content top



Tampilkan postingan dengan label SEJATI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJATI. Tampilkan semua postingan

MENGENAL AJI RASA

Aji Rasa merupakan ilmu kamanungsa'an/berprilaku baik terhadap sesama manusia,sehingga merealisasikan sifat manusia yang sebenarnya sebagai khalifah dimuka bumi.

Pondasinya adalah IMAN, Tiangnya adalah TAWADHU' , atapnya adalah CINTA, Prinsipnya adalah apa yang tidak ingin dilakukan orang lain terhadap diri kita,maka janganlah kita melakukannya kepada orang lain.Dan apa yang dirasakan oleh orang lain merupakan bagian dari yang kita rasakan.

Puncak dari Rasa adalah untuk penyempurnaan AKHLAQ manusia dan tingkat keberhasilan seseorang dalam beragama ketika rasa didalam dirinya hidup,Rasa adalah bagian dari bathiniyah sebab rasa itu sifatnya ghoib/tidak tampak secara dhohir.

Hidupnya rasa ketika diri kita memandang orang lain ibarat satu tubuh/bagian dari diri kita pribadi,sebagaimana sabda Rasulullah SAW ;

" Orang-orang mukmin itu ibarat satu tubuh/jasad, apabila satu anggota badan sakit, maka seluruh tubuhnya ikut merasakan sakit demam dan tidak dapat tidur." (HR. Muslim)

Tumbuhnya Rasa karna adanya naungan ghoib yang disebut dengan CINTA. Apabila kita mencintai seseorang secara universal atas dasar iman kepada Allah SWT,maka kita tidak memandang bentuk dan rupa seseorang,tidak memandang ras,suku,agama, keturunan dan kedudukkan/martabat.Karna yang kita lihat adalah sama-sama manusia yang berasal dari satu Pencipta dan juga sama-sama memilki rasa,memiliki cinta, ingin kasih dan saling mengasihi,sehingga terwujudlah suatu akhlaq/perilaku yang mulia.

"Keramah-tamahan dalam perkataan menciptakan rasa kedamaian, keramah-tamahan dalam pemikiran menciptakan rasa keyakinan, keramah-tamahan dalam memberi menciptakan rasa kasih sayang"


Rasulullah SAW bersabda ;

"Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Tidak maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai: Sebarkanlah SALAM diantara kalian." (HR. Muslim)

Dari hadist tersebut ada tiga pokok utama yaitu IMAN,CINTA dan SALAM ,dimana apabila seseorang ingin menghidupkan rasa didalam dirinya haruslah menghidupkan iman dan cinta kemudian direalisasikan dengan SALAM.

Inti dari salam adalah Habluminannas yang membentuk sudut siku-siku yaitu vertikal dan horisontal (Penekanan pada huruf LAM).

Ketika kita mengucapkan salam (Assalam) kepada orang lain bukan berarti hanya ucapan belaka ,tetapi makna yang terkandung didalam Assalam itulah yang perlu kita ketahui untuk bisa mewujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Assalam terdiri dari huruf ALIF,SIN,LAM dan MIM

Alif =Adanya Ahadiyah/dzat Tunggal pemberi Hidup yang meliputi semua makhluk
Sin =Adanya cipta ,rasa dan karsa yang diberikan kepada manusia sebagai ciptaan-Nya
Lam=Adanya perilaku yang harus diwujudkan oleh manusia sebagai pencerminan syukur dari cipta,rasa dan karsa
Mim=Hidupnya Cipta ,rasa dan karsa manusia yang telah menyatu dengan kudrat dan iradat Sang Pencipta

Maksudnya : Semua manusia tercipta berasal dari SATU PENCIPTA yang telah memberi hidup dan meliputi seluruh makhluk ciptaan-Nya,dan DIA telah memberikan kesempurnaan kepada manusia dengan diberikannya CIPTA (AKAL), RASA (CINTA), KARSA (KEHENDAK UNTUK BERPRILAKU). Oleh karena itu wujudkanlah cipta,rasa,dan karsa tersebut dalam perilaku nyata sesuai dengan kudrat dan iradat-Nya kepada sesama manusia untuk mendapatkan keridhoan-Nya. Apabila perilaku tersebut telah nyata diwujudkan dalam kehidupan maka akan hiduplah cipta,rasa,dan karsa dari manusia tersebut.

