content top



Tampilkan postingan dengan label QOLBU SAKINAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label QOLBU SAKINAH. Tampilkan semua postingan

SYAIR ALAM


Tampak Gunung-gunung berjajar
Hamparan Pasir seperti terukir
Menapaki jalan semu dalam angan
Melihat kejadian yang prihatin


Terlanjur terbawa hawa alam
Pandangan kelangit tiada penghalang
Cahaya lembayung begitu jelas
Menyinari kesegala penjuru


Terangnya menembus alam pikir
Berselimir angin lirih
Menerpa bunga yang mekar
Memberi penghibur duka lara


Bak tekad tuk berbakti
Meminta pengajaran pada sang alam
Ciri suatu diri sejati
Sebuah sifat asli tidak direka-reka


Pengaruh diri menapaki perjalanan
Menyembah pada sang pemberi mu'zizat
Dibawah kaki gunung kehidupan
Terdapat sunatullah yang resmi tak tergugat


Seperti karang yang bertapa
Dalam diam kekhusyu'an
Tak tergoyah selalu ingat
Mengalir dihati sifat kerahayuan


Menjunjung tinggi kemulyaan
Untuk jalan keselamatan
Memuji pada sejatinya diri
Terhampar pada kenyataan rasa


Membunuh sifatnya napsu
Menyatu rasa tunggal pada pemilik sifat
Ikhlas pada kenyataan yang terjadi
Tidak tertarik pada cinta dunia
Dan tidak pula pada kecantikan didalamnya


Hanyalah bertauhid pada penciptanya
Merasakan kesejatian didalam dirinya
Tersibak dalam sifat kelemahan
Tiada lagi daya dan kekuatan
Selain hanya pada sang pemberi kehidupan
..........................................................................



SERAT PEPALI



1. Jalma luwih medharken mamanis,
Kang cinatur Kitab Tafsir Alam.
Tinetepan umpamane:Ingkang segara agung,
Lawan papan kang tanpa tulis,
Tunjung tanpa selaga,
Sapa gawe iku? 
Kalawan jenenging Allah.
Lan Muhammad anane ana ing endi?
Ywan sirna ana apa?

Artinya:

Manusia terpilih membentangkan perihal yang sedap
Yang dibicarakan dalam Kitab Tafsir Alam.
Dinyatakan misalnya:/Samudera besar,
Dan tempat yang tak bertulis,
Teratai yang tak berkuncup,
Siapa yang membuat?
Dan nama Allah
Dan Muhammad dimana adanya?
Bila lenyap apa yang masih ada?


2. Damar murup tanpa sumbu nenggih,
Godhong ijo ingkang tanpa wreksa,
Modin tan ana bedhuge,
Sentek pisan wus rampung,
Tanggal pisan purnama sidi,
Panglong grahana lintang, Iku semunipun, Kang sampun awas ing cipta.
Aja sira katungkul maca pribadi,
Takokna kang wus wignya.

Artinya:

Pelita menyala tak bersumbu,
Daun hijau tak berpohon,
Muazin tak ada beduknya,
Sekali tarik sudah tamat,
Tanggal satu bulan purnama,
Panglong gerhana bintang,
Itulah lambang,
Manusia yang sudah waspada akan ciptanya.
Jangan selalu membaca sendiri saja.
Tanyakanlah kepada yang sudah tahu.


3. Lawan sastra adi kang linuwih,
Lawan Kur’an pira sastra nira,
Estri priyadi tunggale, 
Lawan ingkang tumuwuh, 
Sapa njenengaken sireki? 
Duk sira palakrama, Kang ngawinken iku? 
Sira yen bukti punika, 
Sapandulang yen tan weruha, sayekti. 
Jalma durung utama.

Artinya:

Dan sastra indah-utama berapa jumlahnya,
Kitab Al-Quran berapa sastranya,
Perempuan dan laki-laki utama ada berapa jodohnya?
dan berapa jumlahnya yang tumbuh?
Siapa yang memberi nama kepadamu?
Waktu kamu kawin.
Siapa yang mengawinkan?
Kalau makan siapa yang menyuapi?
Jika belum mengetahuinya sebenarnya
Belum menjadi manusia yang utama.


4. Lawan angangsu pikulan warih,
Amek geni pan nganggo dedamar,
Kodhok angemuli lenge,
Rangka manjing ing dhuwung,
Miwah baita mot ing jladri,
Kuda ngrap ing pandengan.
Lan gigiring punglu,
Tapake kuntul anglayang,
Kakang mbarep miwah adhine wuragil. 
Tunjung tanpa selaga.

Artinya:

Mencari air membawa sepikul air,
Mencari api membawa pelita (damar),
Katak menyelubungi liangnya,
Sarung masuk ke dalam keris,
dan sampan berisi samudera,
Kuda melonjak dimuka pandangan,
Punggung peluru, dimana?
Bekas kuntul yang melayang-layang,
Kakak si sulung, adik si bungsu,
Teratai tak berselaga.


5. Lawan siti pinendhem ing bumi,
Miwah tirta kinum jroning toya,
Lawan srengenge pinepe,
Lawan geni tinunu,
Pan walanjar dereng akrami,
Prawan adarbe suta,
Ndhog bisa kaluruk,
Jejaka rabine papat,
Pan wong mangan saben dina-dina ngelih,
Lawan mangan sapisan (pan wus marem).

Artinya:

Dan tanah tertanam dalam bumi,
Atau air terendam dalam laut,
Matahari dijemur,
Dan api terbakar ,
Janda belum pernah kawin,
Dara (gadis) berputera,
Telur dapat berkokok,
Bujang beristeri empat,
Orang makan sehari-hari lapar,
Dan makan sekali (sudah puas).


1. Simbolisme ‘Samudera Besar’

Bait yang berbunyi ingkang segara agung (samudera besar), dijelaskan maknanya sebagai berikut:

Ingkang samodra agung, Tanpa tepi anerambahi. Endi kang aran Allah? Tan roro tetelu. Kawulane tanna wikan, Sirna luluh kang aneng datu’llah jati, Aran sagara Purba.

(Samudera besar yang tak bertepi, meresapi seluruh alam. Manakah yang disebut Allah? Tak ada lainnya (dua atau tiga). Makhluknya tak ada yang menyadari, Karena musnah terlarut dalam zat Allah sejati, Yang disebut Lautan Purba.)


2. Simbolisme ‘Tempat tak Bertulisan’

Bait lawan papan kang tanpa tulis (dan tempat yang tak bertulis) dijelaskan maknanya dalam pepali berikut ini:

Ana papan ingkang tanpa tulis. Wujud napi artine punika, Sampyuh ing solah semune, Nir asma kawuleku, Mapan jati rasa sejati. Ing njro pandugeng taya. Marang Ing Hyang Agung. Pangrasa sajroning rasa, Sayektine kang rasa nunggal lan urip,Urip langgeng dimulya.

(Ada tempat yang tak bertulisan. Kosong mutlak artinya itu, Dalamnya lenyap terlarut segala gerak dan semu. Hapus sebutan Aku karena Masuk kedalam inti rasa sejati, Didalam tiada bangun (sadar) Kediaman Hyang Agung Perasaan masuk kedalam rasa, Sebenarnya rasa sudah bersatu dengan hidup, Hidup kekal serba nikmat).


