukur, Kandhane nora kaprah, saya elok alangka longkanganipun, Si wasis waskitha ngalah, Ngalingi marang si pingging.

(sementara) Si dungu tidak menyadari, Bualannya semakin menjadi jadi, ngelantur bicara yang tidak-tidak, Bicaranya tidak masuk akal, makin aneh tak ada jedanya.
Lain halnya, Si Pandai cermat dan mengalah, Menutupi aib si bodoh.


5.Mangkono ngelmu kang nyata, Sanyatane mung weh reseping ati, Bungah ingaran cubluk, Sukeng tyas yen denina, Nora kaya si punggung anggung gumrunggung, Ugungan sadina dina, Aja mangkono wong urip.

Demikianlah ilmu yang nyata, Senyatanya memberikan ketentraman hati, Tidak merana dibilang bodoh, Tetap gembira jika dihina, Tidak seperti si dungu yang selalu sombong, Ingin dipuji setiap hari. Janganlah begitu caranya orang hidup.


6.Urip sepisan rusak, Nora mulur nalare ting saluwir, Kadi ta guwa kang sirung, Sinerang ing maruta, Gumarenggeng anggereng. Anggung gumrunggung, Pindha padhane si mudha, Prandene paksa kumaki.

Hidup sekali saja berantakan, Tidak berkembang, pola pikirnya carut marut. Umpama goa gelap menyeramkan, Dihembus angin, Suaranya gemuruh menggeram, berdengung. Seperti halnya watak anak muda, masih pula berlagak congkak.


7.Kikisane mung sapala, Palayune ngendelken yayah wibi, Bangkit tur bangsaning luhur, Lha iya ingkang rama, Balik sira sarawungan bae durung, Mring atining tata krama, Nggon anggon agama suci.

Tujuan hidupnya begitu rendah, Maunya mengandalkan orang tuanya, Yang terpandang serta bangsawan, Itu kan ayahmu !
Sedangkan kamu kenal saja belum, akan hakikatnya tata krama, dalam ajaran yang suci.


8.Socaning jiwangganira, Jer katara lamun pocapan pasthi, Lumuh asor kudu unggul,
Semengah sesongaran, Yen mangkono keno ingaran katungkul, Karem ing reh kaprawiran, Nora enak iku kaki.

Cerminan dari dalam jiwa raga mu, Nampak jelas walau tutur kata halus, Sifat pantang kalah maunya menang sendiri, Sombong besar mulut, Bila demikian itu, disebut orang yang terlena, Puas diri berlagak tinggi, Tidak baik itu nak !


9.Kekerane ngelmu karang, Kekarangan saking bangsaning gaib, Iku boreh paminipun, Tan rumasuk ing jasad, Amung aneng sajabaning daging kulup, Yen kapengok pancabaya, Ubayane mbalenjani.

Di dalam ilmu yang dikarang-karang (sihir/rekayasa),Rekayasa dari hal-hal gaib, Itu umpama bedak. Tidak meresap ke dalam jasad, Hanya ada di kulitnya saja nak, Bila terbentur marabahaya, bisanya menghindari.


10.Marma ing sabisa-bisa,Bebasane muriha tyas basuki,Puruita-a kang patut,Lan traping angganira, Ana uga angger ugering kaprabun, Abon aboning panembah, Kang kambah ing siyang ratri.

Karena itu sebisa-bisanya,Upayakan selalu berhati baik, Bergurulah secara tepat, Yang sesuai dengan dirimu, Ada juga peraturan dan pedoman bernegara, Menjadi syarat bagi yang berbakti, yang berlaku siang malam.


11.Iku kaki takok-eno, marang para sarjana kang martapi, Mring tapaking tepa tulus, Kawawa nahen hawa, Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu, Tan mesthi neng janma wredha, Tuwin mudha sudra kaki.

Itulah nak, tanyakan,Kepada para sarjana yang menimba ilmu,Kepada jejak hidup para suri tauladan yang benar,dapat menahan hawa nafsu,Pengetahuanmu adalah senyatanya ilmu,Yang tidak harus dikuasai orang tua, Bisa juga bagi yang muda atau miskin, nak !


12.Sapantuk wahyuning Gusti Allah,Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit,Bangkit mikat reh mangukut,Kukutaning jiwangga,Yen mengkono kena sinebut wong sepuh, Lire sepuh sepi hawa,Awas roroning atunggil, Siapapun yang menerima wahyu Tuhan,
Dengan cermat mencerna ilmu tinggi, Mampu menguasai ilmu kasampurnan, Kesempurnaan jiwa raga, Bila demikian pantas disebut “orang tua”.
Arti “orang tua” adalah tidak dikuasai hawa nafsu, Paham akan dwi tunggal (menyatunya sukma dengan Tuhan).


