content top



Tampilkan postingan dengan label KUMPULAN SERAT KEHIDUPAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KUMPULAN SERAT KEHIDUPAN. Tampilkan semua postingan

Slide Show Album Gambar



Dibawah ini merupakan Album gambar yang berisi ayat-ayat dan hadist,serta makna yang terkandung dibalik setiap gambar.
Semoga bermanfaat dan dapat memberi ilham bagi anda yang mau berpikir........



PERJALANAN ALAM KEHIDUPAN MANUSIA



Bismillaahirrahmaanirrahiim 

Dalam perjalan hidupnya manusia akan melalui 7 [tujuh] tahap perjalanan hingga akhirnya mendapat kemenangan bertemu dengan Allah dan mendapat kesenangan ditaman syurga atau menderita kekalahan terpuruk dilembah neraka. Tiap tahap ditempuh dalam waktu yang berbeda mulai dari hitungan beberapa bulan hingga ribuan tahun.


1. Alam ruh

Perjalanan hidup manusia dimulai dari alam ruh ketika Allah mengumpulkan sekalian ruh manusia yang akan diturunkan kebumi dan berfirman :

” Bukankah Aku ini Tuhanmu “ , Kemudian para ruh menjawab:
“ Betul Engkaulah Tuhan Kami “ Kejadian ini dikisahkan dalam  (QS. Al A’raaf : 173)

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”


2. Alam Rahim

Setelah membuat kesaksian tentang Allah selanjutnya satu persatu ruh tersebut dihembuskan Allah kedalam Rahim ibu sebagaimana disebutkan dalam (QS. Sajadah: 9) 

"Kemudian dibentukNya [janin dalam rahim] dan ditiupkan kedalamnya sebagian dari ruh-Nya." 

Sejak itu mulailah manusia memasuki tahap kedua dari perjalanan hidupnya. Kurang lebih selama 9 bulan janin manusia menetap dirahim ibu untuk kemudian setelah tiba waktunya lahir kedunia menjadi seorang bayi.


3. Alam dunia

Sejak lahir kedunia mulailah manusia memasuki tahap ketiga dari perjalanan hidupnya. Manusia hidup didunia dengan umur yang beragam mulai dari yang hidup hanya beberapa saat hingga yang hidup puluhan tahun bahkan ada yang lebih dari 100 tahun. Kehidupan dunia adalah kehidupan yang pertama bagi manusia. . Allah menjadi kan dua kali kehidupan dan dua kali kematian bagi manusia sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an  Surat Al Mukmin ayat 11 . 

Hidup yang pertama adalah kehidupan dunia dan hidup yang kedua adalah kehidupan akhirat, sedangkan mati yang pertama adalah ketika masih dialam ruh dan mati yang kedua ketika memasuki alam barzach. Kehidupan dunia adalah kehidupan yang menentukan apakah seseorang akan mendapat kebaikan atau kesengsaraan dialam akhirat. Kehidupan dunia adalah kehidupan yang penuh dengan godaan dan tipuan, orang yang tidak kuat imannya niscaya akan terjebak dalam tipu daya syetan hingga berkekalan dalam dosa dan perbuatan yang dimurkai Allah. Akhir dari kehidupan dunia adalah kematian dengan husnul khotimah atau su’ul khotimah. Kematian adalah awal dari suatu perjalanan panjang yang tiada akhirnya, dimualai dari perjalanan di alam barzach [kubur]


4. Alam Kubur [barzach]

Jika kematian datang menghampiri seseorang maka putuslah hubungannya dengan kehidupan dunia. Harta yang banyak, pangkat dan kehormatan, sanak saudara dan karib kerabat semua ditinggalkan . Hanya amal baik dan buruk itulah yang abadi menemani dengan setia sampai kealam kubur. Amal baik seperti sholat, zakat, sedekah , wirid dan zikir semua itu akan membawa kebahagian dan ketentraman dialam kubur. Sebaliknya amal buruk seperti perbuatan dosa mendurhakai Allah melakukan perbuatan yang dilarang dan dimurkaiNya serta meninggalkan amal perbuatan yang diperintahkan semua itu akan membawa kesengsaraan dialam kubur. Masa penantian yang penuh kesengsaraan bagi kaum pendosa dan penuh kebahagiaan bagi orang beriman dialam kubur akan berakhir pada hari kiamat kelak. Kapan terjadinya kiamat? Tidak seorangpun yang dapat memperkirakan.