3. Simbolisme ‘Teratai Putih tak Berkelopak’

Bait tunjung tanpa selaga (teratai tak berkelopak) dijelaskan maknanya sebagai berikut:

Sasmitane ingkang tunjung putih
Tanpa slaga inggih nyatanira
Rokh ilafi satuhune
Datullah ananipun
Yeku sabda ingkang arungsit.
Iku pan bangsa cipta,
Hananira iku.
Tandha kang darbe pratandha.

(Isyarat teratai putih
Tak berkelopak adalah kenyataan.
Ruh ilafi sebenarnya.
Itu adanya datullah,
Itu, sabda yang sangat pelik.
Itu kan perihal cipta,
Yang disebut itu.
Sifat yang memiliki segala sifat.)


4. Simbolisme ‘Lampu Menyala tanpa Sumbu’

Bait damar murup tanpa sumbu nenggih (lampu menyala tanpa sumbu) dijelaskan artinya sebagai berikut:

Damar murup tanpa sumbu nenggih
Semunira urup aneng Karsa.
Dat mutlak iku jatine!
Anglir tirta kamanu,
Kadi pulung sarasa jati.
Puniku wujud tunggal,
Aranira iku.

(Lampu menyala tanpa sumbunya
Itu lambang nyala pada Kehendak.
Dat Mutlak itu sebenarnya!
Sebagai air yang bercahaya,
Wahyu kesatuan dengan rasa sejati.
Itulah bentuk tunggal,
Yang disebut itu.)


5. Simbolisme ‘Daun Hijau tak Berpohon’

Bait Godhong ijo ingkang tanpa wreksa (daun hijau tak berpohon) dijelaskan Ki Ageng Selo sebagai berikut:

Godhong ijo tanpa wreksa iki,
Semunira ing masalah ing rat,
Lah iya urip jatine.
Dudu napas puniku,
Dudu swara lan dudu osik,
Dudu paningalira,
Dudu rasa perlu,
Dudu cahya kantha warna,
Urip jati iku, nampani sakalir,
Langgeng tan kena owah.

(Daun hijau yang tak berpohon,
Itu lambang masalah alam.
Yaitu hidup sejatinya.
Bukan nafas itu,
Bukan suara dan bukan gerak batin,
Bukan pemandangan,
Dan bukan rasa syahwat,
Bukan cahaya, bangun atau warna.
Itulah hidup sejati, yang menerima segala persaksian,
Kekal tak ada ubahnya.)

6. Simbolisme ‘Muazzin tanpa Bedug’

Bait Modin tan ana bedhuge (muazzin tanpa bedug) dijelaskan Ki Ageng Selo sebagai berikut:

Pasemone kang modin puniki,
Pan bedhuge muhung aneng cipta,
Iya ciptanira dhewe.
Pan ingaken sulih Hyang Widi.
Cipta iku Muhammad,
Tinut ing tumuwuh.
Wali, mukmin datan kocap.
Jroning cipta Gusti Allah ingkang mosik,
Unine: rasulullah.
Lamun meneng Muhammad puniki,
Ingkang makmum apan jenengira.
Dene ta genti arane,
Yen imam Allah iku,
Ingkang makmum Muhammad jati.
Iku rahsaning cipta,
Sampurnaning kawruh.
Imam mukmin pan wus nunggal,
Allah samar Allah tetep kang sejati,
Wus campuh nunggal rasa.

(Yang dilambangkan oleh muazzin itu,
Karena akal berperanan bedug juga,
Ialah akalmu sendiri.
Akan tetapi kamu itu
Sebenarnya mewakili Hyang Widi juga.
Akal itu Muhammad,
Pemimpin hidupmu.
Wali, mukmin tak disebut,
Dalam akal Tuhan Allah yang bergerak,
Katanya: rasulullah.
Dalam ketenangan Muhammad itu,
Yang makmum ialah kamu sendiri.
Sebaliknya pada yang disebut,
Allah sebagai imam
Yang makmum ialah Muhammad sejati.
Itulah inti-sari akal,
Kesempurnaan ilmu.
Imam mukmin sudah bersatu,
Allah bayangan dan Allah tetap yang sejati,
Sudah campur bersatu rasa.)

7. Simbolisme `Buku, Bulan Purnama, dan Gerhana Bintang’

Bait-bait sentek pisan wus rampung, tanggal pisan purnama sidi, dan panglong grahana lintang diterangkan oleh Ki Ageng sebagai berikut:

Sentek pisan wus rampung,
tanggal pisan purnama sidi,
panglong grahana lintang,
Iku semunipun,
kang sampun awas ing cipta.


(Sekali singgung sudah tamat,
tanggal satu bulan purnama,
tidak kurang gerhana bintang,
itulah lambang,
manusia yang sudah waspada akan ciptanya.)


8. Simbolisme ‘Angka Satu’

Bait-bait seperti lawan sastra adi kang linuwih, lawan Qur’an pira sastra nira, estri priyadi tunggale, lawan ingkang tumuwuh tidak diterangkan jelas-jelas oleh Ki Ageng Selo dalam Pepalinya.

(Dan sastra indah-utama, berapakah jumlahnya? Kitab Al-Qur’an, berapakah sastranya? Perempuan dan laki-laki utama, ada berapakah jodohnya? Dan berapakah jumlah yang tumbuh?)


[KI AGENG SELO]









SERAT SABDAJATI


SERAT DIBAWAH INI TERMASUK JENIS SERAT MEGATRUH
        (SAAT AKAN TERLEPASNYA RUH DARI JASAD)

1. Hawya pegat ngudiya ronging budyayu,
 Margane suka basuki,
 Dimen luwar kang kinayun,
 Kalising panggawe sisip,
 Ingkang taberi prihatos.

Jangan berhenti selalu berusaha membangun budi pekerti luhur,
menjadi jalan meraih kemuliaan hidup,
Agar tercapai apa yang diinginkan,
Terhindar dari mara bahaya,
Caranya kuat dalam prihatin.
 ***

2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh,
Galedehan kang sayekti,
Talitinen awya kleru,
Larasen sajroning ati,
Tumanggap dimen tumanggon.

Perhatikan dengan seksama,
Koreksi diri secara sungguh-sungguh,
Telitilah jangan sampai keliru,
Endapkan di dalam kalbu,
agar sikapnya selalu cermat dan tanggap.
 ***

3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu,
Angayomi ing tyas wening,
Eninging ati kang suwung,
Nanging sejatining isi,
Isine cipta sayektos.

Tujuannya demi mendapat restu dan selamat,
Merengkuh kebeningan hati,
Kesunyian hati yang kosong,
Walau kosong sesungguhnya berisi,
Isinya kesadaran yang sejati.
 ***

4. Lakonana klawan sabaraning kalbu,
Lamun obah niniwasi,
Kasusupan setan gundhul,
Ambebidung nggawa kendhi,
Isine rupiah kethon.

Jalani dengan penuh kesabaran.
Jika terlena akan berbuah derita,
Kemasukan “setan gundul”,
yang menggoda sambil membawa kendi,
berisi uang banyak.
 ***

5.  Lamun nganti korup mring panggawe dudu,
Dadi panggonaning iblis,
Mlebu mring alam pakewuh,
Ewuh mring pananing ati,
Temah wuru kabesturon.

Bila sampai khilaf berbuat nista,
Akan menjadi sarangnya nafsu angkara,
senantiasa mendapatkan kesulitan,
bingung dengan gejolak keinginan hati,
pasti menemui kehancuran.
 ***

6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu,
Hayuning tyas sipat kuping,
Kinepung panggawe rusuh,
Lali pasihaning Gusti,
Ginuntingan dening Hyang Manon.