13.Tan samar pamoring sukma, Sinuksmaya winahya ing ngasepi,Sinimpen telenging kalbu,Pambukaning warana,Tarlen saking liyep layaping aluyup,Pindha pesating sumpena, Sumusuping rasa jati.

Tidak lah samar sukma menyatu,meresap terpatri dalam keheningan semadi, Diendapkan dalam lubuk hati, menjadi pembuka tabir, berawal dari keadaan antara sadar dan tiada, Seperti terlepasnya mimpi, Merasuknya rasa yang sejati.


14.Sejatine kang mangkana, Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi, Bali alaming ngasuwung, Tan karem arameyan, Ingkang sipat wisesa winisesa wus, Mulih mula ulanira. Mulane wong anom sami.

Sebenarnya ke-ada-an itu merupakan anugrah Tuhan,Kembali ke alam yang mengosongkan,tidak mengumbar nafsu duniawi, yang bersifat kuasa menguasai. Kembali ke asal muasalmu, Oleh karena itu, wahai anak muda sekalian…


(lanjut ke SINOM)

SINOM (Sembah Cipta/Kalbu/Tarekat)


15.Nulada laku utama,Tumrape wong Tanah jawi,Wong agung ing Ngeksiganda, Panembahan Senopati, Kepati amarsudi, Sudane hawa lan nepsu, Pinepsu tapa brata,
Tanapi ing siyang ratri, Amamangun karyenak tyasing sesama.

Contohlah perilaku utama,bagi kalangan orang Jawa (Nusantara),orang besar dari Ngeksiganda (Mataram),Panembahan Senopati,yang tekun, mengurangi hawa nafsu, dengan jalan prihatin (bertapa), serta siang malam selalu berkarya membuat hati tenteram bagi sesama (kasih sayang).


16.Samangsane pasamuan, mamangun marta martani,Sinambi ing saben mangsa, Kala kalaning asepi,Lelana teki-teki,Nggayuh geyonganing kayun, Kayungyun eninging tyas, Sanityasa pinrihatin, Puguh panggah cegah dhahar lawan nendra.

Dalam setiap pergaulan,membangun sikap tahu diri. Setiap ada kesempatan,Di saat waktu longgar,mengembara untuk bertapa,menggapai cita-cita hati,hanyut dalam keheningan kalbu.
Senantiasa menjaga hati untuk prihatin (menahan hawa nafsu),dengan tekad kuat, membatasi makan dan tidur.


17.Saben mendra saking wisma,Lelana lalading sepi,Ngingsep sepuhing supana,Mrih pana pranaweng kapti,Tis tising tyas marsudi,Mardawaning budya tulus,Mesu reh kasudarman,Neng tepining jalanidhi,Sruning brata kataman wahyu dyatmika.

Setiap mengembara meninggalkan rumah (istana),berkelana ke tempat yang sunyi (dari hawa nafsu),menghirup tingginya ilmu,agar jelas apa yang menjadi tujuan (hidup) sejati. Hati bertekad selalu berusaha dengan tekun, memperdayakan akal budi ,menghayati cinta kasih, ditepinya samudra. Kuatnya bertapa diterimalah wahyu dyatmika (hidup yang sejati).


18.Wikan wengkoning samodra, Kederan wus den ideri,Kinemat kamot hing driya,Rinegan segegem dadi,Dumadya angratoni,Nenggih Kangjeng Ratu Kidul,Ndedel nggayuh nggegana,Umara marak maripih,Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda.

Memahami kekuasaan di dalam samodra seluruhnya sudah dijelajahi, “kesaktian” melimputi indera,Ibaratnya cukup satu genggaman saja sudah jadi, berhasil berkuasa,
Kangjeng Ratu Kidul, Naik menggapai awang-awang, (kemudian) datang menghadap dengan penuh hormat, kepada Wong Agung Ngeksigondo.


19.Dahat denira aminta,Sinupeket pangkat kanthi,Jroning alam palimunan, ing pasaban saben sepi,Sumanggem anyanggemi,Ing karsa kang wus tinamtu,Pamrihe mung aminta,Supangate teki-teki,Nora ketang teken janggut suku jaja.

Memohon dengan sangat lah beliau,agar diakui sebagai sahabat setia, di dalam alam gaib,tempatnya berkelana setiap sepi. Bersedialah menyanggupi, kehendak yang sudah digariskan. Harapannya hanyalah meminta restu dalam bertapa, Meski dengan susah payah.


20.Prajanjine abipraya,Saturun-turuning wuri,Mangkono trahing ngawirya, Yen amasah mesu budi, Dumadya glis dumugi, Iya ing sakarsanipun, Wong agung Ngeksiganda, Nugrahane prapteng mangkin, Trah tumerah dharahe padha wibawa.
Perjanjian sangat mulia,untuk seluruh keturunannya di kelak kemudian hari. Begitulah seluruh keturunan orang luhur, bila mau mengasah akal budi akan cepat berhasil, apa yang diharapkan orang besar Mataram, anugerahnya hingga kelak dapat mengalir di seluruh darah keturunannya, dapat memiliki wibawa.