"Jadi hidupnya cipta,rasa dan karsa karna adanya perilaku nyata,tidak akan hidup cipta,rasa dan karsa bila kita hanya diam ditempat tanpa melakukan suatu gerak/aktivitas."

"Hidupnya pribadi seseorang yang beragama karna hidupnya Rasa didalam dirinya,hidupnya Rasa akan menimbulkan Kesadaran,hidupnya Kesadaran akan mewujudkan akhlaq yang mulia."

contohnya : Bagaimana mungkin kita bisa merasakan penderitaan orang yang sakit / orang yang ditimpa bencana bila kita tidak menjenguknya/melihat secara langsung?



Macam-Macam Rasa :


1. RASA TUNGGAL

Rasa Tunggal berasal dari dalam jasad/tubuh,seperti rasa lelah, lemah,lemas,letih,dan lesu,dikarenakan reaksi tubuh yang melebihi ambang batas(batas maksimal). Hal ini terjadi karena kurangnya perawatan tubuh/kurangnya memperhatikan kesehatan fisik/psikis.

Fisik = karena kurangnya memperhatikan kebersihan badan dan asupan suplemen/vitamin kedalam tubuh,sehingga fungsi organ tubuh tidak seimbang dan bisa menimbulkan berbagai macam keluhan sakit.

Psikis = Karena menuruti hawa nafsu,kurangnya pengendalian diri dan karena banyaknya Dzad (angan-angan). Sehingga menimbulkan kekesalan pikiran dan hati yang berakibat sakit pada anggota badannya.


2. SEJATINYA RASA

Rasa ini berasal dari luar tubuh manusia karena adanya reaksi dari panca indera dan sifatnya nyata sesuai dengan sifat atau keadaan zat yang sebenarnya.
Alat panca indera terdiri : MATA,TELINGA,HIDUNG,KULIT ,LIDAH
Kelima panca indera tersebut apabila mendapat reaksi dari luar baik secara penglihatan,pendengaran,penciuman aroma tertentu dan sentuhan yang dirasa oleh kulit maka akan menggambarkan / meneruskan suatu rangsangan kepada syaraf sesuai kondisi/keadaan zat tersebut,sehingga menimbulkan  rasa.
Misalnya : Ketika mata mendapat rangsangan cahaya dari suatu benda yang berwarna merah atau memiliki suatu bentuk tertentu maka akan memberikan suatu wujud bayangan sesuai aslinya dari warna/wujud benda tersebut,warna merah akan tetap menghasilkan refleksi penglihatan merah,dll 


3. RASA SEJATI

Rasa sejati timbul karna adanya reaksi spontan dari dalam tubuh dikarenakan reaksi tertentu dan efek yang keluar dari dalam tubuh berupa cairan,seperti air mata,air liur dan air mani(sperma).
contoh: Ketika seseorang bersedih secara tiba-tiba keluar air mata bahkan sampai menangis,atau orang yang merasakan puncak syahwat maka akan mengeluarkan air mani,dll 


4. RASA TUNGGAL JATI

Rasa Tunggal Jati adalah menyatunya rasa diri dengan rasa Dzat tunggal Sejati/Sang Pencipta.
Rasa ini timbul karna kedekatan,ketaqwaan,dan selalu mengingat Sang Maha Pencipta dalam setiap keadaan/ kondisi.
Rasa ini menimbulkan ketenangan/ketentraman lahir dan bathin,tiada lagi sedih/bahagia,seseorang berada dalam kefanaan,atau berada dalam kondisi netral.

Rasa merupakan dasar pembentukkan akhlaq dan hidupnya kesadaran beragama dan sebagai lingkaran penghubung etika berperilaku terhadap Sang Pencipta,sesama manusia dan seluruh alam. 
Karena pada hakekatnya seluruh yang ada dialam semesta ini Hidup. Dan setiap yang Hidup memiliki Rasa, sebab didalam Rasa itulah terdapat Hidup dan setiap yang memiliki Rasa ingin diperlakukan dengan baik.