(Jika terlanjur hancur) tak peduli lagi akan kebaikan,
Segala yang baik-baik lari dari dirinya,
Sudah diliputi perbuatan angkara,
Lupa akan nikmat Tuhan,
Hingga mendapat hukuman Yang Maha Tahu.
 ***

7.  Parandene kabeh kang samya andulu,
Ulap kalilipen wedhi,
Akeh ingkang padha sujut,
Kinira yen Jabaranil,
Kautus dening Hyang Manon.

Walau semua orang menyaksikan,
Tak dapat membedakan yang benar dan salah,
Banyak orang bersujut,
Orang jahat dikira orang mulia,
disangkanya utusan Tuhan.
 ***

8.  Yen kang uning marang sejatining dawuh,
Kewuhan sajroning ati,
Yen tiniru ora urus,
Uripe kaesi-esi,
Yen niruwa dadi asor.

Kepada orang luhur dan bijaksana,
Mucul bimbang dalam hati,
Bila dicontoh tak pantas,
Hidupnya disia-sia,
Bila mencontoh justru terhina.
 ***

9.  Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung,
Anggelar sakalir-kalir,
Kalamun temen tinemu,
Kabegjane anekani,
Kamurahane Hyang Manon.

Tidak percaya kepada Tuhan,
yang menggelar jagad raya,
siapa yang sungguh-sungguh akan berhasil,
keberuntungan akan datang sendiri,
Atas kemurahan Tuhan.
 ***

10.  Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun,
Yen temen-temen sayekti,
Dewa aparing pitulung,
Nora kurang sandhang bukti,
Saciptanira kelakon.

Mengabulkan semua yang punya permohonan,
bila dilakukan dengan setulus hati,
Tuhan akan selalu memberi pertolongan,
sandang pangan tercukupi,
apapun yang diharapkan tercapai.
 ***

11.  Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur,
Saka pengunahing Widi,
Ambuka warananipun,
Aling-aling kang ngalingi,
Angilang satemah katon.
Ki Pujangga sambil memberi petuah,
Dari pralampita Hyang Widi,

Membuka selubung rahasia,
tabir yang menyelimuti,
sehingga dapat diketahui.
 ***

12.   Para jalma sajroning jaman pakewuh,
Sudranira andadi,
Rahurune saya ndarung,
Keh tyas mirong murang margi,
Kasekten wus nora katon.

Orang-orang di zaman carut marut,
Angkara murka semakin menjadi-jadi,
Kerusuhan tak terkendali,
Banyak kehidupan menyimpang,
Keluhuran ilmu tidak tampak lagi.
 ***

13.   Katuwane winawas dahat matrenyuh,
Kenyaming sasmita sayekti,
Sanityasa tyas malatkunt,
Kongas welase kepati,
Sulaking jaman prihatos.

Lama kelamaan makin memprihatinkan,
merasakan tanda-tanda zaman benar terjadi,
hati selalu termangu,
terasa sangat menyedihkan,
menyaksikan zaman memprihatinan.
 ***

14.  Waluyane benjang lamun ana wiku,
Memuji ngesthi sawiji,
Sabuk tebu lir majenum,
Galibedan tudang tuding,
Anacahken sakehing wong.
(Zaman hukuman) akan selesai tahun 1877
(Wiku ; 7, Memuji ; 7, Ngesthi ; 8, Sawiji ; 1)
tahun Masehi 1945),

Orang berikat pinggang tebu seperti orang gila,
Kesana-kemari sambil menunjukkan jari,
menghitung banyaknya orang.
 ***

15.  Iku lagi sirap jaman Kala Bendu,
Kala Suba kang gumanti,
Wong cilik bisa gumuyu,
Nora kurang sandhang bukti,
Sedyane kabeh kelakon.

Di situlah baru selesai Jaman Kala Bendu,
Berganti dengan jaman Kala Suba,
Rakyat kecil bersuka cita,
tidak kekurangan sandang dan pangan,
seluruh harapannya tercapai.
 ***

16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput,
Mulur lir benang tinarik,
Nanging kaseranging ngumur,
Andungkap kasidan jati,
Mulih mring jatining enggon.
Penerawangan Sang Pujangga belum tuntas,

Melihat sesuatu jauh ke depan,
Namun karena umur sudah tua,
Merasa hampir datang saat kematian,
Kembali ke tempat hidup yang sesungguhnya.
 ***

17.   Amung kurang wolung ari kang kadulu,
Tamating pati patitis,
Wus katon neng lokil makpul,
Angumpul ing madya ari,
Amerengi Sri Budha Pon.

Terlihat hanya kurang 8 hari lagi,
Datangnya kematian sudah tiba waktunya,
kembali menghadap Tuhan,
berkumpul di tengah hari,
Tepatnya pada hari Rabu Pon.
 ***

18.  Tanggal kaping lima antarane luhur,
Selaning tahun Jimakir,
Taluhu marjayeng janggur,
Sengara winduning pati,
Netepi ngumpul sak enggon.

Tanggal 5 bulan kira-kira tengah hari,
Sela (Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu,
Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873)
Itulah saat yang ditentukan sang Pujangga,
memenuhi janji berkumpul satu tempat,
(kembali menghadap Tuhan).
 ***

19.  Cinitra ri budha kaping wolulikur,
Sawal ing tahun Jimakir,
Candraning warsa pinetung,
Sembah mekswa pejangga ji,
Ki Pujangga pamit layoti.

Karya ini ditulis di hari Rabu tanggal 28,
Sawal tahun Jimakir
Candra tahun terhitung,
Sembah;2, Muswa;0, Pujangga;8, Ji;1(1802)
bertepatan dengan tahun masehi 1873.

[RD.NGABEHI RANGGA WARSITA]


Jangan Lupakan Sang Pencipta!

Begitu banyak nikmat dan karunia Allah yang diberikan pada hamba-hamba-Nya. Sungguh, kita tidak akan bisa menghitungnya. Salah satunya adalah alam semesta ini yang dengan segala macam kekayaannya menjadi faktor utama dalam menopang kehidupan kita. Maka sudah sepantasnya kita berucap, “Segala puji hanya milik Allah Tuhan Pemelihara semesta alam”. (al-Fatihah : 1).

Namun terkadang manusia lupa. Menganggap bahwa semua manfaat, kekayaan dan kebaikan yang ada di alam ini, tercipta secara alamiah atau dengan sendirinya. Hingga mereka menyandarkan semua nikmat dan kebaikan yang ada di bumi ini kepada alam itu sendiri. Padahal Allah berfirman,
“Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang, senantiasa mengikutinya dengan cepat. Dan Dia (ciptakan pula) matahari dan bulan serta bintang-bintang (semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ketahuilah hanya hak Allah mencipta dan memerintah itu. Maha Suci Allah Tuhan semesta alam”. (al-A’raaf : 54).

Tak hanya menciptakan, Allah juga memelihara dan mengatur kehidupan. Tak terkecuali, semua kejadian di alam ini. Cobalah perhatikan firman Allah ta’ala berikut ini, “Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Tuhan) yang telah menjadikan untukmu bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap, serta menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu Dia menghasilkan segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (al-Baqarah : 22).