21.Ambawani tanah Jawa,Kang padha jumeneng aji,Satriya dibya sumbaga, Tan lyan trahing Senopati,Pan iku pantes ugi, Tinelad labetipun, Ing sakuwasanira, Enake lan jaman mangkin, Sayektine tan bisa ngepleki kuna.

Menguasai tanah Jawa (Nusantara),yang menjadi raja (pemimpin),satria sakti tertermasyhur,tak lain keturunan Senopati,hal ini pantas pula sebagai tauladan budi pekertinya, Sebisamu, terapkan di zaman nanti, Walaupun tidak bisa persis sama seperti di masa silam.


22.Lowung kalamun tinimbang,Ngaurip tanpa prihatin,Nanging ta ing jaman mangkya,
Pra mudha kang den karemi, Manulad nelad nabi, Nayakengrat gusti rasul, Anggung ginawe umbag, Saben seba mampir masjid, Ngajab-ajab tibaning mukjijat drajat.

Mending bila dibanding orang hidup tanpa prihatin,namun di masa yang akan datang (masa kini),yang digemari anak muda,meniru-niru nabi, rasul utusan Tuhan,yang hanya dipakai untuk menyombongkan diri,setiap akan bekerja singgah dulu di masjid, Mengharap mukjizat agar mendapat derajat (naik pangkat).


23.Anggung anggubel sarengat,Saringane tan den wruhi,Dalil dalaning ijemak,Kiyase nora mikani,Ketungkul mungkul sami, Bengkrakan mring masjid agung, Kalamun maca kutbah, Lelagone Dandanggendis, Swara arum ngumandhang cengkok palaran.

Hanya memahami sariat (kulitnya) saja, sedangkan hakekatnya tidak dikuasai, Pengetahuan untuk memahami makna dan suri tauladan tidaklah mumpuni, Mereka lupa diri, (tidak sadar) bersikap berlebih-lebihan di masjid besar, Bila membaca khotbah, berirama gaya dandanggula (menghanyutkan hati), suara merdu bergema gaya palaran (lantang bertubi-tubi).


24.Lamun sira paksa nulad,Tuladhaning Kangjeng Nabi, O, ngger kadohan panjangkah,Wateke tan betah kaki, Rehne ta sira Jawi, Sathithik bae wus cukup, Aywa guru aleman, Nelad kas ngepleki pekih, Lamun pangkuh pangangkah yekti karahmat.

Jika kamu memaksa meniru,tingkah laku `Kanjeng Nabi, Oh, nak terlalu naif, Biasanya tak akan betah nak, Karena kamu itu orang Jawa, sedikit saja sudah cukup. Janganlah sekedar mencari sanjungan, Mencontoh-contoh mengikuti fiqih, apabila mampu, memang ada harapan mendapat rahmat.


25.Nanging enak ngupa boga, Reh ne ta tinitah langip, Apata suweting Nata, Tani tanapi agrami, Mangkono mungguh mami, Padune wong dahat cubluk, Durung wruh cara arab, Jawaku wae tan ngenting, Parandene paripaksa mulang putra.

Tetapi seyogyanya mencari nafkah,Karena diciptakan sebagai makhluk lemah, Apakah mau mengabdi kepada raja, Bercocok tanam atau berdagang, Begitulah menurut pemahamanku, Sebagai orang yang sangat bodoh, Belum paham cara Arab, Tata cara Jawa saja tidak mengerti, Namun memaksa diri mendidik anak.


26.Saking duk maksih taruna, Sadhela wus anglakoni,Aberag marang agama, Maguru anggering kaji, Sawadine tyas mami, Banget wedine ing mbesuk, Pranatan ngakir jaman, Tan tutug kaselak ngabdi, Nora kober sembahyang gya tinimbalan.

Dikarenakan waktu masih muda, Keburu menempuh belajar pada agama, Berguru menimba ilmu pada yang haji, maka yang terpendam dalam hatiku, menjadi sangat takut akan hari kemudian, Keadaan di akhir zaman, Tidak tuntas keburu “mengabdi” Tidak sempat sembahyang terlanjur dipanggil.


27.Marang ingkang asung pangan,Yen kesuwen den dukani,Abubrah kawur tyas ingwang,Lir kiyamat saben ari,Bot Allah apa Gusti,Tambuh tambuh solahingsun, Lawas lawas nggraita,Rehne ta suta priyayi, Yen mamriha dadi kaum temah nistha.

Kepada yang memberi makan, Jika kelamaan dimarahi, Menjadi kacau balau perasaanku, Seperti kiyamat saban hari, Berat “Allah” atau “Gusti”, Bimbanglah sikapku, Lama-lama berfikir, Karena anak turun priyayi, Bila ingin jadi juru doa (kaum) dapatlah nista.