5. Hari Kiamat [ kebangkitan ]

Peristiwa kiamat dimulai dengan tiupan sangkakala dari malaikat Isrofil yang dikuti dengan hancurnya seluruh kehidupan dimuka bumi .Selanjutnya sunyi senyap. Kemudian pada tiupan sangkakala untuk yang kedua kalinya semua mahluk sejak bumi terbentang sampai kiamat dibangkitkan dan kumpulkan di padang mahsyar . Firman Allah dalam (QS. Az zumar : 68).

"Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)."


Padang mahsyar merupakan padang pasir dan bukit batu yang tandus dan kering penuh dengan batu karang yang tajam . Siang hari udaranya panas menggigit , tidak ada pohon rindang tempat berteduh, tidak ada mata air yang jernih tempat mandi dan minum. Manusia bergelimpangan dimana mana menjerit , mengeluh kepanasan dan kehausan. Sementara pada malam hari suasana gelap pekat dan dingin tiada cahaya yang menerangi, tiada selimut untuk menahan dingin. Ditengah padang mahsyar tersebut terdapat wadi wadi yang penuh dengan pohon buah yang rindang serta mata air yang jernih dan sejuk, didalamnya terdapat orang orang beriman dan saleh menikmati buah buahan dan mata air yang sejuk. Wadi tersebut ditutup bola kaca yang memisahkan suasana diluar bola kaca yang penuh kesengsaraan dengan keadaan didalam bola kaca [wadi] yang penuh kenikmatan dan kesenangan. 
Keadaan seperti tersebut diatas dilukiskan dalam Al Qur’an  Surat Al Hadit ayat 12 s/d 15. 
Manusia menunggu dipadang mahsyar selama waktu yang tak terhingga, sampai datangnya hari berhisab dimana setiap orang diperiksa dan ditimbang amal baik dan buruknya.


6. Hari berhisab

Pada hari berhisab setiap orang diadili, ditimbang amal baik dan buruknya tidak ada satu perbuatanpun yang luput dari pemeriksaan. Orang yang baik timbangan amalnya akan menerima raport dari sebelah kanan. Dia akan kembali kepada teman dan saudaranya dengan penuh kegembiraan. Sedangkan orang yang buruk timbangan amalnya akan menerima kitab raport dari belakang, dia mengeluh dan kembali kepada teman serta saudaranya dengan berkeluh kesah. Suasana tersebut diatas dilukiskan dalam (QS. Al-Insyiqaq : 7 s/d 12)

"Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya,maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”.
Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)."


7. Hari Pembalasan

Setelah menerima raport setiap orang diperintahkan menempuh perjalanan menuju tempat abadi yang telah disiapkan untuk mereka. Tempat abadi yang diharapkan oleh setiap orang adalah taman syurga yang penuh kesenangan dan kenikmatan, namun untuk memasuki taman syurga tersebut tidak mudah karena jalan menuju taman tersebut dikeliling oleh lembah neraka yang apinya membumbung tingi bergejolak dengan suaranya bergemuruh dahsyat . Orang yang telah menerima raport dari sebelah kanan dengan mudah dapat melalui lembah neraka yang ganas tersebut, dia tidak merasakan panasnya api neraka sedikitpun. Dia sampai ditaman syurga abadi dengan penuh kegembiraan disambut oleh penduduk syurga dengan pesta meriah,hidup kekal selamanya disana.. Namun orang orang yang menerima raport dari sebelah belakang terpuruk dilembah neraka,dan tidak pernah bisa keluar dari situ untuk selama lamanya ,Firman Allah dalam (QS Maryam: 68 s/d 72 )

"Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut. [68] 

Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.[69] 

Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka.[70]

Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.[71] 

Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. [72] ."



Kehidupan dunia adalah kehidupan yang saat ini sedang kita jalani . Bagaimana keadaan kita didunia ini sangat menentukan bagi kelanjutan hidup kita berikutnya dialam barzakh dan alam akhirat. Orang orang beriman mempersiapkan dirinya untuk menempuh perjalanan panjang seperti tersebut diatas menuju kehidupan yang abadi di alam akhirat.