Sabar Menanti Jalan Keluar

Hidup di dunia ini tidak terlepas dari adanya suka maupun duka. Semua itu merupakan hal yang tak terbantahkan dan mesti kita jalani. Dan terkadang, kesulitan tersebut seakan-akan tak kunjung datang jalan keluarnya.

Meski begitu, Umat islam tidak boleh mengeluh dan putus asa. Karena tidak mungkin kita keluar dari takdir-nya. Ujian, cobaan, musibah, dan kesulitan hidup lainnya bukan hanya menimpa diri kita, tetapi juga menimpa para utusan sebelumnya, tak terkecuali juga Rasulullah –shollallohu ‘alaih wa sallam. Allah berfirman,

Ø£َÙ…ْ Ø­َسِبْتُÙ…ْ Ø£َÙ†ْ تَدْØ®ُÙ„ُوا الْجَÙ†َّØ©َ ÙˆَÙ„َÙ…َّا ÙŠَØ£ْتِÙƒُÙ…ْ Ù…َØ«َÙ„ُ الَّذِينَ Ø®َÙ„َÙˆْا Ù…ِÙ†ْ Ù‚َبْÙ„ِÙƒُÙ…ْ Ù…َسَّتْÙ‡ُÙ…ُ الْبَØ£ْسَاءُ Ùˆَالضَّرَّاءُ ÙˆَزُÙ„ْزِÙ„ُوا Ø­َتَّÙ‰ٰ ÙŠَÙ‚ُولَ الرَّسُولُ Ùˆَالَّذِينَ آمَÙ†ُوا 
Ù…َعَÙ‡ُ Ù…َتَÙ‰ٰ Ù†َصْرُ اللَّÙ‡ِ ۗ Ø£َÙ„َا Ø¥ِÙ†َّ Ù†َصْرَ اللَّÙ‡ِ Ù‚َرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ ‘Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.’” (Al-Baqarah: 214)

Sebab, orang yang bersabar akan mendapatkan pertolongan Allah, sebagaimana firman-Nya,

Ùˆَاصْبِرُوا Ø¥ِÙ†َّ اللَّÙ‡َ Ù…َعَ الصَّابِرِينَ

“Bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfaal: 46)

Pembaca sekalian, semoga kita semua bisa menjadi orang-orang yang sabar ketika mencari jalan keluar dari permasalahan yang sedang menimpa kita. Dan harapan kami, dengan membaca Sakinah edisi ini, pembaca bisa mengerti dan memahami tentang adanya kemudahan yang diberikan allah di tengah kesulitan yang sedang menerpa. Untuk itu yakin lah, pertolongan Allah selalu ada. Tentu saja bila kita berusaha untuk memenuhi syarat-syaratnya.


Rahasia agar Dihargai Suami



Setiap istri tentu ingin dihargai oleh suaminya. Tidak diremehkan atau dipandang sebelah mata, atau dimaki-maki dan dibentak-bentak. Semua ingin disayang, dihargai, dan disikapi secara manusiawi oleh sang belahan hati.
Namun sayang, tak semua istri bisa mendapatkan penghargaan dari suaminya. Ada kalanya itu disebabkan karena sikap, tutur kata serta perilaku istri sendiri, yang membuat suami jengah.
Terkadang memang ada istri yang sudah berusaha mempersembahkan yang terbaik, namun suami tetap tak bisa menghargainya. Jika seperti itu, mungkin suaminya tergolong awam dalam agama, sehingga tidak mengerti bagaimana harus bersikap terhadap istri.


PENGHARGAAN SUAMI TERHADAP ISTRI


Seorang suami yang salih, akan senantiasa teringat sabda Rasulullah  shollallohu ‘alaihi wa sallam  ,


“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya, dan aku adalah yang terbaik dari kalian bagi istriku.” (Riwayat Tirmidzi)


Karena itu, ia akan selalu berusaha mencontoh Rasulullah  shollallohu ‘alaihi wa sallam  , bersikap baik terhadap istri, dan senantiasa menghargainya. Apa saja bentuk penghargaan suami terhadap istrinya? Di antaranya:


- Memberikan panggilan yang terbaik dan paling disukainya


Suami yang menyayangi serta mencintai istrinya, tentu tak ragu untuk mengungkapkan rasa sayangnya, di antaranya dengan memanggil istri menggunakan panggilan “sayang”, atau panggilan yang paling disukainya. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah  shollallohu ‘alaihi wa sallam  , yang senang memangil Ummul Mukminin Aisyah  rodhiyallohu ‘anha  dengan “Humaira” (yang pipinya kemerah-merahan). Panggilan seperti “Adik” atau “Adinda” saja, insyaallah sudah cukup membuat seorang istri senang.


- Mempergaulinya dengan lemah lembut


Suami yang menghargai istrinya, akan berusaha mempergauli istrinya dengan lemah lembut, baik dalam sikap maupun tutur kata. Ia akan berusaha menjauhi sikap kasar dan keras terhadap istri. Kalau istrinya bersalah atau mengecewakannya, ia akan menasihatinya dengan santun. Tidak dengan makian, bentakan, dan bahkan tamparan di wajah.


- Murah senyum/menunjukkan wajah ceria


Menunjukkan wajah yang ceria di hadapan istri, juga salah satu bentuk penghargaan suami terhadap istrinya. Istri yang selalu melihat senyum dan keceriaan di wajah suaminya, tentu akan lebih mudah untuk merasakan kebahagiaan. Berbeda bila suami selalu menunjukkan wajah cemberut. Istri akan merasa serba salah dan tak bahagia, karena merasa suaminya tak pernah bisa bahagia bersamanya.


- Memberikan pujian


Pujian suami terhadap istri, juga salah satu bentuk penghargaan suami. Meskipun terlihat sepele, namun pujian yang tulus dari seorang suami bisa menimbulkan efek psikologis yang sangat besar bagi seorang istri. Misalnya mendongkrak semangat, menambah percaya diri, dan tentu saja membuat hatinya berbunga-bunga penuh bahagia. Pada dasarnya, setiap wanita senang dengan pujian, terlebih dipuji oleh belahan hati yang sangat dicintainya.


- Memberikan hadiah


Hadiah adalah pembawa pesan cinta, serta menjadi salah satu bentuk penghargaan suami terhadap istri. Akan lebih berkesan, bila hadiah diberikan tanpa pemberitahuan lebih dulu sehingga menjadi kejutan yang membahagiakan.


- Membantu istri mengurus rumah


Pekerjaan rumah tangga hampir tak ada habisnya. Suami yang baik, akan berusaha meringankan beban istrinya dalam mengurus rumah tangga. Misalnya membantu istri mencuci, menjemur pakaian, bersih-bersih dan semisalnya. Dengan demikian seorang istri akan merasa lebih dimengerti dan dihargai oleh suaminya.


- Membantu istri mengurus anak


Penghargaan suami juga bisa diwujudkan dengan membantu istri mengurus anak. Mengerjakan berbagai pekerjaan rumah sekaligus mengurus anak, tentu sangat repot dan menguras energi. Terutama bagi yang anaknya masih batita (di bawah tiga tahun), apalagi lebih dari satu. Ketika suami mau membantu mengurus anak, berarti ia telah mengurangi kerepotan istri, dan membuatnya lebih tenang dalam menyelesaikan berbagai macam pekerjaan rumah.