28.Tuwin ketip suragama,Pan ingsun nora winaris,Angur baya ngantepana,Pranatan wajibing urip,Lampahan angluluri,Kuna kumunanira,Kongsi tumekeng samangkin.

Begitu pula jika aku menjadi pengurus dan juru dakwah agama.Karena aku bukanlah keturunannya,Lebih baik memegang teguh aturan dan kewajiban hidup, Menjalankan pedoman hidup warisan leluhur dari zaman dahulu kala hingga kelak kemudian hari. Ujungnya tidak lain hanyalah mencari nafkah.


29

Bonggan kan tan merlok-na,

Mungguh ugering ngaurip,

Uripe lan tri prakara,

Wirya arta tri winasis,

Kalamun kongsi sepi,

Saka wilangan tetelu,

Telas tilasing janma,

Aji godhong jati aking,

Temah papa papariman ngulandara.


Salahnya sendiri yang tidak mengerti,

Paugeran orang hidup itu demikian seyogyanya,

hidup dengan tiga perkara;

Keluhuran (kekuasaan), harta (kemakmuran), ketiga ilmu pengetahuan.

Bila tak satu pun dapat diraih dari ketiga perkara itu,

habis lah harga diri manusia.

Lebih berharga daun jati kering, akhirnya mendapatlah derita, jadi pengemis dan terlunta.


30

Kang wus waspadha ing patrap,

Manganyut ayat winasis,

Wasana wosing jiwangga,

Melok tanpa aling-aling,

Kang ngalingi kalingling,

Wenganing rasa tumlawung,

Keksi saliring jaman,

Angelangut tanpa tepi,

Yeku ingaran tapa tapaking Hyang Suksma.


Yang sudah paham tata caranya,

Menghayati ajaran utama,

Jika berhasil merasuk ke dalam jiwa,

akan melihat tanpa penghalang,

Yang menghalangi tersingkir,

Terbukalah rasa sayup menggema.

Tampaklah seluruh cakrawala,

Sepi tiada bertepi,

Yakni disebut “tapa tapaking Hyang Sukma”.


31

Mangkono janma utama,

Tuman tumanem ing sepi,

Ing saben rikala mangsa,

Masah amemasuh budi,

Laire anetepi,

Ing reh kasatriyanipun,

Susilo anor raga,

Wignya met tyasing sesami,

Yeku aran wong barek berag agama.


Demikianlah manusia utama,

Gemar terbenam dalam sepi (meredam nafsu),

Di saat-saat tertentu,

Mempertajam dan membersihkan budi,

Bermaksud memenuhi tugasnya sebagai satria,

berbuat susila rendah hati,

pandai menyejukkan hati pada sesama,

itulah sebenarnya yang disebut menghayati agama.


32

Ing jaman mengko pan ora,

Arahe para taruni,

Yen antuk tuduh kang nyata,

Nora pisan den lakoni,

Banjur njujurken kapti,

Kakekne arsa winuruk,

Ngandelken gurunira,

Panditane praja sidik,

Tur wus manggon pamucunge

Mring makripat


Di zaman kelak tiada demikian,

sikap anak muda bila mendapat petunjuk nyata,

tidak pernah dijalani,

Lalu hanya menuruti kehendaknya,

Kakeknya akan diajari,

dengan mengandalkan gurunya,

yang dianggap pandita negara yang pandai,

serta sudah menguasai makrifat.

PUCUNG (Sembah Jiwa/Hakekat)


33

Ngelmu iku

Kalakone kanthi laku

Lekase lawan kas

Tegese kas nyantosani

Setya budaya pangekese dur angkara


Ilmu (hakekat) itu

diraih dengan cara menghayati dalam setiap perbuatan,

dimulai dengan kemauan.

Artinya, kemauan membangun kesejahteraan terhadap sesama,

Teguh membudi daya

Menaklukkan semua angkara


34

Angkara gung

Neng angga anggung gumulung

Gegolonganira

Triloka lekeri kongsi

Yen den umbar ambabar dadi rubeda.


Nafsu angkara yang besar

ada di dalam diri, kuat menggumpal, menjangkau hingga tiga zaman, jika dibiarkan berkembang akan

berubah menjadi gangguan.


35

Beda lamun kang wus sengsem

Reh ngasamun

Semune ngaksama

Sasamane bangsa sisip

Sarwa sareh saking mardi martatama


Berbeda dengan yang sudah menyukai dan menjiwai,

Watak dan perilaku memaafkan

pada sesama

selalu sabar berusaha

menyejukkan suasana,


36

Taman limut

Durgameng tyas kang weh limput

Karem ing karamat

Karana karoban ing sih

Sihing sukma ngrebda saardi pengira


Dalam kegelapan.