Orang yang tidak beriman seluruh fikiran dan usahanya hanya tertuju untuk kehidupan dunia. Ukuran suksesnya adalah kehidupan dunia. Ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan ,kekuasaan dan kemuliaan hidup didunia. Ia tidak peduli dengan kehidupan akhirat. Sungguh malang nasib mereka , kehidupan mereka tamat dan berakhir dengan datangnya kematian. Mereka tidak punya persiapan sedikitpun untuk menghadapi kehidupan dialam barzakh maupun hari berbangkit. Dengan datangnya kematian tamatlah masa kejayaan mereka berganti dengan kesulitan dan penderitaan abadi untuk selama lamanya

Firman Allah dalam QS. Hud : 15-16

[15]- Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.

[16]- Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan"


INNA LILLAAHI WA INNA ILLAIHI RAJI'UUN 


DAWAI KERINDUAN











Duhai dimalam nan hening 
 Mengalun semai nada menggugah jiwa 
Nada itu adalah firman-Nya 
Yang begitu indah dan menenteramkan hati gersang 

 Kegersangan hati akan mulai bersemi  
Oleh kumandang senandung indah penggugah jiwa  
Harapan tertanam dalam desiran resah diri 
 Agar senandungnya selalu menyatu dalam jiwa raga 

Bilakah kerinduan hati selalu ada 
Kepada Ilahi dan Rasul-Nya 
Yang selalu terpaut dalam sukma 
Maka itu adalah azam yang tiada tara 

Bathin bergema dalam jeritan memohon ampunan Ilahi 
Terhadap titik-titik noda dan buih-buih cinta dunia 
Yang membawa diri hanyut dalam derai derita jiwa 
Yang selalu berkepanjangan tiada puasnya.... 

Ingin rasa menghapus noda hitam dalam qalbu 
Mengubahnya menjadi qalbu yang bening dan penuh cinta 
Namun kadangkala deburan ombak dunia kian menderu 
Membuat jiwa raga lemah tak berdaya.......  

Yaa Rabbi...... 
Bimbing diri ini menuju cinta-Mu 
Menggapai mahligai mahabbah Rasul-Mu 
Jadikan getah getar kidung ini terpatri 
Dalam diri siapapun yang mampu menepiskannya 
Dalam ukiran emas didalam qalbu  

Yaa Rabbi...... 
Ingin kami memiliki rasa rindu tak terperih akan cinta-Mu 
Rindu yang menghanyutkan qalbu untuk selalu mengingat-Mu... 

Bilakah rindu ini berlabuh dalam lautan kasih-Mu 
Rindu yang membawa damai oleh kemiskinan duniawi... 

Bilakah rindu ini selalu terpuaskan oleh kemurahan-Mu 
Dikala kemewahan dunia dalam genggaman tangan ini 
.............................................................................................. 





SYAIR ALAM


Tampak Gunung-gunung berjajar
Hamparan Pasir seperti terukir
Menapaki jalan semu dalam angan
Melihat kejadian yang prihatin


Terlanjur terbawa hawa alam
Pandangan kelangit tiada penghalang
Cahaya lembayung begitu jelas
Menyinari kesegala penjuru


Terangnya menembus alam pikir
Berselimir angin lirih
Menerpa bunga yang mekar
Memberi penghibur duka lara


Bak tekad tuk berbakti
Meminta pengajaran pada sang alam
Ciri suatu diri sejati
Sebuah sifat asli tidak direka-reka


Pengaruh diri menapaki perjalanan
Menyembah pada sang pemberi mu'zizat
Dibawah kaki gunung kehidupan
Terdapat sunatullah yang resmi tak tergugat


Seperti karang yang bertapa
Dalam diam kekhusyu'an
Tak tergoyah selalu ingat
Mengalir dihati sifat kerahayuan


Menjunjung tinggi kemulyaan
Untuk jalan keselamatan
Memuji pada sejatinya diri
Terhampar pada kenyataan rasa


Membunuh sifatnya napsu
Menyatu rasa tunggal pada pemilik sifat
Ikhlas pada kenyataan yang terjadi
Tidak tertarik pada cinta dunia
Dan tidak pula pada kecantikan didalamnya


Hanyalah bertauhid pada penciptanya
Merasakan kesejatian didalam dirinya
Tersibak dalam sifat kelemahan
Tiada lagi daya dan kekuatan
Selain hanya pada sang pemberi kehidupan
..........................................................................