- Memperhatikan kesehatannya


Suami yang menghargai istrinya, akan sangat memperhatikan kesehatan sang istri. Ketika melihat istrinya sakit, maka ia akan segera berusaha mencarikan obatnya. Ia pun akan lebih perhatian terhadap istri, dan menyuruh istrinya banyak beristirahat.


- Berbakti kepada kedua orangtuanya


Berbakti kepada orang tua istri atau mertua, juga merupakan wujud penghargaan suami kepada istrinya. Bakti suami tersebut akan membahagiakan istri serta kedua orangtuanya.


- Menjalin silaturahim dengan kerabatnya.


Penghargaan suami terhadap istrinya, juga bisa ditunjukkan dengan menjalin silaturahim dari kerabat pihak istri, serta berbuat baik terhadap mereka.


KIAT MERAIH PENGHARGAAN SUAMI


Bagaimana agar seorang istri bisa mendapatkan penghargaan dari suaminya? Berikut ini beberapa kiatnya.


- Menunaikan kewajiban-kewajibannya dengan baik


Untuk memperoleh penghargaan suami, seorang istri harus melaksanakan kewajiban-kewajibannya dengan baik. Di antaranya melayani suaminya di tempat tidur, menyiapkan makan dan minumnya, serta membereskan rumah serta mengurus anak-anak. Istri harus berusaha menyukai berbagai pekerjaan rumah tersebut, dan mengusir rasa bosan dan jenuh yang kadang hinggap di hati. Bagi wanita, memberikan pelayanan yang maksimal kepada suami dan mencari keridhaannya, akan memperoleh pahala yang sangat besar, menyamai pahala seorang lelaki yang keluar rumah untuk beribadah ataupun berjihad.


- Bersikap lemah lembut


Rasulullah  shollallohu ‘alaihi wa sallam  bersabda kepada Ummul Mukminin Aisyah  rodhiyallohu ‘anha  , “Wahai Aisyah, engkau mesti bersikap lembut dan jauilah sikap kasar dan kotor!” (Muttafaq ‘alaih)


Wasiat Rasulullah  shollallohu ‘alaihi wa sallam  ini hendaknya juga selalu diingat oleh para istri. Dengan kelemahlembutan, keridhaan dan penghargaan suami lebih mudah teraih.


- Tidak banyak menuntut


Seorang suami tidak suka istri yang banyak menuntut ini dan itu di luar kemampuan suaminya. Karena itu sebaiknya seorang istri bersikap qanaah, menerima dan mensyukuri seberapa pun pemberian suami. Bila nafkah dari suami kurang mencukupi, istri bisa membantu mencari nafkah dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah atau sesuai dengan fitrah wanita. Misalnya menjahit, menulis membuat dan menitipkan makanan ke warung-warung dan semisalnya.


- Pandai berterima kasih


Rasulullah  shollallohu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Allah Tabaaraka wa Ta’ala tidak sudi melihat seorang wanita yang tidak berterima kasih kepada suaminya padahal ia selalu butuh kepadanya.” (Riwayat an-Nasa’i)


Ucapan terima kasih juga merupakan penghargaan istri kepada suaminya. Suami yang merasa dihormati dan dihargai oleh istrinya, tentu akan semakin mencintai istrinya dan juga menghargainya.


- Pandai menyenangkan hati suaminya


Ini adalah jalan pintas untuk mengambil hati suami dan mendapatkan penghargaannya. Yaitu dengan selalu berusaha menyenangkan hatinya dalam setiap kesempatan. Misalnya dengan berdandan yang anggun untuknya, membuatkan makanan kesukaannya, memelihara kebersihan dan kerapian rumah, dan sebagainya.


- Pandai menghibur hati suami


Suami akan lebih menghargai istri yang bisa menghiburnya dan mau menjadi pendengar yang baik untuk menampung segala keluh kesahnya. Sebaliknya, ia akan sangat tersiksa bila istrinya malah sering membuat masalah dan membuatnya susah.


- Menjadi sebaik-baik perhiasan dunia


Inilah jurus pamungkas untuk meraih penghargaan suami. Yaitu dengan menjadi sebaik-baik perhiasan dunia baginya. Yang menyenangkan bila dipandang, taat saat diperintah, dan bisa menjaga rumah dan hartanya saat dia bepergian.


Semoga kiat-kiat sederhana ini, bisa membantu Anda mendapatkan penghargaan dari suami.


Tanda-tanda Kegagalan Seks Pada Pasutri


Seks sebagai tonggak kebahagiaan hidup sudah menjadi keyakinan lazim yang sulit dipungkiri. Karena berapapun banyak harta, dan betapapun tingginya pangkat dan jabatan, ketika seks hanya menjadi adegan menyeramkan atau setidaknya sangat membosankan dalam kehidupan seseorang, pilar keceriaan hidupnya pun memudar. Ada sesuatu yang hilang, dapat dirasakan sedemikian kentalnya, meski kadang sulit diungkapkan.

Jangan menganggap bahwa fenomena itu hanya peristiwa yang dialami oleh sedikit orang. Realitasnya, banyak sekali pasutri, dari kalangan non agamis, hingga yang betul-betul relijius, bahkan di kalangan relijius yang sudah tertata pola pikirnya dengan landasan Al-Quran dan al-Hadits dengan pemahaman yang benar, yang ternyata mengalami kegagalan seks dalam hidupnya. Akibat lahiriahnya sudah tampak pada kondisi biologis tubuh terutama wajah pada masing-masing pasutri yang terlihat jauh lebih tua dari seharusnya. Meski banyak yang berupaya menutup-nutupi realitas itu,- karena dianggap akan sangat memalukan-, tapi realitas itu menjadi bara dalam sekam yang menghanguskan diri sendiri.

Jangan pula mengatakan bahwa kegagalan seks dalam rumah tangga sama sekali tidak berpengaruh pada sisi kebahagiaan pasutri secara gamblang. Karena bagaimana mungkin, sisi yang menjadi faktor disyariatkannya nikah bagi pemuda, menjadi tidak memiliki pengaruh apa-apa bagi kebahagiaan hidup mereka?

Oleh sebab itu, kegagalan kehidupan seks, seringkali menimbulkan berbagai akibat yang tidak terduga dan sama sekali tidak diinginkan oleh siapapun.

Makna Kegagalan Seks

Dalam hubungan seks menurut kaca mata Islam, ada beberapa istilah yang mirip namun kadang berlainan.

Pertama, orgasme, yang mewakili puncak dari perhelatan hubungan seks, saat pasutri merasakan sebuah kenikmatan luar biasa di level puncak, lalu diakhiri dengan rasa lelah luar biasa.

Kedua, kepuasan seks. Biasanya, orgasme adalah media utama yang dikejar demi kepuasan seks, tapi kepuasan seks dapat dicapai tanpa orgasme, dan orgasme sendiri juga tidak selamanya berujung pada kepuasan seks. Banyak orang yang mengalami orgasme setiap berhubungan seks, tapi tak merasakan kepuasan, karena ada nuansa batin seperti sensasi, hiburan dan kenikmatan yang dia anggap belum mencapai level yang ia inginkan.