Angkara dalam hati yang menghalangi,

Larut dalam kesakralan hidup,

Karena temggelam dalam samodra kasih sayang, kasih sayang sukma (sejati) tumbuh berkembang sebesar gunung


37

Yeku patut tinulat tulat tinurut

Sapituduhira,

Aja kaya jaman mangkin

Keh pra mudha mundhi diri

Rapal makna


Itulah yang pantas ditiru, contoh yang patut diikuti

seperti semua nasehatku.

Jangan seperti zaman nanti

Banyak anak muda yang menyombongkan diri dengan hafalan ayat


38

Durung becus kesusu selak besus

Amaknani rapal

Kaya sayid weton mesir

Pendhak pendhak angendhak

Gunaning jalma


Belum mumpuni sudah berlagak pintar.

Menerangkan ayat

seperti sayid dari Mesir

Setiap saat meremehkan kemampuan orang lain.


39

Kang kadyeku

Kalebu wong ngaku aku

akale alangka

Elok Jawane denmohi

Paksa langkah ngangkah met

Kawruh ing Mekah


Yang seperti itu

termasuk orang mengaku-aku

Kemampuan akalnya dangkal

Keindahan ilmu Jawa malah ditolak.

Sebaliknya, memaksa diri mengejar ilmu di Mekah,


40

Nora weruh

rosing rasa kang rinuruh

lumeketing angga

anggere padha marsudi

kana kene kaanane nora beda


tidak memahami

hakekat ilmu yang dicari,

sebenarnya ada di dalam diri.

Asal mau berusaha

sana sini (ilmunya) tidak berbeda,


41

Uger lugu

Den ta mrih pralebdeng kalbu

Yen kabul kabuka

Ing drajat kajating urip

Kaya kang wus winahya sekar srinata


Asal tidak banyak tingkah,

agar supaya merasuk ke dalam sanubari.

Bila berhasil, terbuka derajat kemuliaan hidup yang sebenarnya.

Seperti yang telah tersirat dalam tembang sinom (di atas).


42

Basa ngelmu

Mupakate lan panemune

Pasahe lan tapa

Yen satriya tanah Jawi

Kuna kuna kang ginilut tripakara


Yang namanya ilmu, dapat berjalan bila sesuai dengan cara pandang kita.

Dapat dicapai dengan usaha yang gigih.

Bagi satria tanah Jawa,

dahulu yang menjadi pegangan adalah tiga perkara yakni;


43

Lila lamun kelangan nora gegetun

Trima yen ketaman

Sakserik sameng dumadi

Tri legawa nalangsa srah ing Bathara


Ikhlas bila kehilangan tanpa menyesal,

Sabar jika hati disakiti sesama,

Ketiga ; lapang dada sambil

berserah diri pada Tuhan.


44

Bathara gung

Inguger graning jajantung

Jenek Hyang wisesa

Sana pasenedan suci

Nora kaya si mudha mudhar angkara


Tuhan Maha Agung

diletakkan dalam setiap hela nafas

Menyatu dengan Yang Mahakuasa

Teguh mensucikan diri

Tidak seperti yang muda,

mengumbar nafsu angkara.


45

Nora uwus

Kareme anguwus uwus

Uwose tan ana

Mung janjine muring muring

Kaya buta buteng betah anganiaya


Tidak henti hentinya

gemar mencaci maki.

Tanpa ada isinya

kerjaannya marah-marah

seperti raksasa; bodoh, mudah marah dan menganiaya sesama.


46

Sakeh luput

Ing angga tansah linimput

Linimpet ing sabda

Narka tan ana udani

Lumuh ala ardane ginawa gada


Semua kesalahan

dalam diri selalu ditutupi,

ditutup dengan kata-kata

mengira tak ada yang mengetahui,

bilangnya enggan berbuat jahat

padahal tabiat buruknya membawa kehancuran.


47

Durung punjul

Ing kawruh kaselak jujul

Kaseselan hawa

Cupet kapepetan pamrih

tangeh nedya anggambuh

mring Hyang Wisesa


Belum cakap ilmu

Buru-buru ingin dianggap pandai.

Tercemar nafsu selalu merasa kurang,

dan tertutup oleh pamrih,

sulit untuk manunggal pada Yang Mahakuasa.

GAMBUH (Langkah Catur Sembah)


48

Samengko ingsun tutur

Sembah catur supaya lumuntur

Dhihin raga, cipta, jiwa, rasa, kaki

Ing kono lamun tinemu

Tandha nugrahaning Manon


Kelak saya bertutur,

Empat macam sembah supaya dilestarikan;

Pertama; sembah raga, kedua; sembah cipta, ketiga; sembah jiwa, dan keempat; sembah rasa, anakku !

Di situlah akan bertemu dengan

pertanda anugrah Tuhan.