SERAT WEDHATAMA KE-2

Sambungan dari SERAT WEDHATAMA KE-1


83




Mangka kanthining tumuwuh,


Salami mung awas eling,


Eling lukitaning alam,


Dadi wiryaning dumadi,


Supadi nir ing sangsaya,


Yeku pangreksaning urip.




Padahal bekal hidup,


selamanya waspada dan ingat,


Ingat akan pertanda yang ada


di alam ini,


Menjadi kekuatannya asal-usul, supaya lepas dari sengsara.


Begitulah memelihara hidup.


84




Marma den taberi kulup,


Anglung lantiping ati,


Rina wengi den anedya,


Pandak panduking pambudi,


Bengkas kahardaning driya,


Supaya dadya utami.`




Maka rajinlah anak-anakku,


Belajar menajamkan hati,


Siang malam berusaha,


merasuk ke dalam sanubari,


melenyapkan nafsu pribadi,


Agar menjadi (manusia) utama.


85




Pangasahe sepi samun,


Aywa esah ing salami,


Samangsa wis kawistara,


Lalandhepe mingis mingis,


Pasah wukir reksamuka,


Kekes srabedaning budi.




Mengasahnya di alam sepi (semedi),


Jangan berhenti selamanya,


Apabila sudah kelihatan,


tajamnya luar biasa,


mampu mengiris gunung penghalang,


Lenyap semua penghalang budi.


86




Dene awas tegesipun,


Weruh warananing urip,


Miwah wisesaning tunggal,


Kang atunggil rina wengi,


Kang mukitan ing sakarsa,


Gumelar ngalam sakalir.




Awas itu artinya,


tahu penghalang kehidupan,


serta kekuasaan yang tunggal,


yang bersatu siang malam,


Yang mengabulkan segala kehendak,


terhampar alam semesta.


87




Aywa sembrana ing kalbu,


Wawasen wuwus sireki,


Ing kono yekti karasa,


Dudu ucape pribadi,


Marma den sembadeng sedya,


Wewesen praptaning uwis.




Hati jangan lengah,


Waspadailah kata-katamu,


Di situ tentu terasa,


bukan ucapan pribadi,


Maka tanggungjawablah, perhatikan semuanya sampai tuntas.


88




Sirnakna semanging kalbu,


Den waspada ing pangeksi,


Yeku dalaning kasidan,


Sinuda saka sethithik,


Pamothahing nafsu hawa,


Linalantih mamrih titih.




Sirnakan keraguan hati,


waspadalah terhadap pandanganmu,


Itulah caranya berhasil,


Kurangilah sedikit demi sedikit godaan hawa nafsu,


Latihlah agar terlatih.


89




Aywa mematuh nalutuh,


Tanpa tuwas tanpa kasil,


Kasalibuk ing srabeda,


Marma dipun ngati-ati,


Urip keh rencananira,


Sambekala den kaliling.




Jangan terbiasa berbuat aib,


Tiada guna tiada hasil,


terjerat oleh aral,


Maka berhati-hatilah,


Hidup ini banyak rintangan,


Godaan harus dicermati.


90




Umpamane wong lumaku,


Marga gawat den liwati,


Lamun kurang ing pangarah,


Sayekti karendhet ing ri.


Apese kasandhung padhas,


Babak bundhas anemahi.




Seumpama orang berjalan,


Jalan berbahaya dilalui,


Apabila kurang perhitungan,


Tentulah tertusuk duri,


celakanya terantuk batu,


Akhirnya penuh luka.


91




Lumrah bae yen kadyeku,


Atetamba yen wus bucik,


Duweya kawruh sabodhag,


Yen tan nartani ing kapti,


Dadi kawruhe kinarya,


Ngupaya kasil lan melik.




Lumrahnya jika seperti itu,


Berobat setelah terluka,


Biarpun punya ilmu segudang,


bila tak sesuai tujuannya,


ilmunya hanya dipakai mencari nafkah dan pamrih.


92




Meloke yen arsa muluk,


Muluk ujare lir wali,


Wola wali nora nyata,


Anggepe pandhita luwih,


Kaluwihane tan ana,


Kabeh tandha tandha sepi.