Semoga Bermanfaat 
 
"Ilmu saya tak lebih dari sebuah pendapat. Itulah hasil terbaik yang bisa saya capai. Apabila ada orang lain bisa memberikan pendapat lebih baik, tentu itu lebih mendekati kebenaran"  
(Kata Bijak dari Abu Hanifah Muhammad Nu'man ibn Tsabit)




ILMU SEJATI


Dalam proses perjalanan pencarian sebuah kehakikian akan  ilmu sebagai jalan untuk mengenal sejatinya hidup dan kehidupan,pastilah setiap orang mengalami suatu berbagai macam proses yang membuat dirinya yakin dan merasakan akan ilmu yang didapatnya/dipelajarinya.

Ketika seseorang mempelajari ilmu mulai dari syareat,tarekat,hakekat hingga makrifat yang meliputi segala bidang kehidupan, semuanya itu hanyalah bersifat teori yang berfungsi sebagai wawasan dalam kehidupan. Dan teori ini berfungsi sebagai sarana penunjuk saja yang memberikan wadah kepada manusia untuk mengisinya.

Namun kebanyakan dari teori menciptakan suatu wadah yang berlobang sehingga manusia terkadang tidak mampu untuk mengisi wadah tersebut,sebab begitu wadah diisi akan keluar lagi oleh kebocoran dari wadah itu.

Fungsi ilmu sebagai cahaya / penerang manusia dikala kegelapan,ilmu mampu membimbing manusia pada jalan kebenaran,ilmu menjadikan manusia dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk,dengan ilmu pula manusia dapat menciptakan kesejahteraan dan kehancuran dimuka bumi ini.

Dari sini saya dapat menyimpulkan bahwa sejatinya ilmu bukanlah dari teori ,teori hanya sebagai penunjang dan untuk mengingatkan/menasehati ketika manusia salah melangkah.


Apakah yang disebut sebagai ilmu sejati ?

Sejatinya ilmu yang sejati adalah ilmu yang tak berhurup dan tidak tertulis.
Mungkin agak membingungkan seperti apakah ilmu yang tak berhurup dan tak tertulis itu ?
Sebab hampir rata-rata ilmu yang kita dapat selalu tertulis,entah itu ditulis oleh orang lain ataupun oleh diri kita sendiri. Bila tidak ditulis terkadang kita lupa untuk mengingatnya kembali.
Untuk ilmu-ilmu yang tertulis ini termasuk kategori makrifat teori,karna kita mengetahui suatu ilmu dari membaca atau menulis ulang kedalam buku.Dan apa yang tertulis itu belum tentu bisa terserap dan dirasakan olehnya,bahkan bisa menimbulkan pengaruh negatif  yang datangnya dari dalam dan luar dirinya.

Ilmu yang tidak berhurup dan tidak tertulis merupakan satu kesatuan dan penyelarasan antara cipta,rasa dan karsa dan  merupakan sesuatu yang tidak bisa diungkap dengan kalimat / mantra yang indah,sebab ilmu ini adalah gerakan antara cipta,rasa dan karsa secara murni tanpa dibuat-buat /direncanakan dan sifatnya seperti air yang mengalir yang mengisi setiap ruang kekosongan.

Allah SWT berfirman :


 وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم


“Dan bertaqwalah kepada Allah niscaya Allah akan mengajari kalian ILMU dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.  “ (QS. Al- Baqarah : 282).


Kunci dari ilmu sejati adalah ketaqwa'an ,orang yang bertaqwa adalah orang yang telah mampu menyelaraskan cipta ,rasa dan karsa dalam setiap perilakunya.
Ketaqwaan akan melahirkan ketenangan dan ketentraman hati,sebab dengan ketaqwaan ,maka seseorang tidak akan pernah terlepas dari mengingat Allah.

Ilmu sejati muncul bukan karena banyaknya membaca kitab dan belajar kepada seorang guru,tetapi munculnya seiring dengan penyatuan gerak dalam keseimbangan cipta,rasa dan karsa .Hadirnya ilmu sejati kedalam diri seseorang dengan berbagai cara :

1. Melalui sesuatu yang ada didalam dirinya,yaitu dengan cara memahami gerak tiap organ yang ada diseluruh tubuhnya,sehingga membuka wahana baru tentang hakekat dirinya yang tidak bisa diungkapkan kepada orang lain/dituliskan.