49

Sembah raga punika

Pakartine wong amagang laku

Susucine asarana saking warih

Kang wus lumrah limang wektu

Wantu wataking weweton


Sembah raga adalah

Perbuatan orang yang lagi magang “olah batin”

Menyucikan diri dengan sarana air,

Yang sudah lumrah misalnya lima waktu

Sebagai rasa menghormat waktu


50

Inguni uni durung

Sinarawung wulang kang sinerung

Lagi iki bangsa kas ngetokken anggit

Mintokken kawignyanipun

Sarengate elok elok


Zaman dahulu belum

pernah dikenal ajaran yang penuh tabir,

Baru kali ini ada orang menunjukkan hasil rekaan,

memamerkan ke-bisa-an nya

amalannya aneh aneh


51

Thithik kaya santri Dul

Gajeg kaya santri brai kidul

Saurute Pacitan pinggir pasisir

Ewon wong kang padha nggugu

Anggere padha nyalemong


Kadang seperti santri “Dul” (gundul)

Bila tak salah, seperti santri wilayah selatan

Sepanjang Pacitan tepi pantai

Ribuan orang yang percaya.

Asal-asalan dalam berucap


52

Kasusu arsa weruh

Cahyaning Hyang kinira yen karuh

Ngarep arep urub arsa den kurebi

Tan wruh kang mangkono iku

Akale kaliru enggon


Keburu ingin tahu,

cahaya Tuhan dikira dapat ditemukan,

Menanti-nanti besar keinginan (mendapatkan anugrah) namun gelap mata

Orang tidak paham yang demikian itu

Nalarnya sudah salah kaprah


53

Yen ta jaman rumuhun

Tata titi tumrah tumaruntun

Bangsa srengat tan winor lan laku batin

Dadi nora gawe bingung

Kang padha nembah Hyang Manon


Bila zaman dahulu,

Tertib teratur runtut harmonis

sariat tidak dicampur aduk dengan olah batin,

jadi tidak membuat bingung

bagi yang menyembah Tuhan

54


Lire sarengat iku

Kena uga ingaran laku

Dhingin ajeg kapindone ataberi

Pakolehe putraningsun

Nyenyeger badan mrih kaot


Sesungguhnya sariat itu

dapat disebut olah, yang bersifat ajeg dan tekun.

Anakku, hasil sariat adalah dapat menyegarkan badan

agar lebih baik,


55

Wong seger badanipun

Otot daging kulit balung sungsum

Tumrah ing rah memarah

Antenging ati

Antenging ati nunungku

Angruwat ruweding batos


badan, otot, daging, kulit dan tulang sungsumnya menjadi segar,

Mempengaruhi darah, membuat tenang di hati.

Ketenangan hati membantu

Membersihkan kekusutan batin


56

Mangkono mungguh ingsun

Ananging ta sarehne asnafun

Beda beda panduk pandhuming dumadi

Sayektine nora jumbuh

Tekad kang padha linakon


Begitulah menurut ku !

Tetapi karena orang itu berbeda-beda,

Beda pula garis nasib dari Tuhan.

Sebenarnya tidak cocok

tekad yang pada dijalankan itu


57

Nanging ta paksa tutur

Rehne tuwa tuwase mung catur

Bok lumuntur lantaraning reh utami

Sing sapa temen tinemu

Nugraha geming kaprabon


Namun terpaksa memberi nasehat

Karena sudah tua kewajibannya hanya memberi petuah.

Siapa tahu dapat lestari menjadi pedoman tingkah laku utama.

Barang siapa bersungguh-sungguh akan

mendapatkan anugrah kemuliaan dan kehormatan.


58

Samengko sembah kalbu

Yen lumintu uga dadi laku

Laku agung kang kagungan Narapati

Patitis tetesing kawruh

Meruhi marang kang momong


Nantinya, sembah kalbu itu

jika berkesinambungan juga menjadi olah spiritual.

Olah (spiritual) tingkat tinggi yang dimiliki Raja.

Tujuan ajaran ilmu ini;

untuk memahami yang mengasuh diri (guru sejati/pancer)


59

Sucine tanpa banyu

Mung nyunyuda mring hardaning kalbu

Pambukane tata titi ngati ati

Atetep telaten atul

Tuladan marang waspaos


Bersucinya tidak menggunakan air

Hanya menahan nafsu di hati

Dimulai dari perilaku yang tertata, teliti dan hati-hati (eling dan waspada)

Teguh, sabar dan tekun,

semua menjadi watak dasar,

Teladan bagi sikap waspada.


60

Mring jatining pandulu

Panduk ing ndon dedalan satuhu

Lamun lugu legutaning reh maligi

Lageane tumalawung

Wenganing alam kinaot


Dalam penglihatan yang sejati,

Menggapai sasaran dengan tata cara yang benar.