Ketiga, kenyamanan seks. Ini mungkin sedikit rumit, dan bukan istilah yang lazim. Namun dalam fikih Islam, ini termasuk dalam kategori qana’ah, yakni rasa puas yang hebat di dalam hati akibat gemuruh rasa syukur sehingga mengabaikan segala kekurangan yang ada. Orang yang mengalami qana’ah berarti merasakan kepuasan, tapi bukan berarti merasa puas. Karena orang yang merasa puas akan enggan menggapai pencapaian yang lebih baik. Sementara orang yang merasakan kepuasan berarti merasa senang dan nyaman dengan segala yang didapat, tapi selalu mengupayakan yang lebih baik di masa yang akan datang. Itulah pencapaian ideal dalam hubungan seks menurut Islam.


Di Balik Slogan “Kebaikan Alam”


Kebaikan alam untuk kehidupan kita. Slogan ini begitu populer. Salah satu penyebabnya, itu digunakan untuk mengiklankan berbagai produk yang berusaha mengikuti trend kembali ke alam maupun konsep “go green”.

Sekilas, sepertinya tidak ada yang bermasalah dengan slogan itu. Bahkan terdengar bagus, dan terkesan mengajak untuk peduli dan memelihara lingkungan hidup. Akan tetapi, bila dicermati, slogan “kebaikan alam”, ternyata memiliki makna lain yang berbahaya.

Bukankah semua yang di alam adalah ciptaan Allah dan karunia-Nya? Karena itu, segala “kebaikan alam”, pada dasarnya adalah kebaikan atau karunia dari Allah l. Slogan kebaikan alam, seolah-olah menegaskan kalau alam itu berdiri sendiri. Seperti teori Darwin, yang menyatakan semua makhluk hidup itu tercipta dengan sendirinya, bahkan secara kebetulan. Tanpa ada Sang Pencipta.

Demikian pula ungkapan, “alam sedang murka” atau “kemurkaan alam” manakala terjadi bencana. Seolah-olah, ucapan atau ungkapan ini meniadakan eksistensi Sang Pencipta. Meniadakan konsep takdir, bahwa semua itu terjadi karena kehendak-Nya. Yang Maha Baik dan pemberi karunia, adalah Allah ta’ala. Pun yang menggerakkan alam untuk menguji atau mengazab manusia dengan berbagai bencana.

Allah ta’ala berfirman,
“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yunus: 107)

MANFAAT DOA DAN DZIKIR

Manfaat doa dan dzikir banyak sekali,dan diantaranya adalah:

1.Mendatangkan keridaan Allah swt

2.Mengusir syaitan, menundukkan, dan mengenyahkannya

3.Menghilangkan kesedihan dan kemuraman hati

4.Mendatangkan kegembiraan dan ketenteraman hati

5.Menguatkan hati dan badan

6.Membuat hati dan wajah berseri

7.Melapangkan rizki

8.Menimbulkan kharisma dan percaya diri

9.Menumbuhkan rasa cinta yang merupakan ruh Islam, menjadi inti agama, poros kebahagiaan dan keselamatan. Dzikir merupakan pintu cinta, dan jalan untuk itu sangat agung dan lurus

10.Menumbuhkan perasaan bahwa dirinya diawasi Allah, sehingga mendorongnya untuk selalu berbuat kebajikan. Dia beribadah kepada Allah dan Allah melihat dirinya secara langsung. Tetapi orang yang lalai untuk berdzikir tidak akan sampai kepada kebajikan, sebagaimana orang hanya duduk saja tidak akan sampai ke tempat tujuan

11.Membuahkan ketundukan, yaitu berupa kepasrahan diri kepada Allah dan kembali kepada-Nya. Selagi dia lebih banyak kembali kepada Allah dengan cara menyebut asma-Nya, maka dalam keadaan seperti apa pun dia akan kembali kepada Allah dengan hatinya, sehingga Allah menjadi tempat mengadu dan tempat kembali, kebahagiaan dan kesenangannya, tempat bergantung tatkala senang dan mendapat bencana atau musibah

12.Membuahkan kedekatan kepada Allah. Seberapa jauh dia melakukan dzikir kepada Allah, maka sejauh itu pula kedekatannya kepada Allah, dan seberapa jauh ia lalai melakukan dzikir, maka sejauh itu jarak yang memisahkannya dengan Allah

13.Membukakan pintu yang lebar dari berbagai pintu ma'rifat. Semakin banyak dia berdzikir, maka semakin lebar pintu ma'rifat yang terbuka baginya

14.Menumbuhkan rasa takut kepada Allah dan memuliakan-Nya

15.Membuatnya selalu ingat Allah, sebagaimana Allah berfirman yang artinya "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu .." (Al-Baqarah: 152)

16.Membuat hati menjadi hidup. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata "Dzikir bagi hati sama dengan air bagi ikan, maka bagaimana keadaan yang akan terjadi pada ikan seandainya ia berpisah dengan air?"

17.Dzikir merupakan santapan hati dan ruh. Jika hati dan ruh kehilangan santapannya, maka sama dengan badan yang tidak mendapatkan santapannya. Suatu kali kami (Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah) menemui Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang sedang melaksanakan shalat subuh. Seusai shalat ia berdzikir kepada Allah hingga hampir pertengahan siang. Pada saat itu ia menoleh ke arahku seraya berkata "Inilah santapanku. Andaikan aku tidak mendapatkan santapan ini, tentu kekuatanku akan hilang."
Syaikhul Islam juga pernah berkata kepada kami: "Aku tidak akan meninggalkan dzikir, kecuali dengan niat memang itulah yang dikehendaki oleh jiwaku atau karena aku ingin istirahat. Istirahat ini artinya persiapan bagiku untuk melakukan dzikir berikutnya."

18.Membersihkan hati dari karatnya. Segala sesuatu ada karatnya dan karat hati adalah lalai dan hawa nafsu. Sedangkan untuk membersihkan karat ini adalah dengan taubat dan istighfar

19.Menghapus kesalahan dan menghilangkannya. Dzikir merupakan kebaikan yang paling agung. Sementara kebaikan dapat menyingkirkan keburukan

20.Menghilangkan kerisauan dalam hubungan antara dirinya dengan Allah. Orang yang lalai tentu akan dihantui kerisauan antara dirinya dengan Allah, yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan dzikir.
Takbir (Allahu Akbar), tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah) dan tahlil (Laa ilaaha illallah) yang diucapkan hamba saat berdzikir akan mengingatkannya saat dia ditimpa kesulitan

21.Hamba yang mengenal Allah swt dengan cara berdzikir di saat lapang, menjadikan dirinya tetap mengenal-Nya saat menghadapi kesulitan, dan Dia akan mengenalnya di saat ia mengalami kesulitan

22.Berdzikir kepada Allah merupakan benteng yang kokoh dari keburukan dunia dan akhirat, serta menyelamatkan diri dari adzab Allah, sebagaimana yang dikatakan oleh Muadz bin Jabal radhiallahu'anhu "Tidak ada amal yang dilakukan anak Adam yang lebih menyelamatkannya dari adzab Allah, selain dari dzikir kepada-Nya" (Hadits Shahih, HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah)

23.Menyebabkan turunnya ketenangan, datangnya rahmat dan para malaikat mengelilingi orang yang berdzikir, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi saw (HR. Muslim dan selainnya)

24.Dzikir menyibukkan lisan agar tidak melakukan ghibah, adu domba, dusta, kekejian dan kebathilan.
Sudah selayaknya bagi seorang hamba ketika berbicara atau berkata, hendaknya berkata yang baik atau diam. Ia harus menjauhkan ghibah (membicarakan aib orang lain), dusta (bohong), menghasut, berkata-kata yang keji, memfitnah, dan hal-hal yang diharamkan Allah. Oleh karena itu dia harus membersihkan lisannya dengan banyak berdzikir.