2. Melalui orang lain/sesamanya, yaitu melalui suatu percakapan,tanpa disadari ketika kita berbicara kepada orang lain,dari orang tersebut kita bisa mendapatkan suatu ilmu baru yang kita sendiri susah untuk mengungkapkannya namun kita bisa memahami dan mengerti melalui hati yang berkata-kata.

3. Melalui alam sekitarnya (dari tanaman / hewan),sesungguhnya alam menyimpan berjuta misteri dan sumber ilmu yang tak terpikirkan  namun pada saat kita mentafakurinya,maka secara tiba-tiba kita bisa  mengetahui hakekat eksistensinya.


Bagaimanakah proses ilmu sejati ini muncul ?

Ilmu ini akan muncul bagi orang yang benar-benar mau mendengarkan dan memahami suara hati,serta berkomunikasi dengan hati,namun perlu diketahui bahwa didalam hati mempunyai dua ruang,ruang kanan dan kiri.
Ruang kanan adalah ruang malaikat ,dan malaikat mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyampaikan/mengajarkan ilham kebaikan/kebenaran.
Ruang kiri adalah ruang Syetan,dan syetan akan menyampaikan/mengajarkan kesesatan atau sesuatu yang tampak benar tapi menyesatkan.

Dalam hal inilah kejelian manusia untuk bisa berfatwa pada hatinya,dimana kunci kejelian adalah ketaqwaan,bagi orang yang bertaqwa dan menghindari segala perbuatan buruk maka suara hati akan lebih dominan pada suara Tuhan melalui para malaikat-Nya.
Ketika kondisi hati bersih ,maka disitulah Allah hendak berkata-kata mengajarkan suatu ilmu yang tidak bisa tergambarkan secara ucapan dan pemikiran.
Ketika manusia dalam kebingungan/kebuntuan suatu jalan hidup dan keilmuan ,namun ia berusaha membersihkan hatinya maka disitulah suara Allah akan membimbing kita pada tingkat pemahaman yang tidak dimiliki orang awam.

Pada hakekatnya ilmu sejati telah dimiliki oleh setiap orang ,hanya ada yang mau untuk menggali serta memahami suara Allah melalui hatinya dan ada juga yang tidak perduli dan menganggapnya hanya  sebagai angin lalu.

Saya akan memberikan contoh dalam cerita pewayangan melalui tokoh BIMA/WERKUDARA.

Ketika Bima diperintahkan oleh DURNA gurunya untuk mencari ilmu sejati yang bernama   SANGKAN PARANING DUMADI yang bertempat di KAYUGUNG SUSUHE ANGIN yang berada dibawah “GUNUNG CANDRA DIMUKO   yang BERLOBANG DUA dasarnya  ” . Bima telah berkeliling keberbagai daerah memasuki hutan,lembah,pegunungan, namun tidak menemukan tempat tersebut.

Akhir dari perjalanannya bertemulah bima dengan seorang kakek tua,dan menanyakan tempat tersebut ,namun jawaban dari kakek tua itu sangat mengejutkan bima,bahkan bima dimarahi habis-habisan !

Kakek tua : "Hai Bima ,apa sebenarnya yang sedang kamu cari?"

Bima         :  "Aku sedang  mencari Sangkan Paraning Dumadi yang berada di Kayugung Susuhe Angin tepat dibawah gunung Candra Dimuko yang berlobang dua dasarnya”

Kakek tua  :  "Untuk apa kau mencarinya,hai anak bodoh?!”

Bima          :  "Untuk mencari ilmu sejati"

Kakek tua  : "Setelah engkau mendapatkan ilmu sejati, apa lagi yang kamu cari?"

Bima          : "Ketentraman".

(Kemudian kakek tua menjelaskan maksud dari yang Bima cari)

Kakek tua  : "Ketahuilah hai Bima, gunung candra dimuko adalah perumpamaan :
- Gunung artinya hidung yang lobangnya ada dua,
- Candra artinya penglihatanmu,
- Muko adalah wajahmu
- Susuhe angin adalah masuk keluarnya nafasmu.
Jika kamu mengatur keluar masuknya  nafasmu sambil terus-menerus mengingat Allah, maka kamu sudah melangkah kesana, dan ilmu sangkan paraning dumadi hanyalah ilmu para RAJA."