Biarpun sederhana tatalakunya dibutuhkan konsentrasi

Sampai terbiasa mendengar suara sayup-sayup dalam keheningan

Itulah, terbukanya “alam lain”


61

Yen wus kambah kadyeku

Sarat sareh saniskareng laku

Kalakone saka eneng ening eling

Ilanging rasa tumlawung

Kono adiling Hyang Manon


Bila telah mencapai seperti itu,

Saratnya sabar segala tingkah laku.

Berhasilnya dengan cara;

Membangun kesadaran, mengheningkan cipta, pusatkan fikiran kepada energi Tuhan.

Dengan hilangnya rasa sayup-sayup, di situlah keadilan Tuhan terjadi. (jiwa memasuki alam gaib rahasia Tuhan)


62

Gagare ngunggar kayun

Tan kayungyun mring ayuning kayun

Bangsa anggit yen ginigit nora dadi

Marma den awas den emut

Mring pamurunging kalakon


Gugurnya jika menuruti kemauan jasad (nafsu)

Tidak suka dengan indahnya kehendak rasa sejati,

Jika merasakan keinginan yang tidak-tidak akan gagal.

Maka awas dan ingat lah

dengan yang membuat gagal tujuan


63

Samengko kang tinutur

Sembah katri kang sayekti katur

Mring Hyang Sukma sukmanen saari ari

Arahen dipun kacakup

Sembaling jiwa sutengong


Nanti yang diajarkan

Sembah ketiga yang sebenarnya diperuntukkan kepada Hyang sukma (jiwa).

Hayatilah dalam kehidupan sehari-hari

Usahakan agar mencapai sembah jiwa ini anakku !


64

Sayekti luwih perlu

Ingaranan pepuntoning laku

Kalakuwan tumrap kang bangsaning batin

Sucine lan awas emut

Mring alaming lama maot


Sungguh lebih penting, yang

disebut sebagai ujung jalan spiritual,

Tingkah laku olah batin, yakni

menjaga kesucian dengan awas dan selalu ingat akan alam nan abadi kelak.


65

Ruktine ngangkah ngukut

Ngiket ngruket triloka kakukut

Jagad agung ginulung lan jagad alit

Den kandel kumadel kulup

Mring kelaping alam kono


Cara menjaganya dengan menguasai, mengambil, mengikat, merangkul erat tiga jagad yang dikuasai.

Jagad besar tergulung oleh jagad kecil,

Pertebal keyakinanmu anakku !

Akan kilaunya alam tersebut.


66

Kaleme mawi limut

Kalamatan jroning alam kanyut

Sanyatane iku kanyatan kaki

Sejatine yen tan emut

Sayekti tan bisa awor


Tenggelamnya rasa melalui suasana “remang berkabut”,

Mendapat firasat dalam alam yang menghanyutkan,

Sebenarnya hal itu kenyataan, anakku !

Sejatinya jika tidak ingat

Sungguh tak bisa “larut”


67

Pamete saka luyut

Sarwa sareh saliring panganyut

Lamun yitna kayitnan kang mitayani

Tarlen mung pribadinipun

Kang katon tinonton kono


Jalan keluarnya dari luyut (batas antara lahir dan batin)

Tetap sabar mengikuti “alam yang menghanyutkan”

Asal hati-hati dan waspada yang menuntaskan tidak lain hanyalah diri pribadinya

yang tampak terlihat di situ


68

Nging away salah surup

Kono ana sajatining urub

Yeku urub pangareb uriping budi

Sumirat sirat narawung

Kadya kartika katonton


Tetapi jangan salah mengerti

Di situ ada cahaya sejati

Ialah cahaya pembimbing,

energi penghidup akal budi.

Bersinar lebih terang dan cemerlang,

tampak bagaikan bintang


69

Yeku wenganing kalbu

Kabukane kang wengku winengku

Wewengkone wis kawengku neng sireki

Nging sira uga kawengku

Mring kang pindha kartika byor


Yaitu membukanya pintu hati

Terbukanya yang kuasa-menguasai (antara cahaya/nur dengan jiwa/roh).

Cahaya itu sudah kau (roh) kuasai

Tapi kau (roh) juga dikuasai

oleh cahaya yang seperti bintang cemerlang.


70

Samengko ingsun tutur

Gantya sembah ingkang kaping catur

Sembah rasa karasa wosing dumadi

Dadine wis tanpa tuduh

Mung kalawan kasing batos


Nanti ingsun ajarkan,

Beralih sembah yang ke empat.

Sembah rasa terasalah hakekat kehidupan.

Terjadinya sudah tanpa petunjuk,

hanya dengan kesentosaan batin


71

Kalamun durung lugu

Aja pisan wani ngaku aku

Antuk siku kang mangkono iku kaki

Kena uga wenang muluk

Kalamun wus padha melok


Apabila belum bisa membawa diri,

Jangan sekali-kali berani mengaku-aku,

mendapat laknat yang demikian itu anakku !

Artinya, seseorang berhak berkata apabila sudah mengetahui dengan nyata.