Baru kelihatan jika keinginannya muluk-muluk,


Muluk-muluk bicaranya seperti wali,


Berkali-kali tak terbukti,


merasa diri pandita istimewa,


Kelebihannya tak ada,


Semua bukti sepi.


93




Kawruhe mung ana wuwus,


Wuwuse gumaib gaib,


Kasliring thithik tan kena,


Mancereng alise gathik,


Apa pandhita antiga,


Kang mangkono iku kaki,




Ilmunya sebatas mulut,


Kata-katanya di gaib-gaibkan,


Dibantah sedikit saja tidak mau, mata membelalak alisnya menjadi satu,


Apakah yang seperti itu pandita palsu,..anakku ?


94




Mangka ta kang aran laku,


Lakune ngelmu sejati,


Tan dahwen pati openan,


Tan panasten nora jail,


Tan njurungi ing kahardan,


Amung eneng mamrih ening.




Padahal yang disebut “laku”,


sarat menjalankan ilmu sejati tidak suka omong kosong dan tidak suka memanfaatkan hal-hal sepele yang bukan haknya,


Tidak iri hati dan jail,


Tidak melampiaskan hawa nafsu. Sebaliknya, bersikap tenang agar menggapai keheningan jiwa.


95




Kaunanging budi luhung,


Bangkit ajur ajer kaki,


Yen mangkono bakal cikal,


Thukul wijining utami,


Nadyan bener kawruhira,


Yen ana kang nyulayani.




Luhurnya budipekerti,


pandai beradaptasi, anakku !


Demikian itulah awal mula,


tumbuhnya benih keutamaan,


Walaupun benar ilmumu,


bila ada yang mempersoalkan..


96




Tur kang nyulayani iku,


Wus wruh yen kawruhe nempil,


Nanging laire angalah,


Katingala angemori,


Mung ngenaki tyasing liyan,


Aywa esak aywa serik.




Walau orang yang mempersoalkan itu, sudah diketahui ilmunya dangkal,


tetapi secara lahir kita mengalah,


berkesanlah persuasif,


sekedar menggembirakan hati orang lain.


Jangan sakit hati dan dendam.


97




Yeku ilapating wahyu,


Yen yuwana ing salami,


Marga wimbuh ing nugraha,


Saking heb Kang mahasuci,


Cinancang pucuking cipta,


Nora ucul ucul kaki.




Begitulah sarat turunnya wahyu,


Bila teguh selamanya,


dapat bertambah anugrahnya,


dari sabda Tuhan Mahasuci,


terikat di ujung cipta,


tiada terlepas-lepas anakku.


98




Mangkono ingkang tinamtu,


Tampa nugrahaning Widhi,


Marma ta kulup den bisa,


Mbusuki ujaring janmi,


Pakoleh lair batinnya,


Iyeku budi premati.




Begitulah yang digariskan,


Untuk mendapat anugrah Tuhan.


Maka dari itu anakku,


sebisanya, kalian pura-pura menjadi orang bodoh terhadap perkataan orang lain,


nyaman lahir batinnya,


yakni budi yang baik.


99




Pantes tinulat tinurut,


Laladane mrih utami,


Utama kembanging mulya,


Kamulyan jiwa dhiri,


Ora ta yen ngeplekana,


Lir leluhur nguni-uni.




Pantas menjadi suri tauladan yang ditiru,


Wahana agar hidup mulia,


kemuliaan jiwa raga.


Walaupun tidak persis, seperti nenek moyang dahulu.


100




Ananging ta kudu kudu,


Sakadarira pribadi,


Aywa tinggal tutuladan,


Lamun tan mangkono kaki,


Yekti tuna ing tumitah,


Poma kaestokna kaki.




Tetapi harus giat berupaya, sesuai kemampuan diri,


Jangan melupakan suri tauladan,


Bila tak berbuat demikian itu anakku,


pasti merugi sebagai manusia.


Maka lakukanlah anakku !



Semua Manusia akan rusak,kecuali yang Berilmu... Orang yang berilmu pun akan rusak ,kecuali orang yang beramal... Orang yang beramal juga akan rusak ,kecuali orang yang Ikhlas (Imam Al-Ghozali)