"Raja artinya adalah hatimu sendiri, sedangkan rakyatnya adalah tubuhmu, tangan sebagai menteri, kaki sebagai jenderal dan pikiran sebagai panglima.
Jika mereka bersitegang, mereka akan berperang, memaksakan kehendaknya sendiri hingga timbullah perang Barathayuda. Sekarang pergilah pulang dan carilah ilmu sejati didalam dirimu !"




MANUSIA DIWAJIBKAN UNTUK BERPIKIR


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Manusia adalah makhluk yang sempurna karena diberi anugerah kelebihan untuk berfikir terhadap segala yang ada di alam sebagai wujud dalam kehidupan. Aktifitas berfikir sebagai karakter utama manusia mendapat perhatian yang istimewa dalam al-Qur’an. Akal yang merupakan alat untuk berfikir disebutkan al-Qur’an sebanyak 49 kali, yang semuanya dalam bentuk kata kerja (fi’il) dan tidak satupun kata akal (‘aql) digunakan dalam bentuk kata benda (isim) . 

Hal ini mengisyaratkan bahwa akal adalah sebuah proses berfikir yang berkesinambungan tanpa henti,sebab  akal tidak akan memiliki makna kalau tidak digunakan. 
Alat untuk berfikir di dalam al-Qur’an juga disebut sebagai al-qalb, al-fu’ad, al-nuha, al-hijr, al-hilm dan al-lubb. 

Dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat-ayat yang menyerukan pentingnya proses berfikir bagi setiap manusia. Ayat-ayat ini dapat dikategorikan sebagai berikut:

1. Ayat-ayat yang menyerukan berfikir dan penggunaan akal sebagai kekuatan alami yang dimiliki manusia. Di antaranya adalah: 

"Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahaminya(menggunakan akal)." (QS.An-Nahl:12)
Ayat-ayat seperti ini juga dapat di lihat di Surat Al-Baqarah: 164,  Ar-Ra’d: 4,  An-Nahl: 64  dan  Ar-Rum: 24. 

Semua ayat-ayat tersebut di atas diakhiri dengan pernyataan “bagi kaum yang mau menggunakan akal” (li qaumin ya’qilun) sebagai penekanan terhadap sesuatu yang secara alami merupakan suatu keharusan untuk difikirkan dan difahami, yaitu suatu keharusan untuk memikirkan dan memaharni semua fenomena kejadian di alam raya ini. 


2. Ayat-ayat al-Qur’an yang ditujukan khusus kepada para Uli al-bab, intellektual, dan mereka yang memiliki kemampuan berfikir secara sempurna. Orang-orang ini disebut dalam al-Qur ‘an sebanyak 16 kali, yang semuanya berirama pujian dan penghormatan, hal ini karena mereka menurut al-Qur’an adalah orang orang yang memiliki tingkatan yang tinggi di dalam berfikir. Diantara ayat-ayat ini adalah firman Allah yang maksudnya: 

“Maka adakah orang yang mengetahui bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dan Tuhanmu itu (wahai Muhammad) perkara yang benar, sama dengan orang yang buta matahatinya? Sesungguhnya orang-orang yang mau memikirkan hal itu hanyalah orang-orang yang berakal sempurna (uli al-bab).” (QS.Ar-Ra’d: 19).


3. Ayat-ayat yang mencela dan menghardik orang orang yang tidak mau berfikir. Untuk mencela orang-orang yang tidak berfikir dan tidak menggunakan akal al-Qur’an banyak menggunakan tanda tanya yang bersifat negatif seperti: 
Apakah kamu tidak menggunakan akal fikiran (afala ta’qilun)? 
Apakah kamu tidak berfikir (afala tatafakkarun?) 
Apakah kamu tidak melihat (afala tubsirun)? 
Apakah kamu tidak ingat (afala tadzakkarun)? 
Apakah mereka tidak mendalami (afala tadabbarun)? 