72

Meloke ujar iku

Yen wus ilang sumelanging kalbu

Amung kandel kumandel

Amarang ing takdir

Iku den awas den emut

Den memet yen arsa momot


Menghayati pelajaran ini

Bila sudah hilang keragu-raguan hati.

Hanya percaya dengan sungguh-sungguh kepada takdir

itu harap diwaspadai, diingat,

dicermati bila ingin menguasai seluruhnya.


73

Pamoting ujar iku

Kudu santosa ing budi teguh sarta sabar tawekal legaweng ati

Trima lila ambeg sadu

Weruh wekasing dumados


Melaksanakan petuah itu

Harus kokoh budipekertinya

Teguh serta sabar

tawakal lapang dada

Menerima dan ikhlas apa adanya sikapnya dapat dipercaya

Mengerti “sangkan paraning dumadi”.


74

Sabarang tindak tanduk

Tumindake lan sakadaripun,

Den ngaksama kasisipaning sesami,

Sumimpanga ing laku dur,

Hardaning budi kang ngrodon.


Segala tindak tanduk

dilakukan ala kadarnya,

memberi maaf atas kesalahan sesama,

menghindari perbuatan tercela,

(dan) watak angkara yang besar.


75

Dadya weruh iya dudu,

Yeku minangka pandaming kalbu,

Ingkang buka ing kijab bullah agaib,

Sesengkeran kang sinerung,

Dumunung telenging batos.


Sehingga tahu baik dan buruk,

Demikian itu sebagai ketetapan hati,

Yang membuka penghalang/tabir antara insan dan Tuhan,

Tersimpan dalam rahasia,

Terletak di dalam batin.


76

Rasaning urip iku,

Krana momor pamoring sawujud,

Wujudollah sumrambah ngalam sakalir,

Lir manis kalawan madu,

Endi arane ing kono.


Rasa hidup itu

dengan cara manunggal dalam satu wujud,

Wujud Tuhan meliputi alam semesta,

bagaikan rasa manis dengan madu. Begitulah ungkapannya.


77

Endi manis endi madu,

Yen wis bisa nuksmeng pasang semu,

Pasamoaning hebing kang Mahasuci,

Kasikep ing tyas kacakup,

Kasat mata lair batos.


Mana manis mana madu,

apabila sudah bisa menghayati gambaran itu,

Bagaimana pengertian sabda Tuhan,

Hendaklah digenggam di dalam hati, sudah jelas dipahami secara lahir dan batin.


78

Ing batin tan kaliru

Kedhap kilap liniling ing kalbu,

Kang minangka colok celaking Hyang Widhi,

Widadaning budi sadu,

Pandak panduking liru nggon.


Dalam batin tak keliru,

Segala cahaya indah dicermati dalam hati,

Yang menjadi petunjuk dalam memahami hakekat Tuhan,

Selamatnya karena budi (bebuden) yang jujur (hilang nafsu),

Agar dapat merasuk beralih “tempat”.


79

Nggonira mrih tulus,

Kalaksitaning reh kang rinuruh,

Nggyanira mrih wiwal warananing gaib,

Paranta lamun tan weruh,

Sasmita jatining endhog.


Agar usahamu berhasil,

Dapat menemukan apa yang dicari,

upayamu agar dapat melepas penghalang kegaiban,

Apabila kamu tidak paham ; lihatlah tentang bagaimana terjadinya telur.


80

Putih lan kuningipun,

Lamun arsa titah,

titah teka mangsul,

Dene nora mantra-mantra yen ing lair,

Bisa aliru wujud,

Kadadeyane ing kono.


Putih dan kuningnya,

bila akan mewujud (menetas),

wujud datang berganti,

tak disangka-sangka,

bila kelahirannya

dapat berganti wujud,

Kejadiannya di situ !


81

Istingarah tan metu,

Lawan istingarah tan lumebu,

Dene ing njro wekasane dadi njawi,

Rasakna kang tuwajuh,

Aja kongsi kabasturon.


Dipastikan tidak keluar,

juga tidak masuk,

Kenyataannya yang di dalam akhirnya menjadi di luar,

Rasakan sunguh-sungguh,

Jangan sampai terlanjur tak bisa memahami.


82

Karana yen kebanjur,

Kajantaka tumekeng saumur,

Tanpa tuwas yen tiwasa ing dumadi,

Dadi wong ina tan weruh,

Dheweke den anggep dayoh.


Sebab apabila sudah terlanjur,

akan tak tenang sepanjang hidup, tidak ada gunanya bila kelak mati,

Menjadi orang hina yang bodoh,

dirinya sendiri malah dianggap tamu.






Semua Manusia akan rusak,kecuali yang Berilmu... Orang yang berilmu pun akan rusak ,kecuali orang yang beramal... Orang yang beramal juga akan rusak ,kecuali orang yang Ikhlas (Imam Al-Ghozali)