25.Siapa yang membiasakan lidahnya untuk berdzikir, maka lidahnya lebih terjaga (selamat) dari kebathilan dan perkataan sia-sia. Namun, siapa yang lidahnya tidak pernah mengenal dzikir, maka kebathilan dan kekejian banyak terucap dari lidahnya.

26.Majelis dzikir merupakan majelis para Malaikat, sedangkan majelis kelalaian dan permainan merupakan majelis syaitan. Hendaklah seorang hamba memilih, mana yang lebih dia sukai dan yang lebih dia prioritaskan (utamakan). Karena dengan begitulah dia akan menentukan tempat di dunia dan di akhirat.

27.Malaikat akan selalu memintakan ampunan kepada Allah bagi orang-orang yang berdzikir. Dan banyak berdzikir membuat seseorang terhindar dari sifat nifaq

28.Dengan berdzikir kepada Allah, maka pelakunya akan merasa bahagia, begitu pula dengan orang yang dekat dengannya. Dialah orang yang senantiasa mendapatkan keberkahan. Tetapi orang yang lalai, dia akan senantiasa gundah karena kelalaiannya, begitu pula orang yang dekat dengannya

29.Dzikir memberikan rasa aman dari penyesalan di hari Kiamat karena majelis yang di dalamnya tidak terdapat dzikir kepada Allah akan menjadi penyesalan pada hari Kiamat

30.Berdzikir kepada Allah sambil meneteskan air mata dikala sendiri akan menjadi perlindungan bagi pelakunya dari panasnya matahari di padang Mahsyar pada hari Kiamat karena dia dilindungi oleh 'Arsy Allah. Sementara orang lain yang tidak berdzikir kepada Allah akan tersengat oleh panasnya matahari pada saat itu

31.Dzikir merupakan ibadah yang paling mudah, namun paling agung dan paling utama. Sebab, gerakan lidah merupakan gerakan anggota badan yang paling ringan dan paling mudah.

32.Dzikir merupakan tanaman Surga, sebagaimana yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari hadits 'Abdullah bin Mas'ud, dia berkata: "Rasulullah saw bersabda: 'Pada malam aku diisra'kan, aku bertemu Ibrahim Al-Khalil, seraya berkata kepadaku: 'Hai Muhammad, sampaikanlah salamku kepada ummatmu dan beritahukanlah kepada mereka bahwa Surga itu bagus tanahnya, segar airnya, dan bahwa Surga itu merupakan kebun, sedangkan tanamannya adalah
سبحان الله , والحمد لله ,ولا اله الا الله , والله اكبر
"Mahasuci Allah, segala puji milik-Nya, tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah dan Allah maha besar." (Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shahihah no.105). Menurut At-Tirmidzi, hadits ini hasan gharib.

Dia juga meriwayatkan dari Abu Az-Zubair dari Jabir dari Nabi saw beliau bersabda: "Barangsiapa mengucapkan
سبحان اللهِ الْعَظِÙŠْÙ…ِ ÙˆَبِØ­َÙ…ْدِ
'Mahasuci Allah yang Maha Agung, aku memuji-Nya, maka ditanamkan baginya pohon kurma di Surga." Menurut At-Tirmidzi, hadits ini hasan shahih (Hadits Shahih, Shahih At-Tirmidzi)

33.Pemberian dan karunia yang dilimpahkan karena dzikir ini tidak pernah dilimpahkan karena amal yang lain. Di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa mengucapkan
لا اله الا الله وحده لاشريك له , له الملك وله الحمد وهو على كل شئ قدير
'Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu' (sebanyak) seratus kali dalam sehari, maka dia mendapat pahala seperti pahala membebaskan sepuluh budah wanita, ditetapkan baginya seratus kebaikan, dihapuskan darinya seratus keburukan dan hal itu menjadi perlindungan dari syaitan pada hari itu hingga sore hari, dan tidak ada seorangpun yang membawa sesuatu yang lebih baik daripada apa yang dibawa oleh orang itu, kecuali orang yang melakukannya lebih banyak lagi' (HR.Bukhari, Muslim).

Dari Abu Hurairah ra dia berkata "Rasulullah saw bersabda: 'Aku mengucapkan
سبحان الله , والحمد لله , ولا اله الا الله , والله اكبر
Maha suci Allah, segala puji milik-Nya, tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah dan Allah Mahabesar,' lebih kusukai daripada terbitnya matahari" (HR. Muslim, At-Tirmidzi)

Dari Tsauban ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang pada pagi dan sore hari mengucapkan
رضيتُ بالله رباً, وبالإسلام ديناً، وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبياً
'Aku ridha kepada Allah sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad saw sebagai Nabiku,' maka ada hak atas Allah untuk meridhainya"(Hasan, At-Tirmidzi).

Rasulullah saw juga bersabda: "Barangsiapa yang masuk pasar seraya mengucapkan
لا اله الا الله وحده لا شريك له , له الملك وله الحمد يحي ويميت وهو حي لا يموت بيده الخير وهو على كل شئ قدير
'Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan pujian, Yang menghidupkan dan mematikan, Dia hidup dan tidak mati, di tangan-Nya segala kebaikan dan Dia Mahaberkuasa atas segala sesuatu',
Maka Allah menetapkan baginya sejuta kebaikan, menghapus sejuta kesalahan dan meninggikan baginya sejuta derajat" (Hasan, HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan yang lainnya)

34.Terus menerus berdzikir kepada Allah membuat hati seseorang tidak melalaikan Allah, dan lalai mengingat Allah swt adalah sebab penderitaan hamba di dunia dan di akhirat. Siapa saja yang melalaikan Allah swt, maka ia akan lalai terhadap diri dan kemaslahatannya dan ia akan binasa.
Allah swt berfirman yang artinya: "Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasiq" (Al-Hasyr: 19)

"Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, 'Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah orang yang melihat? Allah berfirman: 'Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan" (Thaahaa:124-126).

Artinya, engkau dilupakan dalam kubangan adzab, sebagaimana engkau melupakan ayat-ayat-Ku dan tidak mau mengamalkannya. Berpaling dari mengingat Allah juga membuatnya berpaling dari ingat apa yang diturunkan-Nya atau mengingat apa yang diturunkan Allah di dalam Kitab-Nya. Akibatnya lebih lanjut, dia lupa terhadap hal-hal yang telah disebutkan Allah dalam Kitab-Nya, lupa terhadap Asma'-Nya, sifat-sifat, perintah, anugrah dan nikmat-nikmat-Nya. Ini semua sebagai akibat berpaling dari Kitab Allah. Dengan kata lain, "Siapa yang berpaling dari Kitab-Ku, tidak mau membacanya, tidak mendalaminya, tidak memahaminya dan tidak mengamalkannya, maka hidup dan kehidupannya akan menjadi sempit dan dia akan senantiasa tersiksa" Hal ini berbeda dengan orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan. Kehidupan mereka di dunia merupakan kehidupan yang sangat menyenangkan, dan di akhirat mereka mendapatkan pahala.

Allah berfirman yang artinya: "Barangsiapa mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan" (An-Nahl: 97)

"Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai pada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat" (Huud:3).

"Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Rabb kalian'. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas" (Az-Zumar:10)

35.Dzikir senantiasa menyertai hamba sekalipun dia berada di tempat tidur, di pasar, saat sehat, saat sakit, saat mendapat kenikmatan dan kesenangan, saat menderita dan mendapat cobaan, bahkan dzikir itu menyertai hamba pada setiap saat.

36.Dzikir merupakan cahaya bagi orang yang berdzikir di dunia, cahaya baginya di kuburan, cahaya baginya di tempat kembalinya, menerangi saat berlalu di atas Ash-Shirath, dan tidak ada yang bisa menyinari kubur dan hati melainkan hanya dengan berdzikir kepada Allah. Allah swt berfirman yang artinya "Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang mereka kerjakan" (Al-An'aam:122)

37.Dzikir merupakan pangkal landasan jalan manusia secara umum dan kecintaan yang ditebarkan. Siapa yang dibukakan jalan baginya untuk melakukan dzikir, berarti telah dibukakan jalan untuk menuju Allah.

38.Di dalam hati ada suatu celah yang sama sekali tidak bisa disumbat kecuali dengan dzikir. Jika dzikir merupakan semboyan hati dan ia juga mengingatkan jalan yang seharusnya ditempuh, maka inilah dzikir yang disebut dengan dzikir yang dapat menutupi celah, sehingga manusia menjadi kaya bukan karena harta, terpandang bukan karena keturunan, dan disegani bukan karena kekuasaan. Namun, jika ia lalai berdzikir kepada Allah, maka keadaannya menjadi sebaliknya, ia miskin sekalipun hartanya banyak, hina sekalipun memegang kekuasaan, dan tidak dipandang sekalipun keluarganya mapan.

39.Dzikir dapat menghimpun yang bercerai berai dan menceraiberaikan yang terhimpun, mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Apa yang tercerai berai dalam hati hamba dapat dihimpun, seperti kehendak dan hasratnya. Siksaan yang paling pedih ialah jika apa yang ada di dalam hatinya itu tercerai berai. Hatinya hidup dan merasakan kenikmatan jika kehendak dan hasrat hatinya berhimpun menjadi satu

40.Dzikir menggugah hati dari keadaan yang selalu tidur dan membangunkannya dari keadaan yang selalu mengantuk. Jika hati selalu tidur dan mengantuk, maka ia kehilangan sekian banyak keuntungan, yang berarti akan mengalami kerugian. Jika ia tersadar dan menyadari apa yang lolos dari tangannya selama tidur itu, maka dia akan merasa sangat menyesal, lalu berusaha menghidupkan sisa umurnya dan mencari apa yang lolos dari tangannya. Tidak ada yang bisa membangkitkan dirinya dari keadaannya kecuali dzikir. Sesungguhnya kelalaian itu merupakan tidur yang nyenyak

41.Dzikir yang intinya tauhid merupakan sebatang pohon yang membuahkan pengetahuan dan keadaan yang dapat dilalui oleh orang-orang yang menuju kepada Allah. Tidak ada cara untuk mendapatkan buahnya kecuali dari pohon dzikir. Jika pohon itu semakin besar dan akarnya kokoh, maka ia akan banyak menghasilkan buah

42.Orang yang berdzikir (mengingat Allah) senantiasa merasa dekat dengan-Nya dan Allah bersamanya. Kebersamaan ini bersifat khusus, bukan kebersamaan karena bersanding, tetapi kebersamaan karena kedekatan, cinta, pertolongan dan taufiq.

Allah berfirman yang artinya:
"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa..."(An-Nahl:128)
"...Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah:249)
"...Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat kebajikan" (Al-'Ankabuut: 69)
"Janganlah engkau bersedih hati, karena sesungguhnya Allah beserta kita." (At-Taubah: 40).

Karena kebersamaan ini, orang yang melakukan dzikir mendapatkan bagian yang melimpah, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits qudsi: "Aku bersama hamba-Ku selagi dia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak karena Aku"(Hadits Shahih, HR. Ibnu Majah, Ahmad, Al-Hakim, Ibnu Hibban)

43.Sesungguhnya di dalam hati itu ada kekerasan yang tidak bisa dicairkan kecuali dengan berdzikir kepada Allah. Maka, kekerasan hati seorang hamba harus diobati dengan berdzikir kepada-Nya.

44.Dzikir merupakan penyembuh dan obat penyakit hati. Hati yang sakit hanya bisa disembuhkan dengan berdzikir kepada Allah. Imam Makhul berkata: "Mengingat Allah itu merupakan kesembuhan dan mengingat manusia itu merupakan penyakit"

45.Dzikir mendatangkan shalawat Allah dan para Malaikat-Nya. Siapa yang mendapatkan shalawat Allah dan para malaikat, maka dia adalah orang yang sangat beruntung.

Allah berfirman yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut Nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dia-lah yang memberi shalawat kepadamu dan Malaikat-Nya (memohon ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkanmu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman" (Al-Ahzab: 41-43).
Shalawat dari Allah dan para Malaikat-Nya ini merupakan sebab untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya

46.Dzikir kepada Allah dapat memudahkan kesulitan dan dapat meringankan beban yang berat. Kesulitan itu akan menjadi mudah, tatkala seseorang berdzikir dengan menyebut Nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi sesuai dengan syariat, maka yang berat dan yang sulit akan menjadi ringan dan mudah

47.Dzikir kepada Allah menyingkirkan segala ketakutan di dalam hati sehingga mendatangkan perasaan aman bagi hati. Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi orang yang takut kecuali dengan berdzikir kepada Allah, maka dengan dzikir akan hilang ketakutan itu.

48.Sesungguhnya dzikir kepada Allah akan memberikan kekuatan bagi orang yang berdzikir, sehingga seakan-akan dengan dzikir itu dia mampu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang berat tanpa disangka-sangkanya. Rasulullah saw pernah mengajari putrinya, Fathimah dan 'Ali bin Abi Thalib agar mereka bertasbih sebanyak 33 kali pada saat malam tatkala beranjak tidur, bertahmid 33 kali dan bertakbir 34 kali, tepatnya ketika Fathimah meminta seorang pembantu untuk membantu pekerjaannya dan mengadukan pekerjaannya yang berat, karena harus menjalankan alat penggiling dan melaksanakan berbagai macam pekerjaan rumah tangga. Dan Rasulullah saw bersabda: "Yang demikian itu lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang hamba/pelayan" (HR.Bukhari, Muslim)

49.Dzikir adalah pangkal syukur. Orang yang tidak berdzikir adalah orang yang tidak bersyukur kepada Allah. Dzikir dan syukur adalah paduan kebahagiaan dan kejayaan. Allah swt menghimpun antara dzikir dan syukur dalam firman-Nya yang artinya: "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku" (Al-Baqarah:152)

50.Termasuk dzikir kepada Allah; melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan melaksanakan hukum-hukum-Nya

Diringkas dengan sedikit perubahan dari kitab Shahih Al-Waabilish Shayib minal Kalimith Thayyib. Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah tahqiq Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali.

Sumber: Do'a dan Wirid, Mengobati Guna-guna dan Sihir Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah karya Yazid bin Abdul Qadir Jawaz, cetakan Pustaka Imam Syafi'i.



Semua Manusia akan rusak,kecuali yang Berilmu... Orang yang berilmu pun akan rusak ,kecuali orang yang beramal... Orang yang beramal juga akan rusak ,kecuali orang yang Ikhlas (Imam Al-Ghozali)