Ayat-ayat yang berkaitan dengan tanda tanya ini, banyak menyuruh manusia untuk membedakan antara baik dan buruk, jahat dan mulia dan untuk menimbang dan memilih antara kelezatan kehidupan dunia dan akhirat kelak. Seperti firman Allah yang maksudnya: 

“Jijik perasaanku terhadap kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Maka mengapa kamu tidak mau menggunakan akal fikiran kamu?” (QS.Al-Anbiya’: 67). 

Dalarn banyak ayat Allah mensifatkan orang-orang yang tidak berfikir sama dengan binatang dan bahkan lebih hina daripada binatang, hal ini karena binatang memang sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk berfikir, sedangkan manusia sudah diberi alat untuk berfikir namun mereka tidak menggunakannya dengan sempurna. 

Kasus ini dapat dilihat dalam firman Allah: 

“Sesungguhnya sejahat-jahat makhluk yang melata, pada sisi (hukum dan ketetapan) Allah, ialah orang-orang yang pekak lagi bisu, yang tidak mau memahami sesuatupun (dengan akal fikirannya).” (QS.Al-Anfâl: 22) ....terdapat juga  didalam Surat al-Furqan: 44.


4. Ayat-ayat yang berkaitan dengan kewajiban manusia untuk melihat, meneliti, mengingat, memahami yang semuanya merupakan proses berfikir terhadap semua fenomena  kehidupan dalam berbagai istilah seperti berikut:

a) Kata-kata yang berasal dari fa-ka-ra yang berarti berfikir terdapat dalam 16 ayat. Semua ayat-ayat ini menyerukan manusia untuk berfikir tentang semua fenomena wujud, baik alam raya maupun diri manusia sendiri: 

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir” (QS.Al-Jathiyah: 13). 

Kata ‘berfikir’ dalam ayat ini merupakan hal yang sangat penting, dimana kalau Allah telah menghamparkan dan menundukkan untuk manusia alam raya ini maka pada saat yang sama manusia tidak boleh bersikap acuh dan pasif tapi harus mengambil posisi aktif dan dinamis. Kedinamisan ini diwujudkan dalarn bentuk menela'ah, melakukan eksperimen dan  memanfaatkan alam bagi kebaikan kehidupan umat manusia. 

Pengendalian dan pemanfaatan segala apa yang terhampar di alam raya ini harus dengan studi dan penelitian. Pandangan yang sedemikian ini terhadap objek alam raya, langit dan bumi akan dapat meningkatkan kehidupan material, dan dalam waktu yang sama dapat meningkatkan kehidupan spiritual, seperti apa yang ditegaskan oleh al-Qur’an: 

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? ” (QS.Al-Fushshilat: 53).


b) Kata-kata yang berasal dari na-dla-ra yang maknanya melihat terdapat dalam 129 ayat, ada yang bermakna melihat dengan mata secara biasa, tapi secara umum memberi makna melihat dengan akal fikiran, seperti: 

“(Setelah mengetahui yang demikian), maka hendaklah manusia memperhatikan (memikirkan): dari apakah ia diciptakan.” (QS.At-Thaariq: 5). Ayat yang sama juga terdapat  di Surat ‘Abasa: 24,  Al-A’raf: 185.


c) Kata-kata yang berasal dari ba-sha-ra yang secara bahasa bermakna melihat dengan mata, maksudnya meneliti dan menggunakan akal secara rasional terhadap semua fenomena kehidupan yang tampak secara empiris/nyata di depan mata. 

 “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahanam banyak dari jin dan manusia yang mempunyai hati (tetapi) tidak mau memahami dengannya (ayat-ayat Allah), dan yang mempunyai mata (tetapi) tidak mau melihat dengannya (bukti keesaan Allah) dan yang mempunyai telinga (tetapi) tidak mau mendengar dengannya (ajaran dan nasihat); mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi; mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS.Al-A’raf: 179) 
Ayat yang sama juga terdapat di surat Al-Dzariyat:21, Al-Sajdah: 28.


d). Kata-kata yang berasal dari dab-ba-ra yang secara bahasa bermakna memahami, terdapat dalam 4 ayat yang semuanya berkaitan dengan pemahaman terhadap al-Quran, yang memberi perintah terhadap kita untuk memahami dengan teliti dan meinikirkan rahasia-rahasia dan keajaiban kandungan didalamnya, seperti: 

“(Al-Quran ini) sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu (dan umatmu wahai Muhammad), Kitab yang banyak faedah-faedah dan manfaatnya, untuk mereka yang memahami dengan teliti kandungan ayat-ayatnya, dan untuk orang-orang yang berakal(berfikir).” (QS.Shaad: 29). Ayat yang lainnya terdapat dalam Surat An-Nisa’: 82,  Al-Mu’minun: 68 dan  Surat Muhammad: 24.


e) Kata-kata fa-qi-ha di dalam al-Qur’an bermakna mendalami, dan fa-qi-ha termasuk proses berfikir yang tinggi. Akar kata fa-qi-ha terdapat dalam 20 ayat, dan diantaranya adalah: 

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS.Al-A’raf : 179).


f) Ayat-ayat yang menyerukan manusia untuk mengambil iktibar/pelajaran baik dari peristiwa sejarah dan pengalaman kehidupan manusia maupun dari peristiwa alam: 

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ” (QS.Yusuf: 111). Ayat-ayat yang lain terdapat dalam Surah al-Hashr: 2, Ali-‘Imran: 13, dan  An-Nur: 43-44.


g) Ayat-ayat yang menyerukan manusia untuk mengingat (tadzakkur). Dalam psykologi, mengingat adalah juga merupakan proses yang penting, dan karena itulah al-Qur’an banyak mengkaitkan proses ini dengan para ulil albab (intellektual), seperti firman Allah yang maksudnya: 

Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. ” (QS.Az-Zumar: 9)


Al-Qur’an memberikan contoh metode berfikir secara ilmiah dan methodologis. 

Diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Metode sejarah: 
Terhadap sejarah, sebagai salah satu sumber pengetahuan manusia, al-Qur’an telah memperhatikan secara serius dengan membicarakan kembali keadaan dan pengalaman umat manusia di masa lalu, dan menyuruh setiap manusia untuk melihat dan menemukan hukun-hukum (sunnatullah) yang terdapat di dalam setiap peristiwa dan perubahan sejarah manusia: 

“ Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah. Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS.Ali Imran: 137). 

Demikian juga Al-Qur’an telah memperhatikan pentingnya memastikan secara kritis dan objektif terhadap kebenaran setiap berita dan data-data sejarah: 

“Hai orang-orang yang berman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti.” (QS.Al-Hujurat: 6). 

Dan Al-Qur’an telah meletakkan dasar yang paling utama dalam kritik sejarah, dimana ia telah meletakkan etika penyampaian berita sebagai faktor yang paling dominan untuk menilai kandungan sebuah berita. Orang-orang Islam telah menerapkan prinsip ini dalam periwayatan hadith Nabi. 

Prinsip kritik yang telah diterapkan oleh para perawi hadith inilah yang kemudian menjadi prinsip dasar dalam metode penelitian sejarah.


2) Metode silogisme: 
Metode ini termasuk cabang ilnu mantik (logika Aristoteles), yaitu metode berfikir untuk menetapkan keyakinan dalam keputusan atau hasil dari dua mukadimah.(Premis dan Silogis) 
Metode ini diisaratkan oleh al-Qur’an dalam kisah Iblis ketika menolak untuk bersujud kepada Adam:

Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?."
Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." (QS.Shaad: 75-76). 

Dalam peristiwa ini Iblis membuat silogisme sebagai berikut: Saya (Iblis) diciptakan daripada api, sedangkan Adam diciptakan daripada tanah (premis I). 
Api lebih baik daripada tanah (premis II), maka saya (Iblis) lebih baik daripada Adam (keputusan) . 
Karena silogisme ini Iblis menolak untuk bersujud pada Adam. Dalam silogisme, untuk mendapatkan keputusan yang benar premis pertama dan kedua harus betul dan ilmiah. 
Struktur silogisme yang digunakan Iblis ini memang betul tetapi tidak ilmiah, karena premis yang dia bangun bersifat subjektif dan masih dapat ditolak. 
Bagi Iblis api lebih baik dan tanah, tapi bagi manusia tanah lebih baik dan lebih bermanfaat daripada api, dan dengan demikian dalam perspektif manusia Adam lebih baik daripada Iblis.


3) Metode qiyas (analogical deducation): 
Metode ini digunakan dalan Ushul Fiqh. Ayat al-Qur’an yang mengisyaratkan metode ini adalah: 

“…maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang berakal. ” (QS.Al-Hashyr: 2). 

Dalam ayat ini Allah menceritakan apa yang telah terjadi pada Bani Nadhir, dimana mereka ditimpa azab yang pedih di dunia akibat dari kekafiran, pelanggaran perjanjian dan tipu muslihat nereka kepada Rasul dan Kaum Mukinin. Kemudian Allah memberi pernyataan: “..Maka ambilah iktibar/pelajaran wahai orang-orang yang berakal.” 

Maknanya wahai orang-orang yang berakal ambilah iktibar terhadap apa yang menimpa mereka dan sebab-sebab mengapa mereka ditimpa bencana tersebut, kemudian berusahalah untuk tidak melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan, sehingga kamu tidak ditimpa bencana seperti mereka, kamu semua adalah manusia-manusia seperti mereka, dan apa yang terjadi pada mereka bisa juga terjadi pada kamu sekalian jika terdapat alasan/ sebab (‘illah) yang sama. 

Qiyas dalam Ushul Fiqh berbeda dengan Silogisme. Dalam Usul Fiqh, Qiyas tidak harus memiliki dua premis seperti dalam Silogisme, sebagai contoh praktikal, Rasulullah menentukan: 
Seorang pembunuh tidak boleh menerima warisan dari orang yang dia bunuh. Secara analogi seorang pembunuh juga tidak boleh menerima bagian wasiat dari orang yang dia bunuh. Atau contoh lain: 

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS.Al-Isra’: 23).
Secara analogi seseorang benar-benar dilarang untuk memarahi apalagi memukul kedua orang tuanya.

4) Metode induksi:
Induksi adalah metode berfikir untuk mendapatkan kesimpulan dan hukum tertentu dari hal atau fenomena yang umum. Metode ini adalah metode empirik yang menekankan pada penelitian secara mendalam dan terus-menerus terhadap suatu objek untuk mendapatkan kaedah-kaedah atau hukum-hukum tertentu.
Dalam al-Qur’an proses ini diawali dengan penelitian terhadap bagian-bagian dari alam raya ini, Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk mengkaji dan meneliti secara mendalam tentang hubungan dan pengaruh suatu objek terhadap objek yang lain.

“Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS.Yunus: 101).

"Tidakkah mereka memperhatikan keadaan unta bagaimana ia diciptakan? Dan keadaan langit bagaimana ia ditinggikan binaannya.? Dan keadaan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan keadaan bumi bagaimana ia dihamparkan?" (QS.Al-Ghasyiyah: 17-20).

“Dan Dialah (Allah) yang menghantarkan angin sebagai pembawa berita yang mengembirakan sebelum kedatangan rahmatnya (yaitu hujan), hingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halaukan dia ke negeri yang mati (ke daerah yang kering), lalu Kami turunkan hujan dengan awan itu, kemudian Kami keluarkan dengan air hujan itu berbagai-bagai jenis buah-buahan.” (QS.Al-A’raf: 57).

Dan proses-proses inilah kemudian manusia dapat menyingkap kaidah-kaidah, hukum-hukum dan teori-teori tertentu tentang alam.


5) Metode perbandingan:
Al-Qur’an banyak menggunakan metode ini, dengan maksud membandingkan antara hak dan batil, baik dan buruk, cahaya dan kegelapan, dan antara Tuhan yang patut disembah dan yang tidak :

“Adakah Allah yang menciptakan semuanya itu sama seperti makhluk-makhluk yang tidak menciptakan sesuatu?” (QS.An-Nahl: 17)

Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah." Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?." Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa."  (QS.Ar-Ra’d: 16).




Semua Manusia akan rusak,kecuali yang Berilmu... Orang yang berilmu pun akan rusak ,kecuali orang yang beramal... Orang yang beramal juga akan rusak ,kecuali orang yang Ikhlas (Imam Al-Ghozali)